48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Kencan kedua. 2.3



Sementara Erick yang masih shock dengan bisikan Jason, tidak menyadari kedatangan pelayan untuk mencatat menu pesanan mereka.


Seorang pelayan pria datang menanyakan menu makanan yang hendak mereka pesan, membuyarkan lamunan Erock dan buru-buru membaca menu dihadapannya.


"Silahkan memesan sesuatu nona?" Kata Erick sambil menatap pada Lia.


"Aku mau dua menu andalan di setiap course nya. Dua appetizer, dua soup, dua salad, dua main course, dan penutupnya aku mau Charlote cake juga tiga scoup gelato, rasanya hmmm... strawberry, hazelnut dan ah dua scoup hazelnut saja. Minumnya aku mau mineral water dan english breakfast tea nya keluarkan bersamaan dengan cake. Anda mengerti?"


Pelayan tersebut mengangguk dan mencatat pesanan Lia.


"Sekarang silahkan anda memesan sesuatu tuan Erick," ujar Lia santai.


Pelayan tersebut menghentikan mencatat, dia menatap Lia tidak mengerti. Bukannya gadis ini sudah memesan banyak makanan untuk dua orang, tetapi mengapa masih meminta pria dihadapannya memesan sesuatu lagi. Tubuh sekecil ini, apakah bisa memuat semua makanan yang dipesan tersebut?


Begitu juga dengan Erick. Dia tidak menyangka gadis yang kelihatannya biasa saja ini, memiliki nafsu makanan yang berlipat. Bagaimana bisa Jason tertarik dengan gadis serakus ini? Apakah ini kebiasaan dirinya atau sekedar aksi kekesalan? Atau jangan-jangan gadis ini tidak memahami menu dihadapannya.


Pikiran Erick di liputi tanda tanya yang besar. Tetapi mulutnya terkunci untuk semua pertanyaan itu. Dia masih memiliki tata krama untuk tidak bertanya hal yang bisa menoreh harga diri wanita. Erick memesan sesuatu pada akhirnya.


Setelah pelayan tersebut pergi, Erick membuka percakapan.


"Nona Lia, sudah berapa lama anda mengenal Jason?" Tanya Erick sambil menatap Lia.


"Bagaimana kalau anda memanggil saya Lia saja, tanpa awalan nona?" Ujar Lia dengan tersenyum.


"Baiklah. Anda juga memanggil saya Erick saja tanpa awalan tuan."


"Deal." sahut Lia.


"Aku mengenal si Jason karena dia pernah menolong kakakku, mungkin tiga bulan yang lalu." Cerita Lia pada Erick.


"Ah iya, kamu tentu adiknya Diana bukan? Bagaimana keadaan Diana sekarang?" Tanya Erick dengan anthusias.


"Kau mengenal kakak ku juga? Ah... kakakku memang cantik dan keren, banyak pria tampan yang mengelilingi nya." Ujar Lia dengan kagum.


"Kamu juga cantik," kata Erick bersungguh-sungguh.


"Hahahhaha... Tentu saja aku cantik. Kalau pria aku tampan," ujar Lia bercanda.


"Aku pria, kalau begitu aku tampan bukan?" Canda Erick.


"Tentu saja. Jika cantik maka kau Maya." Sahut Lia


"Eh, Maya?" Erick merasa heran. Apa itu Maya?


"Iya teman gay kakak ku. Dia cantikkkk sekali jika berdandan. Mungkin jika kau berdandan, bisa menyayingi kecantikan Maya" Lia tertawa terbahak melihat raut wajah Erick yang bingung.


Lia tertawa geli membayangkan tubuh Erick yang tinggi kekar dan berotot, tiba-tiba harus berdandan. Mengenakan wig berwarna blonde dan gaun panjang berwarna silver yang berkilauan. Ah dada, bisa menggunakan bra berbusa tebal. Tapi bulu kaki, harus dicukur bersih dulu.


"Ah hahhahaha, kau memang lucu dan menyenangkan, pantas saja..." Erick tidak melanjutkan kalimatnya.


"Pantas saja apa?"


"Tidak apa-apa, lupakan saja. Kamu... sering bertemu dengan Jason?"


Percakapan mereka terhenti sesaat, ketika seorang pelayan datang dan menuangkan segelas air putih untuk Lia dan juga segelas untuk Erick. Pelayan itu juga menuangkan segelas anggur putih untuk Erick.


"Lalat buah itu, ih... selalu muncul di saat yang tidak terduga." Sahut Lia kesal. Masih belum hilang rasa kesalnya hari ini.


"Ssstt jangan keras-keras. Aku sudah berjanji tidak memanggil nya lalat buah lagi, nanti dia menghukumku," bisik Lia.


"Ssstttr iya... tapi mengapa lalat buah?" Tanya Erick berbisik.


"Itu karena dia selalu berisik. Berdengung terus disekitarku, banyak bicara dan menyebalkan. Dia bilang aku cerewet, tapi dia selalu ngunggg... ngungggg," Lia menirukan suara lalat.


Erick menahan tawanya. Dia benar-benar hendak terpingkal-pingkal dan bila perlu melompat-lompat. Ini pertama kalinya seorang wanita memberikan julukan yang sangat jelek pada si tampan Jason.


Dan apa kata Lia tadi, Jason banyak bicara? Dengan Lia? Eh...bukannya Jason paling minim bicara apalagi dengan wanita? Setau Erick, semua wanita sibuk berbicara bila di dekat Jason, mencoba menarik perhatian nya meskipun pria itu hanya menjawab seperlunya dan terkadang hanya bergumam.


Sikap Jason yang seperti itulah yang akhirnya membuat banyak wanita penasaran, dan semakin tertarik untuk mengejar apalagi menaklukannya. Dan karena sikap dinginnya itulah, ibu Jason, resah. Jason tidak pernah membawa seorang wanita pun untk diperkenalkan.


Tiba-tiba Erick merasakan aura dingin di sebelah kanannya. Perasaan Erick menjadi tidak nyaman. Bulu kuduknya meremang. Erick mengusap tengkuknya yang terasa berdiri.


Erick menoleh, tampak sekali Jason menatapnya dengan tajam dan aura membunuh. Sementara Irina berbicara tanpa mendapatkan tanggapan dari Jason.


Erick tersenyum kecut kepada Jason.


Dan beruntung sekali moment itu di selamatkan oleh seorang pelayan yang menghantarkan menu.


"Ini shrimp cocktail dan scallop untuk anda nona. Dan ini tuna alpetizer untuk anda tuan." Pelayan tersebut meletakan sebuah piring appetizer dan gelas untuk Lia. Sebuah piring untuk Erick.


"Selamat makan," ucap Lia pada Erick.


Lia menikmati makanannya dengan nyaman. Meskipun ada dua hidangan di hadapannya, tidak membuat Lia merasa risih ataupun malu. Dia menikmati dengan santai.


Dan yang membuat Erick salah menilai adalah, sikap Lia ketika menikmati makanan tersebut. Lia mampu menunjukan keanggunannya dan cara duduk serta makan yang elegan. Sepintas orang tidak akan menyangka, jika nona ini hanya berasal dari kalangan biasa.


Erick menoleh kepada Jason dan tersenyum jahil. Jason tidak menyadari senyuman di wajah Erick. Saat ini pandangan Jason tertuju pada Lia. Jason makan tanpa memperhatikan hidangan dihadapannya, apalagi Irina Alexava.


Posisi Jason yang berada satu meter di sebelah Erick, memungkinkan bagi dia dengam mudah menatap pada Lia. Meskipun demikian gadis itu tampak tidak perduli. Sedangkan Irina masih berusaha bersabar, meskipun berkali-kali menangkap Jason memandang Lia.


Setelah appetizer selesai, pelayan tersebut mengangkat piring kosong dan menggantinya dengan salad. Tentu saja dua piring untuk Lia dan satu piring untuk Jason.


Melihat salah satu hidangan salad tersebut Loa menjadi mual. Salad ocktopus dengan tentakel nya yang terlihat menyeramkan. Dia menyesal, kenapa tidak memilih menu sendiri saja daripada membiarkan pelayan itu menyajikan menu andalan yang tidak dia makan.


Awalnya Lia hanya berencana menikmati apetizer, salad dan dessert saja. Mungkin satu macam soup. Tetapi ternyata dia harus merelakan salah satu salad dihadapannya. Bukan Lia namanya jika kehilangan akal.


Lia memanggil pelayan untuk mendekatinya. Hal ini membuat Erick merasa aneh.


"Apa ada yang salah Lia?" tanya Erick.


"Tidak. Ini perfect sekali." ucap Lia dengan yakin.


Dan senyuman jahil terukir di wajah Lia.


🌟🌟🌟🌟🌟


Lia mau ngapain yaaaaa