48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Aku menolak perjodohan



Setiba nya di Mansion hari sudah mulai gelap. Jason mengajak Lia langsung masuk ke dalam kamar mereka. Jason meminta pada butler Bernard untuk menyediakan makan malam untuk dirinya dan Lia di kamar.


Kedua pasangan ini masih asyik bergurau diatas tempat tidur, ketika ketukan di pintu terdengar. Jason membuka pintu kamar dan mengambil alih troli makanan yang dibawa oleh butler Bernard.


Lia dan Jason menikmati makan malam mereka di balcony dengan kemesraan, disirami oleh cahaya bulan purnama juga bintang-bintang yang bertaburan memamerkan gemerlap sinarnya.


Pancaran sinar bulan purnama yang menerpa wajah Lia, membuat Jason tak puasnya menatap wajah cantik dihadapannya. Mata yang selalu bersinar cerah dan senyuman yang senantiasa tersungging. Rambut hitam lebat yang selalu wangi, belum lagi kulit halus nan cerah.


Jason merasa beruntung dapat merebut hati Lia dan membuat gadis itu melupakan Briant. Setelah makan malam selesai, dengan tidak sabar lagi, pria itu menarik tangan Lia untuk berdiri dan menyandarkan di pagar balcony.


Jason memeluk Lia dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu gadis itu. Desah nafas hangat Jason dapat dirasakan oleh Lia, menerpa dengan lembut di pipi nya. Sebuah bisikan maut di hembuskan Jasob dengan mesra di telinga Lia, membuat gadis itu melambung tinggi.


"Trimakasih sudah menerimaku menjadi suamimu. Aku mencintaimu, matahariku."


"Sejak kapan kau pandai mengucapkan kata-kata romantis?" Tanya Lia dengan tersipu.


"Entahlah, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan dan terlintas di kepalaku." Ujar Jason lembut.


Lia memalingkan wajahnya sehingga kedua bibir mereka sangat berdekatan. Jason langsung menyergap kesempatan itu untuk menempelkan bibir nya. Di bawah sinar bulan purnama mereka saling memadu kasih. Begitu indah dan begitu mesra, hingga.... Jason mendengar pintu gerbang di buka.


Jason melepaskan tautan bibir mereka. Dia melihat kearah gerbang yang terbuka. Sebuah Mercedes benz warna hitam masuk.


Meski tidak melihat siapa yang turun dari mobil itu, tapi Jason mengenali pemiliknya.


Sontak saja kemesraan mereka menjadi ketegangan. Jason menarik Lia masuk kedalam kamar kembali. Dia mendudukan Lia di sofa dalam kamar dengan gelisah. Jason berdiri mematung menatap dirinya dengan sorotan mata yang aneh.


Bukan mereka yang datang yang di takutkannya. Tetapi reaksi wanita di hadapannya. Jason masih ingat, Lia sendiri pernah meminta padanya untuk menutupi hubungan mereka sementara waktu. Cincin pernikahan itu masih ada di kalung Lia.


Jason bimbang, antara harus diam saja menuruti Lia, atau menceritakan semuanya.


Lia yang merasa heran dengan kelakuan Jason, dia dibuat pusing melihat perubahan sikap yang dratis. Apakah orang yang datang dengan mercedes benz hitam itu, adalah sosok yang membuat Jason berubah sikap tiba-tiba?


"Jason ada apa? Ceritakan padaku?" Tanya Lia dengan heran.


"Ada yang belum aku katakan padamu. Jika mommy..." ketukan di pintu memotong kata-kata Jason.


"Jassonnn... keluarlahhh," terdengar suara seorang wanita di pintu kamar.


Lia memandang Jason dengan bingung.


"Siapa itu?" Tanya Lia.


"Mommy. Apakah kau siap bertemu dengan mommy?" Tanya Jason perlahan.


"Aku.. " Lia bingung.


Karena bagaimana pun, kesan yang akan diambil oleh ibu Jason akan sangat buruk terhadapnya, jika dia melihat Lia seperti ini dikamar Jason. Hal ini terlalu mendadak dan Lia masih sangat terkejut.


Jason bahkan tidak mengira, jika ibunya akan tiba-tiba datang ke mansion. Laura memilih untuk menjauhi Mansion dan lebih memilih tinggal di penthouse miliknya sendiri.


Melihat reaksi Lia yang bingung, Jason menarik tangan gadis itu, melewati jaquzi dan memasuki ruang rahasia. Tentu saja Lia merasa kaget degan ruangan rahasia itu. Pantas saja, Jason selalu bisa masuk ke dalam kamar, meskipun dia menguncinya.


Jason keluar dari ruang rahasia itu melalui ruang kerja. Dia melewati ruang kerja dan keluar mendapati Laura Collins Madison masih dideoan pintu kamarnya.


"Mom, kau ada disini?" tanya Jason.


Laura menoleh ke asal suara dan tersenyum lebar melihat Jason.


"Jasonnnn, ah aku kira kau sedang dikamar bersama seseorang." ujar Laura yang juga tidak tahu ada ruang rahasian antara kamar dan tempat kerja Jason.


Jason sengaja membuat ruangan itu diam-diam. Menyimpan segala dokumen juga barang berharga yang dia miliki. Selain dirinya dan butler Bernard, tidak ada yang tahu ruangan itu. Dan Lia menjadi orang nomor tiga yang mengetahui letak rahasian ruangan tersebut.


"Mau apa mommy, datang kemari malam ini?" tanya Jason heran.


"Mommy datang kemari untuk makan malam bersama mu. Natali juga ada disini." ujar Laura dengan bersemangat.


"Aku sudah makan." jawab Jason acuh.


"Ayolahhh temani mommy dan Natali, oke. Jangan mengacuhkan seorang tamu."


"Dia bukan tamuku." jawab Jason sambil berbalik hendak meninggalkan ibu nya.


"Jason tunggu! Kau jangan bersikap dingin kepada mommy. Walau bagaimana pun, aku adalah ibu mu. Hargai aku dan hargai tamu yanh aku bawa!" ujar Laura dengan penuh penekanan di setiap kata nya.


"Mommy, aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau atur! Dan aku tidak suka dengan niatan dibalik kelembutanmu padaku! Aku tegaskan padamu sekali lagi, aku menolak perjodohan!" sahut Jason balik tak kalah tegas.


Laura tersenyum sinis sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Baiklah, kau sudah dewasa dan sosok Ceo yang luar biasa. Tetapi ingat, aku masih memiliki saham untuk menjatuhkan ataupun mendukungmu."


"Benar mommy, dua puluh persen saham milikmu tidak akan bisa menjadi milikku, jika aku tidak menikah sebelum usia tiga puluh dua tahun, bukan? Dan, wanita yang aku pilih, harus wanita yang sesuai dengan kreteriamu." sahut Jason dengan gamblang.


"Ternyata ingatanmu masih baik." Desis Laura sinis.


"Tidak ada masalah dengan ingatanku. Tetapi, aku sudah tidak perduli lagi. Jika kau tidak akan memberikan sahammu kepadaku, aku masih bisa bertahan. Jika kau hendak menjatuhkan diriku, maka kau harus berpikir pula, apakah orang lain yang kau pilih, akan mendukung dan setia padamu. Atau... kau ingin anak haram daddy yang mengendalikan perusahaan?"


Perkataan Jason yang tegas dan sinis, membuat Laura Collins terdiam. Dia sudah kalah berargumen dengan putra nya. Anak yang dihadapannya sudah tumbuh lebih dewasa dan tangguh, hal itu harus dia akui.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menikahi wanita pilihanku. Tapi, kau harus segera membawa seorang wanita pilihanmu segera kepadaku. Dan saat itu lah aku akan menentukan apakah dia pantas atau tidak untukmu."


Laura Collin meninggalkan Jason begitu saja.