48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Mata Banteng



Butler Bernard yang mendengar panggilan dari Lia, bukannya tergopoh-gopoh menemui Lia. Dia yang waktu itu masih berada di dalam dapur sedang mengontrol pekerjaan juru masak, malah bersembunyi.


Butler Bernard tidak dapat berlari keluar, karena saat itu Lia sudah menuju ke arah dapur. Bagi butler Bernard, lebih baik bersembunyi daripada harus mendengarkan apapun yang hendak Lia katakan.


Koki dapur bingung melihat butler Bernard bersembunyi di bawah kolong meja makan. Beruntung sekali meja makan itu dihiasi taplak meja yang lebar. Bagi semua pelayan, ini pertama kalinya mereka melihat butler Bernard bertingkah kekanakan.


"Hai semua, dimana butler Bernard?" Tanya Lia yang sudah berada di pintu dapur.


Semua koki terdiam dan berdiri tegang.


"Hallooo... aku bertanya dimana Bernard? Butler Bernard? Kalian mengerti kan bahasaku?" tanya Lia dengan ramah.


Seingat Lia, kemarin Jason sempat mengatakan, jika rata-rata pelayan di rumah ini mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi. Bahkan tukang sapu pun adalah lulusan diploma perhotelan. Jadi, tentu mereka setidaknya mengerti bahasa International bukan?


Tapi Lia heran, ketika dia bertanya. Semua pelayan kompak diam seribu bahasa. Wajah mereka tidak menyiratkan permusuhan hanya hmmm... mungkin khawatir, takut, entahlah Lia pun tidak begitu mengerti.


Lia memperhatikan wajah koki satu persatu, dan dia melihat mata mereka sesekali menatap ke arah kolong meja dengan khawatir. Mereka tampaknya menyembunyikan sesuatu atau melindungi seseorang.


Baiklah akan aku ikuti permainan kalian


Kata Lia dalam hati.


Gadis itu kemudian menebarkan senyuman. Melangkah dengan anggun dan perlahan. Superrr pelannnnn seprlerti slow motion jika di film-film. Membuat para koki apalagi butler Bernard yang berada dibawah kolong meja berdebar.


Dan Lia sudah berdiri di dekat meja. Lia menggoyang-goyangkan jempol kaki kanan nya. Kemudian mengetuk-ngetuk telunjuk kanan di atas meja. Sesaat. tuk...tuk...tuk...


Mereka semakin tegang dan Lia semakin menyukainya. Setidak nya pelayan-pelayan ini menjadi hiburan baru bagi Lia. Lia duduk di kursi dan menyandarkan tubuhnya lalu menyelonjorkan kaki jauh ke bawah meja.


Butler Bernard yang berada di bawah meja, menyingkir perlahan agar tidak terkena sentuhan kaki Lia. Dia masih berjongkok dibawah sana dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Lia melihat mata khawatir dari para pelayan. Dia melihat kesekeliling dapur belakang yang besar itu. Lia melihat sebuah bel. Dan dia memerintahkan pada koki untuk memberikan padanya bel tersebut.


"BEL!"


Koki yang paling dekat segera mengambil bel tersebut dan memberikan pada Lia. Lia kemudian menyeringai dan membunyikan bel itu keras-keras. Bel tersebut sering di bawa oleh Butler Bernard dan Lia menduga alat itu adalah tanda untuk berkumpul atau memanggil pelayan lain.


Benar juga, tak lama semua pelayan berkumpul dengan wajah heran, apalagi melihat nona muda ini sudah berada di dapur dengan wajah tersenyum. Lia menarik sebuah kursi di sebelahnya dan menggunakan tanda agar mereka duduk.


"Ayo duduk."


Dengan ragu satu persatu pelayan duduk. Pelayan yang baru datang, mereka tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa nona muda ini berada disini. Apakah akan ada pengumuman penting?


Setelah semuanya duduk. Lia memerintahkan koki untuk menghidangkan makan siang. Lia tahu mereka mengerti perkataannya. Tapi dia dengan sengaja menggunakan bahasa tubuh.


Tampaknya aku harus meminta mesin translator pada Jason. Keluhnya dalam hati.


Lia tidak bisa berbahasa Prancis.


Semua pelayan akhirnya menikmati makanan. Sebagian dari mereka tidak tahu jika ada butler Bernard dibawah. Kaki mereka bergoyang-goyang dan ada yang hendak mengenai tubuh butler Bernard.


Meja panjang yang bisa muat empat belas orang itu, cukup membuat butler Bernad kerepotan menghindari kaki-kaki pelayan yang terjuntai. Hampir saja wajahnya terkena sepatu seorang pelayan yang tampaknya tidak pernah mencuci kaos kaki. Benar aroma kaos kaki lembab mereka mengalahkan aroma makanan, membuat butler Bernard hampir muntah.


Setelah hampir lima belas menit mereka menikmati makanan bersama Lia. Lia berbicara, "saya senang berkumpul dengan kalian semua disini. Kita akan bersama-sama selama beberapa waktu. Jangan membenci saya karena saya menyayangi kalian semua." Ucapnya yang disambut dengan koor, "OooO." Tampaknya mereka terharu dan mengelus dada.


Artinya mereka mengerti bahasa Lia bukan?


Kemudian Lia berbicara lagi.


"Mari kita semua bersorak sorai, menyatakan persahanatan diantara kita."


Kemudian Lia memukul meja. Dan mengajak semua pelayan melakukan hal yang sama.


Dengan ragu-ragu, mereka semua memukul-mukul meja. Satu persatu mulai membuat keributan dengam memukul-mukul meja, bahkan ada yang menghentak-hentakan kakinya. Mereka sangatbsenang karena baru pertama kali bertemu majikan yang menyenangkan.


Koki-koki, yang enggan pun terpaksa. Akhirnya kebisingan terjadi dan 14 orang dengan sepasang tangannya, memukul-mukul meja menciptakan keributan.


Butler Bernad STRESSS!!!


Dia mengatupkan kedua tangan di telinga.


Dan karena kesal, butler memukul salah satu kaki pelayan dengan kaos kaki yang paling bau, karena menggoyang-goyangkan kakinya kesana kemari.


PlaK!


"Aow!" Jerit pelayan itu tiba-tiba.


Pelayan yang dipukul kakinya menoleh kearah teman sebelahnya dan melotot. Tapi teman di sebelahnya tidak memperhatikan. Mereka semua sedang memandang ke arah Lia yang tertawa. Dan mereka semua ikut tertawa.


Pelayan yang kakinya sudah merasakan sakit pukulan dari Butler Bernard, kembali menggoyang-goyangkan kakinya, lagi-lagi menebarkan aroma busuk di kolong meja. Dan kembali pelayan pria itu mendapatkan pukulan dari Butler Bernard.


"AOW!" Serunya lagi.


Kali ini dia melotot pada teman dihadapannya.


Dia yakin sekarang orang yang dihadapannya pasti yang sudah menendang kaki nya. Pelayan pria itu dengan kesal mulai menjulurkan kakinya hendak menendang teman di hadapannya.


Dia tidak sadar, jika butler Bernad ada disana. Dan kaki yang terjulur itu hampir mengenai wajah butler Bernard. Dengan kesal butler Bernar memukul kaki itu kembali juga menarik kaki pelayan itu. Butler Bernard lupa, jika dia sedang bersembunyi.


Pelayan itu jatuh dari kursi.


Pelayan pria itu menjerit tertahan. Dia melongok kedalam meja hendak melihat sosok menjengkelkan yang berani menarik kakinya sehingga membuat dia terjatuh.


Tapi, belum sempat dia berteriak marah, di bawah sana dia dikejutkan dengan mata butler Bernard yang melotot besar seperti Mata Banteng.


Pelayan lainnya, tertawa melihat pelayan pria yang tiba-tiba jatuh itu. Mereka mengira jika pria itu terlalu bersemangat sehingga tergelincir dari duduknya.


"Ci luk baaaaaa...." Lia berseru melihat Butler Bernad di bawah kolong meja. Pria tua itu terkejut melihat Lia dan terantuk meja.


"Loh... ada Butler toh disini." Ujar Lia dengan keras.


Saat ini semua pelayan sudah duduk, ikut berjongkok di bawah meja, sambil memandang butler Bernard dengan penuh tanda tanya. Pantas saja mereka tidak melihat kepala pelayan itu sedari tadi, bahkan bel yang di bunyikan itu berasal dari Lia.


"Oooo petak umpat." Ujar mereka serempak.


Butler Bernard menatap gusar pada pelayan yang berkaos kaki bau itu. Dia mendorong pelayan itu untuk minggir. Dengan bantuan seorang koki, butler Bernard keluar dari bawah meja.


Sekarang dia berdiri dihadapan Lia yang memandangnya dengan geli.


"Aku tidak menyangka, bulter suka main petak umpat. Ayo sekarang giliran mu yang jaga ya." Ujar Lia sambil mengerdipkan matanya.


"Tidak nona terimakasih." Ujar Butler Bernard yang sudah lelah bersembunyi. Dia meluruskan punggungnya.


"Ayo kasih tempat buat buler duduk." Ujar Lia.


Seorang pelayan segera mengosongkan kursi dan meja nya untuk butler.


Lia menoleh pada pelayan yang jatuh itu dan bertanya, "kamu tidak apa-apa?"


Pelayan itu dengan gugup menggoyangkan kedua tangannya, sebagai tanda dia baik-baik saja.


"Hei Fidel!" panggil butler Bernard yang masih kesal dan sesak nafas oleh karena kaos kaki pria itu.


"Iya butler."


"Ganti kaos kaki mu tiap hari. Kau harus punya persediaan satu lusin. Ingat ini peraturan untuk kalian semua!" Ujar Butler dengan tegas. Dan semua pelayan mengangguk patuh.


Butler Bernard menghela nafas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara segar. Fresh. Hanya aroma sup krim kental dan roti panggang, bukan kaos kaki busuk.


Satu persatu pelayan meninggalkan dapur.


Tinggal Lia yang masih duduk disamping bulter Bernard. Lia sudah meminta koki memberikan sup dan roti untuk pria tua itu. Sebenarnya Lia heran kenapa pria tua itu bisa tahan bersembunyi di bawah meja selama itu. Dan kenapa juga harus bersembunyi.


Lia menengadahkan tanganya pada butler Bernard seakan meminta sesuatu.


Butler Bernard melirik sepintas dan pura-pura tidak melihat.


Lia memajukan tangannya tepat dihadapan butler.


"Ya nona?" Tanya butler akhirnya.


"Handphone."


"Heh?"


"Aku mau pinjam handphone mu."


"Saya tidak punya nona."


"Heh? Masa tidak punya. Ayolahhhh... aku ingin menghubungi kakak ku. Pleasee." Lia merajuk.


"Saya orang tua kuno. Kami tidak menggunakan handphone."


"Bagaimana dengan telphone rumah? Ada dimana?" Seingat Lia, sewaktu dia datang ada telphone rumah bergagang emas. Tetapi sedari tadi dia mencari tidak ditemukan.


"Tidak ada nona." Ujar Butler lirih.


Semalam dia sudah bekerja keras dengan semua pelayan untuk menyingkirkan semua telphone di rumah atas perintah Jason.


"Jangan berbohong. Nanti ubanmu bertambah loh."


Butler Bernard memegang rambutnya.


"Tidak apa-apa bisa disemir." Ujar nya santai.


Lia cemberut. Tidak disangka jika kepala pelayan ini mukanya saja yang seperti robot, tapi orangnya asal juga.


"Baiklah kalau begitu. Awalnya aku hendak memberikan penghormatan padamu dengan meminjam handphone milik mu. Sekarang aku akan memberikan kehormatan itu pada pelayan lainnya." Lia dengan kesal beranjak dari dapur dan menghampiri pelayan lainnya.


Hal yang menjengkelkan terjadi lagi.


Semua pelayan tiba-tiba saja tidak mengerti ucapannya. Dia berkali-kali menanyakan handphone dan mereka hanya menatapnya dengan tidak mengerti.


"Aku pikir kalian sahabatku. huh!" ucap Lia dengan kesal.


Menjengkelkan! Semua pasti kerjaan Jason.


Lia yang kesal akhirnya masuk ke kamar dan merebahkan diri di tempat tidur. Dalam tidur pun dia bermimpi melampiaskan kekesalan hatinya pada Jason dengan menggunduli pria itu. Tertawa terbahak melihat wajah memelas Jason yang memohon ampun.


Lia bahkan tertawa dalam tidurnya. Dia tidak ingin bangun dari mimpi. Dia suka melihat wajah Jason yang memelas di mimpinya. Lia semakin mempererat pelukan di bantal yang tidak terasa empuk lagi, tanpa menyadari bukan bantal yang dia peluk.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Jangan lupaaa yaaaaa,


Bantu Like, coment, Vote dan share cerita Loa dan Jason.


Trimakasih.


Semangat dan stay healthy.