48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Salad buah



Hari ini, Jason pergi ke kantor seperti biasanya. Meskipun masih mengalami mual di pagi hari, tetapi Jason sudah bisa mengatasinya. Apalagi infus vitamin yang sudah diberikan oleh dokter Prakash sudah bekerja dengan baik.


Tentu saja Lia ikut bersama dan kembaki bekerja, melakukan tugas ringan memillah berkas dan janji temu yang harus di agendakan untuk Jason. Masih dalam ruangan yang sama, kini kursi kebesaran Lia telah berganti dengan yang lebih empuk.


Adonia tetap tinggal di Penthouse untuk merawat sepasang calon orangtua ini. Butler Bernard tidak akan begitu saja mempercayakan perawatan Jason di tangan Lia. Dengan adanya Adonia di Penthouse sebagai mata-mata, akan lebih mudah baginya mengetahui keadaan t8an muda tersayang.


Dengan berat hati butler Bernard meninggalkan Penthouse, setelah Jason berjanji akan menghabiskan weakend di mansion. Pria tua itu bahkan hampir meneteskan air mata, ketika pagi ini bersamaan meninggalkan Penthouse. Doa merasa kasihan, karena justru tuan muda kesayangannya yang harus tersiksa mengalami sidrom - sindrom itu.


Di kantor, Pedro sedikit heran ketika Jason menolak suguhan wasingthon apel kesukaannya. Apel yang manis dan renyah dengan banyak airnya.


"Pedro, perintahkan seseorang untuk membeli apel hijau atau buah yang memiliki rasa masam. Aku ingin menikmati salad buah."


Perintah Jason merupakan hal yang aneh bagi Pedro. Bagaimana bisa pria yang tidak menyukai buah masam, kini malah menolak buah manis dan mencari yang masam.


Lia tersenyum lebar melihat wajah kaku Pedro ketika menerima perintah itu. Dilihatnya sudut mata Pedro melirik kearah Lia tepat ketika gadis itu membelai perutnya.


Disaat Pedro sudah keluar dari ruangan Jason.


"Kemarilah, duduk disini." Pinta Jason.


Lia beranjak dari kursi kerja dan duduk di sofa yang di tunjuk Jason.


"Geser!" Perintah Jason agar Lia duduk disudut sofa panjang.


Lia mematuhinya dan menggeser duduknya. Jason kemudian merebahkan diri, meletajan kepalanya di pangkuan Lia. Dia mengambil tangan istrinya dan meletakan di kepala.


"Sedari tadi yang kau perhatikan hanya baby. Aku juga mau disayang." Ujar nya manja.


Hal itu tentu saja membuat Lia melotot. Sebegitu mencoloknya kemanjaan Jason. Hanya masalah membelai perut Lia sendiri saja, pria tampan ini cemburu. Bagaimana jika bayi nya lahir. Apakah dia akan mengijinkan Lia untuk menyusui?


Lia hanya menggerutu dalam hati, sementara tangannya membelai rambut Jason dengan lembut. Dia tidak akan mengomel. Mengunci mulutnya lebih baik disaat pria ini menjadi sangat sensitif.


Pedro mengetuk pintu dan kembaki dengan salad buah. Dia tersenyum simpul melihat kemanjaan Jason. Sekretaris itu meletakan salad di depan Lia, karena mengira makanan itu untuk Lia.


"Salad buah masam pesanan anda, tuan."


"Hmmm ...." gumaman Jason pertanda ucapan terimakasih.


"Suapi aku." Suara Jason berubah lembut manja ke Lia.


Pedro yang masih disana tercekat.


"Manja." Lia membuka tutup kotak salah dan mulai menyendok kemudian mengarahkan ke mulut Jason.


"Enak?"


"He eh."


"Gak masam?"


"Coba sana, segar sekali."


Lia mencicipi. Memang segar sekali, meskipun ada rasa masamm. Tapi, bukannya Jason kurang menyukai rasa masam pada buah? Apakah ini benar-benar karena hormon? Lia berpikir keras. Mungkin dia harus memerintahkan Adonia mencari buah mangga mentah dan nanas untuk membuat rujak.


Pedro lebih terkejut lagi. Salad masam yang dia kira untuk Lia, ternyata dimakan dengan lahap oleh Jason. Tuan mudanya kenapa bisa berubah sedemikian drastis. Apa yang terjadi? Perdro penasaran.


"Kebapa kau masih disini? Mau makan ini juga?" tanya Jason.


"Ah tidak ... tidak ...." Pedro buru-buru keluar dari ruangan.


"Pedro tunggu!" Panggil Jason.


"Ya tuan?"


"Apakah Erick masuj bekerja?"


"Iya ada diruangannya."


"Suruh dia kemari. Tidak ... tidak. Biar aku saja yang kesana. Kau kembali lah bekerja."


"Ya, tuan." Erick keluar dengan perasaan heran.


"Hon ..."


"Ya?"


Panggilan berubah lagi dari kucing jadi sayang dari sayang jadi honey, besuk apa lagi? Gumam Lia dalam hati.


"Aku ke tempat Erick dulu ya. Aku mau melihat keadaannya." Jason sudah menegakkan tubuhnya dan mengambil suapan besar salad buah tersebut kedalam mulutnya.


"Iya pergilah sana. Pasrikan dia berbuat baik pada Laurent."


"Kau tidak apa-apa aku tinggal sendiri?"


Lia melotot.


"Kan cuma ke ruang sebelah."


"Tapi ... kenapa aku rasanya berat sekali meninggalkan dirimu sendiri, khawatir ...." Jason melirik perut rata Lia.


Lia menghela nafas dan tersenyum super manis. Dia berdiri dan melingkarkan tangannya di leher Jason. Mencium bibir sexy itu sesaat.


"Aku akan menunggumu dengan manis disini. Kembalilah dengan cepat." Bisik Lia lembut.


"Baiklah. Aku akan segera kembali," ujar Jason dengan wajah berseri-seri.


Pria itu kemudian melangkah ke arah pintu. Membuka pintu dan melangkah keluar. Sebelum menutup pintu kembali, dia masih sempat memandangi Lia. Lia membalas tatapan Jason dengan senyuman manis dan memberikan ciuman jarak jauh. Akhirnya pria itu bisa dengan lega menutup pintu ruangan kantornya.


Lia menghempaskan dirinya di sofa.


"Gilaaaaa ... baru dua hari sudah seperti itu. Manja nya gak ketulungan. Bagaimana aku harus bersabar selama sembilan bulan. Masa sama baby, anak sendiri cemburu. Haduhhh Jason ... Jason."


Lia memegang handphonenya. Dia ingin sekali mengadu pada kakaknya sekaligus mengabari tentang kehamilannya. Tetapi, Lia teringat akan Laurent. Dia kemudian memilih untuk menghubungi Laurent terlebih dahulu.


"Kakak ipar?!" Sapa Laurent dengan riang.


"Lauren! Bagaikana keadaanmu? Dimana dirimu saat ini? Apakah Erick marah?" tanya Lia beruntun.


"Duh ... tanya satu persatu dong." sahut Laurent terkekeh.


"Habisnya aku penasaran sekali dengan keadaanmu. Apalagi dirimu tidak menghubungi diriku kemarin." ujar Lia.


"Lalu bagaimana? Kau betulan hamil kan? Testpack itu tidak salah?" kini gantian Laurent yang bertanya.


"Iya benarrr aku hamilll." Sahut Lia dengan gembira.


"Wahhhh selamatttt! Kau memang kerennn. Katakan bagaimana kakak ku, si Jason. Dia pasti memperlakukanmu lebih mesra lagi kan?"


"Iya. Jason bahagia sekali. Dia bahkan sudah mencap kalau anak yang aku lahirkan pasti laki-laki."


"Cih! Sok tahu sekali. Belajar Biologi saja dia tidak tahu." cemooh Laurent.


"Hahhaha benar-benar. Dan kau tahu apa berita baik lainnya?"


"Apa?" tanya Laurent penasaran.


"Jason mengalami sydrom caudave. Jadi ... aku yang hamil, dia yang mengalami segala gejala mual dan selera makan berubah."


"Hah?! Benarkah?"


"Kau tidak akan percaya bukan jika aku katakan, Jason memakan apel hijau dengan nikmat."


"Tidak mungkin!"


"Iya benar."


"Aaaa ... gila, hahahha. Aku ingin menemui dan memeluk kalian."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berempat makan malam?" Ajak Lia dengan bersemangat.


"Ide yang bagus. Tapi tidak saat ini." Sahut Laurent yang dipaksa riang.


"Kau baik-baik saja? Apakah Erick marah dan menyakiti hatimu?" tanya Lia yang teringat dengan tujuan awal menghubungi Jason.


"Tentu saja aku baik-baik saja. Sekarang bahkan aku tinggal di apartemen Erick dan kau tahu, tadi pagi dia membuatkan pancake untukku." Sahut Laurent bahagia.


"Benarkah? Jason tidak pandai melakukan hal itu. Bahkan mengoles selai pada roti saja dia tidak pernah melakukannya untukku." Sahut Loa dengan cemberut.


"Hahaha ... jadi bisa disimpulkan kalau Erick ku lebih baik dari suamimu." Laurent terkekeh menggoda Lia.


"Mana bisa! Jason ku yang terbaik."


"Okey. Okey. Kau benar." Laurent mengalah.


"Laurent ... aku harap kau bahagia," ujar Lia lembut.


"Tentu saha aku bahagia. Sudah dulu ya ... aku hendak belajar membersihkan apartement." Ujar Laurent.


"Baiklah. Bye." Lia menutup sambungan habdphone. Dia kemudian kembali bekerja dibelakang layar komputer, tanpa tahu diseberang sana Laurent menangis tersedu-sedu .