
"Apa yang kau lakukan!" desis Jason dengan marah pada Lia.
Wanita ini memang selalu membuatnya berdebar dengan tingkahnya yang terkadang asal tanpa memikirikan orang lain. Meskipun berulang kali Jason juga menyadari, jika Lia selalu berpikir cepat dan tepat dalam setiap spontanitas yang dia lakukan.
"Maksud anda nona Lia?" tanya Annet dengan mata berbinar.
"Tidak ada batasan kan dalam lelang? Misalnya aku bisa kan melelang suamiku atau keperawananmu, itu juga jika kau masih perawan." serang Lia yang membuat wajah Annet seketika merah padam.
"Tidak ada batasan!!!" Seru beberapa wanita yang benar-benar berharap Lia akan melelang pria yang dibelainya itu.
"Baiklah, beri aku waktu dua puluh sampai tiga ouluh menit untuk mempersiapkan nya di balik panggung. Aku ingin hasil lelanganku akan menjadi sempurna." Lia kemudian menarik tangan Jason untuk mengikutinya.
Kepergian mereka membuat setiap mata memandang tak percaya dan berbinar penuh harap. Gedung itu dipenuhi dengan suara bisikan mereka yang bergosip. Mereka berspekulasi dengan satu kata bulat, jika Lia akan melelang suaminya. ini kesempatan luar biasa yang tidak akan dilewatkan oleh siapapun.
Sementara di belakang panggung. Lia meminta ruangan khusus yang tidak akan dimasuki siapapun, kecuali orang suruhannya. Frans dengan tegap berjaga di luar. Menghalangi setiap orang yang ingin masuk.
"Apa rencanamu kucing liar. Apa kau akan menjual suamimu sendiri?" tanya Jason dengan jengkel.
"Seandainya kau pun ingin, aku tidak akan melakukannya." ujar Lia santai.
"Lalu?"
"Tunggu sebentar."
Lia menghubungi Dareo.
"Cari sebuah topeng pesta yang bisa menutupi hampir seluruh wajah, kecuali bibir. Topeng pria, bodoh! Warna apa saja yang kau suka. Bawa kedalam gedung ini dalam waktu dua puluh menit. Aku menantimu dibalik panggung. Eits tunggu sebentar! Bawakan pakaian ganti tuan Jason yang berwarna hitam dan parfum!"
Lia menutup handphone nya dan menyeringai.
"Kau akan menipu mereka?" ujar Jason dengan terkekeh.
"Welll.. aku tidak akan menipu mereka. Aku juga tidak mengatakan siapa yang aku lelang bukan?" ujar Lia dengan tersenyum nakal.
"Baiklah kalau begitu, istri nakalku, kemarilah." Jason menepuk pahanya, meminta Lia untuk duduk di pangkuan.
"Sekarang apakah kau melihat kecerdasanku?" ujar Jason sambil memeluk Lia.
Mereka saat ini duduk di sebuah kursi yang bisa berputar, dengan cermin rias di depannya.
Lia duduk dengan melebarkan kakinya, duduk berhadapan dengan Jason. Dia mengalungkan tangannya memeluk leher pria tampan yang berjarak hanya tiga puluh centimetre dihadapannya.
"Kecerdasanmu?" tanya balik Lia tak mengerti.
"He eh. Kecerdasanku memilih ratu ku." ujar Jason sambil mencubit pipi Lia.
"Huh! Lebih tepatnya kau beruntung menculik dan membuatku menandatangani perjanjian itu. Hingga aku harus terikat bersama mu." Ujar Lia dengan mengerucutkan bibir nya.
"Hem.. bukankah kau bahagia pada akhirnya bisa dicintai pria seperti diriku." sahut Jason dengan angkuh.
"Oh ya... bukannya kau yang setengah mati mengharap cinta dari wanita seperti diriku." balas Lia dengan mencibir.
Tak tahan melihat bibir tipis itu mencibir kemudian mengkrucut, Jason langsung mengigitnya pelan. Dia sangat gemas sekali jika melihat bibir itu mulai bergerak-gerak dengan lincah.
"Ih.. sudah. Nanti keterusan. Doreo sebentar lagi datang." Lia melepaskan diri dari pagutan Jason.
Dia kemudian menyandarkan diri di dada suami nya dengan manja. Bermain-main di dasi Jason dan melepasnya perlahan. Jason memeluk Lia dan menyandarkan dagunya di kening gadis itu.
Tak lama ketukan terdengar di pintu.
Lia segera menegakan tubuhnya.
"Masuk." perintah Lia.
Doreo datang dengan membawa pesanan Lia. Satu stel jas milik Jason, juga topeng. Lia tersenyum nakal lagi.
"Doreo, hari ini aku membutuhkan pertolongan dirimu. Dan aku akan memberimu hadiah setelah ini, apakah kau bersedia?" tanya Lia dengan ramah.
"Tentu saja, nyonya muda. Apapun itu." ujar Doreo bersemangat. Selama ini perintah dari Lia tidak pernah menyulitkannya.
"Panggil aku nona. Aku masih terlalu muda dipanggil nyonya. Kau akan menyukai tugas yang aku berikan. Aku akan melelang dirimu kepada wanita-wanita cantik dan kaya disana."
"Hah?" Doreo meloto kaget dan mulut nya terbuka. Karena kesal dengan expressi wajah Doreo. Jason berdehem.
"Ehem!"
"Eh, maaf-maaf. Maksudnya di lelang bagaimana nona?"
"Kau akan segera mengetahuinya." Lia menyeringai licik, membuat Doreo berdebar.
*
Lia keluar dengan diikuti Doreo yang sudah mengenakan topeng dan pakaian Jason. Dalam perjalanan menuju panggung, Lia menemukan sebuah pecut merah muda dengan bulu angsa diujungnya. Tampaknya pecut ini sebelumnya digunakan sebagai atribut dance.
Suasana seketika hening ketika melihat Lia melangkah keatas panggung dengan ditemani seorang pria dibelakangnya. Beruntung sekali postur tubuh Doreo hampir sama seperti Jason. Hanya saja dia sedikit lebih kurus.
"Nona Lia, apakah tuan ini yang akan anda lelang?" ujar Annet sambil menelan ludah.
Lia tidak menjawab, dia hanya tersenyum.
"Maaf ya saya terlalu lama mempersiapkan pria tampan disisi ku ini. Okay langsung saja ya. Seperti yang anda lihat, jika pria ini Sehat, Tubuhnya gagah." Lia memecutkan pecut tersebut ke dada Doreo. Dan spontan para undangan berteriak, "Ah!"
"Setujuuuuuu!!!!!" teriak mereka dengan menggebu.
"Aku menawar sepuluh ribu dolar!" teriak seorang wanita gendut.
Belum juga Lia membuka harga, mereka sudah berebut menawar Doreo yang disangka sebagai Jason. Tawar menawar terjadi dengan sengit.
Tiba-tiba dari atas panggung, Annet ikut menawar.
"Lima puluh ribu dolar!" ujar Annet dengan keras.
Lia menoleh ke arah Annet dan tertawa.
"Penawaran anda terlalu kecil untuk pemuda tampan ini."
Lia kemudian menarik dasi Doreo dan berkata, "buka kancing bajumu!"
"Ya nona?" Doreo kaget.
"Cepat! Mereka harus menawarmu dengan harga yang fantastic. Kau berbuat amal untuk anak-anak penderita kanker." ujar Lia lagi.
Dengan cekatan, Doreo melepas dasi dan kemudian kancing jas dan kemejanya. Dia kemudian meletakan kedua tangannya di pinggang. Doreo tersenyum bangga ketika semua undangan tampak bergumam heboh melihat keliatan tubuh Doreo. Doreo lupa, apa yang terjadi dengan pengawal yang sudah memamerkan tubuhnya dihadapan Lia. Dia menikmati menjadi sorotan malam ini.
Lia memainkan bulu pecutnya di dada Doreo, kemudian memecut pria itu.
"Ah...." desah para undangan bersamaan.
"Apa? Saya mendengar Dua ratus ribu dolar?" teriak Lia.
"Dua rarus dua puluh!"
"Dua ratus lima belas!"
"Lima ratus ribu Dolar!" teriak Natali.
Semua langsung bergumam. Angka yang fantastic. Bahkan Doreo sampai melotot mendengar harga yang diperoleh dari melelang dirinya.
Uang yang sangat banyak dan belum pernah dia peroleh sebelum nya.
"Apa ada yang menawar lebih?" tanya Lia.
Tidak ada yang berani menawar lagi. Lima ratus ribu dolar hanya untuk dua jam makan malam, tanpa melepaskan masker berarti tanpa sentuhan, itu terlalu fantastic. Apalagi bagi mereka pria itu sudah beristri. Terlalu rugi.
"Nona Natali, anda yakin akan membeli dua jam makan malam dengan pria ini sebesar lima ratus ribu dolar?" Lia menyakinkan Natali dengan pilihannya.
Natali mengangguk mantap.
"Baiklah sekali lagi, saya bertanya. Anda yakin akan makan malam bersama pria ini?"
"Jangan bilang kau akan menarik kata-katamu dan batal melelang dirinya!" ujar Natali dengan tegas.
"Ooo tidak. Tentu saja tidak! Baiklah Lelang dari saya dimenangkan oleh nona Natali." ujar Lia dengan tersenyum nakal.
Natali tertawa gembira.
Seorang pengurus acara kemudian mengantar Doreo ke area lain, dimana ketika Natali selesai menandatangani check, dia bisa membawa kemenangannya pergi. Dan Lia memberi kode kepada Frans untuk membuat resevasi di restaurant.
"Kau tampak kecewa, Annet." ujar Lia yang masih diatas panggung.
Annet melengos.
"Jangan khawatir, aku akan mencarikanmu jodoh." bisik Lia.
"Masih ada satu lagi suprise terbesar malam ini. Lihatlah wanita cantik disisi saya. Perhatikan dengan seksama tubuh sintalnya." Lia memainkan bulu pecut di dada Anner yang terbuka.
"Pria tampan yang masih single, aku mendengar Lima puluh ribu dolar untuk sehari berkencan dengan nona Annet?!"
"Lima puluh lima ribu dolar!" teriak seorang pria berkepala botak
"Tujuh puluh ribu dolar!" teriak seorang pemuda berambut gondrong.
"Delapan puluh ribu dolar!" teriak seorang bertubuh gendut.
"Seratus dua puluh ribu dolar!" teriak tuan Marc, yang sebelumnya berdonasi sebersar sepuluh ribu dolar.
"Dua rarus ribu dolar!" balas si botak.
"Dua ratus lima puluh ribu dolar!" tuan Marc sudah berdiri dan melotot pada proa botak tadi.
Annet tak pecaya jika harga lelang dirinya bisa berakhir dengan mahal, akibat penjualan Lia yang luar biasa. Semalam berkencan dengan Annet seharga dengan emas permata yang dilelang oleh Natali.
Annet awalnya hendak marah pada Lia, tetapi ketika lelang dimenangkan oleh tuan Marc, duda kaya yang masih tampan.
Lia meninggalkan panggung dan tertawa penuh kemenangan. Dia berjalan lurus ke luar gedung, dimana mobil Jason sudah menantinya. Dibelakang mobil Jason, sudah terparkir mobil BMW Natali. Gadis itu menggandeng pria yang dia menangkan lewat lelang. Natali tersenyum sinis pada Lia, sambil berganyut manja di lengan Doreo.
...💖💖💖💖💖💖💖...