48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
jarum suntik



150


Bukan Butler Bernard namanya jika dia diam saja dan tidak mencari tahu kebenaran yang didengar.


Pria itu segera memerintahkam pada koki untuk menyiapkan sup hangat dan beberapa makanan ringan.


"Adonia! Siapkan dirimu, kita akan ke Penthouse."


Perintahnya pada seorang pelayan wanita.


"Menginap butler?" tanya gadis pelayan itu penuh harap.


Butler Bernard menatap Adonia sekilas dengan alis berkerut. Raut wajah butler Bernard yang seperti itu sungguh membuat janntung Adonia berdebar keras. Sudah terlalu lama dia tidak melihat expressi tegang, dengan kerutan yang berlipat-lipat di wajah butler.


Butler Bernard benar-benar berpikir keras, haruskah dia dan Adonia menginap? Tadi dia mendengar suara panik Lia dan suara muntahan Jason. Butler Bernard mengambil keputusan untuk Adonoa menginap, meskipun dirinya tidak suka melihat expressi kegirangan gadis itu.


"Bawa beberapa baju. Kita lihat saja nanti."


Ucapan butler Bernard membuat Adonia melonjak kegirangan. Tinggal sementara waktu di Penthouse tentu saja akan membuat teman yang lainnya iri. Pasalnya penthouse terletak di pusat kota. Meskipun dia tidak akan bisa keluar dari Penthouse, tapi setidaknya melihat pemandangan kota lebih mudah. Bukan hanya itu, pekerja pria di apartement mewah itu sangat rapi dan rupawan.


Butler Bernard lanjut menghubungi orang lain.


"Selamat pagi dr.Prakash! Tolong segera ke Penthouse. Tuan muda sedang sakit."


"Tuan muda? Tuan Jason maksudmu, butler?" tanya dr. Prakash di seberang sana.


"Tentu saja. Aku hanya memanggil satu orang dengan sebutan tuan muda."


"Ah benar. Maafkan aku butler, karena tuan muda hampir tidak pernah mengalami sakit." Sahut dr. Prakash terkekeh.


"Dia juga manusia biasa."


"Manusia setengah dewa," sahut Prakash terkekeh.


"Cepatlah kesana dr. Prakash. Jangan sia-siakan waktu mu."


"Baiklah butler."


Butler Bernard menyiapkan segala sesuatu dan bergegas menuju ke Penthouse bersama Adonia dan Fide yang menjadi sopir. Perlu waktu empat puluh menit untuk sampai di Penthouse dan dia sangat mencemaskan keadaan Jason, apalagi sedari tadi Lia tidak juga mengangkat telphone nya.


Sementara itu di Penthouse.


Jason merasa keadaannya lebih baik lagi. Selama tidak mencium aroma manis buah dan bunga. Dia bahkan merasa heran dengan perubahan yanh dia rasakan. Saat ini dengan terpaksa, Lia menggunakan syal tipis untuk menutupi rambutnya.


Sepasang suami istri itu, duduk berhadapan di sofa. Lia tidak berani menempel pada Jason. Karen itu artinya akan membuat Jason mual. Sedangkan untuk membeli perlengkapan shampo dan sabun, dia tidak tega meninggalkan Jason yang tampak lemas.


Pria itu hanya meminum pappermint tea tanpa mengunyak apapun. Lia yang asyik menikmati sarapan pagi nya pun terpaksa harus makan bersembunyi di dalam dapur. Menyebalkan sekali bukan. Ralat! Salah! Mungkin ini lebih baik bagi Lia, karena dia tidak perlu menderita berlebihan ketika hamil. Lia tertawa dalam hati.


"Kau yakin, tidak ingin sesuatu?"


Jason menggeleng.


"Tidak lapar?"


Jason lagi-lagi menggeleng.


"Kenapa aku jadi seperti ini ya?" Gumamnya heran.


"Kita ke dokter ya ...." ajak Lia.


"Tidak!" Tolak Jason tegas.


"Ya Tuhan. Aku lupa ...." Lia bergeges meninggalkan sofa, diiringi pandangan heran Jason.


Lia baru ingat, jika tadi dia hendak meminta dokter pribadi yang biasa menangani keluarga Jason. Lia tidak mengenal dokter tersebut, karena selama setahun lebih baik dirinya atau Jason tidak pernah berurusan dengan dokter.


"NOnaaaa .... sedari tadi saya hubungi kenapa todak diangkat juga. Apa anda tidak tahu bagaimana resahnya saya." Butler Bernard langsung saja berbicara tanpa henti ketika Lia menghubungi nya.


Sejak kapan orang tua ini jadi cerewet? Gerutu Lia dalam hati.


Terdengar alunan musik, pertanda seseorang memencet bel. Lia tanpa pikir panjang mematikan telphone lagi dan berjalan ke arah pintu. Bisa dibayangkan saat ini butler Bernard mengucapkan kata-kata omelan indah di dalam mobil.


"Ya?" tanya Lia melalui interkom.


"Saya dr. Prakash. Butler Bernar menghubungi saya untuk memeriksa keadaan tuan muda. "


Tumben pintar sekali butler Bernard? Tanpa diminta dia sudah mengerti isi hati ku. Tampaknya besuk aku harus hati-hati jika mengejeknya dalam hati, gumam Lia lirih.


Lia membuka pintu Penthouse. Disana dia melihat seorang dokter keturunan india, dengan tubuh tinggi dan gendut. Kepalanya yang plontos, bulat lonjong seperti telur, membuat dirinya tampak lebih lucu. Lia tersenyum melihat dr. Prakash.


"Silahkan masuk, dr.Prakash."


"Terimakasih." dokter yang berusia lebih dari lima puluh tahun itu, mengikuti langkah Lia masuk kedalam Penthouse. Hatinya bertanya-tanya akan keberadaan Lia di tempat ini. Dia mengira jika Lia adalah salah satu pacar Jason.


"Siapa?" tanya Jason malas.


"Dr. Prakash." sahut Lia.


"Siapa yang memanggilmu kemari? Mau apa dirimu?" tanya Jason kasar.


"Bernard ... dia khawatir dengan keadaan dirimu." Sahut dr. Prakash tenang. Tampaknya dia sudah terbiasa dengan sikap Jason yang intervoret dan terkesan kasar.


"Aku tidak apa-apa. Kau pulang saja." Sahut Jason sambil beranjak pergi.


Lia merasa aneh dengan sikap Jason. Dia menahan lengan pria itu dan menatapnya dengan kedua alis yang bertautan. Sikap Lia membuat Jasin kikuk.


"Biarkan dokter itu memeriksa keadaanmu." Kata Lia dengan lembut.


"Tapi ...."


Lia memiringkan sedikit kepalanya sambil mengangkat salah satu alisnya. Jason akhirnya tidak bisa membantah lagi. Apalagi ketika tangan kiri Lia memegang syal yang menutupo rambut. Bisa memalukan jika aroma buah itu menerjang penciuman Jason.


"Baiklah." sahut jason dengan lemah.


Dia berjalan kembali ke arah sofa. Duduk dengan sikap kaku. Mata nya menatap tajam pada dr. Prakash. Sangat berbeda sorot mata itu dengan ketika bertatapan dengan Lia.


"Lakukan dengan cepat." ujar Jason tegas.


Hal itu tentu saja membuat dr. Prakash sedikit tercengang. Bagaimana wanita cantik tersebut bisa membuat Jason mengalah sekaligus menurut. Hal yang langka dan ini gosip yang besar. Ups! Jangan sampai tuan Jason mendengar kata hatiku, ujar dr.Prakash.


Setelah memeriksa keadaan Jason dan mengecek tensi darah. dr. Prakash menemukan jika proa tampan itu baik-baik saja.


"Keadaan anda baik-baik saja tuan." ujar dr. Prakash dengan tersenyum lebar.


"Kan, sudah aku bilang jika aku baik-baik saja." Sahut Jason dengan ketus sambil menggulung lengan baju nya.


"Tapi dia muntah, dokter. Apalagi jika mencium aroma parfum buah." Sanggah Lia dengan cepat.


"Aku tidak apa-apa!" Sahut Jason sambil menatap Lia tajam sambil memberi kode untuk diam. Tapi Lia tidak memahami kode tersebut.


"Yakin, kau tidak apa-apa? Coba cium rambutku." Lia tanpa peringatan segera duduk di sisi Jason dengan rambut terurai tanpa penutup.


"Hoiiii ... menjauhhh." Teriak Jason kesal sambil menutupi hidung dan mulutnya. Dia mendorong dr Prakash agar bergeser menjauh, sehingga memudahkan Jason untuk menghindari Lia.


"Tuh kan dr. Prakash. Dia tidak baik- baik saja. Dia mual-mual, padahal aku yang hamil."


"Kalau begitu saya akan menyuntik vitamin untuk tuan muda." dr Prakash mengeluarkan jarum suntik dan bungkus plastiknya.


Jason yang melihat jarum suntik itu terbelalak. Spontan saja dia berteriak, "TIDAK!"