48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
baku hantam



"Erick." Panggil Jason saat ia masuk kedalam ruangan Erick.


"Jason." Sahut Erick yang sedang menenggelamkan pikiraannya dalam pekerjaan yang menumpuk. Dia bahkan tidak mengangkat wajahnya disaat Jason menyapa. Erick tetap berwajah serius menatap ke arah laptop.


Jason duduk dihadapan Erick, menyolangkan kakinya dan bersandar dengan santao di kursi. Dia menatap sahabat terbaik yang sekarang menjadi adik iparnya. Pria dihadapannya itu tampak masih sangat serius, tidak mengindahkan keberadaan Jason.


"Kenapa kau tidak mengambil libur dan mengajak Laurent bersamamu?" tanya Jason dengan nada bersahabat.


"Jika itu yang kau perintahkan, baiklah." sahut Erick dingin.


"Hei! Ada apa dengan dirimu?!" Jason menjadi heran melihat sikap Erick yang datar. Sangat berbeda dengan Erick yang dia kenal, penuh canda dan ceria.


"Apa yang salah? Aku sedang sibuk." Jawabnya dingin.


"Kenapa kau bekerja keras hari ini?" Ujar Jason dengan santai.


"Apakah salah? Toh aku hanya pegawai disini yang harus mematuhi perintahmu?" terdengar nada sinis dibalik ucapan Erick.


Jason terpana.


"Apa ada yang salah?!" tanya Jason berusaha sabar.


"Tidak ada. Semua perfect seperti yang kau rencanakan." Sahut Erick tanpa melepaskan pandangan pada laptop.


Jason berdiri dari duduknya, dia menutup laptop Erick dengan keras. Masih dengan tangan yang menyentuh laptop, Jason memandang Erick dengan tajam. Pandangan mata mereka terkunci satu sama lain untuk sesaat.


"Katakan apa masalahmu." Ujar Jason berusaha untuk tenang sambil kembali duduk di kursi dihadapan Erick.


"Tidak ada. Semua baik-baik saja." Sahut Erick cepat. Dia masih saja menyembunyikan kekesalan hatinya.


"Baiklah jika begitu. Aku akan memberitahumu kabar bagus. Lia hamil." Jason tersenyum lebar menyampaikan kabar itu. Terukir kebahagiaan dan kebanghaan di wajahnya.


Erick memajukan tubuhnya merapat ke meja.


"Apa katamu?"


"Aku akan segera menjadi seorang ayah." Ucap Jason dengan bangga.


"Selamat." Ucap Erick dengan dingin.


"Kenapa terkesan tidak tulus ya?" Jason mengernyitkan keningnya menatap Erick. Dia masih tidak paham dengan sikap sahabat sekaligus orang kepercayaannya ini.


"Jika istrimu yang hamil, kenapa kau mengatakan Laurent yang hamil ?! Kenapa kau memaksa diriku menikahi adikmu! Apa kau tidak tahu bagaimanaa perasaanku saat ini?!" Erick tidak dapat lagi menahan kemarahannya. Semua keksalan yang dia tahan saat ini sudah ditumpahkannya.


Sikap Erick yang berapi-api membuat Jason terpana. Dia tidak pernah melihat sisi Erick yang seperti ini. Sangat tegang dan penuh kemarahan. Bahkan wajah pria itu sudah memerah dengam tangan yang mengepal diatas meja.


"Aku juga baru tahu kemarin." jawab Jason.


"Berarti Lia sengaja bersekongkol dengan Laurent untuk menjebakku. Dan kau! Kau bodoh sudah menyeretku ke dalam jebakan mereka." tuding Erick dengan geram.


"Jaga mulutmu, Erick!" desis Jason.


"Itu kenyataannya."


"Test pack itu tertukar tanpa disengaja. Lia sudah menceritakan. Aku kemari sengaja untuk meminta maaf padamu akan kesalah pahaman ini. Jadi kau tidak perlu emosi seperi itu." Jason berusaha untuk tetap tenang.


"Ini salah. Semua salah! Kau yang membuatku bersumpah untuk kedua kalinya!" Gerutu Erick kesal.


"Ada apa denganmu, Erick?! Jika kau memang tidak melakukan apapun pada Laurent, kenapa kau diam saja? Kenapa kau bersedia menikahi adikku dan mengucapkan sumpah?!" tanya Jason dengan tegas.


"Aku ... argh!" Erick memukul meja dengan kesal.


Dia tidak dapat menjelaskan apa yang salah pada dirinya saat itu. Kenapa dirinya tidak membantah dan memberontak. Malah yang di lakukannya adalah menggandeng tangan gadis itu dan menyematkan cincin. Seharusnya dia memberontak dan menolaknya.


"Aku akan menceraikan Laurent." Gumam Erick.


"Apa katamu?!" Jason langsung berdiri melewati meja dan menarik kerah kemeja Erick dengan geram.


"Pernikahan ini salah. Aku tidak bisa membahagiakan Laurent." Gumam Erick lagi.


"Perceraian yang terbaik untuk kami."


"Si alan kau!" Jason melayangkan tinju di wajah Erick.


Erick pasrah menerima pukulan Jason di wajahnya. Dia terhuyung jatuh di kursi dan menyeka darah di sudut bibirnya. Pria itu masih dengan sorot mata yang tak bersalah.


"Apa kesalahan Laurent? Katakan apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan untuk dirinya?!"


"Aku tidak mencintai Laurent!"


"Omong kosong!" lagi, Jason melayangkan pukulan ke wajah Erick__________"Kau harus dihajar, agar otakmu encer!"


"Kau mencintai Laurent! Jika tidak, kau tidak akan bersikap seperti itu jika dia menghilang." Kata Jason dengan tegas.


"Aku hanya bersikap baik karena dia adikmu." sahut Erick.


"Kau tidak memperlakukan Laurent sebagai adikku. Kau memperlakukan dia sebagai seorang wanita. Aku tahu itu." Tegas Jason dengan yakin.


"Kau salah bro menilai isi hatiku."


"Kau yang salah menilai isi hatimu!"


"Aku ini hanya seorang pegawai! Kenapa kau memaksa diriku untuk mendampingi Laurent?! Aku tahu tempatku! Aku mengerti posisiku! Kenapa justru kau yang memaksakan adikmu dalam pelukanku?! Apa Laurent sudah tidak laku lagi?!" teriak Erick dengan emosi.


"Jaga ucapanmu!" Jason melayangkan pukulannya lagi pada Erick. Namun kali ini dengan cepat Erick menangkis dan membalas Jason.


Keributan terjadi, kedua pria itu saling baku hantam, menyebabkan keributan di kantor.


Pedro dan Lia bergegas menghampiri ruangan Erick. Mereka terkejut dengan kekacauan disana.


"Pedro tolong lerai mereka." Pinta Lia.


Pedro mencari kesempatan untuk bisa masuk dalam perkelahian tersebut. Saat ada kesempatan, dia segera dengan cepat menarik tangan Erick untuk menjauh. Pedro dan Erick jatuh bersamaan. Erick masih berontak, ingin membalas Jason. Namun gerakannya terkunci oleh Pedro.


"Apa-apaan sih kaliaan ini? Erick kau duduk! Jason kau juga duduk disana!" Bentak Lia.


Entah bagaimana mereka berdua mematuhi perkataan wanita itu. Mungkin, karena prisip mereka yang tabu untuk menyakiti wanita.


"Trimakasih Pedro. Tolong keluarlah." Pinta Lia.


"Baiklah. Aku akan mengambil obat." Ujar Pedro.


Lia memandang kedua pria yang saat ini dalam keadaan babak belur. Wajah tampan suaminya tampak membiru. Lebih parah lagi Erick. Memar itu tampak di beberapa bagian wajahnya.


Tak lama Pedro kembali dengan membawa es batu yang dibungkus kain dan obat-obatan. Mereka seakan mengerti untuk membagi tugas. Lia mengobati jason dan Pedro mengobati Eric.


Disaat Lia mengoleskan obat dan hendak mengompres luka Jason, pria itu mengadu dengan manja, "Aa ...."


"Ini sekarang tau sakit? Hanya dikompres dan dioles obat saja mengeluh. Begitu main pukul-pukulan." ujar Lia tang dengan gemas sengaja semakin menekan kompres es.


"Laki-laki lemah!" ejek Erick.


"Breng Sek! Sakit tau!" bentak Erick pada Pedro saat pria itu menekan kompres di area wajah Erick yang membengkak.


"Cih! Katakan hal itu pada dirimu sendiri." Cibir Jason mengejek.


"Mau merasakan pukulanku lagi?!" Bentak Erick dengan marah.


"Apa kau mau aku buat tidak bisa berjalan?!" Gertak Jason tak mau kalah.


"Hei, anak kecil! Kalian mau bertanding? Aku akan menjadi wasit bagi kalian!" Kali ini Lia sudah benar-benar kesal dengan sikap kedua pria yang kekanakan itu.


...💖💖💖💖💖💖💖...