48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
kegundahan



Eric menyeruput perhalah teh hangat yang telah diseduh oleh Laurent. Rasa tawar dari teh itu dan kehangatannya yang mengalir, membuat tenang perut Erick yang sebelumnya bergemuruh. Dia sudah menelan obat untuk mengatasi buang air besar. Dan keadaanya saat ini jauh lebih baik.


Semenjak tiba di apartment, Erick belum beranjak masuk kedalam kamar. Dia masih merebahkan diri di sofa sambil menonton acara berita di televisi. Dia mengacuhkaan keberadaan Laurent disisinya.


Meski pandangan matanya masih lurus menatap layar datar telivisi, tetapi angannya masih pada persebatan dengan Jason. Di ruangan ini, terpisah dengan Lia dan Laurent yang berbincang di dalam kamar, mereka berdua berargument.


"Apakah kau menolak adikku, hanya karena sumpah konyol mu itu?" tanya Jason dengan perlahan. Dia menatap tajam pada Erick yang terkejut dengan pertanyaannya.


"Itu bukan sekedar sumpah konyol Jason, itu komitmen dan harga diriku." desah Erick.


"Kau mencintai wanita yang salah." Celetuk Jason tajam.


"Apa maksudmu?!" Geram Erick tersinggung.


"Jika dia adalah wanita yang baik-baik, dia pasti akan menginginkan dirimu bahagia. Hidup dengan memandang kedepan bukan menoleh kebelakang, ke masa lalu." tegas Jason.


Ucapan Jason tenang namun sangat menusuk.


"Kau tidak berhak menghakimi dia. Kau bahkan tidak mengenal dirinya. Dia adalah gadis lemah lembut dan penuh kasih sayang."


"Baiklah, aku mengakui jika terlalu kasar menilai orang yang tidak ku kenal. Kalau begitu, caramu mencintai dirinya lah yang salah." Sahut Jason lagi membalikan keadaan.


"Maksudmu apa?!" Erico semakin gusar. Dia memandang Jason sambil menaikan kedua alisnya.


"Kau tidak merelakan dirinya pergi dengan tenang, setelah bertahun-tahun. Kau mengenang dan mengikatnya terlalu dalam. Menurutmu apakah dia bahagia melihat dirimu seperti ini, tidak bisa merengkuh kebahagiaan dan hanya terbelenggu masa lalu."


"Itu karena aku mencintai dirinya."


"Lalu bagimana dengan Laurent. Jangan katakan kalau kau tidak mencintai dirinya. Jangan ucapkan tipuan itu lagi. Aku saja tidak percaya, apalagi hati kecil mu. Kadang aku merasa jika ikatan sumpah mu itu hanya akal-akalanmu saja. Jangan jadi cowok lemah dan brengsek!"


"Tapi_____"


"Lepaskan cinta pertamamu, biarkan dia damai di Surga. Kenang lah dia! Tapi jangan membuat dirimu dan dirinya terikat. Takdir kalian sudah terhenti ketika jalan menuju masa depan sudah terpisah." ujar Jason dengan bijaksana.


"Sejak kapan kau mengerti philosophy kehidupan." ejek Jason.


"Tentu saja aku mengerti. Karena aku mempelajari ilmu psikologi. Bukan sekedar psikologi bisnis. Tapi karakter manusianya. Untuk itu aku tidak pernah salah menilai. Bahkan ketika memutuskan untuk menikahi Lia secara sepihak. Lihatlah aku dan Lia, kita bahagia." Ujar Jason dengan penuh kebanggaan.


"Heh! Mudah bagimu untuk mengatakannya. Kau menyediakan segalanya untuk Lia, sehingga nyonya Laura pun tidak bisa menolaknya. Rintanganmu hanya pada tuan besar, tapi tampaknya keberuntungan masih berpihak pada kalian, Lia hamil. Tuan besar tidak akan berani menciptakan scandal yang mencoreng nama baik keluarganya." Sahut Erick dengan mencibir.


"Lalu apa bedanya dengan dirimu?"


"Tentu saja berbeda!" Suara Erick terdengar meninggi. Kemudian dia menghela nafas panjang.


"Terlepas dengan masa lalu ku. Baiklah, aku tidak menyangkal kata-katamu. Cinta pertama dan sumpahku hanyalah salah satu alasan. Mungkin aku terlalu takut untuk mencintai Laurent___"


"Kenapa?"


"Tidakkah kau mengerti? Dia anak tuan besar Darrel Madison. Dia anak atasanku yang hanya menggap diriku sebagai karyawan. Apalagi ibu mu, dia hanya menganggapmu sebagai pesuruh. Dia hanya memandang sebelah mata padaku. Bagaimana aku bisa membahagiakan Laurent dengan tetap memegang teguh prisipku sebagai seorang pria?!" Erick menghela nafas panjang.


"Apakah orang tua mu rela, Laurent putri kesayangan mereka menikah dengan jongos seperti diriku? Aku tahu kedudukanku. Karena itu aku terlalu takut untuk melangkah. Aku_____ tidak ingin mempermalukan Laurent," ujar Erick lagi.


Jason terdiam. Dia tidak menyadari tentang hal ini. Selama ini dia pikir, jika Erick hanya terikat dengan masa lalu yang membuat dirinya takut untuk menerima Laurent. Tetapi kenyataannya dia merasa tidak nyaman dengan status nya yang tidak sejajar.


Pria dan wanita memang berbeda. Wanita bisa dengan mudah bergantung pada suaminya. Sedangkan suami, dibelahan dunia manapun, tetaplah sama. Sangat memalukan jika dirinya bergantung pada seorang wanita. Erick mempunyai harga diri, dia bukan pria materialistis.


"Jangan takut, aku akan melindungi dirimu, asal kau membahagiakan adikku. Mom and Dad, tidak akan memandangmu sebelah mata. Aku yakinkan dirimu, jika mereka sangat menghargai dirimu. Selama ini, kau adalah orang penting dalam bisnis ini." ucap Jason berusaha menyakinkan Erick.


"Entahlah Jason ...." desah Erick putus asa.


"Tanya pada hatimu, bagaimana perasaanmu sesunguhnya pada Laurent. Mana yang lebih baik, dia bahagia disisimu menghadapi cemooh dunia atau tersenyum dalam kehancuran ketika harus menikah karena bisnis?!" Tegas Jason lagi.


Perkataan Jason itu yang membuat Erick sedari tadi diam. Dia tidak beranjak dari posisi duduknya di depan layar datar. Bahkan tidak menyadari saat Laurent duduk disisinya dengan membawa sup hangat.


"Erick, makan ini ya, mungkin tidak seenak buatan koki, tapi ... ini bagus untuk perutmu." Ujar Laurent dengan lembut.


Erick mengalihkan pandangannya kearah Laurent. Dia membiarkan gadis itu menyuapi dirinya dengan sup hangat, yang memang sedikit keasinan. Di pandanginya Laurent yang tampak sepenuh hati meniup dan menyuapkan sup.


"Tidak enak ya?" tanya Laurent kecewa.


"Rumayan," sahut Erick singkat.


"Masih mau menghabiskan?"


Erick mengangguk menerima penawaran Laurent. Dengan senyum ceria Laurent menyuapkan sup itu hingga habis. Setelah nya dia mengusap bibir Erick dengan tisyu dan menyodorkan kembali segelas teh tawar hangat. Erick menerima semua pelayanan dari Laurent.


"Katakan padaku, kenapa kau masih disini?" tanya Erick perlahan.


"Maksudmu?"


"Kenapa kau masih tinggal disini. Apartement ini terlalu kecil untuk dirimu."


"Maka belilah yang besar untuk kita. Atau belilah sebuah rumah dengan halaman yang luaasss ... agar anak-anak kita kelak, bisa berlari dengan bebas. "


Erick menghela nafas panjang mendengar perkataan Laurent.


"Kau seharusnya kembali ke Penthouse."


"Tidak! Dimana suamiku berada disitulah aku berada." ujar Laurent dengan percaya diri. Dia merebahkan kepalanya di dada Erick sembari memeluk pinggang pria itu.


"Jangan jauhkan aku dari mu, Erick. Kau tahu aku mencintaimu. Dan aku tau kau mencintaiku. Jangan pernah lari dariku. Karena bagaimanapun juga aku akan mengejarmu dan mengikatkan tali kekang di lehermu. Seumur hidup kau adalah milikku." ujar Laurent dengan tegas.


...❤❤❤❤❤...


...Selamat menyambut ibadah puasa....