
Hari ini adalah hari terakhir Lia berada di Miami. Berat terasa di hati Lia untuk meninggalkan kakaknya Diana dan semua keponakan lucu yang menggemaskan.
Dari mereka Lia belajar banyak hal. Tentang cinta, perhatian, kerukunan dan persatuan. Bagaimana mereka selalu membagi cinta meskipun terkadang meributkan hal yang tidak penting. Bagaimana mereka saling memperhatikan satu sama lain.
Di dalam pesawat pribadi Jason, Lia menatap ke arah luar jendela. Dia menangis terisak melihat lima orang keponakannya dan Andrew sang kakak ipar menyempatkan diri untuk mengantar kepergiannya. Diana tidak bisa mengantar karena kesehatan Adelaide.
Mereka berteriak dan melambaikan tangan, "We love You and Miss You."
Yel-yel yang di teriakan begitu mengena hati nya.
Jika saja bisa, Lia ingin menetap bersama mereka selamanya.
Wanita itu mengusap perutnya. Bagaimana pun juga dia memiliki keluarga sendiri yang harus dibangun. Tidak mungkin dia memisahkan anak dari ayah kandungnya. Mungkin suatu saat nanti dia bisa memiliki keluarga yang penuh cinta dan rukun seperti mereka.
Jason meletakan tangannya di bahu Lia. Dia memberikan kesempatan bagi Lia untuk memandang mereka, hingga ketinggian membuat Lia hanya melihat titik-titik kecil dan semua nya menghilang di balik awan putih.
Wanita itu kemudian melampiaskan tangisannya di dada Jason. Dia menangis di dada bidang suami nya. Lia terus terisak hingga tanpa sadar dia terlelap dalam pelukan Jason. Untuk beberapa saat, pria itu memeluk istrinya, hingga kemudian dia mengangkat Lia dan membaringkan wanita itu di tempat tidur.
Jason berbaring di sisi Lia dan memeluk kekasih hati yang sudah menguasai hidupnya. Dia perhatikan dengan seksama wajah wanita yang terlelap di sisi nya.
Alis tipis yang tebal alami, bulu mata panjang dan lentik bagaikan kipas, hidung mancung dan mungil. Bibir merah tipis yang menggoda. Dari samping wajahnya bagaikan lengkungan busur yang sempurna dan wajah menggemaskan itu tampak lebih sempurna dari arah depan.
Jason juga belajar banyak dengan tinggal bersama Andrew dan Diana. Ikatan keluarga yang tak pernah ia mengerti.
Baru pertama kali bagi Jason, duduk makan semeja dengan anak-anak panti asuhan di restaurant cepat saji. Baru pertama kali bagi dirinya melihat mata-mata yang berbinar dan tangan-tangan kecil menggenggam makanan bagaikan harta karun. Mulut mereka mengunyah dengan lahap.
Uang seribu dolar yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan harian di mansion, menjadi berkah yang luar biasa untuk anak-anak tersebut. Uang tersebut benar-benar diberikan semuanya oleh Aaron. Seribu dua ratus dolar. Cukup untuk membayar kebutuhan mereka selama dua bulan ke depan.
Meskipun Jason bergerak dibilakang layar membiayai organisasi kemanusiaan, tapi dirinya yang tak pernah terjun langusng, tidak benar-benar mengerti rasanya berbagi.
Jason turun dari tempat tidur dan mulai menuju sofa. Dia kembali bekerja banyak hal yang harus dia lakukan. Banyak hal yang masih harus diurusnya.
Mereka tiba di Paris saat hari sudah mulai malam. Jason hendak mengajak Lia untuk kembali ke Mansion, tapi melihat wanita itu lelah, Jason memutuskan untuk membawanya ke Penthouse.
"Doreo, putar ke Penthouse. Frank, kau tinggalah di Penthouse malam ini!" Perintah Jason pada supir dan pengawal pribadinya.
"Baik, Tuan!"
Doreo segera memutar arah laju mobil. Sementara Frank segera mengirim pesan untuk mengirim pelayan ke penthouse.
Sesampainya di Penthouse ternyata Adonia sudah ada di sana. Dia memang sudah ditempatkan butler Bernard sebelumnya untuk berjaga-jaga jika saja tuan muda tidak langsung kembali ke Mansion.
"Tuan muda dan Nyonya kecil," sapa Adonia ketika membuka pintu.
"Hai Adonia," Lia menyapa dengan senyum tipis.
"Tolong siapkan makanan. Jangan lupa untuk Frank dan Doreo juga ya. Mereka pasti kelaparan."
"Baiklah, nyonya kecil." Adonia mengangguk patuh.
Setelah membantu membawakan beberapa barang pribadi Lia di kamar, Adonia kemudian beranjak ke dapur.
"Kau tidak lelah?" tanya Jason ketika melihat Lia sibuk membongkar koper berisi oleh-oleh.
Lia menggeleng, masih sibuk melihat kaos yang dia beli.
"Kau ini aneh. Kenapa juga harus sibuk-sibuk membeli oleh-oleh untuk semua pelayan dan pengawal. Merepotkan saja!" Gerutu Jason melihay banyaknya koper yang di bawa Lia hanya untuk oleh-oleh. Ada Tiga koper besar di lantai bawah. Dan salah satunya sudah di buka oleh Lia.
"Kau tidak tahu ya, rasa senang seseorang ketika mendapatkan oleh-oleh? Perasaan itu seperti mendapatkan hadiah ulang tahun. Mungkin tidak seberapa untukmu, tapi itu luar biasa untuk mereka," ujar Lia sambil mengambil sebuah kaos berwarna pink.
"Adoniaaaa, kau suka warna ini?" Lia memberikan kaos tersebut pada gadis pelayan tersebut.
"Tentu saja, Nyonyaaa. Ini untuk saya?" pekik Adonia gembira.
"Tentu saja. Kalau kau mau lagi, nanti pilih satu lagim semua pelayan wanita dapat satu terusan dan satu atasan juga gantungan kunci."
Lia memainkan gantungan kunci berwarna emas tersebut.
"Sabentar, Nyonya. Saya beresekan masakan ini dulu. Setelah itu saya mau memilih lagi." Dengan cepat Adonia mengaduk kentang tumbuk.
Dia kemudian menyajikan di piring sepotong steak ayam dan kentang tumbuk juga brongkoli yang di masak dengan bawang putih.
Untuk Doreo dan Frank, Adonia juga menyediakan sepotong steak ayam dan kentang kukus.
"Nyonya makanan anda sudah siap. Yang dua ini saya akan berikan pada Doreo dan Frank. Kemudian bolehkan saya memilih oleh-olehnya lagi?" tanya Adonia tanpa bisa menutupi kegembiraannya.
"Tentu saja. Pilihlah."
Adonia melompat gembira. Dia langsung meninggalkan ruang makan yang menyatu dengan dapur begitu Jason masuk.
"Ada apa dengan dia?" tanya Jason heran.
"Dia ingin memilih oleh-oleh lagi," ujar Lia dengan santai.
"Cih! Begitu saja sampai heboh."
"Itu namanya perasaan senang menerima oleh-oleh, kado, hadiah." Lia menjelaskan.
"Ah biasa saja."
"Yakin? Kau tidak suka menerima kado?" tanya Lia menggoda.
"Apa kau pernah melihatku meloncat-loncat karena sesuatu?" tanya Jason dengan gemas.
"Mungkin tidak meloncat-loncat. Tapi, expressi wajah mu dan sinar gembira tidak bisa kau tutupi."
"Kapan aku seperti itu?" ucap Jason menyangkal.
Dia masih mengunyah makanannya hingga habis. Saat Lia sudah menghabiskan makanannya juga, wanita itu berdiri menghampiri suaminya. Dia berbisik lembut di telinga Jason. Seketika pria itu menegakkan punggung dengan mata terbelalak.
"Itu hadiahmu, kau suka?" ujar Lia menggoda.
"Kau menggodaku," Jason menyeringai lebar.
"Benarkah?" Lia menujukan wajah tak bersalah.
Dia berjalan meninggalkan Jason. Pria itu terkesima dan mulai mengejar istrinya.
"Sayang, kau yakin aku bisa mendapatkan hadiahku sekarang?" tanyanya hati-hati saat mereka berjalan sejajar.
Lia mengangguk, "Jika kau mau."
Langsung saja dengan tak sabar, Jason mengangkat tubuh Lia. Dia berjalan dengan cepat menaiki tangga masuk ke dalam kamar mereka.
Hmm ... dapat hadiah apa ya Jason? ๐ค
...โ๐นโ๐นโ๐นโค๐นโคโ๐นโ๐นโ๐น...
JANGAN LUPA YA VOTE DAN POIN.
Saya berkarya anda membaca.
Saya menulis anda tekan like.
Saya berpikir anda tinggal beri hadiah poin.
Saya senang anda juga senang, update lancarrr.
Horeee!!!
Pahalanya besar lohhh โค