
Erick menjalankan mobilnya perlahan menuju ke kantor. Dia mengendarai dengan perlahan dan pikiran yang melayang. Pria itu merasakan kepalanya pusing karena terlalu banyak halnyanh harus dia pikirkan.
Melamun sambil menyetir, itulah yang Erick lakukan. Pria itu dengan tiba-tiba menginjak rem saat dia hampir menabrak pejalan kaki yang menyebrang di zebra cross.
Erick mengusap wajahnya. Hampir saja dia menghilangkan nyawa seorang nenek tua. Pria itu diam saja ketika wanita tua tersebut marah sambil memukulkan payung yang dia bawa ke kap mobil. Cat mobil pasti akan mengelupas, meninggalkan guratan kasar.
Erick kembali menjalankan mobilnya dan berhenti di depan gedung perkantoran yang menjulanh tinggi. Pria itu keluar dan membiarkan satpam memarkirkan mobilnya.
Erick memasuki gedung dan naik ke lantai atas dengan lift khusus. Sesampainya di lantai atas, dia bahkan belum melihat Bertha dan Pedro. Hari ini terlalu pagi Eric tiba di kantor.
Erick kemudian meletakan tas kerjanya di ruangan dam keluar lagi membuat kopi untuk dirinya sendiri. Saat membuat kopi, Erick teringat ketika pertama kali Laurent membuat kopi untuknya.
Pria itu menghela napas menyadari jika dalam ingatannya Laurent muncul kembali. Gadis periang dengan senyum lebarnya. Karakter Laurent sangat jauh berbeda dengan Liliane yang lemah lembut.
Erick membawa satu gelas besar kopi kedalam ruangan. Dia masuk ke dalam kamar yang ada dalam ruangan tersebut. Pria itu memutuskan untuk merebahkan diri untuk sesaat. Rasa pening akibat kurang tidur membuat kepalanya berdenyut.
Belum sempat, Erick memejamkan matanya, handphone miliknya berdering. Erick mengangkat tanpa membaca siapa yang menghubunginya di pagi hari.
"Hallo ...."
"Kakak!"
"Ada apa, Jessy?" jawab Erick untuk panggilan kesayangan adiknya Jessica.
"Mom sakit."
Erick langsung terduduk dari posisi tidur.
"Bawa dia ke dokter, Jessy," ujar Erick sambil memijat keningnya yang semakin berdenyut.
"Sudah. Dokter bilang, kalau mom ...." Suara Jessica terhenti berhanti dengan isakan tangis.
"Jangann menangis. Ada apa dengann mom?" tanya Erick dengan gusar.
Jessica masih terisak. Serelah beberapa saat dia bisa mengendalikan diri gadis itu berkata,
"Dokter bilang mom terkena kanker payudara."
Deg! Jantung Erick berdetak kencang. Pria itu sangat terkejut dengan perkataan adiknya. Perkataan Jessica sanggup mengangkat semua rasa pening yang dia rasakan. Bahkan matanya saat ini sudah terbelalak.
"Apa katamu?" tanya Erick menyakinkan pendengarannya.
"Mom mengidap kanker payudara."
"Apa kau sudah memastikan ke dokter lain?"
"Belum. Aku ingin mengajak mom ke kota, tapi dia menolak. Mom terlalu memikirkan keadaan toko peninggalan daddy," Jessica kembali terisak.
"Katakan pada mommy, aku membutuhkannya di sini."
"Kau tahu bukan, jika mom pasti meminta alasan. Dia enggan menginjakan kaki kembali di Paris. Kau memerlukan alasan kuat," ujar Jessica dengan bingung.
"Katakan aku sakit keras dan tiada seorang pun yang akan merawatku."
"Baiklah kakak. Aku harap, mommy akan segera pergi ke Paris. Kakak ...," panggil Jessica dengan lembut.
"Iya ...."
"Kau baik - baik saja?"
Jason menghela napas. Dadanya saat ini terasa sesak. Dia tidak berbohong saat mengatakan jika dia sakit. Karena rasa sakit ini sudah hampir membuay dadanya meledak.
"Iya. Aku baik-baik saja. Aku akan mengirim uang sebentar lagi."
"Baiklah, Kakak. Terimakasih."
Erick kembali merebahkan dirinya dengan kasar ke atas tempat tidur. Dia memejamkan mata dengan kening berkerut. Orang tua satu-satunya kini sedang sakit keras. Orang tua yang hampir lima tahun tidak pernah berjumpa dengannya.
Erick enggan kembali ke kampung halaman, karena setiap sudut kota mengingatkan dirinya akan Liliane. Sedangkan nyonya Victoria ibu Erick, enggan menapakan kaki di Paris, karena kota itu mengingatkan dirinya akan masa-masa jaya mereka.
Tanpa terasa Erick tertidur selama satu jam. Satu jam yang sangat berarti ketika bisa tidur dengan nyenyak. Di saat bangun, Erick membasuh wajahnya dan berkumur dengan penyegar.
"Oh My God! Anda sudah datang, Tuan Erick?" Bertha terkejut ketika hendak meletakan berkas di meja pria tampan tersebut.
"Apakah Jason sudah datang?" tanya Erick tanpa menghiraukan pertanyaan Bertha.
"Belum, Tuan. Tapi, Pedro bilang jika tuan Jason kan kembali bekerja hari ini dan memghadiri rapat," sahut Bertha.
"Baiklah. Kabari aku jika dia sudah datang. Ada yang harus aku diskusikan dengan dirinya."
Lima menit kemudian, dia menghubungi Erick lewat telphone kantor.
"Ya."
"Nona Svetlana datang dan ingin menemui anda, Tuan."
"Katakan padanya aku sibuk."
"Tapi tuan, dia memaksa."
"Aku tidak ingin bertemu ...."
"Hallo Erick."
Perkataan Erick terputus saat tiba - tiba Svetlana masuk tanpa mengetuk pintu. Dia menghela napas dan meletakan gagang telphone. Wanita itu sudah masuk dan duduk di hadapannya.
"Maaf, jika aku memaksa masuk. Tapi aku hanya ingin mengatakan padamu, jika aku menerima kabar dari mommyku, jika mommy mu tampak sakit," cerita Svetlana dengan wajah yang tampak sangat khawatir.
"Iya aku sudah tahu, Jessy sudah menghubungiku." Jawab Erick.
"Jadi, apakah sakitnya berbahaya?"
Erick menatap Svetlana dengan sendu. Dia tidak tahu bagaimana karakter gadis di hadapannya sekarang ini. Erick tahu, tetangga di sekitar ibu nya memang semua baik hati dan suka membantu.
Tapi dia juga mengerti sifat ibunya yang tidak suka dijadikan gosip. Apabila semua orang tahu, penyakit ibu nya, mereka tentu akan membicarakan dan mengasihani ibunya.
"Bukan hal yang serius, Svetlana. Dia akan sembuh," jawab Erick akhirnya.
"Syukurlah ...." Svetlana tampak lega.
"Apa ada keperluan lain, kau kemari?!" tanya Erick dengam tegas.
"Ah iya. Aku sudah membawa berkas diriku untuk bekerja disini." Svetlana mengeluarkan berkas yang dia bawa.
"Berikan pada bagian personalian."
"Aku tidak tahu dimana itu," sahut Svetlana dengan manja.
Erick menghela napas.
"Minta Bertha mengantarkanmu."
"Tidak bisakah kau yang menginterview diriku? Atau mungkin aku bisa masuk dengan rekomendasi darimu." Svetlana meletakan kedua tangannya di meja dengan tubuh yang condong kedepan.
"Berikan pada Bertha. Kalau tidak ada keperluan, aku sedang sibuk saat ini," ujar Erick dengan kesal.
"Ah iya. Maafkan aku Erick." Wajah Svetlana tampak memelas.
Erick diam dia kembali memperhatikan layar laptopnya. Pria itu tidak menghiraukan gadis cantik, muda dan bertubuh mempesona yang masih beridir di hadapan, memperhatikan dirinya.
Svetlana memperhatikan Erick yang kian mempesona bagi dirinya. Erick yang semakin dewasa dan tampak mapan. Gadis cantik itu, tak bisa membendung rasa kagum kepada Erick.
Dia tidak ingin menjadi gadis pemalu yang tidak dihiraukan oleh Erick, seperti masa lalu. Svetlana berusaha untuk menjadi wanita yang lebih berani dan agresif, agar pria yang mencuri hatinya ini bisa menatap padanya.
Svetlana maju mendekati Erick, dia membungkuk dan mengecup pipi Erick.
Erick terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Svetlana. Bibir wanita itu masih menempel pada pipinya, ketika pintu kantor terbuka dan Laurent masuk.
Mata mereka bertemu dengan segala keterkejutan.
...โ๐นโ๐นโ๐นโค๐นโคโ๐นโ๐นโ๐น...
JANGAN LUPA YA VOTE DAN POIN.
Saya berkarya anda membaca.
Saya menulis anda tekan like.
Saya berpikir anda tinggal beri hadiah poin.
Saya senang anda juga senang, update lancarrr.
Horeee!!!
Pahalanya besar lohhh โค