48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Burung Rajawali vs Burung Pipit



Emak-emak pecinta burung, di harapkan tidak


keras-keras ya membaca cerita ini. Supaya


suaranya gak habis. Kalau tertawa jangan


mesum-mesum ya. Malu sama anak dirumah.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


"Kemarilah," panggil Jason pada Lia.


Lia dengan setengah hati berjalan mendekati Jason. Dia berhenti di dekat pria itu dengan wajah yang cemberut. Lia masih kesal karena dibuat muntah oleh Jason.


Jason yang awalnya hendak menjahili Lia, mengurungkan niatannya.


"Masih sakit?" Tanya nya penuh perhatian.


Lia menggelengkan kepalanya.


"Masih marah?" Tanya Jason lagi.


"Tentu saja!" Sahut Lia tanpa mau menatap Jason.


"Baiklah, jika kau bisa bersikap lebih baik, mungkin aku akan mengizinkanmu menggunakan handphone ku." Ujar Jason.


Lia hanya melirik tidak bergeming. Pria ini tiba-tiba menawarkan kebaikan pasti ada mau nya. Lia melirik sekilas pada laptop Jason.


Kenapa tidak dari kemarin aku gunakan laptop miliknya. Ah, bodohnya aku.


"Jangan berpikir menggunakan laptopku. Karena untuk membukanya pun kau memerlukan pasword." Kata Jason perlahan.


Ih... kesal sekali, mahluk satu ini bisa saja sih membaca pikiranku.


"Jadi, bagaimana? Kau mau menggunakan handphone ku?" Jason mengacungkan handphone nya.


Tawaran yang menggiurkan.


Lia menyambar handphone tersebut tanpa pikir panjang. Dia menepuk kaki Jason agar ditekuk sehingga Lia bisa duduk di sofa. Lia menyentuh layar smartphone tersebut dan tentu saja memerlukan pasword untuk membukanya.


Lia menoleh pada Jason dan tersenyum super manis, memamerkan barisan gigi putih yang berjajar dengan rapi. Sedikit memiringkan kepalanya dia berkata, "pasword."


Jason terpaku mendapatkan senyuman Lia. Gadis ini hanya tersenyum padanya jika ada mau nya. Tetapi tetap saja Jason menyukai hal itu. Entah sejak kapan dia membiarkan seorang wanita bersikap semaunya.


"Tidak masalah. Asal kau ingat konsekuensinya."


"Mematuhimu." Sahut Lia santai.


"Benar. Dan..."


"Jangan katakan perjanjian nomor tiga. Aku belum siap. Tolong beri aku waktu." rajuk Lia dengan super memelas.


"Ah, bagus kalau kau ingat perjanjian itu. Meskipun sebenarnya aku tidak ingin menagih hal itu saat ini. Aku tidak menyangka jika kau pun memikirkannya." Ujar Jason sambil mengerdipkan matanya.


Wajah Lia bersemu merah.


"Bukan begitu, tapi... eh... Ahhhh sudah, pasword." Lia kembali mengalihkan kegugupannya dengan menodong Jason.


"Paswordnya tanggal lahir mu. Enam digit."


Lia menatap Jason tidak percaya. Kenapa pria ini memakai tanggal lahirnya sebagai pasword handphone. Apakah sebegitu penting dirinya?


Lia membuang segala pikiran tersebut dan mulai mengetik tanggal lahirnya 011097.


Pria ini tidak berbohong. Lia tertegun. Tampilan awal layar dari handphone tersebut adalah foto dirinya. Kapan pria ini mengambil foto ini? Lia menatap Jason yang masih memandang tajam dirinya.


"Tapi ingat. Ketika kau mengatakan pada Diana dimana dirimu berada dan meminta dia menjemputmu. Saat itu juga aku akan membeberkan mengenai surat perjanjian kita. Dan jika kau tetap pergi, maka aku memiliki hak untuk meminta ganti rugi sepuluh kali empat puluh delapan juta dolar."


Lia ternganga. Gila. Ini bagian yang dia hampir lupa.


"Andrew memang memiliki uang sebanyak itu. Properti yang dia miliki pun puluhan kali lipat dari empat ratus delapan puluh juta dolar. Itu pun jika kau tidak tahu malu, membebankan hutangmu pada saudara ipar, hanya karena kau tidak dapat konsisten terhadap perjanjian." Ucap Jason panjang lebar.


Peringatan Jason membuat dia merinding. Lia tahu surat itu berkekuatan hukum. Dengan dirinya masuk penjara pun, tidak cukup untuk membayar uang sebanyak itu.


Lia menarik nafas panjang dan berkata, "iya aku mengerti."


Lia tetap menggunakan handphone Jason untuk mengirim pesan. Dia mengurungkan keinginan untuk menelphone. Lia takut jika Diana mendengar nada suaranya dan menjadi khawatir.


*Kakak apa kabar, maaf yaaa aku pergi tanpa


pamit dulu. Aku sekarang sedang


bersenang-senang dengan Jason berkeliling


dunia. Tenang saja, dia baik padaku*.


Love you kakak.


Setelah mengirimkan pesan, Lia mengembalikan handphone Jason. Kemudian dia kembali tersenyum manis, menarik kaki Jason dan tiba-tiba Lia berbaik hati menjadi tukang pijat.


Jason kaget dengan perlakuan Lia. Tidak disangka gadis ini bisa sepengertian ini. Apalagi kaki Jasin sudah cukup pegal.


Jason membiarkan gadis itu memijat kakinya dan kembali mencurahkan konsentrasi di layar laptop.


Hanya dua menit keheningan terjadi diantara mereka. Benar-benar tidak bisa bertahan lama. Karena tiba-tiba saja pijatan lembut Lia berubah menjadi serangan mematikan.


Lia MENCABUTI bulu kaki Jason dengan gemas. Dia memeluk kaki itu mengapit di bawah ketiak, dan mulai menarik bulu-bulu di betis Jason.


"Aow! Aow.. apa yang kau lakukan! Aow.. Aow." Jason berteriak kesakitan sambil berusaha menarik kakinya.


"Diam... biar aku buat mulus kaki mu!" Lia masih bersemangat menariki bulu di betis Jason.


Jason meletakan laptopnya di meja dan mulai membalas serangan Lia. Dia membungkuk meraba betis Lia, mencari bulu yang bisa dicabut. Ternyata mulus. Tidak ada bulu yang bisa dicabut.


"Eh... geli.. lepas." Lia menyentak-nyetakan tangan Jason dari betisnya.


Jason yang tahu kelemahan Lia, segera menggelitiki pinggang Lia.


"Aduh hahhah...geli...hahhaha... geli... sudah stop... atau aku ... hahhaha... aku cabut semua bulu mu yaa.. " ujar Lia dengan terpingkal dan berbalik menepis tangan Jason.


Jason kemudia mendekap Lia dari belakang dan berbisik, "apa kau hendak mencabuti bulu burung rajawali juga?"


Suara Jason lembut menggoda.


"Burung Rajawali terus yang dibilang? Dimana burung sebesar itu berada? Aku mau melihatnya." Ujar Lia masih dalam dekapan Jason.


"Kau yakin mau melihatnya." Bisik Jason.


Lia mengangguk mantap.


Hembusan nafas Jason menerpa leher dan pipi Lia, menyalurkan kehangatan. Jantung Lia sudah berdebar dan wajahnya terasa panas. Pelukan itu membawa kehangatan dan membuat bulu kuduk Lia meremang.


Jason mengecup pipi Lia dengan lembut kemudian melepaskan pelukannya dan berdiri dihadapan Lia. Lia heran sekaligus malu. Karena posisi boxer Jason tepat dihadapan wajahnya.


"Silahkan, kau bisa melihatnya." Tantang Jason.


"Eh, dimana?" Tanya Lia bingung. Dia tidak bisa berdiri dan bergerak karena Jason mengunci posisinya.


"Ini dihadapanmu." Sahut Jason tenang.


Lia awalnya masih kebingungan. Sesaat kemudian akhirnya dia mengerti maksud pria itu. Apalagi ketika Jason semakin merapat kearah dirinya. Membuat Lia merapatkan punggung ke sofa.


"Yeahhh... itu mak burung pipit bukan burung rajawali. Ngaku-ngaku." Kata Lia dengan sengit.


"Hei. Ini rajawali tau."


"Pipit. Pipit." Ujar Lia mengolok-ngolok dengan bersemangat.


"Coba Lihat dan pegang dulu. Rajawali atau pipit." Jason menarik tangan Lia mengarahkan ke burung Rajawali nya.


"Gak usah dilihat. Dari jauh juga kelihatan pipit." Sahut Lia dengan wajah memerah sambil memalingkan wajahnya. Lia berusaha menarik tangannya tapi genggaman Jason sangat erat. Lia sesak nafas, tangannya masih original.


Jason menghentikan serangan nya untuk menggoda Lia. Dia melihat bagaimana wajah gadis itu bersemu merah, sangat cantik dan menggoda. Jason berlutut disisi Lia. Dia menarik dagu gadis itu agar menatapnya.


"Tidak kusangka kau sering juga memperhatikan burung rajawali ku." Goda Jason lagi.


"Iiihhhh.. siapa bilang." Wajah Lia semakin panas.


"Hahhaha kau sendiri tadi."


"Aku ti..." belum selesai Lia berbicara, Jason sudah melahap habis bibir gadis itu.


Entah mengapa beberapa hari sering dicium oleh Jason membuat Lia ketagihan. Dia yang awalnya suka marah dan menggigit bibir pria itu, sekarang membiarkan dan pasrah dengan ciuman Jason.


Sambil tetap mencium, Jason mengangkat tubuh Lia dan membawa gadis itu ke atas tempat tidur. Aroma sabun dan harumnya shampo yang terpancar dari tubuh Lia, membuat Jason semakin terbuai. Tidak adanya oenolakan membuat Jason menginginkan lebih. Dia mengusap punggung lia dan mulai mengecup pipi dan dagu gadis itu.


"Jason, aku belum siap." Desah Lia memelas.


Lia takut, jika dia membiarkan Jason menyerang dirinya terus menerus, maka pertahananya akan jebol. Beberapa hari saja bersama pria ini sudah membuat Lia merasa nyaman. Dan Lia masih takut jika dirinya sakit hati suatu hari ketika Jason mencampakannya.


Jason menghentikan serangan. Dia memeluk dan mengecup rambut Lia. Jason menepuk punghing Lia lembut.


"Aku mengerti. Aku akan bersabar." Bisik Jason lembut.


Perkataan Jason membuat Lia menjadi nyaman. Dia menyandarkan kepalanya di dada pria tersebut dan mendengarkan degupan jantung Jason yang perlahan mulai tenang. Gadis itu kemudian tertidur dalam pelukan Jason dengan damai.


Kedamaian itu membawa Lia ke dalam mimpi. Mimpi yang indah. Lia dengan pakaian cinderela, berada di puncak Kastil yang sangat indah. Di sana terdapat burung Rajawali yang sedang mengerami telur-telurnya.


Lia membuka tirai yang membatasi dirinya dengan sang Rajawali. Burung Rajawali tersebut tampak besar dan ramah. Dia menatap Lia dengan lembut, membuat Lia tidak merasa takut.


Rajawali itu mengangguk saat Lia mendekat dan mulai membelai Rajawali tersebut. Sangat lembut dan halus. Lia mencium pucuk kepala Rajawali dan membenamkan kepala Rajawali yang jinak itu di dadanya.


Bahkan kedua telur rajawali itu begitu lembut bagaikan squishi. Sangat pas dan nyaman di tangan. Satu tangan membelai Rajawali dan tangan satunya meremas telur yang selembut squishy. Rajawali itu merapat di dadanya. Sangat manja.


Tapi entah mengapa elusan tangannya itu sudah membuat sang Rajawali muntah. Dan lendir menjijikan itu merembes ke jari jemari tangannya. Lia menatap dengan jijik. Dan mulai menggosokan lendir itu di bulu sang rajawali.


Lia melepaskan tangan satunya yang meremas telur squishy, kemudian Lia melengos dan berbalik menjauhi sang rajawali, mencari air untuk membasuh sisa lendir di tangannya, dalam mimpi.


Ah... Rajawali kenapa juga kau harus muntah.


Lia sedikit terjaga ketika, sayup-sayup dia mendengar gemericik air di kamar mandi. Lia membuka sebelah mata dan melihat jika jam masih menunjukan pukul tiga pagi.


Kenapa juga Jason mandi subuh begini, pikir Lia sesaat sebelum jatuh tertidur lagi.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Emak- emak pecinta burung, jangan mesum yaaa. Lia cuma mimpi ngelus rajawali yang muntah loh yaaa.


Hayooo... yaang ketawa ngakak lagi mikiri apa.


Ayo cari burung kesayangan kalian sendiri ya dan dielus-elus. Hati-hati muntah kaya Rajawali Lia.


Tetap semangat dan stay Healthy