
Ini merupakan kisah sequel dari novel
HIDUPKU BERSAMA CEO
Ada beberapa part dari cerita ini yang berada di dalam kisah HIDUPKU BERSAMA CEO.
Disarankan untuk membaca kisah
ANDREW & DIANA di novel
HIDUPKU BERSAMA CEO terlebih dahulu agar tidak bingung dengan beberapa part di novel ini.
OH ya, jangan lupa dukung karya receh ini ya. Bantu share di IG, FB atau WA kalian.
Dan pastinya jangan lupa Rate bintang lima, like, coment dan VOTE.
Terimakasih & Selamat membaca.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Lorong VVIP tempat Lia dirawat untuk sesaat diramaikan dengan datang nya beberapa pria berjas yang bertubuh tegap dan tampak sangat menarik. Pria-pria tang tampaknya executive dan memegang jabatan penting.
Disana juga tampak seorang wanita cantik, meskipun mengenakan pakaian kerja, blus yang dia kenakan cukup ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang aduhai, belum lagi sikapnya yang anggun bagaikan artis papan atas yang memerankan tokoh bangsawan.
Keberadaan mereka tentunya setelah mendapatkan izin khusus. Jason yang memiliki saham dan donatur terbesar di rumah sakit tersebut, meminta agar area nya diseterilkan dari pengunjung selama kehadiran para executive.
Perawat pria dan wanita perhatiannya tertuju pada para executive yang nampak begitu mempesona. Diam-diam para perawat muda menebar senyum berusaha mencari perhatian. Mereka berjajar di belakang meja petugas hanya untuk mencuri pandangan.
Pria berjas dan wanita cantik itu sedang mengerumuni seorang pria ber sweater merah muda dengan hoodie berhiaskan telinga kelinci.
"Tuan Jason, kenapa anda berpakaian seperti ini?" tanya wanita cantik yang merupakan sekretaris Jason dengan heran.
"Memangnya Kenapa?"
"Hemmm aneh tuan." ujar wanita tersebut dengan bahasa yang akrab.
"Apakah aku tidak kelihatan tampan dengan pakaian ini?" sahut Jason cuek.
"Tentu saja anda selalu tampan dengan pakaian apapun tuan." ucapan wanita itu membuatnya terkekeh.
"Hanya saja..." sekretaris wanita itu terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
"Lanjutkan." perintah Jason tanpa menghentikan kegiatan mengamati berkas-berkas dihadapannya.
Jason benar-benar mengubah ruang tunggu rumah sakit menjadi area rapat internalnya.
"Hehehe, anda tampak lebih muda sepuluh tahun. Seperti grade 12." ucap sekretarisnya sambil menahan tawa.
"Hahahaha... bilang saja kekanakan." celetuk Jason yang tidak marah dengan gurauan sekretarisnya.
Jason masih sibuk membaca berkas-berkas yang harus ditandatangani. Wajah tampannya tampak lebih mempesona ketika dia bersikap serius. Menunjukan sisi tegas sekaligus misterius. Apalagi guratan garis-garis wajahnya yang tegas.
"Kenapa anda disini tuan? Sampai kita harus meeting singkat disini juga." ucap sekretaris wanita itu lagi dengan berani.
"Kantor terasa sepi tanpa anda." sambung sekretaris itu lagi dengan nada manja.
Sekretarisnya yang bernama Marisoll ini merupakan wanita keturunan Mexico yang cantik dan pandai. Di usianya yang sangat muda dia bergabung dengan kantor Jason yang bergerak di bidang minyak bumi.
Marisol mengawali karier nya dari seorang staff bagian sekretaris. Tetapi karena keuletannya juga kecerdasannya dalam menyelesaikan setiap tugas, membuat dia bisa segera naik jabatan menjadi kepala sekretaris.
Mendengar pertanyaan Marisol, Jason hanya diam, mencurahkan konsentrasi pada berkas-berkas ditangannya. Dia harus cepat menyelesaikan semuanya sebelum Lia terbangun.
Gadis bawel itu akan banyak bertanya apabila melihat dia dengan bawahannya disini. Beruntung sekali saat mereka tiba, Lia sudah tertidur.
"Tuan, bagaimana video call meeting conferrences dengan pihak negara Asean? Meeting itu dijadwalkan besuk pukul delapan pagi. Sebaiknya jangan diwakilkan lagi tuan. Kita perlu memberikan kesan baik bagi petinggi negara tersebut." seorang executive setengah baya tampak memberikan saran karena beberapa hari ini Jason tidak muncul di kantor.
Jason terdiam sesaat kemudian dia menoleh kebelakang dimana dia bisa melihat Lia yang masih tertidur dari balik jendela putih besar. Gadis itu tampaknya tidak menyadari kehadiran para execuitve. Dia masih terlelap setelah menegak obat.
"Kau persiapkan segala sesuatunya dan emailkan kepadaku draft besar inti rapat tersebut. Aku akan mempelajarinya. Dan kau pelajari juga berjaga-jaga jika aku tidak dapat hadir." Jason terkekeh.
"Tapi ini penting tuan." desak salah satu executive lainnya yang merasa Jason begitu menyepelekan.
"Kau pikir aku bodoh? Mereka yang lebih memerlukan kita, bukan kita yang perlu mereka." sahut Jason dengan kesal membuat semuanya terdiam dan mereka melirik pada sekretaris wanita yang juga terdiam seraya memohon untuk mencairkan suasana.
"Bolehkan saya bertanya sesuatu tuan Jason yang tampan dan baik hati?" tanya sekretaris wanita itu dengan berhati-hati. Dia tahu harus masuk dengan kalimat yang tepat untuk melunakan hati Jason yang selalu berubah-ubah.
"Katakan."
"Apakah wanita itu calon ibu negara?"
Jason terbahak mendengar pertanyaan wanita itu yang mana membuat para execuitve lainnya tersenyum bingung.
"Menurutmu apa dia cukup cantik untuk menjadi ibu negara?"
"Kalau cantik, saya rasa saya yang lebih cantik." ucap wanita itu jujur.
"Hahhahaha." Jason terkekeh mendengar jawaban wanita itu tanpa berniat menjawab pertanyaan sebelumnya.
Pandangannya lurus menatap Lia dibalik jendela kaca yang kali ini berbaring menghadap kaca pembatas. Meskipun sedang sakit dan sedikit pucat gadis itu masih tampak cantik.
Dan entah mengapa Jason harus merelakan banyak hal untuk menemani gadis itu di rumah sakit dan menolak penjagaan dari pelayan yang dikirim Diana dengan alasan, dia tidak yakin jika pelayan lainnya juga tidak bersekongkol untuk menyakiti Lia, meskipun Jason pada akhirnya tahu jika racun diminuman itu seharusnya ditujukan untuk Diana.
"Tuan, apakah saya perlu membawakan pakaian ganti?" tanya Marisol setalah sekian lama membiarkan Jason melamun.
Jason berhenti dari kegiatannya sesaat. Dia seperti menimbang sesuatu. Kemudian dia melanjutkan kembali membaca berkas-berkas seraya berkata, "tidak perlu."
"Tapi tuan kenapa anda sampai rela seperti ini?" tanya wanita itu dengan pandangan menyelidik kearah Jason yang tampak aneh, berpakaian tidak sebagaimana mestinya, lebih banyak tertawa, bahkan memanggil menandatangani berkas di ruang tunggu rumah sakit.
Jason diam dia lanjut menyelesaikan menadatangani berkas terakhir dan memberikan kepada sekretarisnya.
"RAHASIA." ucapnya sambil terkekeh dan masuk ke dalam kamar Lia lagi sambil duduk berselonjor di samping tempat tidur Lia meninggalkan bawahannya yang melihat kelakuannya dengan penuh tanda tanya
**********
"Jason apa yang terjadi padamu, itu sweater Lia kan?" tanya Diana yang heran melihat Jason mengenakan sweater merah muda tersebut.
"Iya itu kakak, dia ngeselin kan. Itu sweater kesayanganku sekarang sudah terkontaminasi oleh lalat buah." kata Lia dengan cepat mengadu pada Diana sebelum Jason sempat memberi jawaban
"Hey kucing liar. Aku bahkan belum membuat perhitungan padamu karena sudah menodai kemeja mahalku." Jason langsung berkomentar ketika mendengar kata-kata Lia.
"Itu kan salahmu!" sahut Lia cepat.
"Kau yang melempar bantal."
"Itu karena kau yang menggodaku."
"Aku tidak menggodamu. Aku kan hanya makan."
"Tapi kenapa juga harus makan dihadapanku."
"Kau juga makan dihadapanku tadi, tapi aku tidak tergoda."
"Ya jelas, aku kan makan bubur tanpa rasa."
"Aku cuma makan burger." sahut Jason dengan cepat tanpa mau kalah.
"Kakakkkk..." Lia mengadu dengan kesal sambil memandang kakaknya meminta bantuan.
Diana hanya tersenyum tidak mengindahkan dan sibuk menata buah juga roti di piring.
"Lagian aku juga terpaksa memakai sweater jelek murahan ini. Lama-lama bisa alergi aku. Lihat kulitku mulai memerah" ucap Jason sambil menarik-narik baju yang dia kenakan dan menggaruk bagian bawah lehernya sehingga memerah.
"Kalau begitu jangan dipakai. Lepaskan." sahut Lia cepat tanpa berpikir panjang. Suaranya masih lemah tapi energi nya bisa berkobar berhadapan dengan Jason.
"Yakin?"
"Katanya alergi pakai baju murahan ya lepas sana."
"Oke." dengan perlahan Jason mengangkat baju hendak melepaskan. Di sana Lia melihat otot-otot perut Jason yang terbentuk sempurna membuat dia risih.
"Tunggu!"
Gerakan tangan Jason masih setengah bagian untuk melepas bajunya.
"Tidak usah dilepas, minum obat sana kalau alergi."
"Yakin, tidak takut bajumu terkontaminasi oleh bau tubuhku?"
"Pakai dan ambil saja. Nanti dikira orang aku menyewa ****** lagi kalau kau tidak pakai baju." ucap Lia sambil cemberut dan memalingkan wajahnya.
Jason terkekeh sambil merapikan kembali sweater yang dia kenakan.
"Kakak! Kenapa diam saja. Bantu adiknya dikit kek!" Lia merajuk kesal.
"Lanjutkan saja. Kakak terhibur dengan perdebatan kalian." jawab Diana dengan tersenyum lebar sambil menyodorkan satu kotak roti kepada Jason juga segelas Capucinno.
Jason mengucapkan terimakasih sebelum menegak capucinno tersebut.
"Nah ini namanya kopi." ucap Jason sambil melirik Lia.
Lia yang kesal siap melempar Jason kembali dengan bantal, tapi urung ketika Jason menarik-narik sweater tersebut, seakan berkarta ayo lempar, ini sweatermu loh.
Akhirnya Lia mengurungkan niatannya. Dia tidak ingin sweater kesanyangannya terkena noda kopi.
Jason tersenyum penuh kemenangan sementara Lia merengut kesal.
"Jason, kau tidak perlu menginap lagi malam ini."
"Lalu siapa yang akan bersama bocah tengil ini?"
Lia melotot mendengar kata-kata Jason.
"Jangan khawatir, keadaan Lia sudah membaik, besuk dia sudah boleh pulang Jadi malam ini akan ada seorang pelayan yang tinggal bersamanya."
"Kau yakin pelayan itu bukan salah satu penghianat?"
Diana terdiam.
"Aku rasa tidak, dia adalah keponakan dari kepala pelayanku." jawab Diana yakin.
"Tidak disangka kau khawatir denganku lalat buah." Lia terkekeh dengan lemah.
"Khawatir denganmu? Aku lebih khawatir dengan kakakmu. Dia hamil muda, jangan sampai dia stress memikirkan kucing liar sepertimu." ujar Jason dengan terkekeh melihat mata Lia melotok dengan bibir yang mencibir.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Jangan lupa kasih rate bintang lima dan like ya atau kalau kalian tidak suka ceritanya bisa ditinggalkan saja, tanpa memberikan penilaian/ rate.
Setidaknya itu salah satu usaha kalian menghargai kerja keras seorang author.
Author enggak baper kok...
Hanya memohon dukungan dan semangat untuk menghadirkan karya yang bisa dinikmati semua nya.
Terimakasihhhh...
🌟🌟🌟🌟🌟