
"Siapa kau?" Seorang wanita menahan langkah kaki Laurent yang hendak meninggalkan apartement.
"Aku ...."
Entah kenapa Laurent menjadi gugup. Entah kenapa dia menjadi wanita yang lemah saat berhadapan dengan Erick. Laurent seakan-akan membiarkan dirinya menerima hukuman dari Erick, karena telah memaksa pria itu menikahi dirinya.
"Kau kekasih, Kak Erick?" tanya gadis cantik itu lagl.
Laurent terperangah. Dia memutar-mutar cincin di tangannya. Dalam benaknya diliputi dengam berbagai pertanyaan, apakah gadis cantil ini adalah adik Erick? Lalu siapa wanita yang sering ke kantor dan menyuapi Erick saat ini?
"Aku adik kak Erick. Namaku Jessica, kau bisa memanggilku Jessy," ucap Jessica memperkenalkan dirinya.
Laurent tersenyum lembut kepada Jessica.
"Aku Laurent," ujarnya memperkenalkan diri.
"Kak Laurent cantik sekali. Ayo masuk, jangan malu-malu. Lagi pula kakak kan sudah tahu kode masuk rumah ini, jadi kakak pasti sudah dangat akrab ya dengan Kak Erick," sambut Jessy dengan bersahabat.
"Eh ... begitulah."
Laurent baru menyadari jika Jessica tidak mengetahui jika dirinya sudah menikahi Erick. Hati Laurent terasa sedikit berdenyut. Sebegitu tidak berartinya kah dirinya di mata Erick, sehingga dia tidak memberi tahu keluarganya.
"Kakak kau sangat lembut. Maaf jika aku baru mengenalmu. Aku sudah lima hari tiba di Paris. Tapi mommy sedang kemoteraphy. Jadi, maaf jika aku baru bisa berkenalan dengan dirimu," ucap Jesica dengan lembut.
"Kemo?" Laurent bahkan tidak tahu dengan keadaan ibu Erick. Pria itu tidak mengatakan sepatah kata pun kepadanya. Dia tidak bercerita tentang keadaan ibunya. Bagaimana bisa dirinya menghadapi ibu Erick jika seperti ini.
"Iya. Mom mengidap kanker payudara. Dia sudah di operasi di kota kecil tempat kami tinggal. Tapi, keadaannya yang memburuk, membuat kakak memutuskan untuk membawamya kemari." Jessica menceritakan alasan mereka ke Paris.
Laurent teringat dengan kata-kata Erick ketika mengatakan jika ibunya sakit keras. Dan, Laurent baru menyadari jika dirinya tidak pernah bertanya apapun pada pria itu tentang keadaan dan penyakit ibunya.
"Maafkan aku. Aku yang kurang peka. Seharusnya aku menjenguk kalian di rumah sakit," ujar Laurent penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Kak Laurent cantik. Melihat dirimu yang cantik dan lembut seperti ini, mommy pasti senang. Ayo masuk ke dalam. Aku kenalkan juga dengan Svetlana." Jesica menarik tangan Laurent ke dalam.
Laurent mengikuti langkah Jessica masuk ke dalam ruang makan. Di sana dia melihat bagaimana dengan ahlinya Svetlana mengaduk-aduk isi kulkas untuk memasak sesuatu.
Sementara Erick membantu wanita itu untuk mencuci sayuran. Hati Laurent terasa sedikit miris melihatnya. Jika saja ada orang lain disini, mereka pasti mengira jika Svetlana adalah pasangan Erick.
"Kak Erickkk! Coba lihat siapa yang datang."
"Siapa Jessy?" tanya Erick tanpa membalikan tubuhnya.
"Ih, Kakak! Punya pacar cantik kok di umpetin. Harusnya dikenalkan ke Jessy. Mommy juga pasti senang mendengarnya," ujar Jessy menggerutu.
Erick menghentikan gerakannya. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Jessica adiknya.
"Sekarang kau sudah mengenalnya," ujar Erick masih tanpa membalikan badannya.
Svetlana yang sedang memanggang steak, menatap Erick. Dia terperangah dengan jawaban pria disampingnya yang tidak menyangakal. Jadi wanita yang berulang kali berpapasan dengan dirinya di kantor adalah kekasih Erick?
Svetlana membalikan tubuh dan tersenyum pada Laurent. "Hallo aku Svetlana, teman lama Erick," ujarnya dengan senyuman termanis.
Laurent tersenyum, "Aku Laurent."
"Hemm ... Steaknya cuma ada tiga. Apakah kita perlu membelinya lagi, Erick?" tanya Svetlana.
"Tidak apa-apa. Laurent hanya makan salad di malam hari," jawab Erick.
Pria tampan itu membalikan tubuhnya dengan mengaduk semua potongan sayur yang sudah teriris dalam mangkok besar. Dia membaginya menjadi empat bagian di atas piring.
Ini adalah salad pertama yang Erick buatkan untuknya. Laurent hampir saja meneteskan air mata. Dia tidak tahu apakah harus bahagia atau sedih. Karena bagaimanapun, salad itu bukan di buatkan khusus untuk dirinya.
"Kaget yaaa, baru tahu kalau kakakku pandai memasak?" Jessica menyenggol bahu Laurent.
"Eh___ iya," jawab Laurent terbata-bata.
"Dia jago sekali. Dia memang pria idaman loh. Kapan aku menemukan satu seperti kak Erick, untukku." Celotehan Jessica membuat Laurent tersenyum.
"Bagaimana dengan mommy, dia tidak makan malam?" tanya Laurent dengan menatap Jessica.
"Nyonya Victoria sudah tidur. Dia hanya boleh makan-makanan yang lunak. Kami baru menjemputnya dari rumah sakit." Kata-kata Svetlana membuat dada Laurent terasa sakit.
"Ooo ...." Jawab Laurent datar. Dia memakan salad yang dituangkan Erick kepadanya.
"Nah, steaknya sudah matang," Svetlana membagilkan steak dan duduk disebelah Erick.
"Kau tambah pandai memasak ya Lana," puji Jessica.
"Iya dong. Aku kan sudah dewasa. Harus belajar memasak untuk bisa menyenangkan suami. Kata mommy, suami tidak akan betah tinggal serumah dengan wanita yang tidak bisa memasak." Svetlana dengan bangga memuji dirinya sendiri. Svetlana adalah teman Jesica dan mereka usianya sama.
Laurent tersenyum kecut mendengar kata-kata Svetlana. Merebus telor saja dia tidak bisa. Apalagi memanggang steak. Terlalu panas bagi Laurent. Tiba-tiba saja dia teringat perkataan Mario. Pria yang mencintaimu akan menerimamu apa adanya.
"Tidak juga. Itu semua tergantung dengan bagaimana sebuah pasangan bisa saling menghargai satu sama lain. Jika dia menyukai istri yang bisa memasak, menikah saja dengan seorang koki," ujar Laurent.
"Hahhahah ... kau benar juga." Jessica tertawa mendengar perkataan Laurent.
"Tapi setidaknya seorang istri harus bisa memasakkan untuk suaminya," sanggah Svetlana lagi.
"Mungkin. Tapi itu semua tergantung pada si pria. Dia menginginkan istri yang berperan sebagai koki atau sebagai partner." Kali ini Laurent lebih tegas.
"Sudah. Tidak usah dipermasalahkan hal seprti itu. Ini makanlah." Erick menengahi perdebatan di antara Laurent dan Svetlana.
"Ah, Kakak so sweetttt," pekik Jessica kagum.
Laurent menatap piring yang di sodorkan Erick padanya. Dia tidak menyangka jika sedari tadi pria itu sibuk memotong-motong steak, menjadi suapan kecil-kecil dan memberikannya untuk Laurent. Wanita itu mengira jika Erick tidak memperdulikannya.
"Terimakasih. Tapi, ini terlalu banyak untukku," ujar Laurent.
"Makanlah. Jika kau sudah selesai, berikan sisanya padaku."
Laurent menatap Erick tak percaya. Wanita cantik itu merasa bahagia dengan perhatian Erick. Dia memakan beberapa potong steak dan memberikan bagian besar untuk Erick.
Svetlana yang melihatnya hanya bisa mengkerucutkan bibirnya. Dia memandang stekanya yang tinggal seperempat. Jika saja dia belum memakan steak itu, pasti akan dia berikan untuk Erick bagian miliknya.
"Baiklah, jika kalian sudah selesai makan. Letakan piringnya, biar aku yang mencuci," ujar Jessica mengambil bagian.
Ketika Laurent mengoper piring kosongnya pada Jessica, tiba-tiba saja Svetlana bertanya.
"Apa kau seorang janda, Laurent?"