48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Cinta Pertama



Erick memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia mengurungkan keinginan untuk lembur di kantor. Ada sebuah peristiwa penting yang harus dia selesaikan. Dengan terpaksa pria itu membatalkan semua jadwalnya hari ini.


Erick melihat jam di tangannya dengan gelisah. Sepuluh menit lagi dia harus sudah berada di taman di Apartementnya. Pria tampan itu bahkan hampir menerobos lampu merah dan menabrak seorang pejalan kaki.


Semua itu disebabkan oleh pesan yang dikirimkan Svetlana padanya. Wanita itu mengancam akan bunuh diri dengan menenggelamkan diri di danau, jika Erick tidak datang menemuinya. Wanita keras kepala yang merepotkan.


Erick menjadi panik ketika berulangkali dia menghubungi Svetlana, tetapi wanita itu mengabaikan panggilannya. Sebagai ganti, Svetlana mengirimkan foto dirinya mengenakan gaun putih dan berdiri di pinggiran danau buatan.


Erick tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Svetlana adalah adik dari kekasih pertama Erick. Dia tidak mungkin membiarkan keluarga itu kehilangan satu anak lagi, karena Erick. Jika saja pesan itu dari wanita sekali kencannya, dia tidak akan perduli.


Lelaki tampan dengan rambut gelap itu semakin tidak mengerti, bagaimana permasalahan ini bisa semakin jauh. Dia bersikap baik hanya sebatas menghargai Svetlana sebagai seorang adik.


Gosip yang tersebar di kantor pun sudah berusaha dia hentikan. Dia menempatkan gadis itu di posisi yang tidak memungkinkannya menemui Erick. Lebih dari pada itu, pria tampan tersebut berkali-kali menegaskan jika dia hanya menganggap Svetlana sebagai seorang adik.


Erick meremas kepalanya yang terasa sangat berat. Dia sudah berusaha menghindari gadis itu. Menjaga jarak, memberi pengertian pada Jessica tentang Svetlana. Tetapi, gadis itu tetap seringkali datang ke apartement dan bertingkah seolah dia adalah bagian dari keluarga Erick.


Nyonya Victoria tidak dapat mengabaikan begitu saja secara langsung niatan baik Svetlana. Berulangkali wanita yang masih belum pulih itu, mengingatkan Svetlana jika Erick sudah memiliki Laurent.


Bukan itu saja, Jessica pun mengatakan pada Svetlana jika kantor tempatnya bekerja adalah milik keluarga Laurent. Tapi ... gadis dengan mata hati yang sudah nekat itu, menulikan telinganya.


Dia hanya tertawa kecil dan tetap saja mengunjungi keluarga Erick. Meskipun di sana ada Laurent, Svetlana tidak perduli. Dia bahkan bersikap seakan-akan Laurent adalah wanita kedua.


Erick tiba di lobby apartementnya saat cuaca mulai mendung. Dia melemparkan kunci pada petugas valley. Pria itu bahkan menitipkan tas kerjanya pada seorang petugas untuk di antarkan langsung ke kamarnya.


Dengan berlari kecil, pria itu mencari sosok Svetlana. Dia menuju ke arah danau buatan, sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, jikalau gadis itu ada di sekitar sana.


Erick akhirnya menemukan sosok Svetlana. Dia segera menghampiri wanita itu dan berdiri dengan wajah yang marah dihadapan gadis itu.


"Apa yang hendak kau lakukan?" tanya Erick dengan suara tegas dan mengandung kemarahan.


"Erick!" pekik Svetlana. Dia memeluk pria itu dengan erat, seakan takut kehilangan sosok itu.


Erick berusaha melepaskan pelukan Svetlana, namun tangan wanita itu mengunci dengan sangat erat. Dia menempelkan wajahnya di dada Erick.


"Erickkk ... aku sangat merindukanmu. Biarkan aku memelukmu dan mencium aroma tubuhmu untuk yang terakhir kali. Biarkan aku memelukmu selama beberapa menit lagi," pinta Svetlana dengan suara mendesah sedih.


"Apa maksudmu? Kau akan kembali ke kampung halamanmu?" tanya Erick yang berharap jawaban gadis itu adalah iya.


"Untuk apa Erick ... untuk apa aku kembali hanya meratapi nasibku? Patah hati itu menyakitkan, dua belas tahun aku menantimu di kota kecil itu. Tapi kau tidak pernah mencariku. Sekarang saat aku mencarimu, kau bahkan tidak menghiraukan diriku. Apakah selamanya aku tidak pernah nampak di matamu? Tidak adakah setitik cinta untukku?"


Erick termangu mendengarkan perkataan Svetlana. Dia yang hendak mendorong tubuh gadis itu akhirnya mengurungkan niatannya. Kedua tangan Erick sejajar di samping tubuhnya. Ia membiarkan Sverlana memeluk dirinya.


"Duduklah. Kita bisa bicarakan baik-baik hal ini," ujar Erick dengan lembut.


Gadis itu akhirnya menurut. Ia tanpa melepaskan pelukan di tubuh Erick, menuruti permintaan pria itu. Svetlana duduk dengan bersandar di dada Erick.


"Aku mencintaimu Erick. Sejak usiaku sepuluh tahun. Kau tidak pernah melirik sedikitpun pada diriku. Aku mengalah karena itu adalah Liliane. Meskipun dalam hatiku, aku tidak terima." Air mata Svetlana bercucuran dengan deras.


"Liliane selalu mendapatkan yang terbaik. Kasih sayang dan perhatian dari Mom dan Dad. Bahkan ... apakah kau tahu Erick, jika mereka merekayasa genetikku sebagai bayi tabung, agar aku bisa berguna untuk Lilliane? Mereka orang tuaku ... mengandung diriku hanya untuk Lilliane." Svetlana menjerit dalam pelukannya.


Erick dengan lembut meletakan tangannya di punggung gadis itu. Dia tidak mengetahui cerita ini sebelumnya. Yang dia tahu adalah Lilliane yang selalu sakit dan seringkali di operasi untuk transplatasi sumsum tulang belakang. Dan donor satu-satunya adalah Svetlana, adik kandung Lilliane.


"Kau tahu, aku tidak mempunyai teman. Hanya kau yang begitu baik padaku. Kau datang mengunjungi dan bercanda dengan Lilliane, tapi tak pernah lupa membawakanku sesuatu. Semenjak itu aku menyukaimu."


Svetlana menengadahkan wajahnya, memandang wajah Erick yang bersih tanpa cambang. Dia terus terisak sambil menatap Erick yang sabar mendengarkan keluhannya. Meskipun mata pria itu tidak menatap ke arahnya.


"Erick ... aku selalu mengalah untuk Lilliane. Dia merampas perhatian kedua orang tuaku, merampas masa kecilku dan merampas perhatianmu. Mom dan dad selalu menyuruhku menjauh saat kau datang. Mereka takut aku mencuri perhatianmu, meskipun saat itu usiaku baru sepuluh tahun. Saat ini setelah Liliane pergi dan diriku sudah cukup dewasa, apakah salah jika aku mengejar cintaku?" Svetlana memeluk Erick semakin erat.


Erick mendesah. Dia mengingat Svetlana kecil yang pendiam dan pemalu. Gadis dengan kepang dua yang terkadang merona wajahnya namun tak jarang pula menjadi pucat.


Svetlana yang selalu bersembunyi di balik pepohonan saat Erick berkunjung ke rumah mereka. Svetlana yang mengintip saat dia berduaan dengan Lilliane.


Terkadang dia merasa lucu dan gemas dengan sikap gadis kecil itu. Namun, saat Erick melambaikan tangan, Svetlana justru lari. Hal itu membuat dirinya tergelak, menganggap sebagai lelucon.


Tapi, yang Erick tidak tahu adalah, gadis kecil itu memiliki perasaan padanya. siapa yang mengira cinta akan muncul di hati seorang gadis kecil? Saat Lilliane meninggal, Erick yang menangis terisak ditenangkan dengan kemunculan Svetlana.


Gadis kecil itu mengulurkan sekotak tisyu padanya dan memberikan bahu kecilnya untuk Erick. Erick ingat dia menangis di bahu kecil itu. Dan tangan-tangan mungil Svetlana membelai kepalanya. Saat itu lah pertama kalinya gadis kecil itu berani mendekati Erick.


Dan gadis kecil itu sudah tumbuh dewasa saat ini. Mengemis cinta padanya. Tidak! Gadis ini harus disadarkan dari mimpinya.


"Svetlana ... aku sudah menikah. Aku mencintai istriku. Wanita itu mampu menghapuskan bayangan Lilliane dari benakku. Aku harap kau mengerti." ujar Erick dengan lembut dan tegas.


Perlahan dia mendorong tubuh Svetalan menjauhi dirinya. Dia menahan tubuh gadis itu yang masih menangis dengan keras.


"Aku harap kau mengerti. Bagiku kau adalah seorang adik. Perasaanmu padaku bukan cinta, itu hanyalah obsesi karena ada keinginan untuk bersaing dengan kakakmu, Lilliane."


"Tidak Erick. Kau cinta pertama dan terkahirku." Isak tangisan Svetlana semakin keras.


Erick berdiri menatap Svetlana yang masih menggenggam kedua tangannya dengan erat. Gadis itu menahan agar Erick tidak meninggalkan dirinya.


Rintik hujan semakin keras. Bau tahan yang lembab menusuk penciuman. Langit dipayungi oleh awan-awan gelap yang berjejeran siap menumpahkan air ke atas bumi.


"Pulanglah Svetlana, tenangkan dirimu. Kau cantik dan masih muda, banyak pria lain yang pasti akan menginginkan dirimu. Jangan terpaku pada pria yang sudah menikah seperti diriku."


Erick melepaskan genggaman tangan Svetlana di tangannya. Dia mengusap kepala gadis itu perlahan kemudian meninggalkannya pergi. Namun, Svetlana tidak terima dia langsung memeluk punggung Erick.


"Jangan pergi! Jika kau pergi aku akan menenggelamkan diriku di danau. Aku tidak mau hidup seperi ini. Aku tidak mau kehilangan cintaku. Jangan pergi, Erick." teriak Svetala dengan tangisan yang menjadi-jadi di punggung Erick.


Saat itu, awan gelap tidak lagi mampu menahan diri untuk memuntahka air. Hujan turun dengan derasnya mengguyur bumi.


Dan mata Erick terpaku saat melihat Laurent yang hanya berjarak beberapa metre di depannya. Pandangan mata mereka terpaku satu sama lain.


Saat itu Erick menyadari perasaan cintanya yang mendalam untuk Laurent. Dia tersenyum menatap wanita yang tampak semakin cantik dibawah guyuran air hujan. Erick menyungging senyuman dan membisikan nama istrinya. "Laurent."


Tapi senyuman itu hanya sesaat menghiasi dirinya, ketika ia melihat Laurent menangus dan berlari pergi. Erick berteriak ingin menyusul Laurent.


"Laurent!"


Namun, langkahnya tercekap dengan pelukan keras Svetlana. " Jangan pergi Erickkk!"