
Tengah hari nya, Jason menerima sebuah panggilan telphone yang membuat dirinya harus pergi dari rumah. Jason tampak gelisah. Dia tidak menyukai ide meninggalkan rumah disaat Lia tampak begitu bersenang-senang. Jason ingin menghabiskan waktu hanya bersama Lia.
"Aku harus pergi. Ada hal penting yang harus aku lakukan dan maaf aku tidak dapat menunda nya," ujar Jason dengan menyesal kepada Lia.
"Apakah kau akan pulang cepat?" tanya Lia dengan agak sedih.
"Akan aku usahakan untuk segera pulang." Janji Jason.
"Ingat kau sudah berjanji padaku, jika hari ini kita akan bersepeda keluar. Cuaca hari ini sangat bagus Jason. Matahari tidak bersinar terik," pinta Lia dengan penuh harap.
"Iya aku tahu. Akan aku usahakan untuk kembali sebelum sore hari." Tangan Jason menangkup pipi Lia sebelah kanan.
"Jika kau tidak kembali pukul setengah tiga sore, maka aku akan bersepeda sendiri," ancam Lia dengan cemberut.
"Apakah kau tidak mau menungguku?"
"Aku hanya akan pergi di sekitar sini. Bermain disekitar danau." Kata Lia dengan mata berpijar, sorot matanya penuh harap.
Jason sangat khawatir. Mungkin kekuatiran Jason terlalu berlebihan. Lia bukan anak kecil yang bisa begitu saja tersesat bukan? Apalagi dia berjanji hanya bermain di sekitar danau.
"Baiklah jika aku tidak datang pukul setengah tiga sore, maka kau boleh pergi dengan membawa dua orang pengawal bersama mu." Ujar Jason dengan tegas.
"Okey. Jangan sampai kau melewatkan ya. Ingat janji mu."
"Okey kucing manis ku," Jason mencium bibir Lia sesaat.
Kemudian dia mendaratkan kecupan hangat di kening Lia dan pergi dengan berat hati. Lia bisa merasakan bagaimana Jason terpaksa meninggalkannya. Hati kecil Lia pun diliputi tanda tanya, hal pentong apakah yang tidak bisa dia tunda di hari sabtu ini.
Di lantai bawah, Jason sudah berpesan kepada butler Bernard untuk menjaga Lia dan membiarkan gadis itu bermain bersama dua orang pengawal.
"Aku harus pergi Bernard. Mommy ada di Paris. Jika aku tidak menemuinya, maka wanita itu akan datang ke rumah ini. Dan aku tidak ingin Lia menemuinya saat ini," ujar Jason dengan resah.
"Kenapa tuan muda tidak membiarkan nona bertemu dengan nyonya besar?" Tanya butler Bernard tidak mengerti.
"Kau tahu ibuku. Bagaimana dia selalu memilih dan teliti. Dia bisa tahu jika Lia belum sepenuhnya memberikan hati padaku. Dan itu akan menjadi ancaman bagi kami." Jason menjelaskan maksud hatinya.
"Sampai kapan anda akan menyembunyikan nona Lia?"
"Entahlah Bernard. Kau tahu bukan, dia berbeda dengan wanita lain. Aku sudah mengikatnya dengan pernikahan. Tetapi, dia masih saja terasa jauh." Desah Jason dengan resah.
"Apakah saya boleh turun tangan tuan?" Bernard menawarkan bantuan.
Hal ini tentu saja membuat Jason heran. Bernard yang tidak pernah berpacaran, bagaimana dia mengerti cara menaklukan hati wanita? Jason penasaran.
"Bantuan seperti apa itu?" Tanya Jason.
"Aku bisa mencarikan obat untuk anda mendapatkan nona." Ujar butler Bernard berbisik.
"Heh? Maksudmu?" Jason kebingungan.
"Sudahlah tuan muda. Tidak perlu malu, saya tahu anda belum pernah mendapatkan nona seutuhnya. Saya bisa mencarikan obat agar nona memohon pada anda. Toh, itu sah saja, kalian sudah menikah." Bisik butler Bernard lagi dengan lebih intens.
"Gila kau tua bangka. Kau pikir aku tidak bisa membuatnya tahluk dengan kekuatanku sendiri?" Jason jengkel merasa disepelekan oleh butler Bernard.
"Itu jika anda mau mendapatkan diri nona dengan cepat." Sahut butler Bernard sambil mengangkat bahu nya.
"Jangan coba-coba melakukan hal itu. Kau tua bangka apakah dirimu sering berbuat seperti itu untuk mendapatkan wanita?" Tanya Jason dengan jengkel.
"Saya tidak perlu berbuat seperti itu tuan, para wanita sudah melemparkan diri pada saya dengan sukarela, bahkan mereka sudah membawa ****** sendiri." Butler Bernard terkekeh, menyeramkan terdengar di telinga Jason.
"Aku pikir kau perjaka tua. Sudah jaga Lia. Awasi dia. Aku harus pergi dulu."
Jason kemudian masuk kedalam mobilnya dan mengendarai kendaraan itu sendiri tanpa supir, menuju tengah kota Paris. Hanya dalam waktu tiga puluh menit Jason sudah tiba di sebuah Penthouse mewah, lantai paling atas di gedung apartemen termewah tersebut.
Jason memiliki akses khusus untuk sampai di penthouse tersebut. Para pelayan tahu siapa Jason sebagai anak tertua dari pemilik gedung apartemen yang menjulang megah di Paris.
Jason memasuki Penthouse super mewah tersebut, melalui lorong dengan gemericik air di dinding hingga sampai di ruang keluarga. Sesampainya di sana Jason langsung duduk dan seorang pelayan segera masuk memanggilkan ibu Jason.
"Tuan muda, nyonya besar meminta anda untuk menunggu. Dia baru saja selesai dengan perawatan." Ujar pelayan tersebut dengan hormat.
"Terimakasih." Ujar Jason.
Perkataan Jason cukup membuat pelayan itu terperangah untuk sesaat. Dia merasa pendengarannya salah dengan apa yang diucapkan oleh tuan nya. Mengucapkan kata terimakasih apalagi kepada pelayan, tidak pernah ada di kamus besar ataupun kamus kecil para bangsawan kota ini.
Pelayan tesebut mengundurkan diri perlahan sambil tetap membungkuk. Dia tidak berani menatap majikannya apalagi bertanya mengapa tuan muda mengucapkan terimakasih.
Jason melihat ke arah jam tangannya. Disana sudah menunjukan pukul dua belas lebih empat puluh lima menit. Masih ada waktu untuk memenuhi janji dengan Lia. Jason tidak ingin mengecewakan wanita yang sudah memasuki hatinya diam-diam itu. Wanita yang sudah membuay dia gelisah setiap kali berjauhan.
Lima belas menit kemudian, Seorang wanita cantik yang tidak termakan usia muncul di hadapan Jason. Melangkah dengan anggun dan menyapa putranya.
"Oh my baby. Bagaimana kabarmu sayang?"
Ucap wanita itu pada Jason.
"Ah nyonya Laura Collins, kau membuatku menanti dirimu sangat lama." Ujar Jason tak sabar.
"Dua puluh menit menanti wanita kesayanganmu adalah hal yang wajar."ujar sang ibu dengan percaya diri.
"Ayo sayang kita makan siang." Laura Collins menarik tangan Jason menuju ruang makan.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba datang ke tempat ini?" tanya Jason langsung saat mereka baru saja duduk di ruang makan.
"Tentu saja karena merindukanmu sayang." Ujar Laura Collins terkekeh.
"Kau sudah melihatku sekarang nyonya besar. Masih tampan dan gagah." Sahut Jason membanggakan dirinya.
"Tentu saja harus begitu. Anak yang keluar dari rahimku sangat berharga." Sambut Laura Collins akan perkataan Jason.
"Berapa lama kau akan tinggal nyonya besar?"
"Ada apa denganmu, kau baru saja melihatku sudah ingin mengusirku?" Laura Collins memandang Jason penuh selidik.
"Bukan begitu, aku tahu jadwalmu sangat padat hanya untuk makan siang denganku," sindir Jason.
"Kau benar. Sayang sekali besuk aku sudah harus terbang ke Zurich." Ujar Laura Collins dengan kecewa.
Jason menarik nafas lega.
"Kau tampak bahagia mendengar aku akan pergi?" Pertanyaan Laura Collins penuh selidik.
"Siapa bilang? Kau tahu aku selalu merindukanmu, wanita tercantik yang aku miliki." Jawab Jason spontan menutupi kegugupannya.
"Hahhahaha. Aku suka mulut manismu padaku, my baby boy."
Laura Collins kemudian mengelap bibir nya dari sisa makanan. Dia menjentikan jarinya dan saat itu seorang assistent muncul memberikan sebuah amplop kepadanya.
Laura Collins kemudian menyodorkan amplop itu kepada Jason. Dengan heran Jason membuka isi amplop tersebut. Dia melihat sebuah foto wanita yang sangat cantik. Jason langsung meletakan foto tersebut dan mengembalikannya pada sang ibu.
Dia kemudian membasuh tenggorokannya dengan air putih.
"Temuilah Dia. Dia wanita yang cantik dan cerdas." Paksa Laura.
"Tidak ibu. Aku tidak tertarik." Tolak Jason.
"Namanya adalah Natali. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, dia sudah menjalankan bisnis fashion dengan sangat gemilang. Dia sudah memiliki brand sendiri. Orang tua nya adalah salah satu teman baik mommy." Laura menjelaskan.
"Sudah cukup mommy, kau tidak perlu mencarikan wanita untukku. Aku bisa mengatasinya sendiri." Tolak Jason lagi.
"Apakah kau sudah memiliki kekasih?" Laura Collins mengernyitkan keningnya.
Aku sudah memiliki istri mommy, desah jason dalam hati.
Jason menggeleng menjawab pertanyaan ibu nya.
"Kau tahu. Empat tahun lagi. Waktu mu tidak banyak Jason. Jangan buang-buang waktumu. Temuilah dia."
"Aku tidak tertarik mommy."
"Meskipun kau adalah Gay. Kau tetap harus menikah dan memiliki anak. Kau tahu itu! Tidak ada tawar menawar lagi kecuali kau sudah memiliki kekasih yang sesuai dengan standar, bukan wanita murahan yang hanya menginginkam hartamu. Kau paham kan maksudku." Ujar Laura Collins dengan menekankan kata di setiap kalimatnya.
Kalimat Laura Collins lebih tepatnya mengarah pada wanita selingkuhan ayahnya. Wanita yang mencari perhatian ayahnya dengan berpura-pura menjadi sekretaris. Wanita itu pula melahirkan seorang anak yang menjadi ancaman bagi kedudukan Jason sebagai ahli waris.
Jason lemas. Dia tidak bisa membiarkan ibunya menemui Lia saat ini. Tidak disaat Lia belum sepenuhnya membuka hati untuk Jason. Jason takut Lia akan mundur teratur dan meninggalkan dirinya.
"Baiklah." Ujar Jason pada akhirnya.
"Bagus kalau begitu. Bagaimana jika kau menemui Natali makan malam besuk di..."
"Tidak. Jika kau ingin aku menemuinya, maka aku yang akan menentukan waktunya. Besuk, pukul Delapan pagi di the Brasserie restaurant."
Jason menyebutkan sebuah lokasi restaurant sederhana yang ada di dekat mansion nya. Laura tahu lokasi tersebut meskipun tempat itu jauh dibawah standard, tetapi bagi Laura mungkin itu adalah langkah bagus. Apalagi besuk adalah hari minggu. Bisa saja Jason akan membawa Natali pulang ke mansionnya langsung, harapan Laura.
"Okey sepakat." Ujar Laura collins.
Jason melirik jam nya pukul satu lebih empat puluh menit.
"Baiklah kalau begitu mommy, aku akan pergi."
"Hei.. secepat itu kah kau meninggalkanku di hari sabtu ini. Apakah kau tega meninggalkan mommy begitu saja?"
"Ada hal penting yang harus aku lakukan mom,"
"Tidak ada hal penting yang akan kau lakukan di hari sabtu kecuali mengencani seorang wanita. Jika tidak maka kau harus kencan dengan ku mommy mu, Bagaimana?" Pandangan Laura Collins begitu menyelidik.
Jason serba salah, diantara janjinya untuk berkencan dengan Lia dan dihadapkan dengan ibunya yang terlalu ingin tahu kehidupan pribadi Jason. Jika dia meninggalkan Laura Collins begitu saja. Maka dapat dipastikan, wanita ini akan menyuruh seseorang mengikutinya dan lebih buruk lagi, Laura akan datang ke mansion Jason.
"Baiklah mommy. Aku adalah kencanmu hari ini. Tapi tidak sampai malam okey. Aku ada janji dengan Erick." Jason akhirnya mengambil keputusan.
"Tentu saja. Si nakal Erick apa dia belum memiliki kekasih?" Laura teringat dengan Erick sahabat sekaligus assistent Jason.
"Erick tidak memiliki kekasih? Hahhaha bisa saja wanita yang kau tunjukan untukku adalah salah satu mantan Erick." Ujar Jason dengan terkekeh.
"Jika hal itu terjadi akan aku kebiri si Erick." Sahut Laura Collins dengan santai.
"Kenapa kau tidak membuang wanita itu daripada mengebiri Erick."
"Agar dia tidak bisa bebas terbang dan merusak wanita untuk anakku." Sahut Laura Collins dengan cuek.
Jason menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan sang ibu. Wanita ini meskipun sudah berusia tidak pernah berubah. Selalu berbicara semaunya.
Jason mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada butler Bernard, untuk membiarkan Lia keluar tanpa dirinya. Dengan syarat tidak terlalu jauh dari mansion dan ditemani dua orang pengawal.
Jason kemudian mengikuti ibunya untuk keluar dari Penthouse dan menemaninya berkeliling kota fashion. Di sepanjang pertokoan Pikiran Jason selalu teringat pada Lia. Sudah beberapa bulan, Jason tidak pernah membelikan Lia pakaian dan sepatu baru.
Jason menyentuh sebuah tas merk Pierre Cardin, salah satu icon fashion di Paris. Dia membayangkan Lia mengenakan tas itu pasti akan sangat anggun. Mungkin lain waktu dia akan membeli tas itu untuk Lia.
Atau, mengajak wanita itu mengelilingi kota fashion ini, pasti senyum ceria akan terukir di wajah mungilnya yang cantik.
Jason tersenyum sendiri. Dan tingkah Jason membuat Laura Collins curiga. Dia menghampiri putranya dan menatapnya tajam.
"Apa yang membuat mu tersenyum?" Tanya Laura dengan penuh selidik.
"Ah tidak... aku ... hanya teringat dengan Laurent." Ujar Jason dengan gugup.
"Ah, adikmu itu. Dia sangat hebat sekarang. Dia bisa mengendalikan beberapa hotel dan membuatnya maju." Ucap Laura dengan bangga.
"Tentu saja. Dia berbakat seperti mu, mommy." Jason mengecup kening ibunya dengan penuh kasih sayang.
Waktu berjalan, tak terasa sudah pukul enam malam. Laura mengajak Jason menujuk ke sebuah restaurant untuk makan malam.
Dan saat itu sebuah panggilan tiada henti berdering di handphone nya.
Butler Bernard. Apakah ada sesuatu yang mendesak? Pria itu tidak pernah menghubungi Jason jika tidak penting sekali.
"Ada apa?" Jawab Jason langsung
"Nona Lia menghilang." Ujar Butler Bernard dengan khawatir.
"APA???!!!!" Jason berteriak sambil berdiri. Teriakan Jason cukup membuat seisi restaurant menoleh padanya dan memandang heran.
Laura bisa melihar kegugupan dan kekhawatiran di wajah putranya. Tentunya hal yang sangat penting telah terjadi. Laura menyentuh tangan Jason dan memintanya untuk duduk.
"Ada apa? Katakan pada mommy." Tanya nya dengan khawatir.
"Aku harus pergi mommy. Ada hal penting yang harus aku lakukan." Ucap Jason dengan tergesa-gesa.
"Apakah Erick tidak bisa mengurusnya?"
"Tidak mommy. Ini menyangkut hidup dan mati ku. Maafkan aku, kau bisa meminta supir untuk menjemputmu bukan?" Ujar Jason dengan gelisah.
"Pergilah nak, selesaikan urusanmu. Aku akan baik- baik saja. Tapi jangan lupa besok jam delapan pagi." Pesan Luara.
"Baiklah mom, bye." Jason mengecup pipi ibunya dan segera melesat pergi.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...
Lia nakallll suka buat Jason pusing yaaaa.
Pembaca tercintaaa, kalau boleh author memohon, tolong simpan poin kalian selama dua minggu ini ya. Nanti serentak tanggal 19 kita vote bersamaan untuk Jason dan Lia.
Terimakasih buanyakkkkk yaaaaa