48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Lima jam Tiga puluh Menit



Jangan Lupa sumbangin vouvher Vote nya yaaa.


...💖💖💖💖💖💖💖...


Perlu waktu Lima jam tiga puluh menit melintasi lautan dari Miami menuju Paris. Itu sudah dipotong dengan waktu antri untuk penerbangan, melewati imigrasi dan hal umum lainnya. Belum lagi selisih waktu antara Miami dan Paris yaitu lima Jam.


Pukul satu siang waktu Miami, Jason mengetahui hilangnya Lia, itu berati pukul enam sore waktu Paris. Dalam setengah jam dia sudah berada dalam pesawat pribadi menuju Paris. Setelah berada dalam jalur aman, Jason dan Erick menggunakan telphone satelit memberikan perintah.


Erick sibuk menghubungi kepala Polisi yang dia kenal. Kepala polisi itu membantu mencari keempat foto orang hilang yang dikirimkan oleh Erick. Erick juga menghungi Daniel untuk mencari mereka. Sedangkan Jason sibuk memerintahkan Carlos untuk melacak melalui sistem keamanan rahasia yang dia miliki. Meretas cctv kota dan mencari ke empat orang hilang tersebut.


Dalam kurun waktu kurang dari satu jam, Carlos berhasil mendahului sistem keamanan polisi. Dia mendapati plat mobil Laurent di area parkiran sebuah hotel. Tetapi setelah di lacak keempat orang tersebut tidak menginap di hotel. Dengan meretas cctv hotel, Carlos menemukan jika Lia, Laurent, Emely dan Butler Bernard mengilang dalam lautan manusia di daerah Pigalle.


"Apa? Pigalle?!" Jason menggumam tertahan, menekan emosi nya.


"Pigalle? Apa Laurent akan menikah di club malam? Atau... dia sudah menikah?" tanya Erick dengan beremosi.


Jason tidak menghiraukan perkataan Erick. Dia masih mendengarkan penjelasan Carlos, yang sudah mengirimkan pengawal dan beberapa pelayan pria untuk mencari ke empat orang hilang tersebut. Mereka sudah menelusuri kawasan club malam yang dibanjiri manusia itu. Kawasan itu sangat luas. Bahkan di pinggiran jalan setapak pun banyak orang yang lalu lalang. Bagaikan menemukan jarum dalam tumpukan jerami.


Jason menggenggam erat pinggiran kursi pesawat, hingga buku-buku jemarinya memerah. Wajahnya tegang. Lia berada di dalam club malam, tanpa dirinya. Bahaya apa yang akan terjadi pada gadis itu. Meskipun Butler Bernad dan Laurent bisa bela diri, tetapi kemampuan dua orang itu apa bisa menjaga Lia dari gangguan pria hidung belang?


Jason terlalu takut, jika ada bahaya mengancam kekasih hatinya. Istri nakal yang senantiasa membuatnya berdebar kencang dan dipenuhi kekuatiran. Istri yang tidak bisa membuatnya tenang. Rasa cinta dan memiliki yang berlebihan, membuat Jason meradang. Apalagi saat ini, istri nakal itu menghilang dalam lautan manusia yang sedang berpesta bagaikan orang gila. Jason hanya bisa berharap, Tuhan menjaga kekasih hatinya dari manusia hidung belang.


"Jason! Katakan padaku, dengan siapa Laurent akan menikah?! Kenapa mendadak?! Kau juga baru tahu?!" Erick tanpa sadar menendang sepatu Jason.


Erick sudau kehilangan akal dan tidak sabar mendapatkan penjelasan Jason. Apalagi wajah pria itu memerah menahan amarah. Pasti sesuatu yang buruk telah terjadi. Erick tidak memikirkan kemungkinan lain, dia saat ini hanya mengira semua itu karena Laurent yang akan menikah.


"$hit! Kenapa kau yang panik, Itu istri dan adikku yang menghilang!"


"Tapi... Laurent juga adikku." Desah Erick lemah.


"Maka seharusnya kau berbahagia bukan, jika dia akan menikah?! Tidak ada lagi yang akan mengganggumu." Sindir Jason tajam.


Erick memang sahabat dan pegawai terbaiknya. Tapi disatu sisi, melalui cerita Lia Jason menyadari jika Laurent sudah mencintai Erick sejak lama. Jason mempercayai perkataan Lia, Apalagi mengingat kedua insan itu pernah bercumbu. Hanya saja Jason tidak mengetahui alasan Erick menolak Laurent. Alasan Erick membuat Laurent patah hati sekian lama.


"Aku..." Erick bingung harus menjawab apa.


"Lalu, kenapa kau panik?" Erick memutar balikan keadaan.


"Karena Lia pergi tanpa pamit dengan butler Bernard!" Seru Jason kesal.


"Jangan-jangan mereka berdua menjadi saksi atas pernikahan Laurent?" Erick menduga-duga dengan lemas dan frustasi.


"Arghhh!!!"


Dia tidak bisa melihat dengan jelas gambaran situasi saat ini, jika sedari awal Jason selalu menekankan jika Lia menghilang tanpa pamit dan Laurent diduga sebagai dalangnya. Jika mereka berempat pergi tanpa pamit, bagaimana Jason bisa tau Laurent akan menikah? Tidak masuk akal bukan? Tapi Erick tidak berpikir demikian.


Dalam benaknya hanya ada ketakutan akan kehilangan Laurent. Dia takut, tidak akan mendapatkan senyuman manja juga perhatian spontan Laurent. Meskipun mereka sering hidup berjauhan, tapi Laurent masih sangat perhatian dengan segala pesan yang dia kirim setiap harinya. Tanpa dia sadari, Erick sudah bergantung pada Laurent dan menggantung perasaan Laurent.


Kecuali dua minggu terakhir ini.


Tunggu! Dua minggu terakhir ini adalah dimana Laurent berkenalan dengan Gabriel. Erick mulai menduga-duga jika pria yang hendak dinikahi oleh Laurent adalah Gabriel. Pikirannya menjadi kalut, karena sepengetahuan Erick, mereka baru berkenalan selama dua minggu. Secepat itu kah mereka akan menikah? Secepat itukah gadis itu berpaling dari nya.


"Apa Laurent akan menikah dengan Gabriel?" tanya Erick tiba-tiba mengagetkan Jason.


"Erickkkkkk!!!!!! Jika kau perduli dengan Laurent, lamar dia. Tidak perlu seperti anak kangguru yang hanya bisa bersembunyi. Kau sudah tua, melompat dan tangkap dia!" Bentak Jason kesal.


"Aku juga mau, tapi bagaimana aku bisa menikahi dia, juka diriku sudah terikat sumpah?! Apa kau pikir aku tidak gelisah setiap malam? Aku menginginkan Laurent tapi aku juga takut terluka lagi dan kehilangan dirinya."


Erick yang rustasi berseru tertahan. Dia berdiri sambil meremas kursi. Wajahnya tampak dipenuhi kebimbangan. Pertama kali, Jason melihat raut wajah Erick yang seperti itu. Dan Jason sadar, Erick tak kalah frustasi dengan dirinya sendiri, meskipun berbeda alasan.


"Sumpah?"


"Ya... Semasa sekolah menengah, aku jatuh cinta dengan seorang gadis lembut. Dia cantik, pendiam dan pandai. Aku mencari cara untuk mendekati dirinya... dan aku semakin menyukai pribadinya yang hangat. Dia cinta pertama, belahan jiwaku dan aku bersumpah akan mencintai dirinya seumur hidupku. Aku akan menikahi dirinya."


Erick menghela nafas panjang. Dia kembali duduk bersandar pada sofa dengan lemas.


Jason dengan sabar menanti Erick melanjutkan ceritanya. Dia menuangkan segelas brandy, dengan dan menyodorkan pada Erick. Perlahan Erick menyesap brandy tersebut, merasakan aliran hangat dalam kerongkongannya.


"Tetapi sayang, dua tahun kemudian tubuhnya semakin lemah. Dia menderita leukimia. Aku masih kuliah saat kehilangan dirinya. Dia menghembuskan nafas trakhir, saat aku selesai bersumpah akan menikahi dirinya dan menjadikan dia satu-satunya wanita dalam hidupku. Dia pergi selamanya." Air mata duka tampak di pelupuk mata Erick.


"Hingga beberapa tahun yang lalu, saat kita pertama kali bekerjasama. Laurent kecil yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Dia menggugah perasaanku. Tapi, setiap kali aku dekat dengan Laurent, aku merasa menghianati cinta pertamaku. Aku merasa telah menyangkal sumpahku. Dan aku takutt jika itu berimbas pada Laurent. Aku seharus nya tidak jatuh cinta pada Laurent. Aku seharusnya tidak memberi harapan pada gadis itu. Aku seharusnya merelakan dirinya menikah dengan pria lain." Ujar Erick lirih.


"Kau tahu... aku rasa gadis cinta pertamamu, ingin kau bahagia. Dia tidak akan suka jika kau kesepian dan menanti bayangan masa lalu." Jason berusaha memberikan pengertian.


"Kenapa kau tidak mengerti. Aku sudah bersumpah! Dan aku takut jika Laurent akan terkena imbas dari sumpahku." Tekan Erick lagi.


"Kau bersumpah menikahi gadis yang masih hidup bukan? Apa kau bersumpah akan menikahi mayat?!" Tanya Jason dengan tegas.


Eric terpana. Hal detail itu tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Dia hanya merasa terikat pada sumpah. Mencintai dan mempertahankan cinta seumur hidup dengan gadis cinta pertamanya.


"Mencintai dan memiliki Laurent, bukan berarti kau akan melupakan cinta pertama mu. Tapi dia tidak ada di dunia ini lagi. Dan aku yakin, dia pun ingin kau bahagia." Ujar Jason lagi dengan penuh kesabaran, mengetuk pintu hati dan pikiran Erick.


...💖💖💖💖💖💖💖...