
Jason menurunkan tubuh Lia ketika berada di dekat mobil yang menjemput mereka, membuka pinti dan sedikit memaksa gadis itu untuk masuk.
Ketika Jason memutar hendak masuk mobil melalui pintu satunya, Lia dengan sigap membuka pintu mobil hendak kabur. Tetapi gerakannya tercekat dengan adanya tubuh pengawal. Pengawal itu segera menutup pintu kembali, dan supir menguncinya dari depan begitu Jason masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Lia membungkam mulutnya rapat-rapat. Dia sudah cukup lelah berteriak dan merasa sia-sia saat ini berargumentasi dengan pria egois di sampinya.
Menikah? Suami? Apaan? Ingatan merasakan berdebar saat dilamar atau menikah saja gak ada. Jadi iri dengan lamaran Grisella yang romantis. Aaaaaa... Jason menyebalkan.
Lia tanpa sadar memukul jendela kaca mobil di sampingnya dengan keras. Dia mengusap-ngusap tangannya yang memerah. Dan melirik Jason yang masih memejamkan mata, tidak perduli dengan keributan yang dia buat barusan.
Lia menjulurkan lidahnya dengan jengkel ke arah Jason. Kemudian dia memperhatikan jalanan. Paris, memang benar kota ini indah. Bangunan-bangunan yang menjulang indah, para penduduknya yanh fashionable. Juga kota yang tertara rapi.
Mobil memasuki sebuah mansion yang besar. Gerbang tinggi berwarna hitam terbuka dan melewati halaman luar yang luas. Lia terperangah. Rumah ini lebih besar daripada kediaman Diana. Jauh lebih bergaya klasik.
"Ayo turun." Ajak Jason.
Lia yang masih termangu, tidak menyadari jika pinti mobil sudah terbuka dan tangan Jason terulur kepadanya. Dengan mengabaikan uluran tangan Jason, Lia turun.
Puluhan pelayan sudah berjajar rapi menyambut kedatangan mereka. Semua pelayan membungkuk hormat kepada Jason. Pimpinan pelayan menghampiri mereka dan menyapa hormat.
"Selamat datang kembali tuan muda Jason dan selamat datang nona..."
"KNamanya Lia. Dia istriku." Ujar Jason singkat yang membuat pimpinan oelayan tersebut terkejut sesaat dan melirik pada Lia.
Jason menggandeng Lia masuk ke dalam Mansion. Sementara pimpinan pelayan mengikuti mereka dari belakang. Dalam pikiran pelayan itu berkecamuk berbagai pertanyaan.
Menikah? Kapan? Tapi kenapa gadis ini tampak sederhana dan tidak seperti bangsawan sama sekali? Tampaknya kelas mereka berbeda. Kenapa tuan muda mau menikahi gadis seperti itu? Kenapa tuan dan nyonya besar mengizinkan.
Jason membawa Lia menaiki tangga melinhkar yang indah ke lantai dua. Dia membawa gadis yang masih saja termangu itu memasuki kamar utama. Lia belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi.
Dia berjalan mengelilingin kamar mewah dan luas itu yang memiliki closet sangat luas dan bisa tembus ke ruang jaquzi super mewah. Setelah puas berkeliling, Lia kembali mendekati Jason yang masih duduk di sofa dan sibuk dengam ponselnya.
"Ini kamarku?" tanya Lia sambil duduk di tempat tidur.
Ah... nyaman sekali kasur ini.
"Kamar kita." sahut Jason.
"Kok bisa kamar kita?"
"Karena kau istriku."
"Jadi maksudmu aku nyonya di rumah ini? Semua pelayan itu harus patuh padaku?"
Jason mengangguk. Dia menyeringai mendengar Lia bersemangat.
"Aku tidak mau!"
Jason mengangkat kepalanya menatap Lia tajam. Negosiasi apa lagi yang diminta gadis ini?
"Aku tidak mau se kamar denganmu!" Ujar Lia tegas dengan menekankan pada setiap katanya.
"Apa maksudmu. Kau istriku. Kau harus tidur satu ranjang denganku."
"Istri apaan. Aku yakin itu pasti tipuanmu. Mana aku juga tidak melihat keaslian surat itu. Bisa jadi itu palsu." ujar Lia.
Lia ingin melihat langsung surat kesepakatan itu dan merobek nya. Itu rencana yang ada di pikiran Lia.
Jason menghubungi pengacaranya dan membuat mode Video Call. Wanita yang dia nikahi ini meskipun kadang ceroboh dan polos, tetapi bukanlah gadis yang bodoh.
"Selamat sianh tuan Jason, adakah yang bisa saya bantu."
"Curtis! Tunjukan pada nona keras kepala ini. Surat kesepakatan yang dia tulis dam tandatangani." Ujar Jason.
"Baik tuan." Pengacara tersebut tampak membuka sebuah lemari besi dan mengeluarkan sesuatu di sana.
"Ini nona Lia. Anda bisa melihat jika surat ini resmi. Ada materai, saksi dan juga tandatangan saya sebagai pengacara."
Lia memperhatikan surat yang di tunjukan lewat video call tersebut dan surat itu ber cop resmi pula. Semuanya bukan sekedar tulisan tangan dan tanda tangan asal-asalan. Tetapi sudah menjadi dokumen berkekuatan hukum.
Lia lemas. Dia sadar dia kalah. Menggugat pun akan menghabiskan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Dia harus mencari cela, agar Jason mau membatalkan surat perjanjian tersebut.
Lia duduk di pinggiran kasur dengam lemas. Jason mematikan sambungan telphone.
"Kenapa harus aku?" ujar Lia lesu.
"Heh?!"
"Kenapa harus aku yang kau nikahi? bukan Irina atau yang lainnya yang sudah disiapkan oleh ibumu." ujar Lia kesal.
"Kenapa harus kau?" ujar Jason sinis.
Jason mendekati Lia dan mengangkat dagu gadis itu.
"Apa kau lupa, jika dirimu merengek dan memintaku menikahi mu?" ujar Jason terkekeh.
Lia menepis tangan Jason dan mealingka wajahnya kesal. Sungguh memalukan jika itu benar, dia meminta untuk di nikahi oleh Jason.
"Ingat perjanjian nomor tiga dan empat. Kau harus memberiku anak dan mematuhiku." Sekali lagi Jason menegaskan perjanjian yang telah disepakati.
"Ya aku tahu! Tapi.... aku belum siap. Beri aku waktu yaaa.." ujar Lia memelas.
Gadis itu mengatupkan kedua tangannya di dada dan menatap Jason dengan wajah memelas. Matanya berkaca-kaca. Bibir nya bergetar tampak menahan tangis.
Jason tersentuh melihat raut wajah gadis yang dia nikahi dengan memanipulasi nya. Dia merasa kasihan melihat Lia yang tampak masih sedikit terguncang. Jason menarik nafas perlahan.
"Baiklah. Aku mengerti." Jawab Jason lembut.
"Terimakasih. Kau memang pengertian." Lia berdiri dan memegang tangan Jason dengan kedua tangannya dengan erat.
Hati Jason tersentuh dengan sentuhan dari tangan Lia dan raut wajah tulus dari gadis itu. Jason membelai rambut Lia lembut. Lia tertunduk.
Jason membiarkan gadis itu menarik tangannya. Lia membawa Jason menuju pintu kamar, membuka nya dan membawa Jason keluar. Jason mengira Lia akan memintanya berkeliling dan melihat seisi rumah.
Tetapin kenyataannya berbeda.
Lia dengan tiba-tiba melepaskan tangan Jason dan dengan cepat berbalik memasuki kamar kemudian menutupnya rapat.
"Ini kamarku!!! Kau cari kamar lain!"
Jason terkejut. Gadis itu ternyata berhasil menipu dirinya.
Jason menggedor pintu kamar.
"BUKAAAA!!!"
"Tidak mau! Ini kamarku! Kau cari kamar yang lain!" sahut Lia keras dari balik pintu.
"Semua pakaianku masih disana kucing liarrr!!!"
"Tenang saja nanti akan aku keluarkan. Kau cari kamar lainnya."
"Hei kucing liar! Awas ya jika aku berhasil membuka pintu. Habis kau! Ancam Jason.
Lia memperhatikan kunci pintu. Cukup rapat. Tidak mungkin kan Jason membobol pintu kamar ini. Hehhehehe... siapa juga yang mau tidur sekamar dengan dirinya.
Sedangkan di balik pintu. Jason memanggil Bernard sang Kepala Pelayan.
"Kunci semua pintu kamar di mansion ini. Jangan biarkan istriku bisa membuka kamar lainnya. Dan kamar ini...." Jason menunjuk pada pintu kamarnya.
"Begitu pintu kamar ini terbuka nantinya. Lepaskan semua kunci di dalam. Kau mengerti?!"
Bernard mengangguk.
"Jangan khawatir Bernard, kau tidak akan mengeluh kesepian lagi. Gadis ini akan meramaikan rumah dan membuat mu pusing."
Pesan Jason pada Bernard.
"Ah, satu lagi. Berikan padaku kunci pintu ruangan disamping."
Bernard dengan patuh, mengeluarkan tumpukan kunci dari saku jas pinguinnya. Dan melepaskan satu kunci disana sambil memberikan pada Jason.
Pria tampan itu menerima kunci tersebut dan menyeringai lebar.