
Jason berangkat bekerja dari mansion Andrew. Pagi ini, suasana mansion menjadi lenggang, karena Conrad, Francesca dan Aaron sekolah. Tinggal Lia dan Diana bersama tiga kurcaci.
Seorang guru playgroup datang untuk memberikan pelajaran bagi si kembar tiga. Mereka belajar warna, mengenal benda, mengerti gambar dan juga meronce.
Diana sengaja memanggil guru khusus, dikarenankan Adelaide tidak bisa bersekolah.
Diana mengajak Lia bercengkerama di rumah kaca miliknya. Di sana penuh dengan berbagai bunga yang sangat indah dan terawat. Lia memperhatikan kegiayan Diana dengan seksama, terbesit keinginan untuk memiliki rumah kaca juga di Prancis.
"Aku baru menyadari keindahan memandangi bunga-bunga ini dan kenyamanan menanamnya," ujar Lia mengamati hasil karya Diana.
"He em. Di sini bisa menjadi tempat bagi dirimu melepaskan segala penat, kejenuhan dan menyalurkan hobby."
Diana tersenyum memandang Lia. Dia melepaskan sarung tangan dan gunting bunga. Mencuci tangan kemudian duduk di samping Lia.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Diana pada akhirnya. Pertanyaan yang dia simpan cukup lama.
"Baik-baik saja," sahut Lia.
"Jujur padaku. Katakan, bagaimana keluarga Jason. Bagaimana dirimu disana, apa kau bahagia?" Diana menatap mata Lia, mencari jawaban jujur disana.
"Aku bahagia, Kakak. Aku tidak pernah tahu, jika ternyata mencintai dan di cintai itu begitu indah," sahut Lia lirih.
"Hmmm ...." Diana mengiyakan perkataan Lia, karena dia juga merasakan hal itu.
" Aku dulu sering menyangkal perasaanku pada Jason. Ketakutan jika diriku hanyalah sebuah permainan. Apalagi ada kontrak tersebut."
"Kontak?" Diana mengernyitkan keningnya. Dia tidak pernah tahu mengenai kontrak yang di maksudkan oleh Lia.
"Ah kakak ... tampaknya aku terlalu malu untuk bercerita padamu. Jason awalnya menjebakku pada kontrak pernikahan, agar aku bersedia menikahinya dan sekarang kontak itu berbalik menjebak kami berdua"
Lia menarik napas panjang dan mulai menceritakan pada Diana, mengenai kontrak pernikahan hingga ancaman Darrel Madison.
"Seharusnya aku tidak membiarkan Jason membawamu pergi. Waktu itu, aku tidak ingin dirimu salah langkah dan semakin frustasi karena pernikahan Briant dan Grisella. Maafkan aku mengirimu ke penderitaan," isak Diana dalam penyesalan.
"Tidak, Kakak. Kau tidak perlu menyesal. Aku bahagia bersama Jason. Dia ... dia mencintaiku dengan cara yang unik. Tapi aku merasakan ketulusannya. Aku mencintai Jason, Kakak." Tegas Lia.
Diana memandang mata Lia yang menyinarkan cinta yang tulus. Cinta yang tak pernah Diana lihat sebelumnya dan ujian cinta ini akan membuat mereka semakin kuat.
"Kalau begitu, hancurkan kontrak itu, maka setidaknya satu permasalahan akan selesai," saran Diana.
"Iya, Kakak. Jason sedang menemui pengacaranya dan mendapatkan surat kontrak itu. Surat kontrak yang sudah lama kami lupakan, hanya saja entah bagaimana tuan besar mengetahuinya ...," desah Lia.
"Apa yang akan kau lakukan, jika orang tua Jason kembali mendesakmu?" tanya Diana dengan sendu.
Lia mengusap perut ratanya dan memandang Diana.
"Aku akan bertahan dan berjuang, Kakak! Aku tidak ingin anak ini menjadi seperti kita, dibesarkan tanpa orang tua, sendiri dan kesepiaan."
Lia menghela nafas, mengambil tisYu dan menyeka air mata yang menggenang disudut matanya, tapi ternyata dia tak kuasa lagi membendung air matanya.
"Meskipun tuan Darren Madison dan nyonya Laura Collins, membenciku dan tak ingin menganggap diriku, aku akan bertahan disisi Jason, meskipun itu artinya aku hanya akan menjadi bayangan. Meskipun artinya aku harus membiarkan Jason menikah lagi. Aku akan tetap bertahan untuk anakku," isak Lia.
"Bagaimana bisa Jason menikah lagi, Lia. Hukum dan agama nya tidak mengizinkan," Diana mengingatkan. Keuntungan bagi Lia saat mereka menikah secara hukum dan agama di Miami yang disahkan di Prancis.
"Selamanya di depan hukum dan agama, kau adalah istri sah. Jika pun orang tua Jason mengumumkan wanita lain sebagai menantu, merekalah yang bayangan. BUKAN dirimu." Tegas Diana lagi.
Lia merenungkan perkatan Diana yang benar adanya. Namun, tetap saja ada kegelisahan dalam hatinya.
"Kau benar, Kakak .... Aku hanya takut, keberadaan kami, akan menghalangi mimpi Jason."
"Berdoa Lia. Kekuatan utama ada dalam Doa. Kau harus percaya pada Jason. Percaya pada cinta suamimu." Diana menggenggam kedua tangan Lia, mengakinkan pada adiknya, jika mereka bisa melalui semuanya.
"Terimakasih, Kakak. Kau memberiku kekuatan," ujar Lia dengan bersungguh - sungguh.
Hari bergulir, selama siang ini ketiga balita kembar tidak rewel. Mereka pun tidur siang dengan nyenyak. Sementara Diana mengajak Lia untuk ke dapur dan menyiapkan cemilan makan sore untuk anak - anak sepulang sekolah.
Melihat ke tiga keponakannya pulang sekolah,membuat Lia menyadari waktu yang telah dia lewatkan bersama mereka. Anak - anak itu sudah semakin tinggi dan tampak lebih dewasa.
Mereka bercanda dan berkicau, berebutan menceritakan kejadian seru yang terjadi selama di sekolah. Diana mendengarkan dengan seksama dan meluruskan hal -hal yang salah.
"Aunty ini enak sekali, ya." Aaron mencomot pastel goreng kesukaannya.
"Iya, aunt sudah lama tidak memakannya." Lia mengigit pastel yang renyah diluar kulitnya.
"Aunt tidak bisa buat?"
Lia menggeleng.
"Cheft Paul sudah pintar. Besuk mau dibuatkan apa, tinggal bilang saja. Atau koki di mansion Aunt suruh kursus sama cheft Paul," celetuk Aaron lagi.
"Benar - benar. Ide yang luar biasa. Jadi aunt bisa makan sewaktu-waktu ya?" Lia terkekeh membayang wajah datar para koki di mansion Jason, jika harus belajar hal baru lagi.
"Aunt mau dibuatkan lupis ah besuk. Kakak, aku mau jajanan pasar!" teriak Lia dengan bersemangat.
"Merepotkan," sahut Diana.
Lia terkekeh.
"Apa itu jajanan pasar?" tanya Conrad tak mengerti.
"Lihat saja besuk, kau pasti menyukainya," Lia terkekeh kegirangan.
"Aunt dengar Aaron punya tebakan,"
"Apa coba?"
"Gajah ... gajah apa yang tidak pinya belalai?" Aaron tersenyum lebar. Begitu pula Francesca, Conrad dan semua pelayan yang sudah mengetahui jawabannya.
"Mana ada gajah yang tidak punya belalai." Lia mengerutkan keningnya, berpikir keras.
"Adaaa!" ucap Aaron, Francesca dan Conrad bersamaan.
"Ah! Aunty tau!" pekik Lia girang.
"Apa?" Ketiga keponakannya menanti jawaban.
"Gajah cacat!" jawab Lia dengan yakin.
"Salahhhhh!" Dengan kompak ketiga anak berseru.
"Loh, kok salah?" Lia mengkerucutkan bibirnya.
"Gajah yang habis kena tumor, jadi belalainya di potong."
"Salah!"
"Patung gajah, yang belalainya pecah."
"Salah!"
"Tauk dah, nyerah!" Lia lebih memilih memakan pastel daripada harus menguras otak lagi.
"Mau tahu penampakan gajahnya?" bisik Aaron terkekeh.
"Mana? Mana ... mana ...." Lia menoleh kesana dan kemari.
"Ituuu,"
"Mana ada gajah?"
"Itu yang pakai baju putih. Gajah pesek, " tawa Aaron dan yang lainnya meledak.
Lia menggeleng - gelengkan kepalanya mengetahui maksud keponakannya yang sangat usil ini.
Sementara orang yang dimaksudkan, hanya berjalan dengan tenang tanpa mengerti jika dia adalah penyebab tawa. Cheft Paul bahkan ikut tertawa riang, melihat semua tertawa.