
Erick kembali ke apartmentnya ketika sudah menjelang tengah malam. Dia semalaman sudah menggantikan tugas Jason untuk rapat dengan pihak Asia yang tentunya berbeda jam. Hari yang melelahkan bagi Erick.
Pria itu melepaskan sepatu dan meletakannya dengan rapi di atas rak sepatu. Dia berjalan menuju ke dapur hendak mengambil segelas air. Di dalam tempat cucian piring, Erick melihat beberapa piring kotor dan sebuah lilin yang sudah mati di meja makan.
Pria itu mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara televisi yang masih hidup. Setelah menghabiskan air putih, dia melangkah menuju ke asal suara. Lampu sudah gelap semua, hanya ada penerangan lampu kecil dan televisi yang menyala.
Erick mengambil remote di meja, namun matanya menangkap sosok yang sedang tertidur di sofa. Pria itu tertegun menatap sosok tersebut. Segala perasaan berkecamuk.
Di sana dia melihat Laurent tidur di pangkuan seorang pria yang tidak dia kenal. Mata mereka terpejam dan tangan pria itu berada di atas kening Laurent.
Erick diam dalam keheningan dengan remote televisi yang masih dia genggam. Dia menatap kedua insan tersebut dengan segala perasaan yang berkecamuk. Sementara pikirannya kosong.
Erick meletakan kembali remote televisi tersebut di meja tanpa mematikan televisi. Dia berjalan dengan tatapan kosong menuju ke kamar. Setelah melepaskan semua pakaian dan membersihkan diri, Erick masuk ke dalam tempat tidur.
Matanya terpejam tetapi pikirannya terjaga. Bayangan Laurent tidur dengan damai dalam pangkuan pria lain, terus berjalan dalam benaknya. Pria itu berputar ke kanan, kembali lagi ke kiri tetap saja dia tidak bisa tidur.
Tubuhnya sudah lelah, pikirannya sudah penuh.
Erick kembali tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Semua perisitiwa antara dirinya dan Laurent berputar bagaikan sebuah film , tanpa bisa dia cegah.
Laurent kecil yang ketus dan menyebalkan, selalu menang sendiri dan suka menghina. Perlahan dia berubah ketika mulai dewasa. Laurent menjadi gadis yang supel, cantik, anggun meskipun tetap tersirat keangkuhan dan terkadang egoise.
Laurent yang senang memperhatikan dirinya. Laurent yang menyerahkan ciuman pertama bahkan kesuciannya pada Erick, seringkali membuat Erick merasa bersalah dan tidak pantas. Gadis itu adalh tuan putri sedangkan dirinya hanyalah seoang assistent.
Meskipun Erick seorang playboy, casanova yang suka memainkan wanita hanya untuk pelampiasan satu malam saja, dia sangat menghargai Laurent. Erick tidak pernah menyentuh gadis itu sebelum mereka menikah.
Ingin rasa hari Erick merengkuh Laurent selamanya dalam hidupnya. Mengikuti saran Jason untuk melupakan ikatan masa lalu dengan Liliane. Tetapi, rasa tidak percaya diri kadang masih bergayut dalam dirinya.
Laurent juga selalu berganti kekasih dan selalu bosan berhubungan dengan pria yang sama lebih dari satu bulan. Membuat Erick kadang bertanya dalam hati, berapa lama lagi gadis itu akan bosan dan mencampakan dirinya.
Jika saja, dia membuka hati dan menerima cinta Laurent ... akankah perasaan wanita itu tetap? Akankah Laurent berlabuh hanya padanya selamanya. Ataukah dia akan bosan dalam hitungan hari ... bulan. Haruskah dia mengalami patah hati untuk kedua kalinya. Dan hancur kembali.
Lepas dari Laurent, ada bayangan tuan besar di belakang wanita itu. Sosok pria itu sangat luar biasa besar dan sudah menujukan cakar pada dirinya. Wajah lembut yang tuan besar arahkan pada Laurent sangat berbalik pada Erick.
"Buat Laurent membencimu dan meninggalkan dirimu. Maka aku akan mengampuni dirimu dan sisa dari keluaragamu. Aku beri waktu tiga bulan, buat anakku meninggalkan dirimu dan kembali patuh padaku!"
Arggghhh! Erick menjerit dalam hati sambil meremas rambutnya. Kenapa dia harus terjebak dalam urusan ayah dan anak ini?! Hidupnya yang tenang sekaan harus berubah. Jika tuan besar bisa berbuat apa saja pada putranya, apalagi Erick yang hanya seorang pekerja.
Erick tidak tahu mana yang harus dia pilih. Membiarkan perasaan untuk Laurent muncul dan terhempas atau memilih ibu dan adiknya? Semua tidak semudah itu. Dia harus memilih. Semua pilihan akan menggoreskan luka dan membuat dirinya merenggang nyawa.
Dan malam ini, ketika melihat Laurent tenang dalam pangkuan pria lain. Erick merasa mungkin ini adalah jalan yang terbaik, yang harus dia ambil. Membiarkan wanita itu memilih pria lain. Erick akan mundur dengan teratur dan mengubur semua perasaannya.
Hampir semalaman pria itu tidak bisa tertidur. Dia baru bisa memejamkan matanya pukul empat pagi. Rasa lelah membuatnya tertidur tidak nyenyak, hingga ia terjaga di pagi hari mendengar suara tawa Laurent.
Erick melihay jam yang menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Dia melihat jika pintu kamarnya masih tertutup. Itu berarti Laurent belum masuk ke dalam. Dan gadis itu sudah bangun sepagi ini dengan tawa ceria yang bersahutan dengan pria tersebut. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Eric menarik napas, turun dari tempat tidur dia segera menuju kamar mandi. Membasuh dirinya dengan cepat. Secepatnya dia akan pergi dari apartement. Matanya terlalu perih untuk melihat mereka dan telinganya terlalu sakit untuk mendengar tawa mereka.
Selesai mandi, Erick bergegas berganti pakaian. Dia menyambar jas dan tas kerja yang belum dia buka semenjam semalaman. Dasi pun belum dia kenakan. Erick hanya ingin cepat pergi.
"Erick?!" Laurent terkejut ketika masuk kamar dan melihat Erick sudah rapi.
Pria itu tampak sudah segar dan siap bekerja.
"Kapan kau kembali?" tanya Laurent heran.
"Semalam," sahut Erick datar.
"Aku menelphonemu semalamam, tapi kau tidak membalasnya."
"Aku tidak menyentuh handphone semalaman. Ada rapat penting dengan pihak Asia," jawab Erick datar.
"Aku berangkat bekerja dulu," kata Erick lagi.
"Tunggu, kenapa sepagi ini?" Laurent menahan lengan Erick.
Belum Erick menjawab perkataan Laurent. Terdengar teriakan dari arah luar.
"Laurent sayanggg, sarapan sudah siap!"
Erick termangu beberapa detik.
"Aku ada rapat lagi pagi ini," ujarnya.
Sebenarnya Erick enggan duduk semeja dengan mereka. Tapi, akhirnya kepala pria itu mengangguk. Mungkin dengan begini dia bisa memastikan jika mereka memang pasangan.
"Baiklah."
"Ayooo ...." Laurent dengan bahagia menarik tangan Erick.
Di meja makan yang menyatu dengan dapur, Mario terkejut melihat Laurent sudah datang dengan menggandeng Erick.
"Ah, ada orang ketiga. Aku akan menyiapkan saru piring lagi." Mario menuangkan satu adonan pancake lagi dan menyiapkan piring.
Erick duduk di meja di hadapan Laurent.
"Dia Mario, sahabatku." Laurent mengenalkan Mario tanpa ada sahutan dari Erick. Mario yang melihay sikap dingin Erick hanya memutar bola matanya.
"Kalian makanlah yang di meja dulu. Yang ini juga sebentar lagi matang." Mario melempar pancake di udara dan menangkapnya lagi dengan ahli.
Erick memakan pancake dengan tenang tanpa bersuara. Laurent merasa tidak nyaman dengan kecanggungan diantara mereka bertiga.
"Mario membuatnya langsung, bukan dari bahan langsung jadi. Hebat ya dia, tidak seperti diriku, hahahha." Laurent tertawa canggung.
"Tentu saja aku hebat, semua orang akan beruntung memiliki diriku," sahut Mario dengan gayanya yang percaya diri.
"Tuan Puteri, tambahkan sedikit madu lebih nikmat." Mario mengambilkan madu dan siap menuangkan ke pancake Laurent.
"Jangan ah! Nanti aku gemuk." Laurent menahan tangan Mario.
"Ini madu asli, bukan campuran gula dan pemanis. Apalagi kau rajin berolah raga sedikit gula tak masalah untukmu." Mario menepis tangan Laurent dan menuangkan madu.
"Dasar, menang sendiri." Laurent terkekeh dengan perhatian Mario.
"Enak kan?" tanya Mario saat Laurent memakan pancake dengan madu.
"Iya enak."
"Betul kan kataku. Percaya sama Mario." Pria pesolek itu dengan gemas mengacak rambut Laurent.
Mereka tertawa lepas bersama, meninggalkan Erick yang terdiam. Pria itu dengan susah payah menelan suapan terakhirnya dan menyambar sebotol air putih mineral. Tanpa meminum air itu, Erick bersiap pergi.
"Kau akan berangkay sekarang? Tidak minum kopi?" tanya Laurent heran.
"Di kantor ada kopi. Aku pergi dulu. Thanks Mario untuk pancake nya."
Erick kemudian pergi meninggalkan mereka tanpa menunggu jawaban. Di dalam mobil di parkiran. Erick menyandarkan kepalanya, bayangan tawa dan keakraban Laurent dan Mario terekam dengan jelas. Ingin rasanya doa menghajar Mario saat itu bahkan mematahkan tangan pria itu yang berani menyentuh Laurent.
Tapi disaat yang sama, suara tuan besar terdengar bergema dalam dirinya.
"Buat Laurent membencimu dan meninggalkan dirimu. Maka aku akan mengampuni dirimu dan sisa dari keluaragamu. Aku beri waktu tiga bulan, buat anakku meninggalkan dirimu dan kembali patuh padaku!"
Erick memukul stir mobil dengan keras melampiaskan kekesalan hatinya.
...๐๐๐๐๐๐...
Episode selanjutnya akan terjal ya emak-emakk.
Jangan marah, nikmati alurnyaa yaa. Seemoga author berhasip memporak - porandakan emosi jiwa kalian. ๐
...โ๐นโ๐นโ๐นโค๐นโคโ๐นโ๐นโ๐น...
JANGAN LUPA YA VOTE DAN POIN.
Saya berkarya anda membaca.
Saya menulis anda tekan like.
Saya berpikir anda tinggal beri hadiah poin.
Saya senang anda juga senang, update lancarrr.
Horeee!!!
Pahalanya besar lohhh โค