48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Menagih Hutang



Hari kedua Lia bekerja, dia merasa lebih percaya diri dengan setelan kerja yang baru. Dengan percaya diri, dia melangkah berdampingan dengan Andrew. Sambutan hangat dari Raja membuay harinya semakin menyenangkan.


"Duh... nona cantik sudah punya baju kerja. Cakep! Cakep!" Puji Raja, sekretaris Briant yang blasteran India itu.


Pria tampan ini memiliki sifat yang hampir sama dengan Lia, membuat mereka mudah sekali bergaul.


"Hehe iya duongg masa kalah sama kamu, pakai jas." Kata Lia dengan terkekeh.


"Gimana kencanmu semalam dengan tuan Briant?" bisik Raja seraya pura-pura sibuk di depan komputer nya.


"Gatot. Gagal total." Bisik Lia. Dia berusaha bersikap senatural mungkin karena Briant dan Andrew baru saja melewati meja mereka.


"Kok bisa?" perkataan Lia menyulutkan api penasaran dalam dirinya.


"Tiba-tiba saja muncul itu si Grisella dan Jason."


"Jason?"


"Iya Jason Madison. Temen kak Diana."


"Apa?!" Suara Raja tiba-tiba meninggi dan membuat staff sekretaris lain nya menoleh kepada mereka.


Lia menyenggol lengan Raja.


"Apaan sih, pakai teriak-teriak segala." Bisik Lia dengan kesal.


"Sorry, aku terlalu bersemangat." Raja menyadari kesalahannya dan tersenyum kecut. Untung saja kepala sekretaris Andrew, miss Patricia masih berada di ruangan Andrew.


"Dasar tukang gosip." umpat Lia dengan kesal.


"Yeaa, kan sama kayak kamu. Tunggu! Dirimu tadi bilang bertemu dengan Jason Madison? Kau mengenal orang itu? Teman kakakmu? Berarti teman tuan Andrew juga kan?" Tanya Raja sambil berbisik tak kalah semangatnya.


"Iya. Memang kenapa sih?"


"Itu kan nama anak pembisinis minyak dan bahan bumi lainnya seperti batu bara, nikel dan lain-lain. Tapi, kayaknya dia tidak pernah muncul di kantor ini. Bagaimana tuan Andrew mengenalnya, bidang bisnis mereka berbeda." ujar Raja panjang lebar penuh rasa penasaran.


"Ooo," sahut Lia dengan membulatkan bibirnya.


"Kok ooo sih. Apa kamu dekat dengan jason?"


"Biasa saja sih. Ini baju juga habis ngutang dari dia," sahut Lia cuek.


Mau anak konglomerat atau pembisnis manapun dari negeri paman Sam, dia tidak mengerti dan tidak mau ambil pusing. Jangankan mereka, Konglomerat dalam negeri pun dia tidak banyak kenal. Asal suka dan menyenangkan, Lia akan mudah bergaul dengan mereka.


"Hutang? Gila kamu, punya ipar kaya masih hutang juga."


"Aku nya mana mau punya hutang. Tapi si lalat buah itu dasarrrΕ• bisa-bisa nya membuatku berhutang dan harus membayarnya dengan tujuh kali kencan." Gerutu Lia dengan kesal.


"Lalat buah?" Raja tidak mengerti.


"Iya lalat buah."


"Jelek sekali."


"Betul, matanya besar dan suka berisik. Itu lah Jason Madison."


"Gila kamu. Anak orang penting dijulukin lalat buah. Beruntung sekali tidak diseret ke penjara dirimu." Ujar Raja sambil menggelengkan kepalanya.


"Memang bisa ya?"


"Tentu saja."


"Tapi aku sudah hampir lebih dari sebulan memanggilnya lalat buah."


"Heh? Dia tahu kau memanggilnya lalat buah?"


Lia mengangguk.


"Gila! Dia pasti berhati emas, jika tidak pasti dia menyukaimu."


"Mana mungkin dia kan suka pada..." Lia menutup mulutnya. Hampir saja dia keceplosan bergosip tentang kakak kandungnya yang merupakan istri pemegang saham terbesar di perusahaan ini.


"Ya?" Raja menoleh pada Lia dengan heran karena kalimat yang terputus.


"Itu.. kau bilang dia kan anak orang besar, bagaimana mungkin dia suka sama aku. Dia pasti hanya tidak enak dengan brother Andrew." Lia akhirnya menemukan alasan yang bisa diterima oleh Raja.


"Tapi, bisa jadi dia suka. Mana ada orang yang membayar hutang dengan kencan." Sanggah Raja dengan tiba-tiba.


"Itu karena..."


"Lia!" Suara Andrew yang sudah berada dihadapan Lia menghentikan percakapan diantara Lia dan Raja.


"Eh, brother. Hehehe ada apa? Aku kerja kok tidak gosip," ujar Lia sambil meringis.


"Ikut aku bawa tas mu sekalian," ujar Andrew datar.


Lia menghentikan senyum kikuknya dan segera mengambil tas miliknya. Dia meninggalkan Raja dan mengikuti Andrew diiringan tatapan heran dari Raja.


Meskipun heran Lia tetap diam mengikuti Andrew yang membuka pintu emergency dan naik ke tangga atas gedung. Ah, Lia bahkan baru sadar jika dia lupa bertanya bagaimana hasil kencan Raja dengan Meta. Menjadikan dirinya semakin kesal karena penasaran.


"Mau kemana kita brother?" Tanya Lia dengan heran.


"Bukannya kau yang harus menjelaskan padaku, kenapa Jason mencarimu hari ini?" tanya Andrew.


"Heh? Aku?"


"Iya kamu?"


Lia termangu, secepat ini kah bule mesum itu sudah mencarinya lagi. Mau apa dia. Masa pagi-pagi sudah mau menagih hutang. Dasar perhitungan!


"Dia bilang, kau mempunyai hutang dengan dirinya yang harus dibayar dengan kencan. Bagaiamana mungkin kau bisa berhutang padanya apalagi di bayar dengan kencan. Jika Diana tahu, apa yang akan dia pikirkan." Omel Andrew panjang lebar.


"Kenapa kau tidak mebiarkan Briant yang membayarnya, kenapa justru pria itu?!" tanya Andrew dengan kesal.


"Seharusnya kau bersikeras menolak pembayaran dengan kencan. Aneh-anhe saja." Andrew masih merasa kesal dengan tingkah Jason dan Lia.


Lia diam. Dia tidak ingin menyangkalnya atau membela diri. Karena bagaimana pun jika dipikir ulang, menjadikan dirinya sendiri sebagai alat pembayaran, sungguh memalukan.


Dia bisa memahami, jika Andrew marah. Bahkan boss besar ini langsung turun tangan mengantar dirinya menemui Jason. Tapi tunggu, kenapa harus diatap gedung? Aneh.


Apa Jason akan bertingkah seperti spidermen, yang meloncati tiap gedung dengan benang ajaibnya. Hihihi jika di Indonesia, gak bisa beraksi itu spidermen. Mau lempar benang ajaib kemana coba, gedung tinggi di kota besar saja berjauhan. Apalagi di kota kecil, hehhehe.


Kecuali dia jadi Superboy. Terbang wushh... wush... dengan gagahnya. Superboy itu baru bisa tinggal di Indonesia, tapi celana dalamnya kan di luar, bisa di bilang pornografi nanti. Eh, ada Gatotkaca di Indonesia. Gimana ya kalau Superboy bertemu dengan Gatotkaca. Apa mereka langsung selfie barengan ya.


Pikiran Lia melantur kemana-mana.


"Apa yang kau pikirkan, anak nakal. Untung kakakmu tidak bandel seperti dirimu." Andrew menyentil telinga Lia.


"Aduh! Iya beda, kakak ku memang anggun, top marketop. Makanya jangan sampai kehilangan," ujar Lia bersungut- sungut sambil mengusap kupingnya yang memerah.


"Ini pasportmu." Andrew memberikan pasport Lia.


Pasport yang sebelumnya diurus oleh staff Andrew untuk status Residences tampaknya sudah selesai. Orang kaya makkk jalurnya cepat, secepat Mrt bukan odong-odong.


Andrew membuka pintu besar dan berat dihadapannya yang mengantarkan mereka pada lapangan luas di lantai atas. Tampak ada beberapa sekurity dan pengawal sudah bersiap dan berjaga di sana, membuat Lia semakin heran.


Rasa herannya tidak berlangsung lama, karena di sana dia melihat sebuah helikopter yang sudah siap di area terbang. Disana tampak seorang pemuda tampan dengan kaca mata hitamnya sudah berdiri dengan gagah.


"Jason?" Ucap Lia dengan tidak percaya.


"Iya. Dia menghubungiku dan mengatakan akan menagih hutang padamu hari ini." sahut Andrew membenarkan tebakan Lia.


Heh? Pembayaran hutang dengan cara ekstreem begini. Kencan dengan helikopter? Gilaaaaa ini mah bukan bayar hutang, tapi malah kejatuhan rejeki. Kalau begini caranya, lebih baik sering-sering hutang saja. Pikir Lia dalam hati.


"Anak nakal, apa yang kau pikirkan? Jangan terpesona seperti itu. Brother Andrew mu ini juga punya helikopter." ujar Andrew yang melihat senyum Lia.


"Iya tahu, tapi kan gak pernah ajak aku menaikinya," sahut Lia jutek.


Gadis itu kemudian melangkah menghampiri Jason.


"Kenapa kau kemari?"


"Menagih hutang." jawan jason singkat sambil tersenyum penuh arti.


"Dasar rentenir, baru juga setengah hari sudah datang menagih." ujar Lia dengan kesal


"Tentu saja, dikala ada waktu luang, jangan disia-siakan kesempatan yang berharga ini," ujar Jason.


"Jason, jaga dia baik-baik dan kembalikan dengan utuh." Pesan Andrew.


"Tenang saja, tidak akan aku mutilasi kucing liar ini, akan aku belai dan jaga dengan kasih sayang," kata Jason sambil terkekeh melihat Lia yang melotot padanya.


"Ayo, masuk lah." Jason mengulurkan tangannya hendak membantu Lia memasuki helikopter.


"Brother aku pergi dulu," pamit Lia yang dibalas dengan anggukan dari Andrew.


Lia masuk kedalam helikopter bersama Jason.


"Kau bisa menerbangkan benda ini?" tanya Lia tidak percaya melihat Jason dibalik kemudi.


"Membuatmu terbang pun aku bisa." jawab Jason dengan tertawa kecil.


"Ih.. susah bicara serius dengan dirimu." kata Lia kesal.


"Jangan cemberut atau aku cium bibir mu ya," goda Jason.


"Eits! Jangan nodai bibir originalku dengan bibir kw mu." Lia menutup bibirnya seraya melotot kesal pada Jason.


Sementara Jason hanya terkekeh mendengar kalimat bibir original. Tampaknya gadis itu benar-benar tida sadar, jika bibirnya sudah tidak original lagi. Dan hanya Jason yang akan memiliki bibir original yang tenyata kw itu seutuhnya.


Jason kemudian membantu Lia mengenakan berbagai macam peralatan yang harus dikenakan selama penerbangan. Lia memperhatikan satu persatu benda-benda yang terasa rumit. Apalagi tombol kemudi.


"Oke sudah siap."


"Tunggu! ada hal penting yang terlupa." ujar Lia tiba-tiba.


"Ya?" Jason heran.


Lia mencari tas nya dan mengacak isi di dalam, kemudian mengeluarkan smartphonenya dan memencet gambar kamera. Gadis itu kemudian melakukan selfie berkali-kali juga memfoto isi didalam helikopter, membuat Jason tertawa kecil.


"Sudah." Lia bersiap mematikan smarphone nya.


"Tunggu, jangan dimatikan." cegah Jason.


"Eh?" Lia heran.


"Sini handphone mu," Jason mengambil handphone Lia dan kemudian dia juga ikutan melakukan selfie sambil memeluk bahu Lia.


Jason dan Lia tidak sadar jika Andrew dan pengawalnya memperhatikan tingkah laku mereka dari luar. Andrew tersenyum, melihat mereka mengingatkan dirinya saat pertama kali membawa Diana menaiki helikopter tapi sayang Diana saat itu tampaknya malu, dia bahkan tidak meminta melakukan selfie.


Helikopter yang membawa Jason sudah melambung. Didalam sana tampak Lia melambaikan tangannya dengan senang kepada Andrew. Ceo tampan itu mengangkat tangannya membalas lambaian Lia.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Ikut dong Liaaaaa... author belum tahu naik helikopter. Pinginnnnn


**Hai sobat pembaca, jangan lupa bantuin share kisah cinta Jason dan Lia ya.


Klik tanda share dan kirimkan tautannya bisa lewat wa maupun medsos kalian.


Biar tambah rame sama-sama ikutan jadi bucin sama Jason dan Lia.


Trimakasih dan stay healthy.


😘😘😘**