48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Surat Perjanjian



Lia menempuh saat-saat yang sulit, dimulai dengan penculikan Diana hingga penembakan, yang membuat kakaknya harus melahirkan prematur dan koma. Lia berperan sebagai aunty yang baik bagi si kecil Conrad dan bayi prematur Diana.


Grisella sahabat Diana yang baik, dia senantiasa datang dan membantu Lia merawat anak-anak. Grisella begitu ceria dan keibuan. Dan sesungguhnya keberadaan Grisella banyak membantu Lia.


Hingga suatu saat Lia melihat kemesraan antara Briant dan Grisella, ketika wanita itu memeluk baby Aaron. Dia mendengar dan melihat sendiri bagaimana Briant berlutut dan melamar Grisella.


"Jadilah ibu untuk anak-anakku," ujar Briant dengan sungguh-sungguh.


Dari balik jendela, Lia bisa melihat bagaimana wajah Grisella berseri-seri dan menerima pinangan Briant. Dengan baby Aaron dalam pelukan Grisella, mereka tampak seperti keluarga yang utuh.


Lia tahu dia sudah kalah sejak lama. Dia menangis dengan sedih. Kesedihan karena kakak yang masih koma dan perasaan yang terabaikan. Tidak ada teman dan tempat bagi Lia untuk mengadu, karena satu-satunya orang yang biasa menghibur dirinya sedang melakukan kunjungan kerja ke negar-negara Asia. Jason.


Namun perlahan Lia mulai bangkit. Harinya mulai ceria lagi ketika Diana sudah sadar dari koma. Hatinya penuh dengan sukacita karena jutaan doa yang dia panjatkan, dijawab oleh Tuhan.


Hingga pernikahan Diana, adalah kebahagiaan bagi Lia. Diana sudah melewati penderitaan dan hukuman akan dosa yang dia lakukan. Dan pernikahan ini adalah hal yang sepantasnya dia terima.


Meskipun demikian, Lia tidak dapat menyembunyikan kekecewaan hatinya ketika mengetahui Briant akan menikah dengan Grisella. Dia tidak membenci mereka, tetapi saat itu Lia merasa terpukul.


Lia yang marah kepada Diana, karena tidak memberitahunya semenjak awal, memutuskan keluar dari mansion. Lia memerintahkan supir untuk membawa dirinya disebuah bar.


Di dalam bar, Lia duduk langsung di hadapan bartender. Dia tidak tahu minuman apa yang harus dia pesan, untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Pikirannya sedang kalut.


Saat bartender bertanya, Lia dengan asal menunjuk pada minuman berwarna merah muda yang sedang dipegang oleh seorang wanita.


Dia menegak minumannya dengan perlahan. Sikap Lia yang tampak putus asa, menarik perhatian beberapa pria hidung belang. Bar itu memang berkelas, mereka yang hadir adalah orang-orang yang memiliki uang tentunya.


Kehadiran Lia dengan celana pendek serta blouse tampak seperti daging segar di mata mereka. Mereka menanti, hingga Lia sedikit mabuk. Ketika minuman kedua sudah dihabiskan, dua orang pria tampak berlomba menghampiri Lia.


Belum sempat mereka berbicara dan menggoda Lia, dua orang pengawal berkulit hitam, tinggi dan kekar menarik baju mereka dan membuat kedua pria itu menjauhi Lia.


Seorang pria tampan, yang tak lain adalah Jason datang menghampiri Lia dan duduk di sisi gadis itu. Dia memesan segelas brandy dan menikmatinya perlahan sambil memperhatikan Lia.


"Hey, kau! Kenapa ada disini?" tanya Lia yang masih setengah sadar.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Jason.


"Hahahaha bagaimana aku bisa melarangmu, tuan muda. Kau datang dan pergi sesuka hati mu." Ujar Lia dengan bersungut-sungut.


"Apakah kau marah?"


"Apa hak ku untuk marah."


"Lalu kenapa kau bersedih."


"Aku bersedih bukan untuk mu lalat buah. Jangan ge er."


"Lalu?"


"Briant akan menikah, hu...hu... huawww..." Lia menangis.


"Kau cemburu?" Tanya Jason dengan menekan suara nya.


"Kenapa Si Grisella harus menikah duluan, kenapa dia beruntung sekali di nikahi oleh pria tampan dan baik. Lalu kapan giliranku bahagia?" Rancau Lia.


"Kau ingin menikah?"


"Tentu saja semua wanita ingin menikah, tulalitttt. Semua wanita ingin bahagia dengan pria yang dia cintai dan mencintai dirinya, tulalitttt." Rancau Lia sambil menunjuk-nunjuk dada Jason dengan telunjuknya.


"Kalau begitu, ayo kita menikah." Ujar Jason datar.


"Hoii... hahhahah... semua pria melamar itu harus romantis, berlutut dibawah kaki sang wanita sambil membawa cincin tunangan. Bukan kaya kamu begini, tu-la-lit." Lia berbicara dengan merancau.


"Bukannya ini mendadak. Aku tidak mempersiapkan semuanya." Sahut Jason datar sambil menegak brandi di tangannya.


"Lagian siapa yang mau menikah denganmu."


"Kenapa tidak. Apa kau takut?" Tantang Jason.


"Takut? Denganmu? Hahahhaha." Lia tertawa mengejek.


"Kalau begitu, ayo kita menikah. Cukup empat puluh delapan bulan saja. Setelah itu kau yang memutuskan, apakah tetap dalam pelukanku atau berlari bebas seperti kucing liar." Ucap Jason dengan bersungguh-sungguh sambil menatap tajam pada Lia yang kacau.


"Siapa takut! Asal lau memberiku empat puluh delapan juta dolar ketika kita bercerai." Ujar Lia dengan tertawa kecil.


"Deal." Sahut Jason cepat.


Jason memanggil pengawalnya dan meminta sebuah kertas dengan materai.


"Apa itu?" Tanya Lia.


"Surat perjanjian. Agar kau tidak melanggar kesepakatan kita."


"Awas kau yang melanggar ya. Ingat Empat puluh delapan juta dolar." Ujar Lia mengejek.


Empat puluh delapan juta dolar kalau di kurskan mungkin lebih dari 672.000.000.000 milyar. Dan pikiran Lia yang setengah mabuk merasa bahagia membayangkan uang besar yang akan dia peroleh. Uang sebegitu besarnya dia bisa mendirikan sebuah hotel, boutiq, restaurant dengan nama LIA. Pasti keren.


"Tentu saja."


"Sini aku saja yang menulis perjanjiannya. Aku tidak bisa percaya kepadamu."


MIAMI, 20 Desember 2020.


Nama \= Jason Madison


Nama \= Lia Oktavia




Kedua belah pihak sepakat melalukan perjanjian akan melakukan pernikahan sah selama empat puluh delapan bulan.




Dan setelah masa empat puluh delapan bulan selesai. Pihak Pria harus bersedia menceraikan pihak wanita dan memberikan uang sebesar empat puluh delapan juta dolar. Dalam bentuk tabungan atas nama Lia Oktavia, bukan property.




Tertanda


Jason dan Lia.


Materai di sematkan dan kedua insan itu menandatangani surat perjanjian.


"Hai kau, bartender sini." Lia memanggil seorang bartender.


"Kau menjadi saksi ya atas perjanjian kami. Tanda tangan disini dan nama jelasmu." Pinta Lia.


Bartender yang tidak mengerti apa-apa itu meminta persetujuan Jason terlebih dahulu, sebelum menandatangani surat kesepakatan tersebut. Setelahnya, Jason memberikan tip sebesar lima ratus dolar untuk bartender tersebut.


"Ayo sekarang kita menikah." Jason berdiri.


"Heh? Memang bisa ya secepat ini?" tanya Lia dengan heran.


"Tentu saja. Kita langsung menikah di catatan sipil dan pemberkatan sekaligus."


"Tunggu dulu aku perlu minuman."


Bartender memberikan segelas minuman kepada Lia yang segera dia habiskan.


"Ayo menikah. Selangkah menuju empat puluh delapan Juta Dolar." Ujar Lia bersemangat dengan limbung.


Jason segera menggendong Lia dan menuju mobil. Dia memerintahkan pada pengawalnya untuk segera menghampiri kantor catatan sipil yang buka selama dua puluh empat jam.


Mereka mencatatkan pernikahan mereka dan mendapatkan berkat dari seorang pemuka agama. Surat pernikahan di cetak saat itu juga. Kecuali buku pernikahan secara hukum, masih harus menunggu kelengkapan surat-surat.


Sementara Lia tertidur setelah pernikahan mendadaknya. Tanpa menyadari apa yang telah dia lakukan. Di Dalam mobil Lia bersandar dalam pelukan Jason. Sementara Jason menghubungi Diana.


"Aku menikahi Lia." Ujar Jason setelah mendengarkan salam dari Diana.


"Apa?"


"Pernikahan kami sudah sah secara agama dan.... utusanku akan datang kepadamu besuk, untuk mendapatkan surat-surat yang perlu kau lengkapi."


"Tapi, kenapa mendadak Jason. Apakah Lia setuju." Tanya Diana dengan heran.


"Aku menghubungi mu agar kau membawa adikku berlibur, bukan menikahi dengan mendadak seperti ini," sambung Diana dengan panik.


"Tenang saja. Aku akan menjaganya. Saat ini, aku akan membawa dia pergi. Kami akan tinggal di Prancis dan mungkin selama dua tahun ini, kau akan kesulitan bertemu dengan Lia."


"Ingat, Jason kau harus berjanji menjaga Lia. Tidak akan menyakiti dirinya. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Lia, aku akan membuat perhitungan dengan mu!" Ancam Diana.


"Aku berjanji."


Sambungan terputus, sementara mereka sudah tiba di bandar. Pesawat pribadi Jason sudah siap untuk lepas landas. Dan Lia yang masih tertidur nyenyak dalam gendongan Jason, tidak menyadari dimana dia berada saat ini.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Nah Nitizen, hati-hati yaaaa.


Jangan suka minum alkohol sendirian apalagi ketika lagi suntuk. Sebaik nya ajak teman. Dan lebih bagus lagi adalah Berdoa ketika kita lagi ada masalah, bukan melarikan diri dengan alkohol.


Karena saat mabuk, diri kita dikendalikan oleh emosi. Berbahaya.


Untuk cerita penculikan Diana bisa dibaca di HIDUPKU BERSAMA CEO, mulai bab 107.


Jangan Lupa Like dan share karya author ini ya.


Mari ajak teman-teman kalian halu dan baper barengan.


Stay Healthy.