48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Menjaga hati



Mereka bertujuh sudah duduk melingkar di lounge. Beruntung sekali malam itu hanya ada mereka di dalam lounge, karena para tamu yang lainnya sedang menikmati acara lain. Sesaat suasana terasa canggung.


"Emely, kenalkan ini Erick sahabat suamiku. Dan dia Daniel adik suamiku." ujar Lia memperkenalkan mereka.


"Adik apaan!" Jason mendengus.


"Sudah... diam aja kenapa sih." bisik Lia.


"Nah yang ini Gabriel, cheft handal dari Brasserie restaurant." Laurent menunjuk pria yang ada disebelahnya.


Lia menatap Erick yang sedari tadi berwajah kaku dan datar. Pandangan mata Erick sesekali melirik Laurent yang sengaja duduk dengan Gabriel tepat di depannya. Sedangkan Emely tampak berbincang dengan Daniel.


"Kau belum makan sedari tadi?" tanya Lia sambil memegang buku menu.


"Bagaimana aku bisa makan, jika istriku pun tidak menghiraukan diriku." sahut Jason.


"Duh! Kamu ini anak kecil atau manja?!" gerutu Lia.


"Lain kali aku melarangmu bepergian dengan Laurent lebih dari dua jam."


"Apaan sih! Dua jam dapat apa? ke supermarket saja gak cukup waktu segitu." Lia mengekerucutkan bibirnya.


Emangnya pergi ke Alfa depan rumah, lima belas menit juga cukup.


Selama lebih dari setahun ini, Jason sudah terbiasa dengan Lia yang selalu ada di sisinya. Dari pagi hingga malam. Meskipun selama enam bulan sebelumnya dia mengurung Lia di dalam Mansion, tetapi melalui cctv, Jason bisa mengetahui pergerakan gadis itu.


Hari ini seharian pergi dengan Laurent, ingin rasanya dia mencegah, tetapi melihat mata kedua gadis yang menatapnya penuh harap, Jason mengabulkan. Dalam prinsip Jason, dia harus selalu menjadi yang pertama untuk Lia.


Mereka memesan makanan. Lia memotong-motong daging domba untuk Jason. Pria itu menolak makan sendiri, mengharuskan Lia menyuapinya. Bagai seorang anak kecil yang manja pada ibu nya.


"Tanganku, capek." alasan Jason.


"Kalau capek, gak usah main remas!" bisik Lia kesal. Pasalny tangan Jason sedari tadi masih juga melingkari pinggang Lia, tidak mau keluar dari balik Jas yang menutupi tubuh istrinya.


"Kalau untuk ini tidak capek." ujar nya dengan senyuman licik.


"Mesum!" gerutu Lia.


Untung saja Jas itu panjang. Sehingga perbuatan Jason tidak mengundang perhatian dari yang lainnya. Toh mereka juga sedang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.


"Memangnya kau tidak punya tangan untuk makan sendiri!" gertak Erick kesal. Pandangannya dingin menatap Jason.


"Apa urusanmu. Makanya cepat punya istri yang bisa memperhatikan dirimu." Balas Jason datar.


"Untuk suap menyuap juga buat apa harus menikah, aku bisa memanggil gadis siapapun untuk menyuapiku."


Erick dengan sinis menanggapi perkataan Jason. Jason yang hampir terpancing hendak membalasnya, ketika dia menyadari jika mata Erick tidak tertuju padanya. Erick melirik tajam pada Gabriel dan Laurent yang saling menyuapi dan terkekeh. Bisa nampak sekali ada api berkobar dalam mata Erick.


"Makanya sebagai pria harus bisa bertindak tegas, jangan sampai buruan mu ditangkap orang lain." sindir Jason sambil menepuk paha istrinya.


"Iya kalau perlu diculik dan dipaksa menandatangani surat perjanjian." celetuk Lia kesal tanpa sadar.


"Apa?! Kakak ipar, jadi kalian cuma nikah kontrak?" tanya Laurent.


Laurent yang sedari tadi tampaknya sibuk dengan Gabriel, ternyata telinganya masih aktif mendengarkan pembicaraan mereka.Dan dia terkejut mendengar perkataan Lia.


"Apa maksudmu nikah kontrak. Tentu saja dia istri ku. Kami menikah karena saling mencintai. Apa maksud pertanyaanmu itu?!" Bentak Jason dengan nada tinggi pada Laurent, membuat Laurent dan yang lainnya terkejut.


"Tadi aku dengar kakak ipar berkata begitu." sanggah Laurent cepat.


Tangan Jason meremas pinnggang Lia. Gadis itu harus meralat perkataannya. Jangan sampai kelemahan mereka di manfaatkan oleh pihak lain. Rahasia ini cukup hanya Erick dan pengacaranya yang tahu.


"Bukan... maksudku, Itu Erick, kalau suka nikah saja. Jika perlu culik dan buat surat perjanjian." ujar Lia dengan lancar mengganti arah dugaan Laurent.


Laurent bisa menerima maksud kata-kata Lia. Dia melirik pada Erick, sedangkan pria itu tampak berwajah datar saja menatap makanannya, tanpa terpengaruh percakapan diantara mereka. Tanpa menghiraukan tatapan Laurent. Dan hal itu membuat Laurent semakin kesal.


Gabriel berjanjak meninggalkan mereka diiringi tatapan mata Laurent. Dalam selang waktu satu menit, Erick juga beranjak meninggalkan mereka. Laurent yang mengetahui hal itu, hendak beranjak juga tapi tangan Jason menahannya.


"Duduk diam disini saja!"


"Nanti saja!"


"Aku sudah tidak tahan lagi."


"Ditahan sampai mereka kembali!" ujar Jason dengan tegas sambil melotot.


Laurent diam dengan kesal.


"Mau punyaku?" Emely menyodorkan apple pie yang belum dia sentuh kepada Laurent, agar gadis itu tidak cemberut.


Dengan kesal, Laure t memotong apple pie kemudian mengunyah kasar.


"Kalau begitu, kita berbagi milikku." Daniel memotong panacota dan menyodorkan sendok tersebut pada Emely.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja," Emely menolak.


"Jika kau menolak, berarti kau tidak mau berteman denganku." Paksa Daniel lembut.


Dengan ragu, Emely memakan panacota yang disuapkan oleh Daniel.


"God! Jika tidak melihat langsung, Aku tidak akan percaya kalau kau anak daddy!" gerutu Laurent ketika melihat bagaimana Daniel bisa bersikap lembut pada Emely.


"Dan aku tidak percaya kalau kau tidak pernah memiliki pacar." tambah Jason meledek.


Daniel terkekeh. Meskipun perkataan dua kakak beradik itu menghujat dirinya, dia sangat senang sekali. Itu artinya mereka berdua sudah mau perduli dengan dirinya. Daniel merasa memiliki keluarga yang dia impikan selama ini.


Sementara itu di dalam toilet. Gabriel sedang mencuci tangannya ketika Erick juga melakukan hal yang sama. Pandangan Erick tajam menatap pada Gabriel melalui kaca cermin. Gabriel yang merasakan hawa dingin, menatap balik pantukan Erick di cermin.


"Hallo.. apa kita ada masalah?" tanya Gabriel heran.


Erick diam untuk sesaat.


"Apa hubunganmu dengan Laurent?" suara Erick dingin dan datar.


"Kami berteman." jawab Gabriel ringan.


"Heh? Berteman? Sebegitu mesranya hanya berteman?"


"Apa dia kekasihmu?"


Tanya balik Gabriel dengan polos. Erick langsung memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Gabriel.


"Bukan!"


"Lalu kenapa kau harus cemburu?"


"Aku tidak cemburu!" Bentak Erick.


"Okey. Okey. Tidak perlu marah." Gabriel mengangkat tangannya tanda menyerah.


"Kau menyukai Laurent?!" tanya Erick balik.


"Tentu saja. Sulit untuk tidak menyukai gadis se cantik dan sesupel dia." sahut Gabriel ringan.


Erick berbalik dan langsung mendorong Gabriel ke dinding. Dia meremas kerah kemeja Gabriel dengan kasar. Tangannya menahan tubuh Gabriel di tembok sambil menatap tajam, membuat Gabriel menjadi heran melihat sikap Erick yang tiba-tiba kasar padanya.


"Apa-apaan ini?!"


"Kalau kau menyukai Laurent, Cintai dan hargai dia! Jangan kau sakiti hatinya! Aku akan membuat perhitungan jika kau menyakiti hatinya!" Ancam Ercik.


Gabriel tersenyum sinis dan mendorong balik tubuh Erick yang lebih besar dari dirinya. Dia mengebaskan kemeja nya yang kusut akibat cengkeraman tangan Erick.


"Jika kau menyukai dia, kenapa tidak kau saja yang menjaga hatinya? Tidak perlu sampai mengancamku!" Gabriel keluar meninggalkan Erick yang terpaku. Pemuda itu memukul ubin dengan kesal.


...💖💖💖💖💖💖💖...