48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Hari yang lebih baik



Baling-baling helikopter yang berputar dengan keras, merontokan dedaunan yang berusaha bertahan di ranting pohon. Dedaunan itu terbang terhempas angin, sementara rerumputan bergoyang dengan keras..


Helikopter itu mendarat dengan sempurna dan baling-balingnya perlahan berhenti berputar. Lia berdiri di depan pintu menatap penuh harap. Sementara para pelayan sudah siap mendekat.


Ketika pintu helikopter berukuran besar itu terbuka, tampak dua orang perawat turun dengan sebuah kursi roda. Tak lama kemudian seorang pria setengah baya dengan kepala yang terbalut turun. Perawat membantunya untuk duduk di kursi roda. Seorang wanita menyusulnya turun.


Mereka berjalan semakin mendekat. Melihat kedatangan kedua orang tersebut, Lia beringsut mundur. Wajahnya sedikit tegang dan memucat. Kedua tangannya bertautan satu sama lain.


Saat kedua orang yang baru saja datang itu, melewatinya, kepala Lia tertunduk. Dia tidak ingin menyapa ataupun berbasa-basi. Harapannya kandas saat melihat siapa yang datang dengan helikopter.


Saat mereka melewatinya, Lia menatap punggung mereka dengan heran. Lift yang tidak pernah digunakan, sekarang beroperasi mengantarkan tuan Darrel Madison dengan kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat. Nyonya Rachel yang berada disamping tuan Darrel menatap Lia dingin dari dalam lift.


Lia menghampiri seorang perawat lain yang akan naik dengan menggunakan tangga. Dia penasaran dengan apa yang terjadi. Namun, perawat itu hanya tersenyum tanpa menghentikan langkahnya menaiki tangga.


Perlahan Lia mengikuti langkah kaki perawat itu. Dia naik ke lantai dua, menatap dari luar kamar, di mana tuan Darrel dan nyonya Laura sudah berada. Melihat Lia yang sedang mengintip, Laura meminta seorang perawat untuk menutup pintu kamar.


Wanita hamil itu hanya dapat menghela napas. Dia kemudian turun kembali ke lantai bawah dan memilih menikmati senja hari bersama Adonia.


Banyak tanda tanya dalam pikiran Lia ketika melihat helikopter tersebut tidak terbang pergi. Pilot tampaknya juga akan menginap di kastil ini.


Saat senja berganti malam, seorang perawat turun untuk mengambil makan malam untuk tian dan nyonya besar. Saat berpapasan dengan Lia dia berkata, "Tuan besar ingin berbiara dengan anda setelah makan malam."


Lia hanya mengangguk pelan mendengar pesan yang disampaikan pelayan itu. Dia menikmati makan malam semeja bersama Adonia dengan tenang. Setelah selesai makan malam, Lia mulai berjalan menuju ke lantai atas.


Dia menanti dengan tenang di ruang keluarga. Wanita itu tidak menonton televisi ataupun membaca sebuah majalah. Dia hanya duduk tenang sambil memandang foto keluarga di sana.


"Foto itu diambil ketika Jason masih berusia dua puluh tahun." Suara Laura Madison mengejutkan Lia.


Dia tidak menjawab, hanya menatap wanita itu dalam diam. Dia menantikan apa yang hendak dikatakan oleh ibu mertua yang tak pernah menginginkan dirinya.


Tak lama kemudian, tuan Darrel Madison keluar dari kamar dengan kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat. Lia menatap pria itu dari dekat dengan raut wajah tak mengerti.


"Apa yang terjadi? Kenapa Tuan Darrel tampak begitu kurus dan pucat dengan kepala yang terbalut perban. Dia tidak tampak seperti tuan Darrel yang aku lihat empat bulan lalu," batin Lia.


"Lia. Jujur saja aku tidak menyukai dirimu saat pertama kali Jason memperkenalkanmu. Kau gadis yang dia nikahi tanpa persetujuan kami, kenyataan itu mencoreng perasaan dan harga diri kami sebagai orang tua." Laura Madison membuka percakapan.


"Apalagi ketika kau tampak begitu keras kepala dan tidak merasa bersalah, saat pertama kali kita bertemu. Aku rasanya ingin menghancurkan dirimu dan menunjukan pada Jason jika pilihannya salah. Kalau kau hanyalah wanita materialistis yang mengejar dirinya demi uang dan kedudukan." Laura berhenti sejenak sambil menghembuskan napas.


"Tapi, saat tahu jika kau menjauh dari segala popularitas. Bersembunyi saat wartawan menyerbu Jason dan berusaha menghindari paparazi. Saat aku melihat tagihan kartu kreditmu di bawah normal pengeluaran seorang sosialita. Dan di saat kau tidak pernah menyentuh pendapatan dari perusahaan yang Jason dirikan selain untuk kegiatan sosial, aku menyadari jika kami salah menilai dirimu." Nyonya Madison menghembuskan nafasnya dengan keras, seakan hendak melepaskan segala beban yang dia tanggung.


"Untuk itulah kami membawamu kemari dengan cara yang tak lazim. Bukan karena membencimu. Tapi semua demi keselamatan penerus keluarga Madison."


Lia terhenyak dengan perkataan Laura. Dia masih tidak mengerti inti dari perkataan wanita itu.


"Demi keselamatan penerus? Keselamatan bayi ini? Tapi kenapa? Lali bagaimana dengan keselamatan Jason?" gumam Lia dalam hati.


"Aku tahu kau pasti heran dengan apa yang terjadi. Kami harus memisahkan dirimu dari Jason, agar dia menjadi pria yang lebih kuat. Doa harus bergerak dengan cepat untuk menemukan penghianat di perusahaan. Bukan hanya itu, musuh-musuh kami dan keturunan keluarga Madison lain yang mengincar perusahaan." Laura mengatur napas sebelum melanjutkan perkataannya.


"Jason perlu ketenangan dan pembuktian diri untuk bisa menentukan teman dan lawan. Dia harus bisa bersikap tegas dalam dunia politik dan bisnis yang bagaikan hutan belantara. Keberadaanmu dan bayi itu akan membuatnya lemah dengan konsentrasi yang terpecah. Mereka, musuh-musuh kami, mengincar keselamatan mu dan cucu kami."


"Tentu saja, dia adalah cucu kami."


Lia terkejut ketika tuan Darrel Madison turut berbicara.


"Benarkah apa yang aku dengar? Kalian mengakui bayi ini?" tanyanya ragu.


"Tentu saja. Darrel bahkan rela dibenci dan dihina oleh putranya sendiri demi keselamatan bayi dalam kandunganmu. Keteguhan hatimu unttuk mempertahankan anak ini baik laki-laki atau wanita, membuat kami merasa, Jason tidak salah memilihmu." Laura tersenyum dengan tulus pada Lia.


"Lalu apa yang terjadi padamu, Tuan?" tanya Lia pada Darrel Madison.


"Kau bisa memanggilku Daddy, jika itu yang kau inginkan," ucap Darrel perlahan.


"Benarkah? Tentu saja aku mau, Daddy." Lia tanpa sadar menitikan air matanya.


"Maafkan kami, karena terpaksa mengambil jalur keras. Jason tidak akan mungkin membiarkan dirimu pergi dari dekatnya. Sifat posesif yang dia miliki akan membuat dirinya merasa yakin bisa menjagamu dan sifat liarmu akan menganggap masalah ini sepele."


Kata-kata Laura membuat dirinya merasa malu. Sifat liar yang dia miliki, telah membuat kekacauan di mansion tuan Larry. Lia menyadari hal itu. Mungkin ini adalah salah satu alasan orang tua Jason berpendapat seperti itu.


"Lalu bagaimana dengan keadaan Jason saat ini?" Lia sudah tidak sabar lagi untuk menanyakan hal itu.


"Dia berjuang keras untuk menemukanmu, jika itu yang kau ingin tahu. Dia sempat menjadi lemah selama beberapa minggu. Tapi kemudian bangkit lagi, menjadi seorang yang lebih tangguh." Laura Madison tampak bangga mengucapkan hal tersebut.


"Jason ...." gumam Lia dengan lirih sambil membelai perutnya. Rasa rindu sudah memuncak ingin menemui kekasih hati yang sudah lama terpisah.


"Apa yang terjadi pada anda, Daddy?" Lia sesungguhnya ingin terus bertanya tentang Jason. Namun dia menahannya karena melihat perban yang melilit di kepala Darrel.


"Ini hukuman Tuhan padaku. Aku memiliki tumor otak." jawab Darrel dengan tenang.


"Tumor? Anda baru selesai operasi?" Lia merasa terkejut dengan perkatan tuan besar.


"Ya. Selama satu bulan, dia dioperasi secara diam-diam di London. Tak ada seorangpun yang tahu, bahkan Jason ataupun Laurent. Kami menutup kemungkinan orang-orang yang ingin mengambul.keberuntungan dari sakit Darrel dan juga menjaga stabilitas saham perusahaan, agar Jason bisa bekerja dengan tenang." Ucapan Laura menjelaskan semuanya.


Betapa mereka berdua sangat menyayangi dan memperhatikan Jason maupun Laurent. Mereka rela dibenci dan dihina, agar anak-anaknya kuat dalam menghadapi kejamnya dunia bisnis dan politik.


Lia merasa terharu dengan kenyataan yang dia terima. Semua doa seakan terbalas dengan sempurna. Kedua orang ini akhirnya bisa menerima dirinya. Bahkan mereka menjaga dan merawat dirinya dengan sangat baik di pulau ini. Semua untuk kebaikan meskipun dengan jalan yang terasa kejam.


"Lalu, kapan Jason bisa merasakan tendangan putranya?" tanya Lia dengan penuh harap.


"Saat dia bisa memecahkan puzzle terakhir, yaitu keberadaanmu. Hal itu akan lebih melegakan baginya daripada kami menariknya kemari, bukan?" senyuman Laura mengembang dengan tulus.


"Bisakah kami, merasakan tendangannya?" pinta Laura dengan penuh harap.


"Tentu saja! Sayanggg dengar, Granny dan Grappa hendak menyapamu." Lia menarik tangan Laura dan Darrel kearah tendangan di perutnya.


Kedua pasang mata itu berbinar dengan bahagia. Senyuman terlukis di wajah mereka. Lia menatap mereka dengan penuh haru. Percayalah jila hari esok akan lebih baik, maka semuanya akan terjadi sesuai imanmu.