48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Menggunduli



"Rasakan kau. Rasakann! Huahaha hahhaha." Lia tertawa terbahak dalam tidurnya


"Gundulll!!! Hahahhahaha." Tangan Lia mengusap kepala Jason dengan gemas.


Saat ini Lia tidak sadar jika kaki-kakinya sudah menjepit pinggang Jason.


Sementara Jason meringis kesakitan karena rambutnya sudah di genggam dengan satu tangan Lia, sementara tangan lainnya beraksi bagaikan sebuah gunting.


Gadis ini mengigau dalam tidur.


"Aku kesalll.. kamu ganteng-ganteng menyebalkan tau." Lia menyundukkan jari telunjuk ke kening Jason.


"Ooo jadi aku ganteng?"


Lia mengangguk dengan mata terpejam


"Tapi bawel tauuu!!! Menyebalkan!!!"


"Masa sih, tapi kau suka?" Pancing Jason lagi.


"Suka apaan. Aku suka melihatmu gundul. Lucu bangettttt." Lia mengusap kepala Jason.


Rambut pria itu yang awalnya tersisir rapi, saat ini sudah seperti sarang burung. Acak-acakan kesana kemari. Dan Jason senang melihat Lia seperti itu. Gadis itu tertawa dengan lucu. Wajahnya sangat dekat dan menggemaskan.


"Kau suka jika aku menciummu?" Tanya Jason sambil mengusapkan jari telunjuk pada bibir Lia.


Gadis itu terdiam. Bibir itu sedikit terbuka mengikuti usapan lembut dari jari Jason. Lia mulai berada diambang kesadaran. Antara hendak bangun dan masih ingin menikmati usapan lembut Jason dan mimpi.


Mimpi itu seakan nyata. Lembutnya jemari Jason. Pelukan di pinggang dan hembusan hangat nafas Jason. Lia terbuai dan ingin menikmatinya meskipun dia pikir itu hanyalah dalam mimpi.


Tapi tak urung matanya terbuka. Dia termangu melihat wajah tampan Jason yang menatapnya dengan lembut. Tangan Lia masih menggenggam rambut Jason, kakinya melingkar di pinggang pria itu.


Satu detik... dua detik... tiga detik...


Jason mendekatkan wajahnya hendak mencium Lia. Tetapi saat itu juga serangan terjadi. Lia menarik rambut Jason dan pria itu berteriak kesakitan.


"Aduh... Aduhhhh... ganas sekali kau kucing liar. Lepasss!"


Lia melepaskan rambut Jason dan mendorong tubuh pria itu.


"Hoi dasar mesummmm." Teriak Lia kesal.


"Mesum. Mesum. Siapa yang mesum?!" Jawab jason kesal.


"Kau yang mesum. Kenapa peluk-peluk diriku." Sahut Lia galak sambil turun dari tempat tidur dan menggelung rambutnya. Gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu rapat-rapat.


Jason di atas tempat tidur mengacak-acak rambutnya. Siapa coba yang mesum? Siapa coba yang main peluk duluan? Siapa pula yang menggoda duluan. Hiiiii!!!!! Ini namanya maling teriak maling.


Jason sengaja pulang awal hari ini. Erick yang pusing dengan tingkah Jason, memaksa pria itu untuk pulang.


"Pulang sana. Peluk istri mu. Pastikan malam pertama yang aduhai, jangan sampai gagal lagi. Anggap saja bulan madu." ujar Erick menggoda.


Dasar assisten ember dan mesuk. Harus di lakban memang mulutnya.


Ketika sampai di rumah dia menerima laporan dari butler Bernard, dengan kehebohan yang di perbuat Lia. Jason sudah menduganya, gadis itu pasti akan mengajak seisi rumah untuk mendapatkan handphone.


Di dalam kamar Jason mendapato Loa yang sedang tidur siang. Dengan segera, Jason melepaskan semua pakaian nya dan hanya mengenakan boxer tidur di sisi Lia. Baru saja dia merebahkan diri. Serangan ganas itu muncul.


Tangan mungil itu mencengkeram rambutnya dan kaki jenjang melingkar di pinggangnya. Jason terpana. Kucing mungilnya merancau dalam mimpi. Sangat menggemaskan.


*


Setengah jam kemudian, Lia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih kesal. Dia masih kesal mengingat dirinya menempel di tubuh Jason dan kaki nya melingkar di pinggang pria itu.


Lia malu tapi terlalu angkuh untuk mengakuinya. Lia menunggu hingga Jason masuk kedalam kamar mandi sebelum dia menuju ke closet dan mengganti pakaian.


Semua yang ada disini hanya gaun. Entah mini, selutut maupun gaun panjang. Tidak ada kaos kesukaan lia. Hanya ada satu celana pendek dan satu rok selutut. Tapi lia masih menemukan sports bra dan legging selutut.


Akhirnya Lia memilih gaun selutut untuk dikenakan. Lia sedang berada di depan cermin ketika Jason keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.


Pipi Lia memerah. Dia memalingkan wajah, tapi masih bisa melihat lekuk tubuh Jason dari balik cermin. Dan hal yang lebih mengesalkan, pria itu dengan sengaja melepaskan handuk sambil melangkah menuju closet. Lia akhirnya harus mencemari mata dengan melihat bokong sexy Jason.


Lama-lama berada di dekat Jason membuat dirinya jadi panas dingin dan hilang semua kemurinian. Semua telah tercemari mata, hati dan pikiran. Semakin menutup mata semakij nyata bokong sexy itu. Lia buru-buru keluar dan berlari menuju taman.


Sesampainya di taman belakang dengan kolam renang terbuka di area yang luas. Lia baru menyadari betapa indahnya mansion ini. Seharian ini dia hanya bermain petak umpet dengan butler Bernard dan ribut dengan handophone.


Lia duduk di kursi taman yang masih jauh dari kolam renang. Ah... berenang di tempat ini sama seperti berenang di alam bebas. Lia melepaskan sandal dan membiarkan kakinya menginjak rumput.


Dia tidak menyadari jika Jason memandang dirinya dalam diam, dari atas jendela di ruang kerjanya. Bagi Jason pemandangan Lia yang termangu di terpa sinar matahari senja hari sangat indah. Jason mengabadikan moment itu.


"Nona, saatnya makan malam." Butler Bernard sudah berada di dekatnya. Lia tidak menyadari jika matahari sudah terbenam keseluruhan dan cahaya lampu taman sudah terang benderang.


"Ah... sudah malam ya..." ujar Lia tersadar.


"Iya nona."


"Duduk sebentar sini." Lia menepuk kursi


kayu di sebelahnya.


Butler Bernard patuh, duduk di sebelah Lia.


"Nona, jangan terlalu lama disini. Tuan muda pasti sudah menunggu," ajak butler Bernard.


"Biarin dia menunggu sedikit lama." Sahut Lia cuek.


"Jangan marah kepada tuan muda, nona. Dia pria yang baik." Ujar butler Bernard.


"Aku tahu," sahut Lia sendu.


"Dia satu-satunya pria bangsawan yang saya kenal berhati besar."


"Aku tahu."


"Dia pria yang memiliki keyakinan tinggi dengan setiap keputusan yang diperbuatnya."


"Ya... aku tahu."


Butler Bernard menatap Lia dengan heran. Jika dia mengenal Jason sedemikian rupa, lalu mengapa dia harus selalu beradu mulut dan menentang tuan muda. Meskipun butler Bernard belum bisa menyukai Lia sebagai pendamping tuan muda nya, tapi dia selalu menghargai dan yakin dengan setiap keputusan Jason.


"Lalu, apa yang membuat anda muram, nona?"


Lia menghela nafas panjang.


"Masih banyak tanda tanya dalam hatiku."


"Kenapa tidak anda tanyakan saja hal yang mengganjal." Sahut Butler Bernard dengan heran.


"Entahlah, mungkin aku takut dengan jawabannya." Ujar Lia sambil mengangkat bahu dengan wajah sendu.


Hanya sedetik kemudian, gadis itu sudah berdiri dengan wajah ceria.


"Ayo masuk. Aku tidak akan membuat dirimu kena marah si Rajawali." Ujar Lia bersemangat.


"Rajawali?" Butler Bernard heran.


"Ia. Dia bilang punya telur Rajawali yang hampir aku rusakan. Memangnya ada ya? Aku juga tidak merasa melakukannya." Ujar Lia dengan heran.


Mereka beriringan masuk ke dalam Mansion. Butler Bernad masih berpikir keras, dibagain mana di rumah ini ada sarang rajawali? Apakah rajawali itu sudah bertelur? Kenapa tuan muda tidak pernah menceritakan hal tersebut. Tampaknya besuk dia harus meminta tukang kebun untuk memperhatikan atap rumah, apakah ada sarang Rajawali disana.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Jika tidak ada halangan, nanti malam updated lagi yaaa.


Jangan lupa bantu author biar tambah semangat.


Like, coment, Vote dan share.


Semangattt mencari Sarang Rajawali yaaa butler Bernard hahahhaha.