48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Eng ing Eng



Lia bangun di pagi hari dengan tubuh yang segar. Semalaman dia tidur dengan nyaman di kasur bersama Emely. Emely gadis yang menyenangkan. Dia sangat ceria dan optimis. Cantik dan modis lagi.


Lia mandi dan berganti pakaian baru yang diberikan oleh Emely. Lia membuka balcony, dia menghirup udara segar pagi hari dengan sukacita. Pertama kali merasakan kebebasan setelah tiga bulan terkurung dalam mansion.


Meskipun di dalam mansion, segala kebutuhannya telah tersedia, dan dia bebas berbuat apa pun, tetapi tetap saja Lia merindukan dunia luar. Bertemu dan berkomunikasi dengan seseorang yang menggapnya teman. Dengan seseorang yang bebas memandang matanya.


Sesungguhnya Lia berencana ingin tinggal beberapa hari lagi bersama Emely. Dia merasa bisa membantu mereka melakukan pekerjaan apa saja. Mencuci piring, menyapu, melayani tamu apa saja.


Lia tertawa kecil memikirkan ide gila itu. Dan dia bisa membayangkan jika Jason pasti akan pusing mencarinya juga marah besar dengan butler Bernard. Sekali-sekali membuat dia panik tidak masalah bukan?


Tapi, bagaimana ya nasib Jose dan Marco. Apakah Jason menghukum mereka? Tidak mungkin sampai memenggal kepala kan? Lia bergidik membayangkan adegan kekerasan mafia di film.


Ah, Jason tidak mungkin kan sekejam itu. Lia tidak pernah melihat Jason kejam terhadap pelayan dan pengawal di rumah. Yang dia tahu, semua kebutuhan mereka sudah di penuhi. Dan mereka semua tampaknya setia juga senang bekerja dengan Jason.


"Pagi Emely," sala Lia dengan ceria.


"Pagi Lia, hoammm... jam berapa ini?" Tanya Emely yang baru bangun tidur sambil menggosok matanya.


"Baru jam enam pagi."


"Pagi sekali kau bangun." Emely bangun dari tempat tidur dan duduk di dekat jendela.


"Aku sudah terbiasa bangun pagi," jawab Lia dengan senyuman.


Bagaimana tidak biasa bangun pagi, jika terkadang dia merasa was-was dengan gerakan Jason, yang seringkali mendekap dirinya di pagi hari. Ah, tiba-tiba Lia rindu kehangatan tubuh Jason dan rambutnya yang berantakan di kala bangun dari tidur.


Lia menepis angannya.


"Apa yang akan kau lakukan di pagi ini?" Tanya Lia dengan bersemangat.


"Hmm tidak ada. Butiqku baru buka pukul sepuluh. Biasanya di pagi hari aku akan membantu Gabriel. Dia pasti sedang sibuk di bawah. "


"Baiklah, kalau begitu aku akan membantu Gabriel." Lia turun ke lantai bawah.


"Pagi Gabriel." Lia menyapa Gabriel yang sudah sibuk bersama koki lainnya.


"Pagi Lia, bagaimana tidurmu semalam?"


"Sangat nyenyak. Terimakasih banyakkk untuk kebaikan hati kalian. Apa yang bisa aku bantu Gabriel?"


"Duduk manis saja dan menemani kami."


Ujar Gabriel dengn santai.


"Jangan begitu. Jangan biarkan aku menumpang begitu saja. Aku mau melakukan sesuatu." Paksa Lia.


"Sudah santai saja. Kau tamu disini."


"Hahahha tamu yang tidak tahu malu. Ayo sini. Aku bisa memotong wortel itu."


Lia menghampiri Gabriel dan mengambil alih memotong wortel dan beberapa terong juga tomat.


"Kau bisa memasak?" Gabriel melihat keahlian Lia memotong.


"Bukan memasak, tapi memotong. Hahhaha. Aku pernah menyamar menjadi masiswi perhotelan dan bekerja paruh waktu di dapur sebuah hotel ternama. Dan ini lah pekerjaanku memotong buah dan sayuran." Lia menjelaskan pada Gabriel dimana keahliannya dia dapatkan.


"Seharusnya kau belajar memasak juga sewaktu disana. Pasti kau akan menjadi ahli juga." Ujar Gabriel.


"Ah benar... Bagaimana jika kau mengajari ku sekarang." Ujar Lia sambil mengerlingkan matanya.


"Tentu saja. Apa yang ingin kau pelajari?" Kata Gabriel dengan lembut.


"Bagaimana dengan sarapan pagi ala Perancis?"


"Itu mudah. Ayo akan aku tunjukan caranya di depan."


Gabriel mengajak Lia ke luar dari dapur. Dan ternyata menyatu dengan area bar tampak dapur terbuka. Disana Lia duduk di hadapan Gabriel.


Gabriel memperlihatkan keahliannya. Dia mengocok telur, menambahkan susu, garam dan lada. Kemudian menuangkannya di wajan yang sudah panas dengan butter cair.


Gabriel kemudian menuangkan kocokan telur tersebut di wajan, mengaduk telur itu kearah tengah wajan, sehingga menebal di sana. Setelah beberapa saat ketika telur sudah setengah matang, Gabriel menuangkan potongan daging asap, keju, tomat dan paprika kemudian melipat dua telur tersebut, mengecilkan api dan memasaknya sesaat lagi.


Aroma harum omlet memenuhi restaurant tersebut. Lia menelan ludah dengan aroma yang dikeluarkan. Tampaknya sangat sederhana tapi cukup menggugah selera.


"Kau membuatku lapar Gabriel." Ujar Lia sambil menelan ludahnya.


Di mansion Lia sudah sering mendapatkan sarapan pagi mewah. Semua nya disediakan dengan mewah dan cara yang berkelas. Tetapi masakan yang dimasak dan disajikan langsung di depan pelanggan, benar-benar menggugah selera.


"Tentu saja, itu memang tujuanku. Ini untuk mu." Gabriel meletakan omlet tersebut di atas piring, menambahkan dua potong roti panggang bawang putih.


"Terimakasih Gabriel." Setelah meminum teh hangat yang sudah diantarkan oleh pelayan, Lia mulai menikmati masakan Gabriel. Dia akui masakan Gabriel ini sangat lezat.


"Hemm omlete.. omlete.. aku mau juga." Emely yang sudah rapi, duduk di sisi Lia.


"Gabriel membuatnya dengan sangat lezat," ujar Lia sambil mengunyah makanannya.


"Tentu saja. Dia ceft yang handal." Ujar Emely sambil membuat kopi untuk dirinya.


"Ceritakan padaku, bagaimana sarapanmu di mansion, tentu berlimpah bukan?" Tanya Emely dengan penasaran.


"Hemh... Terlalu banyak pelayan yang menemani, bahkan ada seorang yang berwajah seperti burung gagak. Menatap tajam seakan-akan siap mematuk mu jika tidak menghabiskan makanan." Ujar alia sambil membayangkan wajah butler Bernard.


"Apakah suamimu selalu menemanimu?" Tanya Emely lagi.


Gabriel yang sedang memasak melirik kearah Emely dan Lia.


"Kau pasti kesepian." Gabriel sudah datang dengan dua pirirng omlet untuk dirinya dan Emely.


"Itu sebabnya aku senanggg sekali bertemu dan mengenal kalian. Aku jadi berat hati kembali ke Mansion."


Emely memandang Gabriel sesaat.


"Sebenarnya aku tidak masalah jika kau ingin tinggal lebih lama, tetapi aku hanya takut, tuanmu itu si suamimu marah dan mengamuk disini." Ujar Emely dengan hati-hati.


"Benarkah aku boleh tinggal lebih lama lagi dengan kalian?" Lia bersemangat.


"Jika kau mau. Tapi..." Emely ragu.


"Jangan khawatir dengan suamiku. Aku akan bersembunyi dengan baik-baik disini. Aku tidak akan membuat kekacauan. Biarkan aku diam disini selama dua atau tiga hari ya. Ah... senangnya hatiku. Terimakasih Emely. Terimakasih Gabriel." Lia memeluk Emely dengan sangat senang.


Pintu restaurant sudah di buka tepat jam tujuh pagi. Beberapa pelanggan sudah datang, meski hanya sekedar minum kopi. Lia dengan bersemangat membantu Gabriel. Dia juga membantu mengirimkan pesanan ke meja pelanggan.


Pukul tujuh lebih dua puluh menit, seorang wanita cantik masuk ke dalam restaurant. Kehadiran nya mampu menarik perhatian semua mata ke arah dirinya. Wanita cantik itu melangkah dengan anggun dan percaya diri.


"Wah cantik sekali dia. Pasti semua pria langsung terpikat dengan wanita seperti dia." Lia mengerdipkan mata pada Gabriel.


Gabriel hanya tersenyum malu. Emely tertawa kecil melihatnya.


"Cantik dan sexy, tetapi bermodal besar kan Gabriel." goda Emely.


Gabriel hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo Gabriel tahlukan dia dengan omletmu dong." Goda Lia.


"Memangnya mau setiap hari dia makan omlet?" canda Emely dan tawa mereka meledak bersamaan.


"Cepat hampiri dia dan tebarkan pesona mu." Emely mendorong Gabriel untuk menghampiri wanita tersebut.


Gabriel menghampiri wanita tersebut dan menanyakan apa yang hendak dia pesan. Mereka tampak bercakap beberapa saat. Wanita cantik itu menebarkan senyum anggun kepada Gabriel. Sikapnya begitu mempesona.


Lia terpesona dengan kecantikan dan keanggunan wanita tersebut.


"Menurutmu apakah aku bisa anggun dan mempesona seperti dia?" tanya Lia pada Emely.


"Bisa jika kau paksakan. Tapi, aku suka dengan sikapmu yang apa adanya dan kau cantik alami." kata Emely bersungguh-sungguh.


"Ahhh.... Kau memang luar biasa Emely."


Gabriel datang dengan membawa catatan pesanan wanita itu.


"Dia memesan moesly dan champagne mimosa."


moesly adalah campuran gandum dengan susu cair dan madu yang ditambahkan potongan buah juga kacang-kacangan diatasnya.


Champagne mimosa adalah campuran champagne (minuman alkohol bersoda, destilasi dari anggur) dan orange juice.


"Kau mendapatkan namanya?" tanya Emely dengan penasaran.


"Namanya Natali dan dia datang disini karena ada janji kencan dengan calon suaminya." sahut Gabriel.


"Ah... Gabriel malang," ujar Emely dan Lia bersamaan.


Gabriel hanya angkat bahu. Kemudian dia masuk ke dapur dan meminta mereka menyiapkan moesly. Sementara Emely menyiapkan Champagne mimosa.


Setelah semua siap, Lia mengantarkan makanan tersebut kepada Natali.


Lia kembali duduk di depan bar dan berbincang dengan Gabriel dan Emely. Mereka bercanda dan tertawa dengan sangat akrab.


Pukul delapan lebih sepuluh menit. Seorang pria tampan dengan wajah yang lesu, masuk ke dalam restaurant. Dia duduk dihadapan Natali. Mata pemuda tersebut tidak bisa lepas dari sosok yang sedang tertawa ceria di depan meja bar.


Wajahnya tegang. Gerahamnya bergemeletuk. Wajahnya menyiratkan segala hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan dia tidak mendengar apalagi memperhatikan gadis secantik Natali dihadapannya.


Sementara di meja bar.


"Teman kencan Natali sudah datang. Wah tampan juga." ujar Gabriel yang posisinya langsung menghadap ke arah pemuda itu.


"Benarkah. Kalau begutu sekarang giliranku untuk mengambil pesanan. Tentunya mereka bisa berbahasa inggris bukan?" Lia berdiri sambil merapikan baju nya.


Dia kemudian membalikan badannya berjalan ke arah meja Natali dan masih sambil tertawa serta menoleh kearah Gabriel dan Emely, Lia mengerdipkan matanya.


Sampai di dekat meja Natali. Dengan berjarak satu meter. Langkah Lia terhenti. Tawa nya lenyap. Kegembiraannya menguap. Kali ini dia tertegun menyaksikan kedua insan dihadapannya. Sementara mata pemuda itu sudah menatap tajam dan siap merkam ke arahnya.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Bersambung....


Sambung nanti ya ibu-ibu PKK...


Penasaran thor, updatednya sedikit, hehhehehe sengajaaaaaa author sengajaaaa. Wakkakakaka.


Bolak- balik saja samperin, siapa tahu sudah updated.


Wakaakkakaka


Ini visual Natali