
Keesokan hari nya. Setelah mandi dan masih dengan mengenakan pakaian yang sama. Mereka berempat masih menunggu di dalam kamar yang terkunci. Kamar tanpa jendela yang terasa sangat pengap. Terdiam dalam kamar yang tertutup rapat, membuat mereka gelisah.
"Sampai kapan kita akan dikurung disini?" Geram Emely dengan gelisah.
"Sampai pria itu sadar." Sahut butler Bernard dengan tenang.
"Mereka harusnya mengerti, jika kita menolong pemuda itu, bukan mencelakakannya. Jika kita yang menusuk dirinya, bagaimana mungkin kita menghubungi mereka bukan?!" Ujar Lia lemah, masih tidak terima dengan perlakuan mereka.
Gadis itu memandang sekeliling ruangan. Mencari celah untuk bisa melihat keluar kamar. Dalam ruangan ini, tidak ada jendela, tidak ada tv, tidak ada radio, tidak juga ada colokan listrik. Benar-benar tempat yang cocok untuk menyekap orang. Beruntung saja masih ada kasur, sofa, meja dan kamar mandi. Setidaknya masih sedikitttt manusiawi.
"Duduklah nona. Jangan buat kami jadi pusing." Butler Bernard mulai terganggu dengan sikap Lia yang mondar-mandir tidak bisa tenang.
"Baiklah. Aku akan diam dan tidak mengganggu mu. Lagipula badanku masih terasa lelah. Huh! di kamar ini tidak kah ada pakaian ganti. Aku merasa risih mengenakan pakaian dengan darah pria itu yang masih menempel." Lia melihat pakaiannya yang masih terdapat noda darah. Bau anyir darah itu mulai membuat nya mual.
"Mau tukar baju dengan punyaku?" Laurent menawarkan diri.
"Gak perlu. Sama saja." Pakaian Laurent juga sudah penuh bau keringat.
"Jika saja kita biarkan pria itu, mungkin kita akan aman." Butler Bernard masih mengutuki, saat dimana mereka menolong pria yang terluka itu.
"Hai kakek tua! Kau selalu mengulangi perkataan itu. Jika dirimu yang terluka, tidak kah kau berharap jika seseorang akan menolongmu?"
Teriak Lia dengan kesal. Entah mengapa kali ini Lia tidak dapat mengontrol perasaannya. Dia hanya ingin marah dan mengkonfrontasi semua orang, meskipun badannya terasa sàngat lelah. Tidur diatas kasur yang keras dan pakaian bernoda darah, Lia yakin karena itu lah tubuhnya terasa sangat lemas.
"Nah itu, seandainya butler Bernard terluka dan seseorang membawa dia kembali ke mansion. Akankah Kakak ataupun pengawal, membiarkan penolong itu pergi begitu saja?" gumam Laurent.
"Tentu tidak. Mereka akan memastikan jika orang yang membawaku pulang, bukanlah mata-mata dan bukan orang yang mencelakaiku." Sahut Butler Bernard menggambarkan situasi.
"Ah, kau benar. Berarti mereka akan menginterogasi kita kan?" Emely menimpali.
"Sepertinya begitu. Jika pemuda itu tidak segera sadar, maka nasib kita akan sangat buruk." Desah butler Bernard.
"Buruk? Apa yang akan dilakukan oleh mereka?" tanya Lia dengan cemas.
"Tergantung, kelompok apakah mereka. Tapi dari cara bagaimana mereka membawa kita, jelas saja mereka adalah organisasi yang sudah terlatih. Mereka sangat piawai." Laurent yang sudah terlatih, bisa melihat dengan jelas situasinya.
"Jika kelompok pengedar narkoba, maka mereka akan memaksa kita untuk mengkonsomsi dan mengedarkannya. Jika kelompok penjual wanita, maka nasi kalian bertiga akan sangat buruk. Untuk diriku, mereka pasti akan membunuhku. Jika penjual organ tubuh, maka kau akan meninggal dengan mengerikan nona. Seluruh bagian tubuhmu akan menghilang kecuali kerangkamu." Butler Bernard berbicara dengan intonasi yang mengintimidasi.
"Stop! Jangan menakutiku! Aku yakin Jason akan menemukanku dan membawaku pergi." Ujar Lia ketakutan.
"Bisa jadi tuan muda malah berharap anda kabur, nona kan bawel dan nakal. Dia bisa hidup lebih tenang seperti sebelumnya. Menikah dengan wanita pilihan nyonya besar, memiliki anak dan membentuk sebuah keluarga yang bahagia."
"Kakek tua!!! Kau menyebalkan!" Lia terisak mendengar perkataan Butler Bernard.
Butler Bernard yang merasa bersalah, segera berlutut di hadapan Lia. Dia tidak menyangka, jika Lia benar-benar memasukan dalam hati perkataan dirinya. Bukankah biasanya gadis ini, punya seribu satu cara untuk memutar balikan perkataan.
"Nona, jangan menangis. Maafkan saya. Saya hanya bercanda. Saya hanya bermaksud menggoda anda." Butler Bernard berbicara dengan menyesal sambil tetap berlutut dihadapan Lia.
"Hik... Jangan lakukan itu. Aku sudah merasa bersalah. Perasaanku sedang tidak tenang. Aku hanya ingin pulang. Aku hanya ingin Jason..."
"Iya nona, saya mengerti." Butler Bernard berdiri sambil menepuk bahu Lia.
"Butler... " Lia menangis semakin menjadi sambil memeluk butler Bernard, membuat lelaki tua itu terkejut. Dia ingin menolak dipeluk oleh Lia, mengingat wajah marah Jason. Tetapi, mengetahui bagaimana gadis ini memerlukan ketenangan, butler Bernad memilih bersikap sebagai seorang ayah. Dia menepuk pundak Lia dan mengusap lembut rambut gadis itu.
Pintu kamar terbuka, membuat mereka berempat otomatis menoleh ke asal suara. Tampak seorang pelayan masuk dengan membawa sebuah troly berisi makanan dan diambang pintu berdiri dua orang pria yang berjaga. Pelayan itu meninggalkan troly di depan mereka dan kemudian keluar.
"Tunggu!!! Aku harus berbicara dengan pimpinan kalian!" Teriak Laurent dengan lantang sebelum pengawal menutup pintu kamar.
Pengawal tersebut tidak berkata apa-apa. Mereka hanya menatap Laurent dengan dingin. Dia kemudian hendak menutup pintu itu kembali. Namun, tertahan dengan gerakan lincah Laurent yang sudah mememgangi pintu sekuat tenaga dibantu Emely.
"Katakan pada pimpinan kalian bahwa kami ingin bicara. Apa salah kami hingga dia mengurung tanpa kejelasan seperti ini."
Pengawal itu tersenyum sinis. Dia kemudian memamerkan pistol yang terselip di pinggang. Gerakan sederhana untuk memperingati Laurent dan Emely agar tidak bersikap gegabah.
"Anda sebaiknya makan saja nona, selagi masih ada kesempatan menikmati makanan." Ujar Pengawal itu dengan dingin.
Laurent menggeram, dia hampir terbawa emosi dan hendak menghantam pengawal itu. Meskipun tubuh mereka lebih besar, asalkan dia bisa memukul leher, maka dia yakin mereka akan lebih mudah dikalahkan.
"Tunggu tuan, katakan pada kami, bagaimana keadaan pemuda itu? Dia baik-baik saja bukan? Dia sudah sadar bukan?" tanya Lia tiba-tiba.
Pengawal itu memandang Lia yang duduk dengan lemah dengan mata sembab dan pakaian penuh noda darah. Lia tampak pucat dan berantakan. Mata gadis itu memandang pengawal dengan tulus. Bahkan perkataan pertamanya bukan meminta mereka membebaskan dirinya, melainkan menanyakan keadaan pemuda yang tertusuk itu.
"Kau akan tahu, jika tuan muda sudah sadar." Jawab seorang lagi, datar tanpa emosi.
"Tunggu tuan, bisakah kau membawakan kami pakaian ganti? Maaf jika terlalu banyak meminta. Pakaian ini tidak nyaman aku kenakan." Lia menunjukan pada noda darah yang terletak dibagian dada.
Pengawal itu tidak menjawab permintaan Lia. De gan dingin dan wajah datar, dia menutup pintu kamar. Menyisakan mereka berempat di dalam dengan kamar tertegun dan kesal. Kesempatan untuk pergi tampaknya sangat tipis sekali. Dan dari sikap pengawal, nampaknya pemuda itu belum sadar juga.
"Sebaiknya kita mengisi perut dulu. Kita harus memulihkan tenaga, untuk berjaga-jaga akan hal buruk yang terjadi nanti nya." Emely menghampiri troly dan membuka empat tudung makanan. Masing- masing piring berisi omlet dan sosis. Dan di troley masih terdapat satu basket roti, satu teko air putih dan satu teko teh hangat.
Setengah jam kemudian, pintu terbuka dan pelayan yang sama kembali untuk membawakan mereka pakaian ganti. Pelayan itu meletakan pakaian diatas meja dan mendorong keluar troley berisi piring kosong. Saat dia hendak keluar, Lia berseru menahannya.
"Tunggu dulu. Tunggu aku berganti pakaian dan tunjukan pakaianku pada pimpinanmu. Mereka seharusnya bisa melihat apakah noda darah di gaunku, karena darah yang menyembur atau menempel."
Lia kemudian bergegas mengganti pakaian dan memberikan gaunnya yang bernoda darah pada pelayan yang menanti. Pelayan itu keluar dengan membawa pakaian Lia yang bernoda darah. Saat ini mereka hanya bisa berharap, jika pimpinan itu bisa melihat jika tindakan mereka adalah tulus menolong bukan menyakiti.