
Erick berlari dengan kencang melawan dan membelah arah angin. Pikirannya kacau. Emosinya tidak stabil. Dia tidak dapat bekerja dan berkonsentrasi penuh.
"Jason! Aku akan mengambil cuti!" serunya beberapa hari lalu.
"Tidak bisa! Aku sedang tidak ada di tempat!" tolak Jason dengan keras.
"Aku tidak perduli. Aku harus berkonsentrasi menemukan Laurent." ujar Erick tak perduli.
"Kau tidak akan mendapatkan gaji, jika mengambil cuti."
"Aku tidak perduli!"
"Kenapa baru sekarang?" Pertanyaan Jason lebih ke arah sindiran.
"Karena aku bodoh," ujar Erick lemah.
"Karena kau bodoh atau terlalu pintar?"
"Maksudmu?"
"Kau takut Laurent pergi dan tidak menjadi bagian dari keluarga Madison."
"SI ALAN KAU JASON!" bentak Erick dengan marah.
"Apakah aku salah?" sindir Jason lagi dengan keras.
"Salah! Kau tahu aku tidak begitu. Jika aku rakus akan hartamu, sedari awal aku tidak akan bertindak bodoh! Lebih muda menyenangkan hati Laurent, mencumbu dan menikmati tubuhnya daripada harus berjuang setengah mati menahan aroma tubuhnya!"
"Jaga mulutmu, itu adik kandungku."
"Tuan besar bahkan mengancam akan menghancurkan keluargaku jika aku tidak meninggalkan Laurent. Kau tahu betapa besar resiko yang harus aku ambil untuk bisa selalu di sisi Laurent? Belum lagi sikap kalian keluarga Madison yang mendikte diriku. Kalian tidak pernag menganggap aku bagian melainkan hanya seorang kacung! Bagaimana aku bisa menjadi kepala keluarga jika aku hanyalah bawahan di mata istriku, di mata keluarganya?!"
Erick sudah merobek-robek surat itu. Dia tidak akan pernah membubuhi tanda tangannya ke atas kertas bermaterai tersebut. Seumur hidup dia tidak akan menceraikan Laurent meskipun, wanita itu memilih pria lain.
"Kau akan menjadi milikku lagi! Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia! Sampai ajal menjemputku!" geram Erick saat merobek-robek surat cerai tersebut.
Saat ini dia berlari tanpa menghiraukan lalu lalang pejalan kaki. Erick menempuh jarak tiga puluh kilo metre dengan berlari. Tujuannya satu, butik Laurent. Dia hendak menemui Mario.
Sesampainya di depan butik itu. Erick menghentikan langkahnya sesaat. Dia mengatur napasnya yang terengah-engah. Keringat mengucur deras di tubuh pemuda tampan nan gagah tersebut.
Beberapa wanita yang berlalu lalang, tersenyum genit ke arah Erick. Tapi pria itu mengacuhkannya. Mereka ada yang menyodorkan sebotol air mineral tapi tetap diacuhkan.
Pria itu lebih memilih masuk ke dalam toko. Kehadirannya yang masih berpeluh, menarik perhatian pengunjung. Mereka tidak memperdulikan penampilan yang penuh dengan keringat, karena sosok yang membungukusnya sangat tampan dan bertubuh mengundang.
Semua mata tertuju pada Erick. Tapi mata pria itu menjelajahi seisi toko hingga bertemu dengan mata abu-abu soflens yang dia cari. Pria berkukit hitam dengan rambut blonde bergelombang.
"MARIO! AKU HARUS BERBICARA DENGANMU. HEI! JANGAN KABUR!"
Erick berlari ke arah Mario yang hendak masuk ke dalam ruangannya. Pria itu bahkan melompati lemari kaca yang membatasi mereka dengan bertumpu pada satu telapak tangannya.
Mario belum sempat menutup pintu ruangan, karena dengan kasar Erick sudah mendorong pintu tersebut. Pria itu terjungkal kebelakang akibat hentakan dari Erick.
"Jangan kabur! KATAKAN DIMANA LAURENT!"
Sementara itu di depan, para wanita mengekus dada dan merasa kecewa. Bagaimana tidak kecewa, sosok gagah dan tamoan seperti Erick malah mengejar Mario.
"Kenapa yang tampan dan gagah selalu gay. Kapan bagian kita?" keluh seorang gadis berambut pirang dan ikal.