48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Darah?



lijas. laurent


Setelah pesta pernikahannya yang sederhana dan terburu-buru, Erick membawa Laurent kembali ke Penthouse dimana Laurent biasa tinggal. Laurent tinggal di Penthouse yang sama dengan ibunya Laura. Erico tidak tahu apa yang harus dia lakukan, membawa Laurent ke apartementnya atau membiarkan gadis itu tinggal di Penthouse.


Di depan lobby Apartement mewah itu, Erick menghentikan mobilnya. Dia berputar dan membukakan pintu untuk Laurent. Dengan tersenyum manis, gadis cantik itu melangkah keluar.


Erick membiarkan Laurent melangkah sendiri. Dia bermaksud untuk kembali ke mobilnya dan meninggalkan Laurent begitu saja di Lobby mewah gedung bertingkat itu. Tapi, Laurent lebih sigap. Dia menarik kunci mobil dan memberikan kepada petugas Valley.


"Parkirkan mobil itu, atas nama Laurent Penthouse 101." ujar Laurent.


Erick terkesiap. Dia kalah cepat dengan gerakan lincah Laurent.


"Kau tidak akan pergi kemanapun juga." Laurent melingkarkan tangannya ke lengan Erick, memaksa pria itu mengikutinya.


Erick masih dengan perasaan tak menentu mengikuti langkah Laurent. Pikirannya saat ini sedang buntu. Dia tidak mengerti apakah tindakannya benar atau salah. Erick sadar, dia sudah melangkah jauh dengan menikahi Laurent, apalagi tanpa restu orang tua gadis itu.


Sesampainya di Penthouse. Laurent langsung membawa pria itu ke kamarnya. Laurent melepaskan jas Erick dan meletakannya di lantai. Gadis itu kemudian duduk di pangkuan Erick. Dia melingkarkan tangannya di leher Erick.


"Kau sekarang adalah suamiku, kau sudah jadi millikku." ujar Laurent dengan bahagia.


Erick tertegun mendengar perkataan Laurent.


Laurent mendekatkan bibirnya ke bibir Erick, mencium pria yang sudah menjadi suaminya dengan lembut, tanpa balasan. Laurent merasa heran, dia kemudian melepaskan tautan bibir mereka.


"Ada apa denganmu? Kau kenapa diam saja?" tanya nya heran.


"Laurent? Kapan kita berhubungan hingga kau hamil?" tanya Erick tiba-tiba.


"Hal itu, apakah kau tidak mengerti? Apa kau sudah lupa?" jawab Laurent ambigu.


"Aku ... tidak ingat kita pernah tidur bersama." sahut Erick.


"Oh ya? Ketika kau mabuk di penthouse kak Jason, bukankah kau tidur di tempat tidur yang sama denganku?" ujar Laurent menggoda.


"Tapi ... apakah kita melakukannya? Aku benar-benar tidak ingat."


"Apakah itu penting? Sekarang kita sudah menikah. Kau memiliki hak untuk menikmati tubuhku." jawab Laurent menggoda.


"Hentikan gurauan mu. Aku tidak bercanda. Apakah anak dalam kandunganmu itu anakku?" tanya Erick hati-hati.


"Apa maksud perkataanmu?!" tanya balik Laurent dengan nada naik setengah oktaf.


"Maafkan aku, bukan maksudku meragukan dirimu. Tapi ... aku benar-benar tidak mengerti." Erick kebingungan.


"Kau mau bilang, aku sengaja menjebak dirimu? Jika kau tidak ingin menikahiku, kenapa tidak kau tolak perintah kakak saja saat itu?!" tanya Laurent lagi dengan kesal.


Gadis itu turun dari pangkuan Erick. Berbaring sambil memunggungi pria yang sudah menjadi suaminya. Laurent terisak. Bahunya berguncang dengan keras.


Melihat sikap Laurent, Erick menjadi kebingungan dan serba salah. Dia menghampiri Laurent. Merengkuh bahu gadis itu dengan lembut.


"Maafkan aku. Maafkan aku." ucapnya berulang kali memohon maaf.


"Kau tidak mencintai aku? Kau ingin kita bercerai?" tanya Laurent disela isakannya.


"Aku ...." ucapan Erick tersekat di tenggorokannya. Segala perasaan yang saat ini berkecamuk dalam hatinya tidak dapat dia ungkapkan.


"Apakah aku benar-benar jelek, sehingga tidak pantas mendampingi dirimu?" tanya Laurent.


"Tidak. Bukan begitu. Kau gadis cantik. Sangat cantik. Aku yakin banyak pria yang tergila-gila padamu." jawab Erick.


"Kau pun salah satu dari pria itu, bukan?" tanya Laurent disela-sela isakan tangisnya.


"Aku ... aku tidak pantas menyukaimu." sahut Erick lemah.


"Kau seharusnya mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Pria yang sederajat denganmu. Pria yang ...." belum sempat Erick menyelesaikan kalimatnya, Laurent sudah berbalik dan memeluk Erick dengan erat.


"Tapi hanya kau yang aku mau. Tidak kah kau mengerti?" ujar Laurent lembut sambil membenamkan dirinya di dada Erick.


Perlahan dengan gerakan lembut Laurent melepaskan kancing kemeja Erick, hingga pakaian itu tanggal seutuhnya. Erick mendesah. Dia mencengkeram kain sprei dengan kencang. Erick berusaha bertahan, menahan serangan maut Laurent. Tetapi ... pada akhirnya desahan kedua insan terdengar saling sahut menyahut, melampiaskan hasrat yang terpendam.


Satu jam kemudian. Peluh membanjiri tubuh mereka, setelah percintaan mereka yang dashyat. Hawa dingin yang dihembuskan oleh ac tidak mampu menahan keringat yang mengucur.


Laurent tersenyum bahagia. Dia berbaring diatas pelukan dada Erick, suaminya. Erick menciumi pucuk rambut Laurent dengan lembut. Berpuluh wanita yang pernah dia kencani selama ini, bukan apa-apa dibandingkan percintaanya yang baru saja terjadi dengan Laurent.


Erick merasakan ada rasa bahagia menyusup kedalam hatinya. Dia mengusap punggung telanjang Laurent, penuh kemesraan. Laurent menikmati sentuhan demi sentuhan, yang kembali di lancarkan Erick.


Jika awalnya Laurent yang bergerak aktif ... untuk percintaan yang kedua, Erick mulai berinisiatif. Dia menginginkan lagi getaran itu. Erick menggulingkan tubuh Laurent dibawahnya.


"Apakah kau keberatan?" tanyanya saat menginginkan permainan yang kedua.


"Aku milikmu, lakukan selama kau inginkan." ujar Laurent dengan malu.


Erick tersenyum dan mencium bibir Laurent mesra. Dia mulai menciumi sekujur tubuh Laurent hingga ke paha. Namun, gerakannya terhenti, ketika dia menyaksikan sesuatu yang janggal.


Darah!


Erick terkejut!


"Kenapa ada darah?" tanya nya tak mengerti.


Erick bingung. Meskipun dia tidak pernah tidur dengan seorang perawan sebelumnya, tapi Erick mengerti jika seorang wanita yang masih perawan, akan mengerluarkan darah saat pertamakali berhubungan. Tapi, bukankah Laurent sedang hamil?


Pendarahan?


tidak mungkin kan. Dia melakukannya dengan sangat berhati-hati dan selalu melindungi bagian perut Laurent.


Keguguran?


Lebih tidak mungkin lagi kan. Darah dari akibat pendarahan dan keguguran, tidak mungkin sebanyak itu, bukan?


Erick tidak mengerti.


Di saat dia bingung, secara reflex Erick mengangkat tubuh Laurent dan menunjukan darah yang ada di sprei. Erick menatap Laurent, tetapi gadis itu malah menyembunyikan wajahnya dalam dada Erick.


"Laurent, katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kau sakit? Kenapa ada darah di pangkal paha mu?"


"Aku tidak apa-apa. Kita bisa melanjutkannya." ujar Laurent dengan malu.


"Aku tidak mengerti. Apakah itu ...."


"Apa Erick?" tanya Laurent dengan menatap wajah suaminya.


"Apa itu darah .... Tunggu! Jangan katakan kau menipuku. Kau tidak hamil, bukan?!" tanya Erick.


Laurent diam tidak menjawab.


Erick kemudian menurunkan laurent dari gendongannya. Gadis itu berdiri dalam keadaan telanjang dan kebingungan dengan sikap Erick. Wajah Erick berubah menjadi dingin.


Laurent menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Meskipun dia adalah wanita yang hidup di kota modern, tapi Laurent tidak pernah terlibat dalam pergaulan bebas. Dan dia merasa malu, jika harus berdiri telanjang dengan tatapan mata Erick yang dingin.


"Kau menipuku!" desis Erick geram. Pria itu menyambar pakaiannya dan membanting pintu kamar Laurent dengan keras.


"Erickkk! Jangan pergi ...." ratap Laurent terisak.