48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Miss You



Helikopter yang membawa Jason terbang semakin tinggi dan hilang di balik awan. Lia masih berdiri mematung memandang awan yang telah menelan helikopter Jason. Hingga jejak angin yang ditinggalkan mulai memudar.


Lia masih tetap berdiri selama beberapa saat. Dia tiba-tiba merasa sangat kesepian. Seperti... ada bagian dari jiwa nya yang ikut melayang pergi. Ada rongga yang kosong. Seakan sebagian dari jiwanya ikut melayang.


Andaikan saja dirinya adalah supergirl, pasti saat ini juga Lia akan melesat keatas awan menyusul Jason. Memberikan kejutan. Berada disisi pria itu dan menghirup aroma tubuhnya.


"Nona, matahari semakin tinggi. Apakah nona tidak kepanasan?"


Butler Bernard yang berdiri di samping Lia menegurnya dengan halus.


"Ah... iya." Lia tersadar.


Lia berbalik, berjalan menuju ke dalam Mansion. Dengan langkah gontai tidak selincah biasanya. Saat itu lah dirinya sadar dengan sesuatu yang ada dia sedang genggam.


Hadiah dari Jason.


Wajah Lia langsung berubah. Matanya berbinar melihat pemberian Jason. Dia mengeluarkan benda itu dari dalam kotak dan segera berteriak nyaring dengan gembira melupakan perasaan hamoa yang baru saja di rasakannya


"Butler Bernarddddddd lihat apa yang Jason berikan padaku. Hahhahahahahah... Aku sudah punya handphone. Lala..lala..lala.... aku punya handponeee... ."


Lia berteriak sambil tertawa gembira, layaknya seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan permen. Dia mengacung-ngacungkan handphone pemberian Jason dengan sukacita.


Butler Bernard yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Lia. Istri pilihan tuan muda memang lain dari pada yang lain. Hanya sebuah handphone saja sudah seperti mendapatkan emas permata satu kilo.


"Udik." Gumam butler Bernard.


"Apa?" Lia mendekatkan diri melihat mulut butler Bernard bergerak.


"Nona udik," sahut butler Bernard dengan berani.


"Biarinnn! Yeeee. Iri yaaaa gak dapat hadiah dari Jason," Lia menggoda butler Bernard, membuat kepala pelayan itu memutar bola matanya. Gak penting banget.


"Coba lihat handphone mu!" Lia mengulurkan tangannya.


"Mau apa nona dengan handphone saya."


"Pokoknya lihat!"


Dengan malas butler Bernard mengeluarkan handphone nya dari saku jas yang dia kenakan.


"Hais! Ternyata kau memang memiliki handphone. Ck.Ck. Ck. Hanya untuk menyembunyikan handphone udik ini, kau sampai rela mencium kaos kaki Fidel."


Lia mencibir, menggoda Butler Bernard. Pria tua itu wajahnya langsung memerah, mengingat kejadian kaos kaki busuk itu. Segera saja dia merasa sangat mual dan mau muntah. Hanya nona Lia yang berani membuat Butler Bernard mengenang kejadian memalukan itu.


"Ternyata handphone mu lebih udik dari pada punyaku. Hahahhahahha." Lia kembali mengejek Butler Bernard.


"Udik dan kunooo hahahhaha," Lia puas melihat wajah kesal butler Bernard.


Dia masuk kedalam rumah dan menaiki tangga menuju ruang perspustakaan dengan ceria. Lia duduk di satu sudut ruangan dan mulai menghidupkan handphone nya.


Dan layar awal dari handphone itu tentu saja foto diri Jason. Lia menggelengkan kepalanya berpikir, kapan sih Jason menyiapkan semua ini.


Lia melihat galeri foto, ternyata banyak berisi foto Jason yang wow. Suaminya ini memang tampan secara langsung dan juga sangat fotogenic. Lia mengusapkan jemarinya ke layar handphone seakan mengusap wajah Jason. Rasa rindu kembali menyusup di dada nya.


Didalam galery juga terdapat candid foto dirinya. Tampaknya Jason sering mengambil foto diri Lia secara diam-diam. Bahkan banyak yang diambil sebelum Lia berada di mansion Jason di Perancis.


Saat Lia masih di Miami, saat mereka berkencan, di Castil dan beberapa foto Lia ketika dia tertidur di mansion Jason di Miami. Hati Lia berdebar melihatnya. Ternyata banyak hal yang dilakukan Jason diam-diam tanpa sepengetahuan Lia


Foto pernikahan mereka pun ada disana. Samar-samar Lia mengingat kejadian itu. Timbul tenggelam dalam ingatannya.


Lia mengusap foto pernikahan di layar handphone, ternyata ciuman pertamanya bukan ketika Jason mencium dirinya di dalam pesawat terbang. Disana Lia tertawa lebar tampak bahagia.Tampak seperti bukan paksaan


Lia meraba dada nya yang berdegup kencang. Pernikahan mendadak ini memang luar biasa. Kemarahannya pada Jason, rasa jengkel dan kesal, lambat laun meluntur menjadi perasaan sayang.


Dia beralih ke daftar kontak. Nomor satu tentu saja Jason. Nomor dua adalah Diana. Nomor tiga butler Bernard. Nomor empat Alfonso kepala pengawal. Nomor Lima nomor Andrew. Nomor enam Erick. Hanya ada ke enam nomor itu.


Lia membuka fitur wa. Dia mulai mengetik pesan untuk Jason.


"Trimakasih untuk hadiahnya. Aku sangat menyukainya." Kirim.


"Apakah kau hanya menyukai handphone tersebut, bagaimana dengan yang memberinya." Dalam beberapa detik Jason sudah membalas.


Pipi Lia memerah. Dia terlalu malu untuk menjawab pertanyaan Jason.


"Bagaimana cuaca disana, kau baik-baik saja di dalam helikopter?" Tanya Lia mengalihkan pembicaraan.


"Cerah sekali. Sekarang aku sudah sampai di atas gedung kantor di London. Katakan padaku, apakah kau menyukai handphone tersebut?"


"Tentu saja."


"Lalu bagaimana dengan si pemberi apakah kau juga menyukai dia?"


Dag. Dig. Dug. Dag. Dig. Dug.


Jemari Lia begetar hendak menuliskan jawaban.


"Iya."


Klik. Balasan dari Jason masuk. Lia mengintip balasan Jason dari balik bantal.


"Kau membuatku berdebar."


Wajah Lia semakin memerah membaca pesan Jason. Dia tersenyum lebar. Menelungkupkan wajahnya kedalam bantal sambil menendang tempat tidur. Persis seperti remaja jatuh cinta.


Klik. Pesan masuk lagi.


"Apakah kau merindukanku?" tanya Jason.


"Hemmm.. bagaimana yaaa." Lia mengirimkan icon menjulurkan lidah.


"Kalau saja kau berani melakukan nya di depanku, aku hisap lidah mu sekarang juga."


Lia berdebar mengingat bagaimana ciuman mesra dan ganas Jason. Bulu kuduknya meremang. Telapak kakinya saling menggosok dan Lia mengusap lehernya. Ah, jejak merah itu masih jelas disana


"Mesum." Balas Lia


"Khusus untukmu."


"Lalat buah mesum!"


"Hei lalat buah lagi, dasar kucing liar."


"Sudah gak liar. Sudah duduk manis dalam rumah." Lia megirimkan icon tertawa.


"Yang manis ya sayang sampai aku kembali."


"Iya lalat buah."


"Panggil lalat buah sekali lagi, rajawali akan langsung menukik ke dalam sarangnya!"


Jason mengancam.


"Hehehe. Enggak kok. Jason tampan deh."


Lia merayu.


"Tentu saja suamimu ini adalah pria paling tampan dan gagah sedunia."


"Dihhh sombongnyaa." Lia mengirimkan oesan sambil tersenyum lebar. Hayo siapa yang berani bilang jika Jason tidak tampan. Dengan postur tubuh gagah, otot tubuh sempurna, wajah yang memikat terlebih lagi sorot matanya yang membuat jantung berdetak kencang.


"Itu kenyataan. Kau harus bangga." Jawab Jason dengan sombong.


"Iya. Iya. Aku bangga."


"Lia..."


"Hemh..."


"I miss you,"


Lia tersenyum. Bibirnya bergerak mengucapkan kata, i miss you too. Tapi tangannya berhenti mengetik. Dia masih merasa malu untuk mengatakan hal itu.


"Hati-hati di jalan ya. Kembali dengan selamat." Kata-kata itu lah yang akhirnya di ketik oleh Lia.


"Tentu saja. Aku akan segera kembali padamu."


"Jason..."


"Ya..."


"Bolehkan aku menghubungi kakakku?"


Lia terperanjat dengan apa yang di ketiknya. Apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia merasa harus meminta ijin untuk melakukan hal seperti ini. Sejauh mana dia merasa tergantung pada Jason. Ini harus di hentikan.


"Tentu saja. Kau boleh menghubungi siapa saja. Kecuali pria lain yang berniat bersaing denganku."


"Ih, ngaco."


"Aku serius."


"Iya aku mengerti."


Lia tersenyum. Bagaimana bisa dia menggantikan pria yang sudah menjadi suaminya ini, dengan pria lain. Dia tidak sebodoh itu.


"Baiklah. Aku akan ada rapat penting. Mungkin sampai malam. Rindukan aku, okey?" pesan dari Jason.


"Bekerjalah dengan semangat. Fighthing!" balas Lia.


Wa mereka berhenti disana. Lia kembali dengan berdebar, membaca ulang chatt mereka. Dada Lia berdebar, dia merasa sangat senanh sekali. Setidaknya meskipun tidak melihat Jason, dia senang sekali bisa berkomunikasi dengan nya.


I miss You too, Jason.