48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Menahan diri



...💏💏💏💏💏...


"Lia..." Dengan lembut Jason memanggil namanya.


"Ya..." sahut Lia dengan gugup.


"Terimakasih kau mau membuka diri dan belajar mencintaiku. Selamanya kau hanya satu-satunya wanita dalam hidupku, satu-satunya pendamping yang aku inginkan, satu-satunya istri yang ku miliki. "


Kata-kata Jason terlampau indah terdengar di telinganya. Benar-benar sebuah toxic yang bisa meluluh lantakan pertahanan seorang wanita.


"Jason..."


"Hemhh..."


"Sejak kapan kau bisa berbicara manis seperti itu. Seberapa sering kau menebar rayuan mu pada setiap wanita?"


Suara Lia terdengar lirih. Dia ingin percaya kata-kata indah itu hanya dirangkai untuk dirinya.


Lia tidak sadar satu tangan Jason sudah berada di pinggang nya, sangattttttt dekat dengan pantat Lia. Jason hampir saja tidak kuasa menahan gejolak dalam dirinya. Rajawali sudah siap bertempur. Gelora itu menyesakan.


Sekuat tenaga Jason berusaha menahan diri. Satu tangan Jason yang lain mengangkat dagu Lia, menengadahkan wajah wanita itu kepadanya.


"Aku belajar dari saat aku mencintaimu. Aku mengatakan apa yang aku rasakan padamu. Aku mencintaimu."


Jason kembali mengucapkan kalimat maut itu dan mendaratkan ciuman di bibir Lia. Bibir itu merekah menyambut ciuman Jason. Matanya tertutup dan Tangannya merangkul leher Jason. Kaki Lia sedikit berjinjit untuk memudahkan dirinya memiliki akses penuh di bibir Jason.


Ciuman itu berlangsung cukup lama, hingga Lia memukul dada Jason agar menghentikan ciumannya. Dia merasa kehausan. Nafasnya sudah tersenggal.


"Jason sudah," ujar Lia lirih.


"Ahhh.... Jasonn.. ehemmm." Lia mendesah. Tangannya yanh melingkar di leher Jason mulai terkulai lemah. Tindakan Jason semakin rakus.


Jason tidak langsung berhenti, dia masih mendaratkan ciuman ke sepanjang leher dan bahu Lia. Tangan pria tampan itu tampak mengepal diatas pantat Lia sementara tangan satunya mengusap punggung Lia.


Jason kembali menghisap leher Lia. Dia menyukai kelembutan yang ditawarkan oleh kulit tubuh Lia yang masih sangat original. Desahan Lia malah membuat Jason semakin aktif.


Jason mempererat pelukannya, agar gadis itu tidak bisa lari dari nya.


Pria itu setengah mendorong tubuh Lia dan mulai mencium leher bagian depan dan semakin haus untuk turun kebawah, ke arah dada yang tampak menantang dibawah himpitan dada nya.


Rajawali semakin perkasa, menempel dengan keras di perut Lia.


"Jason sudahhhhh." Lia mendorong tubuh Jason lebih keras. Lia tidak ingin melakukannya sekarang.


Pria itu menghentikan ciumannya.


"Maafkan aku. Ah... susah menahan diri didekat mu."


Jason melepaskan pelukannya dan mundur dua langkah. Saat itu juga tanpa di duga, handuk yang membebat tubuh Lia jatuh kelantai. Jason terbelalak melihat pemandangan indah yang baru pertama kali dia lihat dengan utuh.


Tubuh telanjang Lia. Terlalu indah untuk dilewatkan. Mata Jason menjadi takjub hingga tubuhnya terhipnotis mematung di hadapan Lia.


Sedangkan Lia yang terlambat menyadarinya berteriak keras.


"Aaahhh.... Tutup matamu."


Lia berteriak dengan keras. Gadis itu bukannya cepat- cepat berjongkok dan mengambil handuk atau berbalik memungungi Jason, tapi dia melakukan hal yang sebaliknya.


Gadis itu malah berlari mendekat dan sibuk menggapai mata Jason, dia berusaha menutupi kedua mata Jason dengan kedua tangannya. Jason tergelak dan sedikit menghindari tangan Lia. Dia ingin sekali menggoda istrinya.


"Jasonnn tutup mataaaa.. AaaaAa tutup mataaa." Seru Lia dengan panik namun tersirat manja.


"Okey-okey, " ujar Jason disela-sela tawanya. Pria itu kemudian menutup matanya. Dia mengalah. Menahan dirinya dari segala keinginan hingga Lia siap.


"Awas kalau mengintip. Tutup mata dengan tanganmu!" Lia mengangkat sebelah tangan Jason dan meletakannya, menutupi kedua bola mata pria itu.


"Begini? Ah sayang sekali aku tidak bisa melihatmu. Dimana kau sekarang?"


Jason mengulurkan tangan satunya kearah depan dan tanpa sengaja mendarat di dada kenyal Lia.


"Aaaa Jason mesummmm!!!"


Lia berteriak panik lagi ketika sebelah tangan Jason tepat disalah satu dadanya. Bahkan pria itu hampir meremas dada nya. Lia buru-buru menepis tangan Jason. Wajah Lia sudah merah padam menahan malu, sedangkan tubuhnya bergetar hebat menahan perasaan yang mengguncang tubuhnya.


Jason mengintip disela-sela jarinya, dimana Lia bingung dan segera mengambil handuk kemudian membebat tubuhnya. Meskipun sesaat, pemandangan indah itu tidak akan luntur dari ingatan Jason.


Selesai mengenakan handuk, lia mendorong tubuh Jason masuk kedalam kamar mandi.


Jason terkekeh ketika dia membalikan tubuhnya, pintu kamar mandi sudah ditutup oleh Lia. Jason segera melepas pakaiannya dan membasahi tubuhnya dengan air dingin. Terasa ngilu dirasakan saat burung Rajawali mendongak marah.


Sementara Lia, terdiam di dalam closet. lia berusaha menenangkan detak jantungnya. Dia berjanji tidak akan lagi mengenakan handuk ketika keluar kamar mandi. Bath robe tampaknya lebih aman. Tubuh Lia masih bergetar dan wajahnya semakin memerah. Lia mengusap dadanya yang telah tersentuh Jason. Satu lagi bagian tubuhnya yang tidak original lagi.


Lia menelan ludah dan merasa lemas. Semakin hari berasa di dekat Jason dia semakin tidak dapat mengontrol tubuhnya. Seakan tubuh dan hatinya menetang pikiran. Lia buru-buru mengusap kewanitaannya yang terasa lembab.


Ah Tuhan sampai kapan aku bisa bertahan.


*


"Kau akan pergi?" Tanya Lia dengan heran pada Jason.


Lia saat ini sedang membantu Jason mengepak beberapa pakaian.


"Iya. Maafkan aku harus meninggalkanmu. Aku ada kepentingan mendesak di London."


Jason menjelaskan rencana keberangkatannya.


"Berapa lama?"


Lia mendongak kearah Jason.


"Sekitar satu atau dua hari." Jawab Jason lirih.


"Hemm.."


"Apakah kau marah?"


"Tidak. Jika itu memang urusan penting. Maka kau harus pergi."


Lia berbicara dengan lirih seraya menutup koper pakaian Jason.


"Jangan cemberut, aku tidak dapat meninggalkan dirimu seperti ini." Ujar Jason sambil membelai wajah Lia.


"Aku tidak cemberut,"


Lia tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, tapi matanya mengerjap sedih.


"Hanya dua hari paling lama. Kau akan baik-baik saja kan?"


"Hemhh," gumam Lia.


Tok. Tok. Tok.


Jason mengetukan jemarinya di atas meja.


"Jasonnnn! Sudah ah." Lia menolak.


"Kau yang mekakukan atau aku yang melakukan lebih dahulu?" Tanya Jason dengan nakal.


Tok. Tok. Tok.


Dengan cemberut manja, Lia menghampiri Jason dan mengecup bibir pria itu.


Jason tersenyum bahagia dengan kecupam ringan di bibirnya.


Dia kemudian menggandeng tangan Lia keluar dari kamar. Sementara seorang pelayan yang sudah menanti di depan kamar, masuk dan mengambil koper Jason.


Di halaman luar, helikopter telah menanti. Jason mengamit tangan Lia enggan melepaskan. Mungkin di lain kesempatan, dia tidak akan mau pergi sendiri tanpa Lia.


"Ah lupa aku punya sesuatu untukmu."


Jason mengeluarkan sebuah box dari dalam saku coat nya. Dia mengecup kening Lia dan memberikan kotak tersebut.


Lia membuka kotak itu dan terbelalak bahagia.


"Jason, ini benar untukku?" Lia berseru bahagia.


Jason mengangguk. Lia sontak melompat dan memeluk leher Jason. Menghujani bibir pria itu dengan kecupan.


"Terimakasih. Terimakasihhhh." Lia tertawa gembira.


Jason merasa senang melihat tawa sukacita Lia. Dia masuk kedalam helikopter dan melambai pada istrinya. Baling-baling helokopter berputar semakin cepat dan meninggalkan mansion. Jason masih memandang mansion yang semakin mengecil di bawah nya. Ah belum juga lima menit dia sudah sangat merindukan gadis itu.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...