
Seperti janjinya, tepat pukul lima, Jason sudah menjemput Lia di kantor Andrew. Kali ini Jason tidak datang dengan cara ekstrim menggunakan helikopter. Tetapi dia sengaja datang dengan cara arrogant. Jason memarkirkan mobil Lamborghini Vaneno tepat di depan lobby.
Dan keberadaan mobil mewah serta seorang pria tampan yang baru saja turun dengan gagah, menyedot perhatian semua orang. Puluhan pasang mata memandang dengan takjub. Beberapa orang mengabadikan moment tersebut.
Sedangkan para wanita tua dan muda, mulai berdiri dengan postur yang mengundang. Semua berharap agar Jason melirik kearah mereka.
Semua mata yang menatap Jason seperti melihat pragawan yang berjalan diatas catwalk.
Reseptionist mulai berdebar dan menduga-duga keperluan kedatangan Jason.
Pria itu langsung melihat gadis incarannya. Dan melangkah mendekati. Dia berhenti tepat dihadapan Lia, yang tidak menyadari kedatangannya dan masih menonton drama korea melalui ponsel.
Pria tampan yang tak lain adalah Jason, tersenyum tipis melihat raut wajah Lia yang serius menonton. Jason membungkuk kemudian melepaskan headphone dari telinga Lia, membuat gadis itu terkejut dan menengadahkan wajahnya.
Saat ini posisi wajah mereka sangat berdekatan. Mata mereka bertatapan. Hembusan nafas saling menerpa di wajah sosok yang berada dihadapan. Sesaat Lia tertegun memandang Jason, mengabaikan mulut-mulut yang ternganga menyaksikan adegan tersebut.
"Eh, kapan kau datang?" Tanya Lia dengan gugup.
Kemudian dengan gugup pula, Lia langsung berdiri tanpa menyadari Jika Jason masih membungkuk dekat dengan dirinya. Hasilnya, DUK! Kepala Lia menatap kening Jason.
"Aduh! Kenapa sih kamu gak minggir?!" Ujar Lia kesal.
"Kamu juga, sudah tahu aku ada dihadapannmu, kenapa langsung berdiri." Balas Jason kesal.
"Ih... kepalaku sakit tau." Dengus Lia dengan jengkel, sambil mengusap bagian kepalanya yang membentur kening Jason.
"Keningku merah. Coba lihat." Jason menunjukan keningnya yang sedikit memerah. Sebenarnya benturan itu tidak sakit. Tetapi Jason senang sekali menggoda Lia.
"Ya sudah maaf." ujar Lia bersunguh-sungguh.
Lia merasa risih ketika menyadari puluhan pasang mata menatap mereka. Dia khawatir bagaimana jika Briant melihat, jangan-jangan pria itu akan mengira dirinya mempunyai hubungan serius dengan Jason.
"Ayo kita berangkat," Jason mengulurkan tangannya menggandeng tangan Lia.
Gadis itu menepiskan tangan Jason.
"Gak usah gandengan ah, aku bisa jalan sendiri." Ujarnya risih.
"Kalau begitu aku gendong ya." Ancam Jason.
"Gak mau!" Lia melangkah dengan cepat mendahului Jason yang tersenyum lebar melihat sikap gadis itu.
Jason membukakan pintu untuk Lia dan membantu gadis itu masuk. Kemudian dia memutar dan masuk kedalam mobil dibalik kemudi. Lamborghini Vaneno, mulai melaju meninggalkan kantor Andrew, meninggalkan puluhan pasang mata yang terpesona.
Di dalam mobil dengan design yang super mewah itu, Lia terkagum. Dia tidak menyangka, bisa menaiki mobil jenis Lamborghini yang jauh lebih mahal daripada milik Raffi Ahmad.
Angannya melayang, ingin sekali dia berfoto-foto ria dan membagikan di instagram. Tetapi keinginnanya dia tahan. Lia malu dan gengsi dengan Jason. Pria itu akan menemukan cara untuk meledeknya.
"Kemana kau akan membawaku?" Tanya Lia memecahkan kesunyian.
"Makan malam." Jawab Jason singkat.
"Hemmm." Lia bergumam.
"Kenapa?"
"Masih sore belum lapar." Jawab Lia.
Sebetulnya bukan itu yang menjadi permasalahannya. Pria disampingnya ini datang dengan mobil super mewah, berpenampilan sangat tampan dengan semerbak parfum mahal di tubuhnya. Sedangkan Lia, wajah sedikit berminyak dan pakaian kantor.
Lia diam dan menikmati alunan musik yang dikumandangkan dari mobil tersebut. Ingatannya melayang pada percakanpannya dengan Raja tadi siang.
"Kau serius akan kencan lagi dengan tuan Jason?" Tanya Raja tidak percaya ketika mereka menikmati makan siang di kantin.
"BUKAN KENCAN TAPI BAYAR HUTANG!" Ujar Lia menegaskan.
"Mana ada juga bayar hutang dengan jalan-jalan, makan gratis," celetuk Meta disisi Raja.
"Ada sayang, jika kau berhutang padaku." Ujar Raja dengan lembut.
"Ah, baby." Meta tersipu malu.
"Nah kan, hanya untuk yang tersayang." Ujar Raja seraya menatap Lia.
"Udah ah, jangan membuatku ge-er. Mana mungkin Jason tertarik dengan ku. Gak ah, terlalu jauh. Mending aku konsentrasi saja dengan Briant. Hehehhehe..." Lia tersenyum simpul.
Perkataan Raja membuatnya berpikir saat ini. Masa sih, Jason suka dengan dirinya. Lia merasa kalau karakter dirinya sangat jauh berbeda dengan Diana. Diana yang anggun, sabar dan lembut. Sedangkan dirinya suka meledak-ledak, sembrono dan cerewet menurut Jason.
"Apa yang kau lamunkan?"
Jason mengejutkan Lia.
"Gak ada."
"Kenapa diam saja sedari tadi, tidak biasanya," Jason melirik pada Lia.
"Lagi menikmati musik." Alasan asal yang diutarakan Lia.
"Ah... ternyata kau menyukai lagu barat juga."
"Memangnya kau pikir?"
"Aku pikir lagu korea saja."
Lia tergelak. Jason menoleh heran.
"Aku suka semua lagu, asal enak." Ujar Lia kemudian.
"Asal jangan yang genre underground, teriak-teriak, itu baru aku gak ngerti."
Jason mengangguk.
Empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah Hotel. Jason turun dan membukakan pintu untuk Lia. Lia turun dari mobil dan mulai melangkah di samping Jason. Jason menyerahkan kunci mobil pada petugas vallet yang menerimanya dengan hormat.
Jason membawa Lia ke lobby hotel dan mengajak gadis itu untuk duduk disana. Jam menunjukan pukul 18.15, masih tersisa waktu satu jam lagi sebelum dirinya bertemu dengan Irina Alexa, pertemuan yang sudah diatur oleh ibu Jason.
"Kau ingin memesan sesuatu atau hendak melihat- lihay di butik?" tanya Jason.
"Kita akan makan disini?" tanya Lia balik tanpa menjawab pertanyaan Jason sebelum nya.
"Tidak. Aku sedang menunggu teman. Sekitar empat puluh menit lagi dia akan datang." Jason menjelaskan.
"Ah... kalau begitu aku mau ke toilet dulu ya. Jangan memesan apapun untukku."
"Baiklah."
Lia menemukan toilet setelau bertanya kepada seorang pelayan. Dia segera membersihkan minyak di wajahnya, kemudian berkumur dengan mouth wash. Untung saja, Lia selalu menyiapkan semua perlengakapan kecil itu didalam tas. Kemudian ia mulai mengoleskan bedak dan merapikan alisnya. Sentuhan terakhir Lia memoleskan lispstik dan menyemprotkan minyak wangi di tubuhnya.
Menyebalkan sekali bukan? Kenapa juga Jason mengajak Lia keluar di hari jumat sore, selepas jam kantor. Bukannya lebih baik hari sabtu sehingga Lia masih sempat berdandan lebih rapi.
Apalagi tempat yang di pilih adalah hotel berkelas. Belum lagi mobil Lamborgini Vaneno yang menjemput, membuat Lia merasa tenggelam seperti seekor kucing liar. Dasar Jason tidak berperasaan. Lia menggerutu.
Keluar dari toilet, Lia mendapati Jason sudah berbincang dengan seorang pria. Dengan ragu Lia menghampiri mereka.
"Kemarilah." Panggil Jason yang melihat Lia ragu.
"Perkenalkan ini Erick," ujar Jason menunjuk pada pria di hadapannya.
Lia mengulurkan tangan dan mereka berjabatan tangan sesaat. Lia memilih sofa tunggal, menolak Jason yang meminta dirinya untuk duduk disamping pria itu.
Erick dan Jason tampaknya asyik membicarakan sesuatu tentang pekerjaan dan tampaknya sangat penting. Lia yang tidak ingin campur tangan dengan percakapan mereka, memilih untuk menuju ke area makanan dan melihat menu yang disediakan di lobby.
"Kau gila Jason. Kenapa membawa wanita itu disini? Bukannya hari ini kau akan berkencan dengan Irina Alexava?" tanya Erick segera ketika Lia menuju ke etalase kue.
"It's okay. Wanita yang mendampingi ku harus tangguh." Ujar Jason dengan sombong.
"Hati-hati bro, bisa jadi yang kau sayangi yang lebih terluka." Erick memperingatkan.
"Kita lihat saja nanti. Kau jangan pergi. Kau harus ikut."
"Aku tidak mau ikut campur dalam permainan ini," tolak Erick.
"Mau aku pindahkan kau ke tengah laut?" Ancam Jason.
"Kenapa selalu mengancamku dengan hal seperti itu. Bagaimana aku bisa menemukan wanita di tempat itu," gerutu Erick kesal.
Jason terkekeh. Erick seorang casanova yang suka sekali berganti-ganti wanita. Erick seringkali membawa Jason bersamanya ke club atau kencan dengan wanita-wanita cantik. Meskipun demikian, Jason tidak pernah menyentuk dan tertarik dengan satupun wanita tersebut.
Semua wanita dari berbagai kalangan dan profesi berlomba mendekati Jason sang bachelor, tetapi semua hanya dapat menemani Jason sebatas makan dan minum saja.
Tidak ada satupun yang berhasil membawa Jason ketempat tidur. Meskipun begitu, para wanita tersebut selalu menyebarkan rumor jika mereka berhasil tidur dengan Jason, untuk menghindari rasa malu karena tidak berhasil memikat pria tampan itu. Dan Jason membiarkan rumor itu berjalan.
Lia memutuskan untuk tetap tinggal dan duduk di meja bar sambil menikmati satu scoup hazelnut gelato. Dia menikmati es cream tersebut sambil menikmati alunan musik piano yang berdenting indah.
Dentingan suara piano tersebut terdengar sangat indah mengalun. Meskipun mereka yang berada di lobby, tampak lebih sibuk berbincang daripada mendengarkan alunan suara piano.
Jason memperhatikan Lia dari tempatnya duduk. Dan dia melihat ada seorang pria yang hendak menghampiri gadis tersebut. Tetapi belum sempat pria tersebut duduk di samping Lia, Jason terlebih dahulu berdiri di sisi gadis itu. Tentu saja pria tersebut langsung mundur teratur, membuat Erick tersenyum sendiri melihatnya.
Tanpa bertanya, Jason mengambil sendok di tangan Lia dan menyendok gelato tersebut kemudian memakannya. Lia terkejut dengan keberadaan Jason yang tiba-tiba ada di sisinya dan mengambil sendok es cream dari tangannya.
"Hei itu punyaku," Lia melotot ke arah Jason yang kembali mengambil es cream gelato dan memakannya.
"Hazelnut ya, kau tahu juga kesukaanku." kata Jason sambil terus menyendok es cream gelato tersebut dan membiarkan Lia cemberut.
"Kenapa dihabiskan?" rengek Lia kesal ketika melihat es cream gelato nya hampir habis.
"Beli lagi sana." ujar Jason tidak perduli.
"Tapi itu punyaku, kenapa bukan kau saja yang membelinya," sahut Lia kesal.
"Lebih nikmat memakan punya mu," jawab Jason asal.
"Itu scoop rasa Hazelnut terakhir," sahut Lia dengan sedih.
"Kau mau? ini masih ada jejak rasa di bibirku," ujar Jason setelah memakan sendok terakhir dan mendekatkan bibir nya ke arah Lia.
"Ih, jorokkk mesum. Dasar la..." Lia sontak menutup mulutnya takut tergelincir kata lalat buah.
"Lanjutakan kalimatmu," tantang Jason.
"Gak. Sudah aku rela kok. Mau aku belikan rasa lain?" ujar Lia sambil menyengir.
Jason diam, dia mengambil segelas air putih milik Lia dan menghabiskan nya. Lia kembali melotot kesal. Dia bahkan belum sempat meminum air putih untuk membasuh sisa gelato di kerongkongannya. Tapi pria satu ini malah menghabiskannya dan hanya tersenyum jahil melihat Lia yang kesal.
"Jason, nona Irina sudah menanti," ujar Erick yang sudah berada di dekat mereka.
Siapa lagi yang datang, pikir Lia dengan heran.
"Ayo kucing kecil ikuti aku." Jason menepuk bahu Lia perlahan.
Lia mematuhi dan mengekor di belakang Jason. Di sofa itu sudah duduk dengan anggun seorang wanita yang luar biasa cantik di mata Lia. Wanita tersebut duduk dengan anggun. Wajah dan tubuhnya begitu sempurna, membuat Lia terkagum kepadanya.
Lia berusaha mengingat, apakah wanita ini adalah salah satu selebrity, model atau aktris pemenang oscar. Karena jika melihat kecantikan dan postur tubuhnya, dapat dipastikan wanita tersebut pasti seorang yang ternama.
Wanita itu tersenyum dengan sensual menatap ke arah Jason. Dia berdiri dan lagi-lagi postur tubuh tinggi nya sangat cocok sebagai seorang model papan atas.
Jason mengulurkan tangannya dan mereka bersalaman.
"Jason Madison."
"Irina Alexava."
"Mereka adalah Erick dan Lia." ujar Jason memperkenalkan.
"Ah... kau membawa assisten dan sekretarismu di kencan pertama kita. Menarik sekali." ujar Irina dengan tersenyum kecil.
Lia hendak menyahuti kalau dia bukan sekeretaris Jason, tetapi melihat sikap sombong wanita yang awalnya dia kagumi kecantikannya itu, Lia memilih diam dan membiarkan praduga wanita itu.
Jasson tidak menyangkal juga. Dia memberi kesempatan pada Lia untuk menyangkal. Melihat Lia yang diam saja dan hanya tersenyum, membuat Jason heran.
Sesungguhnya dari tadi Irina sudah melihat keakraban antara Jason dan Lia di meja bar. Dia melihat bagaimana Jason menikmati Es Cream milik Lia dan mencondongkan wajahnya ke arah gadis itu.
Irina yang awal nya merasa kesal, berusaha menahan diri. Melihat pakaian yang di pakai oleh Lia, Irina menyakinkan diri jika Lia bukanlah salah satu sainganya untuk menjadi pasangan Jason.
Dan tepat ketika Jason memperkenalkan diri, Irina berusaha memancing reaksi mereka dengan mengucapakan kata sekretaris. Melihat ketika kedua nya tidak menyangkal, Irina sedikit merasa lega. Karena dia yakin, keluarga Madison tidak akan mungkin membiarkan Jason menikahi seorang sekretaris.
"Haruskah kita makan malam bersama?" tanya Irina dengan sopan.
"Tidak!" jawab Jason.
Jawaban Jason membuat Irina, Lia dan Erick menjadi bingung. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Irina mengira jika Jason akan memperintahkan sekretaris dan assistentnya untuk pergi. Dan dia senang karenanya. Bagaimanapun juga, Jason tidak mungkin melanggar janji kencan yang sudah diatur dua keluarga.
Sementara Lia merasa jengkel, kenapa juga pria ini mengajaknya kencan, jika ternyata dia ada janji dengan wanita lain. Apalagi wanita cantik ini sombong, mengucapkan kata sekretaris dengan nada menghina. Memang benar dirinya sekretaris, tapi bukan sekretarisnya Jason, melainkan sekretaris Briant.
Sementara Erick berdebar. Jika sampai Jason meninggalkan Irina dan lebih memilih Lia, maka bisa dipastikan Erick akan mendengarkan omelan Nyonya besar tiada henti.
Jason melirik ke arah Lia yang tampak kesal, Erick yang cemas dan Irina yang percaya diri. Dia tahu semua sedang menanti keputusan dirinya.
"Lalu?" tanya Irina dengan senyum manisnya.
Ini visual Irina Alexava.