48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Sangkar Emas



Mansion kembali menghadapi kekacauan. Butler Bernard kembali di buat pusing dengan tingkah nyonya muda nya. Masa-masa tenang yang baru beberapa bulan dia rasakan, berubah menjadi nightmare. Dia tidak bisa menikmati hari dengan santai lagi.


Kenapa? Karena Lia ngambek. Kenapa dia ngambek? Karena Jason meninggalkan dirinya sendirian lagi di Mansion. Tentu saja larangan-larangan kembali muncul. Lia harus tinggal dalam pengawasan Butler Bernard dan kepala Pengawal Carlos. Jika hal buruk terjadi diluar dugaan, maka akibat buruk akan terjadi pada mereka berdua.


Hal itu dimulai tiga hari yang lalu. Ketika Jason mengatakan pada Lia, jika dirinya akan pergi ke America, tepatnya di Miami. Mendengar kata Miami, Lia langsung bersorak girang dengan mata berbinar. Itu, artinya dia bisa bertemu dengan kakak yang dia rindukan.


"Aku akan pergi ke America untuk sekitar satu minggu." kata Jason.


"America? Miami?" Lia bersorak girang.


"Iya."


"Huaaa.... Aku sudah lama merindukan Miami. Aku akan bersiap-siap." Lia dengan semangat meloncat dari tempat tidur.


"Kau tidak ikut." Suara Jason terdengar datar, tapi cukup membuat Lia terperanjat.


"Apa katamu?" Lia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jason, memastikan pendengarannya salah.


"Kau tinggal di Mansion. Aku akan pergi dengan Erick ke Miami."


Lia menatap Jason gusar. Bagaimana bisa pria itu merusak kebahagiannya begitu saja dengan tenang. Apa dia tidak tahu, betapa sangat dia merindukan bertemu dengan Diana dan keponakannya. Jason terlalu egoise. Dan Lia langsung memasang wajah memelas, menyembunyikan kekesalan hatinya.


"Kenapa aku tidak boleh ikut? Aku ingin bertemu kakak ku." Rengek Lia memelas.


Jason menggelengkan kepala teguh pada pendiriannya.


"Pleaseee... aku gak akan nakal disana. Pleaseee... bahkan aku belum melihat tiga keponakanku yang kembar." Lia menggosok-gosokan kedua telapak tangannya penuh harap.


"Kau sering melakukan video call dengan mereka setiap saat." Sanggah Jason.


"Tapi, aku ingin menggendong mereka." Bantah Lia.


"Minta Diana untuk datang kemari." Sahut Jason datar.


"Itu tidak mungkin, karena Adel harus menjalankan perawatan intensif."


"Maka kau harus menunggu."


"Menunggu apa lagi?"


"Berikan aku anak, maka aku akan membawa mu ke Miami." Ujar Jason dengan perlahan namun tegas.


"Kau menyebalkan! Anak bukannya juga kau yang harus ambil bagian." Sahut Lia dengan kesal.


"Tentu saja aku akan selalu ambil bagian."


Tangan Jason mulai merambat ke dalam gaun Lia, mengusap paha ramping itu. Lia yang kesal dan sangat marah dengan Jason, menepis tangan suaminya dengan kasar. Dia tidak ingin membiarkan Jason mendapatkan keinginanya dengan mudah.


"Lepaskan! Aku tidak mood!"


"Baiklah!"


"Kau menyebalkan!" Lia memukul Jason dengan bantal beberapa kali.


"Bukannya dokter bilang, agar kau berhenti bekerja dan beristirahat dulu. Ini bukan salahku jika kita belum punya anak. Kau yang bekerja terlalu keras. Aku bahkan belum mendapatkan bulan madu." Rengek Lia dengan kesal.


"Iya maafkan aku. Aku janji setelah ini, kita akan berlibur."


"Berlibur? Benarkah?" Mata Lia menyeringai lebar.


Jason mengangguk sambil mengecup kening Lia.


"Jadi, aku boleh kan ikut ke Miami?"


"Tidak!"


"Yakin? Melarikan diri kemana? Prancis sangat menakutkan di malam hari. Banyak geng mafia yang berkeliaran, Menculik wanita tanpa identitas dan menjual mereka. Apa kau mau menjadi salah satu korban?" ujar Jason menakut-nakuti.


"Kau menyebalkan!"


"Iya aku tahu, aku memang menyebalkan."


"Jangan peluk-peluk!" Lia meronta dari pelukan Jason.


"Sshhh... tenanglah, ini tidak akan lama. Seminggu adalah waktu yang cepat, kau akan segera melupakan kerinduanmu padaku." Bisik Jason lembut.


"Aku tidak akan merindukanmu. Kau menyebalkan."


Sahut Lia dengan kesal.


"Hemmm... Aku pasti akan merindukanmu. Tapi, kau tetap harus tetap disini." Bisik Jason sambil mempererat pelukannya pada Lia.


Jason tidak membawa Lia kembali ke Miami, karena pada dasarnya Jason masih takut jika Lia memutuskan untuk tetap tinggal di Miami. Apalagi jika Lia bertemu dengan Briant. Jason masih khawatir dan belum sepenuhnya percaya diri, jika Lia akan tetap memilihnya. Jason terlalu mencintai Lia, hingga pria itu selalu memikirkan segala sesuatu, hingga kemungkinan terkecil sekalipun.


Malam itu Lia terlelap dalam kejengkelan di pelukan suaminya. Sifat posesif Jason yang membuatnya kadang merasa nyaman, kadang merasa terkekang. Setiap tindakan dan aktifitasnya selalu dalam pengawasan Jason. Lia bahkan hanya sekali menikmati kebebasan, shopping dengan Laurent.


Dan hari ini, Butler Bernard dibuat pusing, karena Lia tidak mau keluar kamar seharian. Gadis itu mengurung diri. Dia mengusir setiap pelayan yang mengetuk pintu. Dia memyuruh mereka membawa pergi makanan yang dibawa untuk dirinya. Lia mogok makan.


Butler Bernard tentu saja sangat khawatir, Jika Lia sampai mogok makan dalam jangka waktu yang lama, maka akan menyusahkan dirinya apabila nyonya muda itu sampai sakit. Entah apa yang akan terjadi pada semua pelayan jika Lia sampai sakit.


Untuk itu, Butler Bernard sudah terlebih dahulu melapor pada tuan mudanya, Jason. Mengetahui laporan dari Butler Bernard jika setengah hari ini Lia sama sekali belum keluar dan makan sesuatu, membuat Jason tidak dapat berkonsentrasi penuh dalam meettingnya. Lia sangat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan Jason. Dan pria itu terlalu amat sangat perduli pada Lia.


Sedangka Lia hanya diam saja di kamar, bermain tablet dan mencari serial terbaru drama Korea. Dia bahkan tidak berani menghubungi Diana, karena khawatir kakaknya itu bisa melihat kesedihan di wajah Lia. Lia juga tidak menghiraukan panggilan telphone dari Jason yang menghubunginya berkali-kali dan mengirimkan pesan.


Ponsel berdering lagi. Lia melirik dengan malas. Laurent menghubunginya.


"Ya." Jawab Lia malas.


"Kemana saja dirimu? Bagaimana dengan janjimu padaku?" todong Laurent langsung.


"Aku dalam sangkar emas."


"Maksudmu?"


"Kakak mu mengurungku di mansion, lagi."


"Lagi?"


"Ah sudahlah... Mengenai Erick, urusan nanti saja. Toh dia juga tidak ada di Prancis." Sahut Lia malas.


"Baiklah. Aku sekarang sedang di Praha. Besuk aku akan kembali ke Prancis. Jangan khawatir, aku akan menemuimu dan membebaskan dirimu dalam sangkar emas." Janji Laurent.


"Hemm... iya. Dan aku akan membawa sandera ketika bisa keluar nanti."


Mereka berdua tergelak.


"Siapa yang akan kau jadikan sandera?" tanya Laurent penasaran.


"Hahaha... kau akan tahu nantinya."


"Baiklah. bertahanlah sampai besok." Laurent terkekeh sambil mematikan sambungan telphone mereka.


Lia merebahkan dirinya kembali dengan bosan. Saat itu Perhatiannya terpaku pada sesuatu di balik lampu kamar, yang terpasang di sudut langit-langit kamar. Sesuatu yang berkedip. Dan saat itu, Lia baru menyadari jika suami posesifnya sudah memasang kamera di dalam kamar.


Perlahan Lia memperhatikan setiap sudut kamar. Dia bersikap seperti sedang menonton serial drama Korea dengan meletakan tab diatas kepalanya. Mata Lia jelalatan. Dan dia berhasil menemukan cctv di dalam kamar, closet dan kamar mandi.


Hmmm... Lia tersenyum dalam hati. Jika Jason sudah membuatnya kesal dengan mengurung dirinya dalam Mansion ini. Maka, lia bersiap akan membuat Jason meradang berada di tempat yang berjauhan dengan dirinya. Berisaplah Jasonnnn! teriak Lia dalam hati