48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Shopping



Sudah sebulan berlalu. Kandungan Lia sudah mencapai usia delapan minggu. Tentu saja wanita satu ini, meskipun seringkali merasakan lelah, dia tidak pernah mengeluh. Apalagi, bagian mual-mual dan ngidam bukan dia yang merasakan.


Adonia yang tidak pernah melihat sisi aneh tuan mudanya, seringkali bengong dengan tingkah Jason yang dia lihat seperti anak kecil. Mood nya berubah-ubah dengan selera makan yang berantakan.


Pernah suatu hari Adonia dikejutkan, karena tuan muda nya menginginkan warm lava cake. Kue yang jika di belah, maka lelehan coklatnya akan keluar. Begitu nikmat di sajikan dengan teh hangat ataupun susu jika menyukainya.


Tentu saja Adonia heran, karena tuan muda bukan pencinta makanan manis. Dia selalu menjaga kesehatan dengan makanan bergizi dan memenuhi syarat empat sehat lima sempurna. Guka hanya menimbun lemak dan tidak bagus untuk kesehatan, itu moto tuan muda Jason.


Tapi, apalagi hari ini______ Adonia hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak akan ada satupun penghuni mansion yang percaya padanya, jika dia mengatakan saat ini tuan muda sangat suka memakan kembang gula kapas. Bibir tuan muda pun sampai belepotan ketika memakannya. Seperti layaknya anak kecil


"Bohong kau Adonia_____ mana mungkin tuan muda seperti itu, jangan suka buat gosip!" Olok Cicilia dan semua pekerja di Mansion.


"Ihh ... aku kasih tahu kok gak percaya. Sejak kapan aku suka gosip?" ujar nya dengan melotot lewat video call.


"Yeaaa ... tetap saja kami tidak percaya. Tuan mudaa saja kadang minum teh tanpa gula. Jarang menyentuh cake. Coba ingat, kita menyiapkan dessert makan malam, jarang sekali kan menyajikan cake. Apalagi coklat cake." ujar Cicilia panjang lebar.


"Kalian ini, menjengkelkan. Ya sudah lain kali aku tidak mau cerita lagi. Jangan tanya-tanya padaku tentang kabar terbaru tuan muda dan nyonya kecil." Ujar Adonia bersungut-sungut.


"Loh kok ngambek. Kami tidak percaya jika tidak ada bukti."


"Kalian mau aku memfoto tuan muda, mana aku berani?"


"Tetap saja kami tidak percaya," ujar pelayan lainnya di mansion.


Sebelum sempat, Adonia menyahuti mereka lagi, dia mendengar suara pintu di buka. Segera saja Adonia mengintip dari balik dinding pembatas. Jason dan Lia tampaknya baru saja datang. Dan kebetulan sekali mereka membawa kembang gula kapas. Adonia melonjak kegirangan. Tak akan ada lagi yang akan menuduhnya pembohong.


"Tuh lihat ...." Adonia mengarahkan ponselnya ke arah Jason dan Lia secara diam-diam. Dia masih bersembunyi di dinding pembatas.


"Aaa ...."


Jason membuka mulutnya dan Lia memasukan gula kapas yang ada ditangannya. Dengan lahap Jason memakan dan menyesap rasa manis yang seketika meleleh di mulutnya.


"Aaaa ...."


Lagi-lagi dia memakan suapan besar gula kapas itu dengan nikmat, bahkan hingga menyesapi sisa-sisa gula kapas yang lengket di jemari Lia.


"Ih ... geli!" Lia tertawa kecil menahan rasa geli.


"Ini buatku saja. Ibu hamil tidak boleh banyak-banyak makan yang manis-manis. Nanti kalau gigi sakit, berbahaya." Jason mengambil stick kembang gula dari tangan Lia.


"Ih alasan! Kata siapa gak boleh makan manis."


"Kalau hamil dan bermasalah dengan gigi, iyu berbahaya. Gimana kalau bolong giginya? Mau tembel saja harus konsultasi panjang lebar dengan dokter gigi. Apalagi kalau mencabut gigi, bisa berbahaya dan menyebabkan keguguran. Apalagi kebanyakan gula bisa menyebabkan baby terlalu aktif sehingga perkembangannya kurang bagus. Belum lagi bisa membuat ibu hamil gemuk dengan cepat. Apa kau mau gendut?"


Lia terperangah menatap Jason yang berbicara panjang lebar mengenai kehamilan. Bukankah pria ini dulunya bahkan tidak paham mengenai proses kehamilan dan tumbuh kembang janin. Kenapa sekarang sok jadi profesor.


"Sok tahu kau. Berapa lama ibu hamil saja tidak tahu." cemooh Lia. Mengingat saat pertama mereka berada di ruangan dokter luccy. Jaaon bahkan sampai marah karena mengetahu harus menunggu sembilan bulan untuk melihat bayinya.


"Aku sudah paham sekarang. Semua sudah aku pelajari dari google. Zaman sudah canggih sayang, aku tidak perlu lagi kembali ke sekolah untuk mempelajarinya." Sahut Jason dengan sombong.


Lia menatap suaminya penuh kekagumanan. Tidak banyak pria yang mau sibuk merasakan kehamilan seorang istri. Jason terlampau mendalami perasaan seorang ibu hamil. Bahkan dirinya lebih cemas dari pada Lia sendiri.


Sementara itu Adonia terkekeh saat melihat reaksi teman-teman pelayan yang ada di mansion. Semua membentuk reaksi yang sama. Mata terpaku dan bibir yang membentuk bulatan O. Mereka tidak percaya dengam apa yang baru dilihat. Tuan muda menyesapi kembang gula kapas, hingga sisa-sisa kapas itu ada yang menyangkut di jambangnya.


...********...


GALARIES LAFAYATTE.


Saat ini sepasang suami istri yang saling jatuh cinta ini, sedang asyik berjalan sambil berpelukan. Mereka berada dalam gedung mall yang ternama di Paris. Gedung yang banyak menjual barang-barang branded kelas dunia. Mall ini lebih banyak dikunjungi oleh kalangan atas yang berdompet tebal. Karena segelas kopi saja bisa mencapai dua puluh euro.


Memasuki salah satu toko branded, Lia melepaskan pelukan Jason.


"Aku mau lihat-lihat dulu ya." Ujar Lia sambil mengerlingkan mata.


Berbeda dengan kakaknya Diana yang sangat menjaga pengeluaran untuk barang bermerk, yang harganya fantastic. Lia berbeda. Meskipun tidak berlebihan, dia senang sekali memanjakan diri dengan membeli barang branded. Karena bagi Lia yang selalu berdiri berdampingan dengan Jason, dia tidak boleh mempermalukan pria itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang pramuniaga disana.


"Aku ingin melihat itu," Lia menunjuk pada sebuah tas yang berada didalam lemari kaca. Tampak diperlakukan sangat khusus.


"Ah, mata yang jeli sekali nona. Tas itu merupakan produk Limited edition. Hanya diproduksi sebanyak dua puluh buah dan tersebar hanya di kota besar dunia." ujar pramuniaga itu dengan percaya diri.


Gadis pramuniaga yang berpenampilan sangat anggun itu, berjalan menuju etalase, membuka kunci dan mengeluarkan tas berwarna kuning stabilo dengan logam emas juga hiasan berlian menghiasi.


"Aow! Ini tas yang aku cari. Bagus sekali." Seorang wanita tiba-tiba datang menyambarnya dari tangan pramuniaga tersebut, membuat wanita yang baru saja mengambil tas untuk ditunjukan kepada Lia menjadi kaget. Hal ini sungguh tidak sopan.


"Maaf, Nona. Tas ini hendak di lihat oleh Nona yang disana." ujar sang pramuniaga, menunjuk pada Lia.


"Tapi aku yang memegang duluan, jadi aku yang berhak memilikinya." Ujar gadis cantik dengan rambut hitam legam berombak. Make up dan penampilan gadis itu sangat glamour. Dia berbicara dan bersikap percaya diri, hanya memandang Lia sekilas saja.


"Tapi nona______" pramuniaga itu berusaha mempertahankan hak Lia. Apalagi, Lia adalah salah satu pelanggan tetap yang tidak bawel. Pelanggan lainnya, selalu meminta hal berlebihan dan memperlakukan mereka pekerja toko sebagai seorang pesuruh.


"Biarkan saja. Aku bisa memilih yang lainnya. Masih banyak tas lain yang tak kalah bagus.." ujar Lia acuh. Meskipun dia menginginkan tas tersebut, tapi bukan berarti dia harus adu mulut mempermalukan diri dan melukai perasaan orang lain. Masih banyak merk ternama lainnya yang bisa menjadi pilihannya.


"Maafkan saya, Nona." Ujar pramuniaga tersebut.


"Banyak yang bagus. Tapi seri ini terbatas. Dan keanggunan mu terpancar dengan membawa tas ini." Ujar wanita tersebut yang dengan percaya diri, mendekap tas tersebut penuh perasaan.


"Semua tas bisa menjadi berharga, tergantung siapa yang memegangnya. Bukan sebaliknya." Ucap Lia sambil tersenyum simpul_____" Aku mau lihat yang itu." tunjuknya pada sebuah tas berwarna tosca. Design tas itu tampak simpel, namun warnanya yang elegant membuat tas tersebut tampak berbeda. Selain terdapat berlian besar ditengah kunci gembok tas dan juga disetiap ujung pegangan.


"Kau membuatku tidak menginginkan tas ini," ujar gadis itu sambil melirik pilihan Lia ________ "Pilihanmu bagus juga," ujar ya dengan iri.


"Mau tukar ga?" ujar nya dengan tanpa malu.


Lia menatap gadis itu heran. Apa mau nya coba. Apa dia tidak bisa menentukan pilihannya sendiri?


"Tidak. Aku akan membeli ini." Ujar Lia tegas.


"Memangnya kau bisa membayarnya?" ujarnya mencemooh sambil memandang raut wajah Lia yang minim make up. Gaun yang dikenakan Lia memang branded. Jam tangan juga branded, tapi siapa yang tahu jika barang itu palsu atau bukan.


"Kenapa itu menjadi urusan anda, nona?" Lia dengan gusar menaikan satu alisnya.


"Sayang sekali benda sebagus itu hanya di beli sehari kemudian dikembalikan lagi." Ujarnya dengan terkekeh.


Lia tidak menghiraukan perkataan wanita itu. Dia memberikan tas itu kepada pramuniaga untuk melanjutkan pembayaran. Kemudian Lia berjalan menghampiri Jason yang duduk tenang di ruang tunggu.


"Eh, tunggu! Siapa namamu, wanita sombong!" Dengan membawa tas kuning di tangannya, wanita itu berjalan cepat menyusul Lia.


"Tu____ tuan Jason Madison?" Suara wanita itu tercekat ketika melihat Lia duduk disisi Jason.


...❤❤❤❤❤❤...


Habis ini ada tanjakan sedikittt yaaa.