
...~"Rahasia bukan lagi rahasia, jika bukan hanya kau dan aku yang mengetahuinya."~...
...❤❤❤❤❤❤❤...
"Tuan besar ...."
Lia terkejut ketika dia melihat pria tua itu duduk dalam keheningan malam di ruang keluarga. Lia bermaksud untuk mengambil segelas air dingin di mini bar yang ada diruang keluarga. Dia tak menyangka jika akan melihat ayah mertua, yang tak mengakuinya.
Mata Darrel Madison menatap sekilas pada Lia, tanpa memperdulikan menantunya. Dia masih terus menghisap cerutunya sambil menatap kegelapan. Wajahjya datar tanpa expressi. Tidak ada guratan lelah dan beban disana, seperti yanh dirasakan oleh Lia dan Jason. Mungkin, hari ini hanyalah permainan bagi pria itu.
Lia berjalan perlahan, kearah bar. Dia merasa canggung berada dalam satu ruangan dengan tuan besar Darrel Madison. Sebenarnya, Lia bermaksud mengurungkan niatan untuk mengambil segelas air dingin. Tapi, menghindari pria tua itu, berarti dia lemah dan mudah ditindas. Lia tidak ingin memperlihatkan kesan itu.
"Duduklah! Kita perlu bicara!" ujar tuan besar saat Lia baru saja selesai menuangkan air.
Lia menghela nafas, menegak habis air dingin kemudian meletakan gelas kosong di atas meja bar. Wanita hamil itu lalu berjalan menghampiri tuan besar. Tanpa permisi, Lia duduk di sofa berjauhan dengan Darrel Madison.
Lia menutup hidungnya dengan kain yang dia ambil dari mini bar. Hal itu dia lakukan untuk mencegah menghirup lebih banyak nikotin, dari cerutu yang ditiup oleh tuan besar. Lia berusaha mengurangi efek berbahaya untuk bayinya.
"Untuk apa kain itu?" Darrel Madison merasa risih dari cara Lia menutup saluran pernafasannya dengan kain.
"Saya mau melindungi bayi ini dari racun nikotin," ujar Lia tanpa rasa bersalah.
"Hahaha ... kau terlalu terus terang, Gadis desa." Darrel Madison segera mematikan cerutunya dan menyesap segelas brandy.
Lia tersenyum dibalik kain yang menutupi sebagian wajahnya. Terlalu awal untuk merasa menang, hanya sebuah cerutu belum bisa membuktikan apapun.
"Kenapa sekarang tidak kau lepaskan kain itu?" ujar Darrel yang merasa sudah mematikan cerutunya.
"Masih ada sisa nikotin berterbangan, Tuan besar. Beberapa saat lagi, saya akan melepaskannya," ujar Lia yang masih bisa mencium aroma keras cerutu dari balik kain.
"Baru kali ini, aku berhadapan dengan gadis desa yang SOK!" Darrel Madison menekankan kata sok.
"Berapa bulan kandunganmu?"
"Dua minggu lagi genap tiga bulan."
"Heh! Jangan harap aku akan longgar padamu, meskipun Jason mengatakan jika kau mengandung cucuku." Pria tua itu kembali menunjukan taringnya. Dia duduk bersandar di sofa dengan kedua tangannya memehang bahu sofa. Tubuhnya tampak santai dengan Mata yang menatap Lia penuh selidik.
Lia tak menjawab kata-kata tuan besar. Dia sudah sedikit memahami pria itu dari penjelasan Jason dan tidak ingin berharap lebih. Jika darah dagingnya yang bersebaran saja tidak dia akui, apalagi cucu kandungnya. Benar-benar pria egoise yang tidak punya perasaan. Beruntung sekali, Jason pria yang berbeda.
"Laki-laki ataupun wanita, tidak akan merubah kenyataan jika anak ini memiliki darahmu, Tuan Besar," jawab Lia dengan tegas dan berani.
"Kau mulai melunjak, Gadis desa. Kau pikir aku perduli padamu dan kandunganmu? Meskipun kau melahirkan anak laki-laki, apa kau pikir, aku akan langsung menerimamu sebagai menantuku?" Darrel Madison terkekeh mengejek.
"Menjadi selir Jason pun, masih aku pertimbangkan. Tapi aku rasa, gadis dengan status sosial sepertimu, gadis yang hanya bisa memanjat status dengan membuka paha, hanya pantas sebagai wanita hiburan untuk Jason."
"Tuan Darrel Madison! Jaga ucapanmu!" Lia merasa tersinggung dengan perkataan pria tua itu. Membuka pahan. Wanita hiburan? Lia bukan wanita penghibur. Dia dinikahi dengan sah.
"Bagian mana dari kata-kataku yang salah?" tantang Darrel dengan nada mencemooh.
"Kami menikah dengan sah dihadapan Tuhan dan hukum." Lia benar-benar geram dan hampir saja hilang rasa hormatnya pada pria dewasa yang duduk dihadapannya.
"Lalu apa hubunganya dengan diriku? Buktinya kau masih mengharapkan pengakuanku, meskipun sudah diakui Tuhan dan negara, bukan?" Tawa Darrel Madison meledak, seakan-akan dia lebih hebat dari Tuhan dan negara.
"Status sosialmu di berikan oleh Jason. Kekayaan dan nama besar sebagai pemilik lima puluh butik dan hotel, semua dipersiapkan oleh Jason. Bukankah itu bayaran yang terlalu mahal untuk wanita sepertimu. Wanita Materialistis. Entah apa yang kau lakukan sehingga membuat si bodoh Jason, begitu mudah dimanipulasi?" Darrel benar-benar menghina Lia.
Lia menarik nafas berkali-kali. Emosinya sudah memuncak. Dia begitu merasa terhina dengan perkataan tuan besar. Lia berusaha menahan agar emosinya tidak meledak. Jangan sampai dia mencaci maki ayah dari suami yang dia cintai.
Kemarahan hanya membuat semua semakin rumit. Selain itu, Lia harus bisa mengontrol emosi dengan adanya janin yang berkembang dalam kandungannya. Dia tidak ingin, emosi yang meledak membuatnya stress dan berakibat buruk pada janin.
"Saya tidak pernah meminta hal itu. Tapi Jason memahami kedua orang tuanya dengan baik. Dengan status kepemilikan itu, dia berharap agar nama besar anda dan nyonya, tidak tercoreng." Lia menarik nafas dalam-dalam.
"Meskipun demikian, Tuan. Jason membuat saya jatuh cinta karena ketulusan hatinya. Bukan dari harta yang dia berikan," sambung Lia lagi.
"Kau jatuh cinta karena ketulusan? Bukan karena harta? Bukankah dirimu yang membuat perjanjian menikah dengan Jason dengan bayaran Empat puluh delapan juta dolar? Bahkan bayi dalam kandunganmu pun, sudah kau jual dari awal. Kau wanita menjijikan yang mengerikan!" ujar Darrel penuh hinaan.
Loa tersentak. Bagaimana bisa tuan besar mengetahui rahasia dibalik pernikahannya dengan Jason. Bukankah saat itu hanya ada Jason, Lia dan Erick? Mungkinkah pengacara Jason di Miami yang membocorkan rahasia ini. Apakah surat perjanjian itu belum dihanguskan oleh Jason.
Lia bagikan mendengarkan tabuhan peperangan. Tubuhnya bergetar mendengar kata-kata tuan besar. Pernikahan yang diawali oleh sebuah permainan. Sebuah kesalahan. Ternyata bisa berimbas sejauh ini. Lia otamatis menjadi lemas mendengarnya. Sangat sulit menyakinkan orang yang menaruh curiga dari awal, jika pernikahan ini akhirnya berjalan dengan penuh ketulusan.
Darrel Madison menatap Lia penuh kemenangan. Dia yakin semua yang dimiliki oleh gadis ini, hanyalah kepura-puraan semata. Darrel yakin jika dia tidak salah. Karena dirinya pun selalu berakting di setiap kubu, untuk mendapatkan keinginannya.
"Lahirkan bayi itu, jika lelaki kau berikan pada Jason. Jika perempuan, bawa bersamamu. Uang empat puluh delapan juta dolar akan aku berikan padamu, sebelum masa waktu itu habis. Bagaimana? Kita sama-sama beruntung, bukan?"
Darrel terkekeh melihat wajah Lia yang pucat pasi.