48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Mengandunglah



"Pergiiii! Jangan dekati aku!!!" teriak Laurent.


Gadis itu berusaha berlari dengan cepat, tapi pasir pantai menghalangi langkahnya melesit.


Dengan mudah langkah panjang Erick merengkuh Laurent dalam pelukan.


"Lepaskan aku!" Laurent mencengkeram tangan Erick yang melingkari pinggangnya.


"Tenanglah, Laurent. Kita harus bicara." ujar Erick dengan tenang.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita. Semua sudah selesai." sahut Laurent dingin.


"Tidak. Tidak pernah ada kata selesai untuk hubungan kita."


Erick memeluk Laurent dari belakang dengan erat. Kulit tubuh Laurent terasa lembut dalam sentuhan tangannya. Erick sekuat tenang menjaga diri agar tidak berbuat lebih.


Aroma harum tubuh dan rambut Laurent menyeruak masuk dalam penciumannya, membuat Erick merasa terbuai dan menyakinkan dirinya akan perasaannya.


"Aku merindukanmu ...," bisiknya dengan lembut.


Laurent memejamkan matanya merasakan kehangatan dari pelukan Erick. Degup kencang jantung pria itu terdengar jelas di telinganya. Suara bisikan lembut yang menyatakan kerinduan, membuat Laurent sesaat terbuai.


Ingin rasanya dia berputar dan membalas memeluk Erick. Menyembunyikan tubuhnya dalam dekapan Erick. Menghirup aroma maskulin dari tubuh yang sangat ia rindukan.


"Erick ... lepaskan aku ...," bisik Laurent lemah.


"Tidak akan ...," sahut Erick perlahan.


"Semua sudah terlambat Erick. Aku sudah tidak merelakanmu."


"Tapi aku tidak merelakan dirimu!"


"Lepas Erick! Aku sudah menceraikan dirimu! Lepaskan aku!"


"Aku tidak akan membiarkannya, kecuali kau benar-benar sudah tidak mencintaiku."


"Ya! Aku sudah tidak mencintaimu. Ah, salah! Aku tidak pernah mencintaimu."


"Oh ya?" bisik Erick lembut di telinga Laurent.


Desahan lembut suara Erick dengan hembusan napas hangatnya itu membuat bulu kuduk Laurent meremang dan jantungnya berdebar kencang. Dengan sekuat tenaga, ia menahan perasaannya.


"Aku tidak mencintaimu Erick. Kau hanya permainanku," ucap Laurent dengan napas sesak.


"Benarkah? Lalu kenapa jantungmu berdebar?"


"Erick, lepaskan aku!" teriak Laurent lagi takut jika dirinya semakin melemah.


"Aku tidak akan melepaskanmu!"


"Aku sudah menceraikanmu!"


"Oh ya? Kalau begitu kau harus mengandung anakku sebelum kau bisa menceraikanku!"


"Kau Gila! Arkkkhhh! ERICKKKK!"


Laurent menjerit ketika EriCk tiba Tiba saja mengangkat tubuhnya. Pria itu menggendong Laurent bagaikan seorang pengantin. Dia dengan cepat membawa Laurent ke arah kapal pesiar.


"Erickkk mau apa kau?!" teriak Laurent.


Mulut wanita itu berteriak tapi kedua tangannya memeluk leher Erick dengan erat. Sesampainya di kapal pesiar kecil itu, Erick memberi kode pada nahkoda untuk keluar.


"Naik ke atas bukit dan katakan pada tuan muda Jason, jika Laurent bersamaku. Dia tidak akan kembali ke Kastil hari ini."


"Baik, Tuan!" Nahkoda dan seorang anak buahnya segera turun dari kapal tersebut dan menuju ke atas bukit.


"Apa yang hendak kau lakukan. Kau mau menculikku?" teriak Laurent lagi.


"Ya! Aku mau membuat perhitungan denganmu untuk sekian bulan aku tidak bisa memelukmu." Ujar Erick dengan tenang.


Pria itu membawa Laurent masuk ke dalam kamar utama dan meletekananya dengan lembut.


"Erickk ...."


"Sssttt diamlah. Bercerai atau tidak bercerai aku tidak perduli. Kau harus mengandung anakku," bisik Erick.


Pria itu kemudian menindihi tubuh Laurent dam mulai mencium bibir wanita yang sudah dia telantarkan selama beberapa bulan.


Tangan Laurent yang awalnya mencengkeram dada Erick, perlahan melemah. Bibir yang awalnya tidak menanggapi cumbuan Erick, akhirnya mulai membalas.


Sentuhan tangan pria itu yang membelai serian inchi tubuhnya, membuat Laurent terbuai. Ciuman di sekujur tubuh, belaian, remasan membuat akal sehat wanita itu melayang.


Tubuhnya tak dapat berkompromi untuk mengucapkan isyarat penolakan. Karena justru tubuh itu merespon dengan agresif.


Mereka mendesah, meleburkan setiap perasaan kerinduaan bersama. Merengkuh kenikmatan berulangkali bersama-sama.


"Aku mencintaimu Laurent ..." bisik Erick disela-sela hentakannya yang membawa Laurent pada kenikmatan.