48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Oh my God



Lia bagun dengan malas pagi ini. Sinar matahari sudah muncul diufuk timur. Setelah melakukan doa pagi, Lia kembali tertidur. Dan saat bangun lagi, ternyata sudah pukul setengah tujuh pagi.


Lia melirik ke arah Jason dengan heran. Pria itu sudah rapi tanpa pakaian kantor, dan sedang duduk di sofa berkutat dengan laptopnya lagi. Lia beranjak dari tempat tidur mengangkat tangan melakukan stretching (\=molettt istilah kerennya).


Setelah itu Lia melihat kearah tangan kirinya. Dan dia heran kenapa terasa lengket. Lia mengendus dan merasakan bau aneh disana.


Aduhhh aku pasti ngiler semalam. Jangan sampai ketahuan Jason. Bisa habis digodain pria itu. Kucing ngiler... kucing ngiler.. hiiii...


Lia bergidik membayangkan olokan dari Jason.


Lia beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi. Dia mencucui tangannya terlebih dahulu kemudian mencuci wajahnya. Segar. Lia berencana akan berlari pagi mengelilingi taman di belakang


Jason masih diam dan fokus dengan laptopnya. Lia selesai mengganti baju tidur dengan celana ketat dan sport bra nya juga tanktop. Lia mengikat rambut keatas. Siap berolah raga.


Jason melirik Lia heran.


"Mau olah raga?" Tanya Jason.


"Iya. Kau tidak kekantor?" tanya Lia dengan heran.


Jason menggelengkan kepala.


"Tumben," desah Lia lirih. Dia melihat mata Jason sedikit merah.


"Jangan terlalu lama menggunakan laptop, lihat matamu merah," celetuk Lia.


Mataku merah gara-gara dirimu, kucing liar. Kau membuatku tidak bisa tidur semalam dengan igauan mu yang liar.


Ujar Jason dalam hati. Mengingat semalam Lia tidur mengingau dan tangan gadis itu membangunkan Rajawalinya yang sedang tertidur. Membuat Jason panas dingin.


Jason hanya melirik. Lia sedang sibuk mengoleskan sunblock kebagian tubuhnya yang terbuka. Lia sudah bersiap keluar dengan membawa handuk kecil, ketika pertanyaan Jason menahan langkahnya.


"Mau olah raga dimana kau pakai sun block?" Tanya Jason heran.


"Jogging lah."


"Jogging?"


"Iya."


"Kan ada area fitnes di ujung ruangan."


"Males ah, seharian sudah terkurung, olah raga pun terkurung. Aku butuh udara segar biar enggak suntuk." Sahut Lia.


"Tunggu! Tidak boleh keluar seperti itu." Ujar Jason panik.


Dia melihat celana ketat selutut yang membungkus erat kaki Lia. Sport bra yang membuat dada nya makin menonjol apalagi punggung Lia terbuka sempurna.


"Hanya baju ini yang ada di closet." Rengel Lia.


"Pakai ini." Jason membawa kaos miliknya dan memakaikan ke Lia. Kaos itu kebesaran dikenakan oleh Lia hingga menyerupai daster mini.


"Jelek sekali." Cibir Lia.


"Biar jelek. Pakai ini. Awas kalau di lepas." Ancam Jason.


"Iya.. iya..."


"Ayo turun." Jason menggandeng tangan Lia.


"Loh, sudah enggak kerja lagi?"


"Aku kerja dibawah menemani mu jogging, siapa tahu kau bosan atau terjatuh." Sahut Jason sambil membawa laptopnya.


"Hadeh... doain kok jelek, pakai jatuh segala."


Di taman belakang, Jason duduk di kursi kayu sedangkan Lia mulai pemanasan. Pelayan sudah datang dan membawakan kopi juga segelas air putih untuk Jason dan segelas air jeruk hangat untuk Lia dan sebasket roti.


Lia dengan kaos yang kebesaran mulai berlari. Ah... berlari di taman yang terbuka ini memang melegakan. Lia menikmati pagi ini dengan sukacita.


"Hai Erickkk..." sapa Lia tanpa menghentikan larinya ketika melihat assistent Jason datang.


Pria itu melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar. Kemudian Erick duduk di dekat Jason yang sudah menatapnya tajam, karena sudah mendapatkan senyuman manis dari Lia.


"Kau memanggilku sepagi ini, untuk melihat istrimu lari pagi?" Gurau Erick yang disambut dengan pelototan Jason.


"Sepagi ini pikiran mu sudah mesum." Ujar Jason sinis.


"Kebapa kau mengenakan pakaian seperti itu padanya. Ah... meskipun begitu dia tetap..." Erick mengurungkan niatannya mengatakan sexy, ketila dia mendapatkan tatapan tajam dari Jason.


"Tetap istrimu. Wanitamu. Hehhehehehe" Erick terkekeh.


"Apakah kau sudah mendapatkan dirinya?" Bisik Erick.


"Dasar otak mesum!" Bentak Jason gusar.


"Ya ampunnnnn jangan katakan kalau kau belum... Oh my God! Apakah aku perlu memberimu kursus? Oh mya God. Ya Tuhan tolong ajarkan sahabatku ini menjadi seorang laki-laki Jantan." Ujar Erick sambil menengadahkan wajahnya ke langit.


"Berisik kau!" Jason menyumpal mulut Erick dengan sepotong roti.


Erick glagapan. Kemudian mengunyah roti itu. Lia yang melihat dari kejauhan keakraban Jason dan Erick tersenyum lebar. Ingin sekali rasanya mempunyai seorang sahabat.


"Aku meminta ku kemari untuk melakukan suatu hal padaku." Ujar Jason kemudian.


"Apa itu. Kenapa tidak dibicarakan di kantor."


"Eh?" Erick heran.


"Aku ingin kau membuka rekening bank Swiss atas nama Lia. Kemudian cari beberapa hotel yang akan dijual. Beli atas nama Lia dan buat menjadi boutiq hotel. Lokasi resort atau kota tidak masalah. Selain itu cari beberapa designer berbakat dan buka sebuah butik atas nama Lia." Pesan Jason.


Erick ternganga. Dia tidak percaya dengan pendengarannya. Tapi berkali-kali dia mencubit tangan, perkataan Jason terdengar dengan jelas dan roti ini pun terasa gurih.


"Kau benar-benar melakukan itu... untuk dia?" Ujar Erick sambil menunjuk pada Lia dengan wajahnya.


Jason mengangguk.


"Dia harus siap sebelum orang tua ku bertemu dengannya. Mereka tidak boleh menginjak harga diri apalagi menyepelekan wanita pilihan ku."


Ujar Jason dengan tegas.


"Oh my God. Kau jatuh cinta padanya? Sejak kapan?" Erick terperangah dan menatap Jason dengan raut wajah lucu.


Jason terdiam untuk sesaat kemudian bergumam.


"Mungkin sejak dia memanggilku lalat buah." Ujar Jason perlahan.


"WHATTT?" Erick tanpa sadar berteriak keras. Membuat Lia berhenti sejenak dan menoleh heran. Erick melambaikan tangan dan tersenyum, seakan mengatakan tidak ada masalah.


"Hebat bukan? Tidak ada seorang wanita pun yang pernah menjuluki diriku dengan sebutan buruk. Tidak ada seorang pun yang bersikap apa adanya seperti dia. Mereka semua hanya mengenakan topeng dihadapanku. Berlomba berada disisiku hanya untuk kepentingan mereka." Jason berbicara panjang lebar.


Erick mendengarkan dengan seksama dan dia paham apa yang dikatakan oleh Jason. Banyak sekali wanita yang mendekati Erick hanya untuk mendapatkan kesempatan mengenal Jason.


Dan Erick selalu berhasil menyeleksi wanita-wanita itu dan membuat mereka jatuh dalam dekapannya. Mereka yang berkata sangat mencintai Jason, tapi rela membuka kaki untuk Erick. Heh! Munafik.


"Hanya dia Erick yang selalu bersikap jujur padaku. Dia... ah... begitu menggemaskan dengan sikap keras kepalanya tapi lugu. Aku tidak akan melepaskannya." Sambung Jason.


"Apakah dia tahu kau mencintai dirinya?" tanya Erick perlahan.


"Entahlah."


"Kau tidak pernah mengatakannya?"


Jason menggeleng.


"OH MY GOD. Bagaimana mungkin? Kau tahu wanita suka dengan pernyataan yang romantis, seribu mawar, alunan musik, lampu yang redup dan mungkin kembang api ditambah dengan berlian." Ujar Erick dengan gemas. Meskipun semua wanita yang dia tiduri hanya perlu makan malam romantis di sebuah hotel.


"Tidak." Jason menggelengkan kepalanya lagi.


"Tapi kenapa. Why?" Tanya Erick penasaran.


"Mungkin.... karena aku takut dia menolakku."


Sahut Jason lirih.


"Ditolak apa tidak apa bedanya. Toh kalian sudah menikah." Kata Erick dengan kesal.


Jason tidak sempat menjawab perkataan Erick karena Lia sudah mendekat dengan senyum lebarnya.


"Kalian tampak tegang." Ujar Lia sambil mengambil segelas jus jeruk dan meminumnya.


"Tidak hanya urusan pekerjaan." Sahut Erick santai.


"Ah iyaa... lihat dia malas tidak mau bekerja. Apa sebaiknya aku saja yang berkerja, bagaimana?" Lia menggerak-gerakan kedua alisnya.


"Tidak sebelum kau memenuhi persyatan." Sahut Jason.


"Hiiiii mesti mengancam. Dengar itu, boss mu suka bawel dan mengancam." Lia cemberut.


Erick menggelengkan kepala perlahan. Bagaimana bisa membuat Lia jatuh cinta dan tahluk jika setiap hari cuma adu mulut dan mengancam.


Lia menyela keringatnya.


"Jason aku mau renang." Ujar Lia santai. Dan berjalan menuju kolam renang.


Spontan Jason panik. Dia berdiri. Berenang katanya? Benar, gadis itu mulai bersiap membuka kaos kebesaran yang dikenakannya


Jason langsung tegang.


"Keluar kau Erick! Pergi sekarang juga!" bentaknya dengan pandangan tertuju pad Lia.


"Heh? Apa?" Erick bingung dengan sikap Jason yang tiba-tiba tegang.


"Aku bilang pergi sekarang juga!!!! Cepatt!!! Hai pelayannnn!!! Perintahkan semua nya meninggalkan taman! Tidak ada satupun yang boleh mendekati kolam renanggg. Cepatt!!!" Teiak Jason dengan marah.


Erick pergi dengan heran, hanya karena wanita itu bilang mau renang, Jason jadi begitu panik? Sebegitu bucinnya kah dia??


Sementara Jason bernafas lega ketika semua sudah pergi dan Lia baru melepaskan kaosnya. Dengan hanya mengenakan sports bra dan celana ketat, Lia berenang.


"Aku bahkan belum pernah puas melihat tubuhmu. Bagaimana mungkin ku biarkan mereka melihat dirimu berenang, apapagi dengan pakaian seperti itu. Hanya aku yang boleh melihat keindahanmu. Hanya aku." Ujar Jason dalam hati sambil menghampiri Lia. Kemudian dia menceburkan dirinya di kolam renang.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Terimakasih yaaaa.. yang sudah Baca, coment, like, vote, kasih koin dan yang sudah bantu share.


Trimakasih banget dukungannyaaaa.


Love youuu semua emak-emak pencinta burung tak bersayap.