
Author for Jason.
Semalaman pria tampan ini tidak berhenti begerak. Dengan mobil nya dia menjelajahi satu kota menuju kota kecil lainnya. Tiap menit dia menghubungi satu persatu pengawalnya, menanyakan keberhasilan mereka. Dan setiap saat pula amarahnya meledak mendengar laporan kegagalan mereka.
Jason sempat lelah dan duduk di mini market sebelah the Braserie restaurant. Dia membeli sebotol air mineral, meminumnya perlahan, sambil mencemaskan Lia. Bayangan buruk dan kekhawatiran tidak berhenti berseliweran di benaknya.
Jason kembali melangkah di arah yang berlawanan dengan Lia, yang duduk termenung di bangku kota saat malam itu. Sesungguhnya kedua insan ini di malam yang sama, berada di tempat yang sama. Hati mereka sama-sama berteriak memanggil nama belahan hati nya.
Pikiran Jason di penuhi kekuatiran, bagaimana jika gadis itu lapar dan haus. Bagaimana jika dia kedinginan. Bagaimana jika dia bertemu dengan orang jahat. Ya Tuhan, gadis itu bahkan tidak bisa berbahasa Prancis.
Pria tampan ini bukannya menyesal tidak memberikan handphone pada Lia tetapi, Jason justru menyesali diri karena membiarkan Lia keluar dari rumah.
Cinta yang dia miliki untuk Lia, telah mengikat gadis itu begitu kuat. Sifat posesif secara naluri muncul dalam dirinya. Dan sifat ini pula yang membakar dirinya habis saat ini.
Jason sudah keluar masuk hotel, losmen dan menelusuri gang kecil. Meskipun pengawal dan pelayan juga tidak berhenti mencari, Jason masih juga aktif bergerak.
Hari semakin malam. Seniman jalanan sudah membenahi perlengkapan atraksi mereka dan masuk kedalam sebuah losmen.
Jason mengurungkan niatannya untuk masuk kedalam the Brasserie restaurat. Di menghukum dirinya sendiri dengan rasa lapar.
Jason masuk kedalam mobil nya dan menyandarkan jok kursi. Jason memukul-mukul kepalanya yang sudah pusing dan lelah hingga akhirnya tertidur.
Pagi harinya sebuah ketukan di pintu mobil mengagetkannya. Tampak seorang polisi patroli kota menanti Jason membuka jendela mobil.
"Anda baik-baik saja?" Tanya polisi patroli itu ketika Jason sudah membuka jendela mobil.
"Iya pak, maafkan saya tertidur disini karena lelah mencari istri saya yang tersesat." Jawab Jason.
"Ah, bisa saya melihat identitas anda?"
Jason memberikan identitasnya. Polisi patroli melihat alamat Jason.
"Anda bukan warga negara asli?"
"Saya seorang residence disini." Jason menjelaskan.
"Ah iya tuan. Terimakasih." Jawab Polisi patroli tersebut dengan hormat.
"Pak, bisakah anda membantu saya, jika melihat wanita ini, istri saya. Tolong antarkan dia ke Mansion Madison Lake View A1." Jason menunjukan foto Lia yang ada di dompetnya.
"Tentu saja tuan. Istri anda sangat cantik."
"Dia tidak bisa berbahasa Prancis. Jadi tolong bantu dia jika anda bertemu."
"Tentu saja." Polis patroli kemudian meninggalkan Jason sendiri.
Kembali Jason merebahkan dirinya di sandaran kursi. Matanya memandang kedepan dengan putus asa. Saat itu dalam bayangan pelupuk matanya, Jason melihat seorang gadis mirip dengan Lia, berdiri dengan ceria diatas balcony, merentangkan tangannya dengan bebas.
Jason memejamkan matanya beberapa detik. Kemudian dia membukanya lagi, ingin memastikan jika wanita di balcony yang dia lihat adalah nyata, bukan khayalan. Tetapi ketika dia membuka matanya wanita itu sudah tidak ada. Dan Jason mengira itu hanya khayalan saja.
Jason keluar dari mobil dan menghirup udara segar di pagi hari. Dengan langkah gontai dia memasuki sebuah hotel. Jason masuk kedalam toilet hotel, menyelesaikan urusan di toilet kemudian membasuh wajahnya.
Jason memandang wajahnya yang lesu di cermin.
"LIAAAA. Kau membuatku Gila!"
Jason kemudian keluar dan membeli sebuah mouthwash di mini market. Dia membayangkan jika bertemu Lia, akan mencium gadis itu tanpa ampun. Untuk itu mulutnya harus segar.
Smartphone Jason berbunyi. Dengan malas Jason menerima panggilan itu, setelah tahu siapa yang menghubunginya di pagi hari.
"Ya mom,"
"Bagaimana, urusanmu sudah selesai?"
"Belum mom."
"Ah... kasihan Jasonku. Tapi kau harus ingat, janjimu pada mommy. Jam delapan pagi di the Brasserie. Jika sampai kau tidak menepatinya, maka..."
"Iya aku tahu. Aku tahu." Jawab Jason dengan kesal.
"Jadi... ayoo sekarang pergilah. Sudah jam delapan. Ayoooo."
"Iya." Jason mematikan telphone dan berjalan dengan malas menuju the Brasserie.
Jason masuk kedalam restaurant itu. Tidak sukar menemukan Natali karena gadis itu duduk dengan anggunnya tepat di tengah ruangan dan menghadap ke pintu. Gadis itu melambaikan tangannya langsung ke Jason ketika pria itu masuk. Senyuman lebar mengambang di sana.
Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian Jason. Seorang gadis yang duduk memunggungi nya di meja bar. Rambut panjang tergerai dan baju biru yang dia kenakan, Jason merasa mengenalnya.
Hampir saja dia berjalan melalui Natali dan menghampiri meja bar, ketika langkahnya dihentikan oleh tangan Natali. Natali memegang tangan Jason dan menariknya.
"Hai Jason, aku Natali ada disini." Ujar wanita itu lembut.
"Ah iya." Jason menoleh kepada Natali.
Dia kemudian duduk di hadapan Natali.
Saat wajah gadis itu menatap teman wanita di sampingnya, Jason meyakini jika gadis itu Lia. Dan Api cemburu membakar dirinya. Dia melihat bagaimana Lia tertawa dengan riang, bercanda dengan Gabriel, Cheft yang dia kenal sebagai pemilik restaurant ini.
Tangan Jason meremas kuat buku menu di hadapannya. Dan amarah nya memuncak ketika melihat Gabriel menyentuh tangan Lia. Jason menggeram, membuat Natali heran.
"Kau baik-baik saja Jason. Ada apa kenapa kau tegang?" Tanya Natali dengan menyentuh tangan Jason.
Jason tidak mendengar perkataan Natali. Dia sedang memandang tajam Lia yang berjalan menghampiri nya. Dan ketika Lia sudah berada di dekatnya. Jason merasa kesal karena Lia justru terkejut dan terpaku.
Lia terkejut melihat pria yang duduk di depan Natali adalah Jason. Jantungnya berdebar kencang. Wajahnya sudah memerah. Lia melihat kearah Jason dan Natali. Dia melihat bagaimana Natali memandang Jason dengan lembut. Sementara tangan Natali menggenggam tangan Jason.
Lia meremas tanganya dengan keras. Lia berkeringat dingin. Dia tidak menyangka Jason yang selama ini selalu bersikap mesra dan posesif padanya, ternyata memiliki wanita lain. Jason yang selalu menghukum dirinya dengan kecupan dan selalu menuntut anak, ternyata berkencan dengan wanita lain
Dada Lia terasa sangat sakit, nafasnya pun terasa sesak. Tubuh Lia bergetar. Dia memandang Jason dengan kesedihan. Dia kecewa dengan kenyataan yang di terimanya.
Lia membalikan dirinya hendak meninggalkan Jason. Namun gerakan pria itu lebih cepat. Jason menangkap tangan Lia dan menggenggam nya kuat.
"Lepaskan aku. Lepaskan aku." Ucap Lia dengan menahan tangisan.
"Liaa, aku mencarimu semalaman."
"Lepaskan aku tuan, lepaskan aku." Lia masih memberontak dari gemggaman Jason.
"Ada apa ini Jason, kenapa kau menahan gadis itu?" Tanya Natali tak mengerti.
Sementara itu Emely dan Gabriel yang melihat Lia meronta, segera menghampiri gadis itu.
"Tuan ada apa, kenapa anda menyakiti teman saya?" Tanya Emely tidak mengerti.
Jason memandang Emely dan Gabriel bergantian. Gabriel bisa merasakan pandangan amarah Jason kepadanya. Kilatan tajam dari mata Jason.
"Ayo kita pulang." Ucap Jason pada Lia.
Pria itu menarik tangan Lia keluar dari restaurant.
Lia memberontak.
"Aku tidak mau pulang bersamamu. Kau penipu! Penipu!" Lia memberontak.
Jason berhenti dan memandang Lia dengan kesal. Dia sudah merasa lelah seharian mencari Lia, tidak cukup tidur dan sekarang dibuat cemburu dengan sikap gadis itu.
Jason sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia mengangkat tubuh Lia dan kembali memondong gadis itu di bahu nya dan keluar. Lia meronta berteriak dan menangis marah.
"Penipuuu! Penipuuu! Lepaskan aku! Aku tidak mau pulang bersamamu!"
Emely berlari menghadang Jason.
"Tuan, turunkan teman saya. Kenapa anda kasar pada nya?" ujar Emely.
"Minggir, ini bukan urusanmu!" ujar Jason dengan kasar.
Jason berjalan terus kearah mobilnya dengan Lia yang meronta meninggalkan Natali yang bingung. Semua orang menatap heran pada Jason dan Lia. Mereka berbisik-bisik, menduga apa yang terjadi.
Emely yang kebingungan menghampiri polisi patroli.
"Pak, tolong teman saya. Seseorang memaksa membawanya pergi."
Polisi itu menoleh dan melihat ke arah Jason dan Lia.
"Ah itu suaminya. Dia sudah seharian mencari istrinya. Mungkin pengantin baru lagi hot-hot nya." sahut polisi patroli tersebut sambil tersenyum lebar.
Emely ternganga mendengar penjelasan patroli tersebut. Kali ini dia melotot melihat ke arah Jason yang berhasil membawa Lia masuk ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan semua penonton drama pagi ini.
Emely memukul pundak Gabriel dengan keras. "Aku pikir suaminya adalah mafia yang gendut dan mesum itu. Ternyata, oh My God tampan sekaliii." ujar Emely dengan shock.
Gabriel menjentikan jari nya kekening Emely dengan kesal.
...💗💗💗💗💗💗...
Ayoo ibu-ibu cantik pencinta burung rajawali, burung elang, maupun burung pipit....
Malam jumatan dulu sono gihhh.
Kalau butuh penghantar malam jumat, baca novel author yang berjudul I LOVE YOU tuan muda, cari episode yang di warning.
Baca nya sama suami yaaa. Yang ga ada suami, udah bobo saja, jangan coba-coba baca.
Hahhahaha. Met Malam Jumat.
Muahhh 💏