48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Penjelasan Erick



Pertanyaan Svetlana membuat Laurent terkesima. Bagaimana bisa pertanyaan seperti itu muncul dari mulutnya? Apa yang mendasari pertanyaan tersebut.


"Maksudmu apa Svetlana?" tanya Jesica.


"Ooo itu." Svetlana menunjuk pada jari Laurent.


"Itu cincin kawin, bukan?" tanya nya pada Laurent.


Laurent tidak menjawab, dia hanya menggeser cincin di jemarinya. Dan mata Laurent melirik ke arah jari Erick yang tidak mengenakan cincin pernikahan mereka. Wanita itu menghela napas, menyadari letak permasalahannya.


"Apa kau baru saja bercerai?"


"Mungkin," jawab Laurent.


"Jadi maksudmu kau belim bercerai tapi sudah mendekati Erick? Kau tega membuat Erick menjadi orang ketiga?" tanya Svetalan dengan sengit.


"Jika Erick mau, kenapa tidak?" Sahut Laurent kesal.


Erick menatap Laurent dengan heran. Ada apa sebenarnya dengan jawaban Laurent yang tampak berbelit. Sangat jauh sekali dengan sikap Laurent yang tegas dan tak berbelit.


"Laurent ini sebenarnya ...." belum selesai Erick menjawab terdengar suara gaduh di dalam kamar. Erick segera masuk ke dalam kamar bersama Jessica, meninggalkan Laurent dan Svetlana.


Svetlana menatap Laurent dengan pandangan tidak suka. Laurent yang merasakan tatapan itu, menoleh dan membalas pandangam mata Svetlana.


"Ini sudah malam, sebaiknya kau pulang. Tidak baik anak gadis, berada di apartement seorang pria hingga larut malam," ujar Laurent sambil menyerahkan tas pada Svetlana.


"Hei! Kenapa kau mengusirku? Kau bukan pemilik rumah ini!" Svetlana merasa sangat marah dan tersinggung.


"Aku adalah kekasih pemilik rumah, Bukan? Apa kau sudah lupa?" Sahut Laurent dengan sinis.


"Dasar kau janda tidak tahu malu!"


"Ya ya ya .... Katakan apapun sesukamu." Laurent mendorong Svetlana hingga pintu keluar.


"Heiiii! Apa masalahmu, kenapa kau kasar sekali? Apa Erick tahu jika kau sangat kasar seperti ini? Jika dia tahu, dia pasti akan meninggalkanmu," cerca Svetlana di depan pintu.


"Dia malah jatuh cinta dengan sikapku yang seperti ini, kasar dan pemaksa,"sahut Laurent. Dengan kasar wanita itu menutup pintu tepat dihadapan Svetlana.


Di luar pintu apartement, Svetlana masih saja marah-marah. Dia tidak mengerti, kenapa Laurent marah dan kasar padanya. Lalu kenapa Erick mau berpacaran dengan bekas orang lain. Di jari Erick tidak ada cincin pertunangan atau pernikahan, membuat Svetlana yakin jika Erick terpaksa.


"Aku tidak akan membiarkan Erick terperangkap dengan wanita semacam dia. Pasti dia cewek materialistis yang berusaha mendekati Erick!" umpat Svetlana dengan kesal.


Sementara di dalam apartement. Laurent mulai membersihkan piring kotor. Dia melakukan semua dengan hati-hati, agar tidak ada satupun piring yang pecah.


Keberanian Laurent muncul, saat dia merasakan perhatian dari Erick. Pia itu sudah memberikan sepotong steak untuknya, tanda perhatian. Perhatian itu meskipun sederhana membuat Laurent berbunga-bunga.


Tak lama kemudian, Erick keluar dan menghampiri Laurent yang selesai mencuci piring.


"Kau tidak perlu melakukannya. Jessie bisa membersihkan atau jika tidak bisa dilakukan pelayan besok," ujar Erick saat melihat piring yang sudah di lap bersih.


"Tidak apa-apa. Walau bagaimanapun, aku harus belajar melakukannya, bukan?" Laurent tersenyum tipis.


"Svetlana ... di mana dia?"


"Sudah pulang." Jawab Laurent santai.


"Dia adalah ...."


"Aku tidak ingin tahu mengenai Svetlana. Yang ingin aku ketahui, kenapa kau tidak menceritakan padaku mengenai ibumu?" Laurent duduk di kursi dan menanti jawaban Erick.


"Maafkan aku ..." ujar Erick lirih.


"Untuk apa?" tanya Laurent lirih.


"Kita bicara di kamar saja." Erick menarik tangan Laurent, namun wanita itu menahannya.


"Tapi, bagaimana dengan ibu dan adikmu? Mereka akan heran jika aku menginap." tanya Laurent dengan heran.


"Sudahlah Laurent, hentikan omong kosong ini." Erick menarik tangan Lauret, sehingga gadis itu merasa heran dengan sikap Erick. Baginya Erick seperti bunglon yang sukar di tebak warna asli nya.


Di dalam kamar, Erick mendudukan Laurent di atas tempat tidur. Dan pria itu duduk di hadapan Laurent.


"Aku tidak menceritakan mengenai keadaan mommy pada mu, karena tidak ingin membebani dirimu." Erick akhirnya menjelaskan alasannya.


"Aku tidak merasa seperti itu." Laurent menyanggah kata-kata Erick.


"Aku tahu kau pasti berbicara seperti itu, wanita keras kepala!" Erick menjentik kening Laurent.


"Aow!" Jerit Laurent perlahan. Dia mengusap keningnya yang tidak terasa sakit. Entah mengapa Laurent menyukai sentilan itu.


"Wanita manja!" Ejek Erick._____" Setiap hari aku melihat kau khawatir dan gelisah dengan keadaan Jason. Setiap hari kau merenung, menangis dan tak henti-hentinya menghubungi nyonya Laura. Bagaimana bisa aku tega menambah bebanmu drngan masalah mommy ku." Erick berbicara panjang lebar.


Laurent terkesima dengan penjelasan Erick. Pria yang dia pikir acuh dan tampak dingin, ternyata memiliki perhatian yang besar. Dan itunsemua lepas dari perhatiannya. Laurent merasa bersalah.


"Maafkan aku ... aku bahkan tidak berusaha mencari tahu mengenai kedatangan ibumu, apalagi penyakitnya. Aku ... aku merasa cemburu, karena justru gadis itu yang lebih tahu daripada aku."


"Svetlana adalah teman Jessy. Tentu saja dia langsung tahu jika Jessy dan mommy datang ke kota ini." Erick tersenyum tipis melihat sikap Laurent yang merasa bersalah.


"Tapi ... gadis itu, aku berkali-kali melihatnya di kantor, dia ---- dia tampak merayu dan menyukai mu," ujar Laurent terbata-bata.


"Lalu, kenapa tadi tidak kau katakan padanya dengan lantang, jika kau bukan janda. Jika suamimu ada di sini?" Tanya balik Erick.


"Itu---- itu karena--- karena aku ingin mendengar pembelaanmu," sahut Laurent dengan malu-malu.


Tak! Sekali lagi Erick menyentil kening Laurent perlahan.


"Kau sudah mulai berani bersikap kasar padaku sekarang, ya!"


"Kenapa? Kau mau mengadu pada Jason dan tuan besar? Mereka sudah terlalu sibuk untuk mendengarkan omelan manjamu."


"Aku tidak manja!" ujar Laurent tegas.


Erick tertawa kecil melihat raut wajah Laurent yang ngotot. Raut wajah yang sudah lama tidak dia lihat. Wajah manja dan suka menantang, serta bibir tipis yang tak mau kalah.


"Lalu bagaimana dengan mommy mu dan Jessie, mereka belum tahu jika aku adalah ...." Laurent bingung menyelesaikan kalimatnya.


"Mommy sedang sakit keras Laurent. Aku tidak bisa tiba-tiba mengatakan padanya jika, anak laki-laki satu-satunya sudah terjebak menikahi anak bossnya. Bagaimana perasaan mommy. Dia pasti akan terkejut. Setelah itu, dia akan semakin berpikir buruk. Hal itu tentu saja berbahaya baginya." Sahut Erick panjang lebar.


"Maafkan aku, Erick. Aku tidak berpikir sejauh itu." Laurent berulangkali meminta maaf, dia sungguh merasa menyesal dengan sikap kekanak-kanakannya.


Erick melepaskan bajunya. Dia bersiap mandi. Di leher Erick, Laurent masih melihat kalung dengan bandul cincin pernikahan mereka. Cincin yang tidak bisa dikenakan di jemari Erick, karena Tuan Larry memesanya terlalu kecil. Mengingat hal itu, Laurent tersenyum. Pernikahan dadakan yang lucu. Semoga saja Erick akan mencintainya selamanya.


...๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•...


Ayoooo bantu Jason menemukan Lia. Share foto di bawah ini di fb dan ig kalian dengan hastag\=


#48monthsagreementwithceo


#taurusdi_author


Semakin banyak yang share, semakin cepat Jason menemukan Lia.


Love you all.