
Pukul lima pagi di Penthouse milik Jason. Masih dibawah selimut dalam dekapan suaminya, Loa tertidur dengan pulas. Dada bidang berotot itu terasa begitu hangat. Degup jantung beraturan di dada Jason, membuatnya merasa nyaman.
Lia tanpa sadar menggeser pipi halus nya semakin dekat dengan pipi kasar Jason. Gadis itu tersentak kaget, merasakan seperti jarum menusuk di wajahnya. Dia mendorong Jason dan sadar jika itu bukan Jarum, melainkan jambang suami nya. Hamil membuat dirinya sensitif.
Lia kemudian bangun, melakukan doa pagi dan beranjak mandi. Dengan nyaman dia merasakan aliran air hangat mengucur di rambut dan mengaliri tubuhnya. Lia mengambil shampo dengan aroma buah segar. Mencium aromanya dalam-dalam sebelum mengusapnya di rambut.
Lia tak lupa pula mengambil sabun mandi yang beraroma strawberry. Menghirup aroma nya dalam-dalam sebelum menggosok ke sekujur tubuh. Begitu nyaman dan terasa lembut. Wewangian itu membuat Lia merasa lebih nyaman dan tenang.
Selesai dengan semua aktifitasnya. Lia mengeringkan rambut dan tubuhnya. Wanita yang sedang hamil muda itu, kembali masuk kedalam kamar dengan membalutkan handuk menutupi tubuhnya.
Lia duduk di depan meja rias, kemudian mulai mengoleskan pelembab dan juga sunblok. Kemudian dia mulai mengambil hand body untuk mengolesi tangan, kaki juga pundak. Dia sangat asyik dengan aktifitasnya, hingga tidak sadar jika Jason sudah bangun dari tidur. Pria tampan itu memperhatikan kegiatan Lia yang dia rasa sangat sexy.
Dengan tidak sabar, Jason menghampiri Lia. Dia memeluk tubuh istrinya dari belakang, sambil mencium pundaknya yang terbuka. Dia mencium dan menggigit lembut pundak Lia.
"AOW!" teriak Lia manja.
"Kau harum sekali ...." kembali Jason menghirup aroma harum di tubuh Lia dalam-dalam. Aroma yang sangat dia sukai. Aroma yang selalu membuat pagi nya menjadi bergairah.
Tapi ... tiba-tiba ada yang berbeda pagi ini. Ada sesuatu yang janggal di perut Jason. Kejanggalan itu bergolak dan melawan gravitasi. Jason tiba-tiba menjauhkan diri dari Lia dan menutupi mulutnya.
"Ada apa?" tanya Lia heran.
"Aku ...."
Jason tidak sempat menjawab pertanyaan Lia. Dia segera berlari menuju ke kamar mandi. Dan dari posisi Lia yang masih duduk, sambil melanjutkan mengolesi kaki dengan hand body, Lia mendengar Jason seperti mengeluarkan sesuatu.
"HOEkkk! HOEkkkk!"
Lia terpana. Dia segera cepat-cepat menyusul Jason di kamar mandi. Disana dia melihat suaminya sedang berlutut di dekat toilet.
"Kau muntah? sakit sayang? " tanya Lia dengan prihatin.
Jason yang merasa lebih baik, menegakan tubuhnya kembali. Baru saja dia berdiri dan menyium aroma rambut Lia, kembali Jason merasa mual. Pria gagah itu kembali memuntahkan isi perut nya ke toilet.
Lia memijet tengkuk Jason. Ini pertama kalinya dia melihat pria gagah dan tampan ini, sakit. Tentu saja, dia menjadi panik. Sekaligus heran, apa yang membuat Jason sakit.
"Kau kurang beristirahat ya ... Istrirahatlah di rumah dulu. Aku akan bilang pada Erick dan Pedro, jika dirimu sakit ya ..."
Jason tidak menjawab perkataan Lia. Entah kenapa, bau harum buah-buahan itu behitu menusuk penciumannya.
"Keluarlah. Biar aku mandi dulu." Ujar Jason.
Lia yang merasa heran, segera keluar dari kamar mandi. Jason tidak pernah menyuruhnya keluar sebelumnya. Pria itu, biasanya selalu menggoda dirinya untuk mandi bersama. Meskipun merasa aneh, Lia berusaha mengacuhkannya.
Calon itu itu turun ke lantai bawah. Sambil mengambil handphone dia mulai membuat air panas, hendak menyeduh pappermint tea.
"Kemana sih Erick, sedari tadi dia tidak mengangkat telphone dari ku. Apa dia sedang asyik dengan Laurent ya. Hmm ... mungkin terlalu pagi buatku untuk membangunkan mereka." Lia melihat ke arah jam dinding yang baru jam tujuh pagi.
Kemudian Lia menghubungi Pedro. Tak butuh lama, terdengar sahutan disana.
"Pedro, hari ini aku rasa Jason tidak bisa masuk. Dia sakit______ tidak ... aku rasa dia akan baik-baik saja setelah beristirahat. Tolong bantu menjadwal ulang semua pertemuannya. Terimakasih Pedro."
Setelah berhasil menghubungi Pedro. Lia menimbang, apakah dia harus mengabari butler Bernard, agar pria itu mengirim dokter keluarga untuk memeriksa Jason.
"Hallo butler ____ ah iya aku baik- baik saja. Tidak perlu khawatir." Lia lupa jika dirinya belum mengabari kepala pelayan itu, akan kebebasannya dari tahanan kamar tuan Larry.
"NONA! Kau seharusnya menghubungiku. Kau membuatku cemas tanpa bisa tidur." Celoteh butler Bernard dengan nyaring, hingga Lia harus menjauhkan gagang telphonenya.
"Duh ... iya iya. Maaf. Jangan marah-marah. Nanti kriputmu semakin bertambah loh." Goda Lia cekikan. Bisa di bayangkan bagaimana wajah butler Bernard memerah saat ini.
"Tenang, saya sudah menyetrika keriputku hingga licin." Sahut butler Bernard acuh.
"Masker lah. Memang hanya nona saja yang tahu maskeran dan totok wajah." Sahut butler Bernard angkuh.
"Buahh... hahhahaha ... next time aku akan ke spa bersamamu. Kita akan melakukan perawatan wajah bersama."
"Tidak perlu nona."
"Kenapa kau menolak kebaikanku?" Ujar Lia tidak suka.
"Jika saya pergo bersama nona, bukannya wajah saya menjadi lebih muda, bisa jadi berantakan."
"Kok bisa begitu?"
"Haduhhhhh kenapa nona ini kadang pintar tapi sering iQ low." Sahut butler Bernard dengan gemas. Setelah mengucapkan kata IQ low, butler Bernard segera menutup mulutnya. Dia selalu saja tergelincir lidahnya juka berbicara dengan Lia.
"Kog gitu?" Tanta Lia tak mengerti.
Ah, untung saja si nona tidak marah.
"Tuan Jason bisa menguliti wajah saya, nona!" Tegas butler Bernard dengan gemas.
"Baguslah. Kau bisa langsung operasi wajah kaya Tom Cruise." Sahut Lia dengan tertawa geli membayangkan wajah tampan Tom Cruise di badan tua butler Bernard. Seru kali ya, berarti dia menjadi majikan aktor terkenal itu, meskipun bohong.
"Nona ... dasar tidak berperasaan."
"Kok bisa?"
"Saya kan jadi kepingin." Sahut Butler Bernard sambil menahan tawa.
"Hahahahaha ..." Lia terus berbicara dengan kepala pelayan itu diselingi canda tawa. Dia bahkan sampai lupa dengan tujuan awalnya menghubungi butler Bernard. Dia lupa meminta kepala pelayan itu untuk memanggil dokter. Dia lupa mengabari kehamilannya dan yang lebuh parah, dia benar-benar lupa jika Jason tadi muntah-muntah.
Masih dengan gagang telphone yang ada di telinganya. Lia melihat Jason yang baru selesai mandi. Pria tampan itu turun dari lantai atas dengan membawa satu kantung kantong plastik. Di dengan santai nya membuang kantong plastik brsar itu ke tempat sampah.
Dengan heran Lia menyodorkan pappermint tea untuk suaminya, lalu dia melangkah kearah tempat sampah. Dibukanya tutup tempat sampah dan membuka kantong plastik itu. Dia melihat isinya dan terkejut.
"Kenapa kau membuang shampo dan sabun mandiku? Ini masih baru, masih baru terpakai satu kali." Omel Lia. Gadis itu memungut kembali, sabun dan shampo miliknya. Dia mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Sayang bukan, shampo dan sabun itu seharga $100 dan dibuang begitu saja.
"Jangan dipungut!" Jason berteriak sambil menutup hidungnya.
"Loh kenapa? Bukankah biasanya kau menyukai aroma ini?" Lia kemudian menghampiri Jason dan menempelkan rambutnya di hidung Jason dengan tiba-tiba.
"Jangan!!! Emmm ... hoeeekkkk!" Jason berlari ke westafel.
"LOH ... aku yang hamil kenapa dia yang morning sickness?" gumam Lia dengan wajah tak mengerti.
"Haloo ... nona ... hallo? Siapa yang hamil?" tanya butler Bernard diseberang sana.
"Jason!" Lia berteriak melihat kearah wajah Jason yang pucat dan terhuyung. Dia mematikan sambungan telphone nya dan membantu Jason untuk duduk. Kemudian lia mengambil handuk untuk menutupi rambutnya.
Sementara di Mansion, butler Bernard memandang handphone nya dengan tidak percaya. Dia heran dengan kata-kata terakhir Lia sebelum mematikan telphone.
"Tuan muda hamil? Bagaimana mungkin. Apakah tubuhnya ada kelainan dan memiliki rahim?"
...❤❤❤❤❤❤...
Follow IG author yukkk