
Mak emakkk pecinta burung hehehehe ....
Burung rajawali, burung kakak tua, burung
emprit, burung kenari, burung elang, burung
bangau, burung gagak, burung hantu, burung
onta sekalipun, hehheheheh....
Bantuin Author share cerita ini yaaa... biar
semua pencita burung berkumpul dan bersiul
bersama.
Pecinta kucing juga hayoo mana suaranyaaaa....
Meaowww.... Meaowww...
...***********...
Dada Jason berdegup semakin kencang ketika melihat si empunya paha mulus itu, malah memainkan kakinya di dalam air.
Kecipak..kecipukkk...kecipakkk....kecipukkk.
Deg! Deg! Serrrrr!!!
Jantung Jason berdesir ketika kaki Lia tanpa sengaja menyenggol paha Jason.
Jason ingin memejamkan matanya, tapi kenapa mata ini tidak mau menutup. Akhirnya Jason menutup Matanya dengan kedua tangan secara terpaksa.
Jika di lanjutkan, dia bisa-bisa saja tidak dapat menahan diri untuk menerkam dan mengoyak mangsa dihadapannya. Menarik handuk itu lepas dengan paksa, lalu menyentuh apapun yang sudah membuat matanya silau dan dadanya berdebar dan memaksa Rajawali untuk masuk kedalam sarangnya.
Tapi Jason takut.
Dia takut Lia marah dan membenci nya.
Sudah cukup kenyataan dia memanipulasi gadis itu dengan pernikahan mendadak. Sudah cukup hari ini dia melihat Lia uring-uringan.
Jason menggosok-gosok wajahnya kesal. Geram. Karena meskipun mata sudah dia tutupi dengan kedua tangan, tapi bayangan menantang itu masih menari-nari dengan jelas di pelupuk matanya. Apalagi suara kecipak kecipuk itu masih terdengar jelas.
"Sabar Rawawaliii sabarrr.... Belum waktunya kau masuk kedalam sarang." Ujar Jason lirih.
Lia membalikan tubuhnya dan duduk bersandar. Dia mempererat handuk yang sudah hampir terlepas lagi, kuatir melorot dan dimanfaatkan oleh Jason. Sejenak dia heran. Kenapa Jason menekuk lututnya dan menutupi wajah.
"Hei, kamu kenapa, sakit?" tanya Lia tidak mengerti.
Jason melepaskan tangan dari wajahnya.
"Loh, wajahmu kok merah. Suara nafas mu kok gitu, apa kamu terserang asma?" Tanya Lia lagi dengan khawatir.
"Aku tidak punya asma." Jawab Jason ketus.
"Kamu sakit?" suara Lia melembut, dia khawatir.
"Iya. Sakit hati!" Jawab Jason sinis.
"Loh? Kok?" Lia tidak mengerti.
Sakit hati gara-gara kamu kucing liarrr. Kau menggoda tanpa perasaan. Kenapa juga kau harus bersikap polos sok tidak mengerti.
Aku terkam baru tau rasa dirimu.
Jason hanya diam dan hanya bisa marah dalam hati.
"Ditanya jawabannya aneh-aneh. Ya sudah aku mau mandi dulu."
Lia berdiri seraya memegang erat handuk di dadanya. Handuk basah itu menempel erat di tubuhnya sementara tetesan air mengalir di paha dan betis Lia.
"Lia," panggil Jason serak.
"Ya?" Lia yang sudah berada diluar Jacuzi menghentikan langkahnya dan menoleh pada Jason.
Suara Jason serak dan matanya sayu, tidak garang seperti biasanya. Lia berpikir jika Jason mungkin benaran sakit.
"Kok diam?" Tanya Lia heran sambil meneliti wajah Jason.
"Bikin anak yuk," kata Jason perlahan.
"Hah?" Lia tidak yakin dengan pendengarannya.
"Bikin anak!" Kata Jason lebih keras.
"Ogahhhhh!!!" Teriak Lia kesal. Dan segera berjalan cepat keluar dari ruangan jacuzi menuju ke kamar mandi, dibalik tembok, Lia beteriak pada Jason.
"Awas kalau ngintip aku mandi ya!!!!"
Lia kemudian masuk kedalam kamar mandi dan memastikan pintu terkunci rapat.
Sementara Jason terperangah mendengar kata-kata Lia. Jangan mengintip katanya. Bukannya dia yang sengaja dari tadi memberi tontonan. Jason frustasi. Dia membenamkan dirinya kedalam air.
Selesai mandi Lia menyuruh Jason, yang sudah duduk tenang di kursi kamar untuk mandi. Jason dengan patuh menuruti Lia.
Tak lama kemudian, ketukan di pintu terdengar. Ternyata butler Bernard sang kepala pelayan, dengan wajah robotnya, memberitahukan jika makan malam sudah siap.
Jason mengajak Lia turun kebawah menuju ruang makan. Gadis yang sudah kelaparan itu tanpa protes mengikuti Jason. Di ruang makan dia sudah melihat beberapa pelayan berjajar menanti mereka.
Begitu mereka tiba, pelayan dengan sigap sudah membuka dan meletakan kain lap pangkuan tuan dan nyonya muda nya. Kemudian pelayan lain datang dan menyajikan salad. Setelah salad habis, pelayan mengambil piring kosong dan menggantinya dengan sup.
Lia menikmati sup dengan tenang, menikmati cita rasa asli masakan Prancis yang ternyata memang top. Sungguh pantas jika mereka selalu sombong dengan cita rasa asli masakannya, meskipun kurang keras bagi lidah nitizen +62.
Lia menoleh dan mendapati senyuman dingin dari wajah butler Bernard. Dia tahu, butler tersebut belum bisa menerima kehadiran dirinya. Lia khawatir? Tentu saja tidak. Dia mahhhh tidak perduli.
Dan saat itu senyuman jahil tersungging di wajah manisnya. Jason yang melihat senyuman itu menjadi was-was. Dia tahu jika satu bibir tersungging ke atas, otak gadis dihadapannya ini akan membuat kehebohan.
Benar saja. Setelah pelayan mengambil mangkok kosong sup dan menyajikan makanan utama, yang lagi-lagi spaghety. Kejahilan Lia keluar
Hmmm... tampaknya spaghety makanan kesukaan Jason.
Gadis itu mengambil gelas air putih dan memasukan tangannya bergantian. Tindakan Lia membuat semua pelayan melotot. Apalagi mata butler Bernard membulat membesar seperti telur ceplok.
Lia menjadi air minum di gelas kristal sebagai kobokan!
Seorang pelayan dengan sigap mengganti gelas kobokan tersebut dengan gelas air putih bersih untuk Lia. Lia menatap pelayan tersebut dan dia berjanji akan menanyakan namanya.
Masih dengan senyuman tersungging di salah satu sudut bibir, Lia mengangkat kakinya. Kaki kiri bersila dan kaki kanan tertekuk keatas Persis seperti abang becak makan di warung.
Kemudian Lia menepuk kedua tangannya dan menggosok-gosokan di depan dada. Dia menyeringai menatap Jason yang memandangnya penuh selidik. Jason menanti tindakan Lia yang ekstreem.
Ini lihat, apa kau sanggup menahan malu di depan pelayan robotmu, membawa pulang istri yang bar-bar sepertiku. Hehehehe.
Seringai licik muncul di wajah Lia.
Lia kemudian menggunakan kelima jari tangan kanannya dan mengambil spagheti tersebut. Menariknya panjangggg keatas. Kemudian memasukan kedalam mulutnya banyak-banyak dan selanjutnya menyeruput keras-keras.
Butler Bernard tersedak. Dia terbatuk-batuk karena syok. Dia tidak menyangka jika tuan mudanya mengawini seorang gadis kampung yang tidak punya tata krama.
Sedangkan beberapa pelayan terbagi dua expressi. Ada yang menahan tawa ada yang melotot heran. Mungkin seumur hidup ini baru pertama kali, melihat gaya makan seperti Lia.
Jason yang melihat tingkah Lia menggelengkan kepalanya. Dan dia tahu para pelayan sudah terpaku menatap Lia. Jason tidak meladeni perbuatan Lia. Dengan tenang, dia menikamati spagheti miliknya.
Jason tahu, Lia sengaja melakukannya. Dan dia tidak akan membuat gadis itu menang dengan menegur. Setelah makanan Lia habis, gadis itu menghisap satu persatu jari jemarinya.
"Enak?" tanya Jason sambil menautkan kedua jari dan menumpukan sikut lengan di meja.
"Enak sekali. Lihat sampai tidak bersisa." Sahut Lia dengan senyuman manis. Lia mengusap tangan kotornya di lap kemudian meminum habis segela air putih
Kemudian Lia menoleh ke arah Butler Bernad dan mangggilnya.
"Butler aku mendengar kau tersedak. Apakah kau baik-baik saja?"
"Iya nona, saya baik-baik saja." Jawab butler Bernard datar.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Pancing Lia.
"Tidak nona."
"Ayolahh... katakan sesuatu, apa yang membuatmu tersedak tadi. Jujur sajaaa."
Lia masih mengorek keterangan.
"Tidak ada nona, hanya kerongkongan saya yang terasa gatal." Jawab butler Bernard.
"Jason, lihat pelayanmu ternyata suka berbohong. Pasti kau yang membuatnya takut," protes Lia dengan sinis.
Jason memandang pada butler Bernard dan mengangguk. Memberi tanda pada kepala pelayan tersebut untuk berbicara jujur. Butler Bernard mengerti arti tatapan itu.
"Saya tersedak, karena tidak menyangka nyonya rumah akan makan seperti itu." Kata Butler Bernard datar dengan pandangan datar lurus ke depan.
"Hahahha... dia bisa juga bicara jujur jika kau minta." Ujar Lia terkekeh.
"Jadi menurutmu, aku tidak pantas menjadi nyonya rumah ini?" Tanya Lia lagi.
Butler Bernard terdiam tidak berani menjawab. Bagi butler Bernard jawaban yang akan keluar dari mulutnya, akan menentukan nasib dirinya. Jika tuan muda sungguh mencintai nona ini, dan dia akan terus menjadi nyonya di rumah ini, maka tamatlah riwayat dirinya.
Pelayan lain menunduk ketakutan. Mereka khawatir dengan nasib butler Bernard dan juga nasib mereka sendiri. Nona muda ini menanyakan hal-hal yang tidak pernah ditanyakan oleh tuan rumah sebelumnya. Tidak ada keluarga bangsawan yang perduli dengan pendapat pelayan.
"Ayo katakan." Lia masih menanti jawaban butler Bernard.
"Menurut saya, sikap nyonya rumah ini haruslah lebih anggun." Jawab Butler Bernad.
"Nah itu dengar Jason. Aku tidak pantas menjadi nyonya di rumah ini. So, gimana? Batal?" Ujar Lia sambil menaikan alisnya dan menyeringai lebar.
Jason mengibaskan tangannya memerintahkan Butler Bernad mundur.
"Tidak masalah batal. Asal kau memenuhi syarat ke empat." sahut Jason datar.
Lia melotot.
"Huh! kau menyebalkan!" ujar Lia kesal.
Lia menyendokan desert cream brulee besar-besar dan memakannya dengan cepat. Setelah selesai, dia meninggalkan Jason sendiri dan melangkah naik ke lantai atas. Sebelum masuk ke dalam kamar, Lia melewati ruang keluarga dan mengambil beberapa majalah.
Didalam kamar, Lia menghempaskan tubuhnya dan membolak-balik majalah Fashion. Setelah beberapa saat Lia merasa lelah.
Gadis itu meletakan majalah di meja dan mulai membersihkan wajah juga menggosok gigi. Mengoleskan wajah nya dengan cream malam dan hand body di kaki dan tangannya. Harumnya mewah dan memberi ketenangan.
Lia melangkah menuju closet dan terpaksa mengenakan lingerie satin berdada rendah. Tidak mungkin baginya tidur dengan gaun, terlalu merepotkan.
Sebelum tidur Lia hendak memeriksa kunci di pintu. Saat itu lah dia baru menyadari jika sudah tidak ada engsel di pintu dan kunci bagian dalam sudah terlepas. Lia geram. Dia segera mengambil kursi dan menyandarkan pada pintu. Masih kurang puas, Lia mendorong meja dan mendekatkan pada pintu.
Lia menyeka keringat ditubuh akibat kerja keras yang barusan dilakukannya.
Dipandangi hasil usahanya baru saja. Lia tersenyum puas. Dia berkacak pinggang sambil terkekeh.
"Kau pasti sengaja menyuruh pelayanmu melepas kunci pintu. Hehehe akan aku buat kau kesulitan. Kau pikir aku bodoh apa."
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...