48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Party until Late



Haiii... Jangan Lupa kupon vote untuk novel ini ya. Caranya gampang di akhir cerita klik vote. Biar tambah semangattt. Trimakasihhhh.


...💖💖💖💖💖💖💖...


The Moulin Rouge. Terinspirasi lagu dari Christina Aguilera, Lady Marmalade yang menggambarkan kehidupan Cabaret di Moulin Rouge, ya di sanalah sekarang ke tiga wanita dan sugar daddy tua ini berada. Sebuah club yang menampilkan Cabaret show terkenal. Club mewah itu begitu mewah dan ramai.


Disana mereka bisa menikmati makan dan minum sambil menonton suguhan nyarian, tarian dan musik yang sangat indah. Lia dan Butler Bernad yang pertama kali berada di tempat itu menjadi sangat senang. Lia tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya berada di salah satu club mewah, yang hanya pernah dia lihat dari video klip.


Cabaret show itu menari dengan sangat indah, mengenakan pakaian minim yang menonjolkan aurat. Membawakan gerak tari eksotis yang dikemas menjadi rangkaian dansa yang indah. Datang berpasangan atau tidak, semua akan terpesona berada di tempat ini. Mata seakan terpaku pada kehindahan gerak, coustum, musik, nyanyian dan permainan lampu.


Laurent sudah memesan kursi VIP terdepan, sehingga mereka bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan para penari. Beberapa kali penari wanita menggoda butler Bernard, membuat pria setengah baya yang berwajah pucat tanpa expressi itu, merona. Laurent dan Emely kompak menertawakan pria tua itu, tapi tidak dengan Lia, hal itu malah membawa pikirannya pada rasa takut dan khawatir akan Jason.


"Aku tidak akan membiarkan Jason datang ketempat ini," ujar Lia mantap.


"Bagaimana kamu yakin, jika Kakak ku tidak pernah mengunjungi tempat ini?" celetuk Laurent.


"Semua pria di Paris pasti pernah berkunjung di Pigalle. Area ini adalah kawasan night club terbesar dan terkenal di Paris." ujar Emely menambahkan membuat Lia semakin khawatir.


"Dan kau tahu, area ini dulunya adalah kawasan wanita penjaja diri, kawasan kumuh. Namun, oleh pemerintah Paris, sudah dirombak menjadi kawasan industri pariwisata malam yang sangat terkernal di dunia." Emely menjelaskan asal mula wilayah ini.


"Kalau Jason pernah ketempat ini, berarti Erick dan Daniel juga sering dong!" Sahut Lia dengan kesal.


"Ya iyalah. Namanya juga cowok." Jawab Laurent dengan santai.


"Apa kau tidak mempermasalahkan Erick jika sering berada di club malam, bersama dengan wanita penggoda?" sindir Lia dengan sinis.


"Dia belum ada dalam genggamanku, jadi ya... biarin saja semaunya. Tidak aku kekang saja licin seperti belut."


"Berarti sama kan, kalau sudah kau dapatkan maka akan kau jaga baik-baik."


"Ohhhh tidak sama! Kau melarang Jason untuk ke tempat ini sementara dirimu bersenang-senang disini saat ini. Kalau aku... akan aku bawa dia kemari, bersenang-senang bersamaku." Laurent dan Emely menepukan tangan saling toss.


Lia cemberut. Bagaimana jika Pria nya tergoda. Wanita-wanita di cabaret Show itu begitu menarik. Wajah cantik dan tubuh memukau. Mereka pun begitu sensual. Apalagi ketika melirik pada butler Bernard yang tidak mengikuti percakapan mereka dan pandangan mata tak berkedip menatap ke arah penari tersebut.


"Hapus air liurmu." Lia melemparkan lap ke arah butler Bernard.


"Sudah saya lap dari tadi, nona." Sahut Butler Bernard Acuh.


"Suka ya..."


"Hu..uh! Apakah Jason ku akan seperti mu, jika berada di tempat ini?" gumam Lia.


Butler Bernard hendak tertawa geli melihat Lia. Bukannya gadis ini yang bersorak kegirangan, penuh semangat ketika bisa keluar dari Mansion. Dengan menjadikan Butler Bernard sebagai umpan, sebagai alasan kalau ada pria yang menjaga dirinya. Tetapi kenapa pula gadis ini pula yang jadi resah memikirkan tuan muda nya, hanya dalam hitungan jam. Bukannya dia berniat hendak kabur?


"Tenang saja... tuan muda adalah orang yang berpikiran lurus. Meskipun pernah datang ke tempat ini, dia tidak akan tergoda oleh mereka. Tuan muda tipe pria kuno. Satu untuk selamanya."


Ucapan butler Bernard membuat Lia merasa lega. Dia tersenyum tipis tanpa menoleh kepada pria tua tersebut. Daripada harus memikirkan segala kemunginan buruk, Lia akhirnya memilih merekam gerakan tarian indah dan sensual itu kedalam memorinya. Mungkin bisa berguna untuk malam-malam indahnya bersama Jason.


Setelah Hampir dua jam mereka menikmati malam spectakuler di Maulin Rouge. Laurent dan Emely membawa Lia dan Butler Bernard, memasuki sebuah club malam lainnya. Hanya dengan melihat wajah Laurent, penjaga club tersebut membiarkan mereka masuk begitu mudah.


Tempat satu ini lebih hingar bingar. Musik yang di mainkan lebih menyentak dan keras. Tampak banyak sekali manusia duduk bergerombol, dengan menikmati minuman sambil bercengkerama dan memandang ratusan manusia yang lain yang asyik menari mengikuti irama.


Laurent naik ke lantai atas, dimana ruangan VVIP berada. Di area atas itu ruangan menggunakan pembatas kaca, sehingga mereka masih bisa melihat pemandangan ratusan orang yang menari sesuai irama. Area ini adalah club elite anak muda. Lia bisa melihat, pria-pria kaya di lantai atas, memandang lautan manusia yang menari dengan rasa lapar. Seolah mereka mengincar sesuatu.


"Tenang saja, ruangan ini lebih aman. Aku memesan yang paling kecil. Dan dinding kaca ini hanya menutupi sebagian, Kau bisa bersembunyi di sana jika sudah jenuh." Laurent menunjukan pada sudut dimana ada tembok asli di sebelah pintu.


Laurent sudah memesan tiga botol champagne dan satu botol sparkling wine untuk Lia ( Jenis minuman tanpa alkohol ). Lia tidak jauh berbeda dengan kakaknya yang memiliki alergi terhadap alkohol. Untuk itu dia sudah memperingatkan mereka dari awal, untuk tidak memberinya alkohol, jika tidak mereka sendiri akan kesusahan.


Dan ke dua wanita itu mulai menari dalam ruangan dengan penuh semangat. Gerakan mereka membuat beberapa orang yang melintasi, memberi isyarat ingin bergabung, tapi dengan sigap Laurent memeluk butler Bernard seakan dia adalah milik pria tua itu. Tentu saja mereka yang di luar merasa kecewa.


Meski pun memasang tampang datar, butler Bernard menggoyangkan jempol nya di dalam sepatu.


"Ayooo Liaaa... lupakan urusan pria saat ini. Kita Partyyyyy.... " Laurent menarik Lia berdiri dekat tembok kaca.


Mereka melompat dan bergerak di dalam kemerlap lampu. Setelah meneguk tiga gelas champagne, alkohol itu mulai mempengaruhi butler Bernard. Situasi riang yang di sugukan ke tiga wanita muda ini, membuat butler Bernard bersemangat. Di melepaskan dasi kupu-kupu nya menyimpan dalam saku jas dan meletakan jas itu di sofa. Dengan kemeja yang telah di gulung, Butler Bernard sudah berdiri di tengah ketiga wanita itu dan berdansa.


Dia sudah lupa akan tugasnya mengawal dan mengawasi Lia. Pria tua itu menjadi larut dalam kesenangan anak muda. Butler Bernard bergoyang kekanan, kekiri dan melompat, menghentakan kaki, juga menggerakan tangan dan kepalanya. Dia begitu bersemangat, Lia dengan segera mengabadikan moment tersebut.


Beberapa orang yang melintasi ruangan mereka, mencibir iri pada butler Bernard. Pria tua dengan tiga gadis muda, cantik, fashionable dan berkelas. Benar-benar pria beruntung.


Yeaaaaa.... Keep Party until late!


...💖💖💖💖💖💖💖...