
Paris~Prancis.
Laurent kembali dari memeriksa sebuah toko perhiasan yang dia miliki. Toko yang menjual khusus rancangan perhiasan terbaik. Laurent selama ini tidak pernah memperhatikan toko perhiasan yang dia miliki. Dia lebih banyak menyerahkan semua urusan kepada asistentnya, Maya.
Berbeda dengan Lia, butik yang dimiliki gadis itu bergerak di bidang pakaian. Memiliki perancang sendiri dan bekerja sama dengan garment terbaik di Asia. Dengan menggunakan barang berkualitas, butik yang di persiapkan Jason untuk Lia memiliki harga jual lebih terjangkau.
Dengan hati riang, Laurent pulang dengan menenteng tas hermes terbarunya. Tas yang sudah dia inginkan selama beberapa waktu lamanya. Tas berwarna putih dari kulit. Laurent mengelus tas tersebut penuh kebanggaan.
Memasuki pintu apartement, Laurent menggunakan kakinya untuk menutup pintu. Dia masih menenteng tas mewah tersebut dengan sangat berhati-hati. Sementara di tangan satunya penuh dengan tas yang berisi beberapa kotak perhiasan.
Laurent masuk ke dalam kamar tamu yang sudah dia rubah menjadi closet pribadinya. Pakaian-pakaian Laurent berjajar bagaikan sebuah butik, lemari kaca berisi tas-tas mewah yang dia miliki dan lemari lainnya berisi segala macam bentuk perhiasan. Koleksi sepatu Laurent pun tak kalah mendapatkan perlakuan khusus.
Laurent duduk di depan meja riasnya. Dia mengeluarkan tas berisi perhiasan yang baru saja dia ambil dari toko yang dia miliki.
Kalung dari mutiara berwarna putih dengan permata ditengahnya, memiliki harga beli yang sama dengan tas mewah itu.
Jika di total harga satu tas dan kalung mutiara tersebut cukup untuk membeli sebuah mobil mewah. Namun, bagi Laurent yang selalu bergelimang harta, uang tersebut tak ada artinya dibandingkan dengan kepuasan batin yang dia dapatkan.
Tak terasa waktu sudah bergulir. Laurent bahkan melupakan jika waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Dia baru tersadar ketika mendengar seseorang masuk ke dalam apartement.
"Erick? Kau sudah pulang?" Laurent beranjak keluar kamar. Dia mendapati Erick yang sedang melepaskan sepatunya dan meletakan di rak.
"Hmmm ...," sahut Erick.
"Lihatlah apa yang baru saja aku beli, ini rancangan terbaru. Aaaa ... aku sungguh menantikannya. Lihat, cantik sekali bukan?" Laurent memamerkan tas bermerk yang baru saja dia beli.
Erick menoleh meilihat apa yang di beli oleh Laiurent. Sekali lihat saja dia sudah bisa mengetahui harga barang tersebut. Bukanlah hal baru bagi Erick, jika melihat anggota keluarga termuda keluarga Madison ini menyukai kemewahan.
"Dan kau lihat ini, kalung rancangan terbaru di toko perhiasan ku. Aku membawanya pulang. Perpaduan mutiara dan permata. Anggun sekali, bukan?" Laurent meletakan tas mewah di atas meja dan mulai meraba lehernya yang mengenakan perhiasan mewah.
"Bagus," jawab Erick singkat.
Erick mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna emas. Dia menyodorkan kartu kredit itu ke arah Laurrent.
"Gunakan itu untuk membeli keperluanmu," ucap Erick datar.
"Benarkah? Hmm ... tidak perlu, aku memiliki penghasilanku sendiri, lagipula kakak masih mengirimi aku uang setiap bulannya. Kan aku masih punya saham di Madison corp," ujar Laurent dengan santai.
Erick termangu untuk sesaat. Dia kemudian memasukan kembali kartu tersebut kedalam dompet. Erick kemudian berjalan melalui Laurent menuju ruangan mencuci. Dia melepaskan Jas dan pakaiannya, kemudian memasukan ke dalam kantong pakaian kotor untuk di bawa ke laundry esok hari oleh seorang pelayan harian.
Setelah melepaskan jas dan mencuci tangan, Erick mengambil kaos polos dan celana kolor. Perutnya sudah lapar ingin menikmati makan malam dengan tenang.
Erick menuju dapur modern yang menyatu dengan ruang tamu. Dia melihat ke atas meja bar dan tidak menemukanan apapun yang bsia dimakan.
Erick menghela napas. Masih teringat jelas kata-kata Laurent, "makan malam di rumah ya, aku ingin makan malam bersamamu. Aku akan memasak."
Tapi kenyataannya, wanita itu masih sibuk dengan barang - barang mewah yang baru saja dia beli. Erick menatap kearah Laurent yang masih saja mengelus tas mewah tersebut.
Erick kemudian membuka lemari atas dan mengeluarkan dua kotak spaghetty instan. Tidak ada pilihan lain, malam ini dia akan memakan spaghetty instan dan telor. Terlalu lama jika menunggu pesan antar.
Laurent bahkan tidak menyadari jika saat ini Erick sedang memasak makanan. Ia beranjak dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamar. Laurent masih berkutat di depan cermin sambil mengikat rambut dan melepaskannya, mencari bebagai gaya yang cocok agar kalung yang dia kenakan tampak mencolok.
Setelah hampir setengah jam lamanya, Laurent menyudahi kegiatannya dan menyimpan semua barang-barang yang baru dia beli. Laurent kemudian beranjak keluar kamar dan mencium aroma harum.
"Wah, harum sekali. Tampak lezat." Laurent duduk dihadapan Erick yang sedang memakan spaghety dengan lahap.
"Kau memang keran, bisa segalanya. Pandai memasak juga," puji Laurent dengan kekaguman.
"Hanya mie instant," sahut Erick datar. Dia tidak menyukai pujian yang dilontarkan oleh Laurent.
Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangan, mengamati Erick yang sedang makan dengan lahap. Gerakan Erick yang memasukan gulungan besar spaghety dengan garpu, terlihat sexy bagi Laurent.
Laurent tidak memeprhatikan sepiring spaghety lain yang sudah dipersiapkan Erick untuk dirinya. Dia hanya sibuk memandang dan mengagumi pria dihadapannya. Lelaki yang sudah menjadi suaminya.
"Kau tidak makan?" tanya Erick.
"Aku kenyang. Tadi sore aku sudah memakan banyak cemilan bersama karyawan toko. Jika makan lagi, maka aku akan gemuk. Kau tidak ingin kan melihat aku gemuk?" Laurent terkekeh.
Erick tidak menanggapi gurauan Laurent. Dia hanya menghela napas, mengambil piring spaghetty yang dia sediakan untuk Laurent. Kemudian Erik menuangkan sisa spaghetty di piringnya menjadi satu, dan kembali memakan habis spaghetty instant tersebut. Meskipun rasanya berbeda dengan buatan seorang koki bintang lima, tapi dua bungkus mie instant ini sudah cukup untuk mengobati rasa laparnya.
"Kau kelaparan sekali ya, hehehhe. Senang melihat dirimu makan seperti ini." Laurent terkekeh. Dia mengambil tisyu untuk mengelap sudut bibir Erick yang sedikit kotor.
Erick terus menghabiskan makanannya dan membiarkan Laurent berceloteh tentang kesehariannya. Dia membereskan piring bekas makannya dan mencucinya langsung.
"Aku akan mandi dan beristirahat," ujar Erick sambil berjalan menuju kamarnya.
"Ya Tuhan! Aku juga belum mandi." Laurent mengejar Erick ke dalam kamar.
"Kita mandi bersama ya, aku juga belum mandi," pinta Laurent malu-malu.
Erick menghela napas. Dia mengambil sehelai handuk dan keluar dari kamar mandi.
"Erick! Mau kemana?" tanya Laurent dengan manja.
"Kau mandilah di sana. Aku akan mandi di kamsr sebelah."
Jawaban datar Erick membuay Laurent terperangah. Sudah satu bulan mereka tinggal di atap yang sama, tapi sikap Erick tidak oernah berubah sedikitpun. Dia tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang istri.
Laurent melepaskan pakaiannaya dan mandi dibawah siraman air hangat yang membasuh rambut dan tubuhnya.
"Ericcckkk, kapan kau bisa bersikap lembut pada ku?"
Laurent mendesah perlahan. Dia tidak menyangka jika ternyata sangat sulit mengubah pendirian Erick
...๐นโ๐นโ๐นโ๐นโ๐นโ๐นโ...
Update aplikasi Noveltoon dan Mangatoon kalian untuk Mei Fiesta.
Jangan lupa berikan poin dan vote untuk Lijas ya. ingat Hadiah ranking akan di bagikan untuk kalian.
Sesuai dengan janji author
โข Masuk 20 besar hadiah dari NT 100rb.ย Akan dibagikan 50 rb rangking 1 tertinggi dan 25 rb untuk 2 orang lainnya.
โข Masuk juara 2-10ย besar hadiah dari NT 200 rb. Maka juara 1 dpt 100rb. Juara 2dan 3 @50 rb.
โข Masuk juara umum besar hadiah NT 300 rb. Maka juara 1 @100rb. Juara 2&3@50 rb. Yang 100 rb akan dibagikan ke 10 pemberi hadiah lainnya.
Jika tidak masuk Juara 20 besar maka, tetap ada hadiah kejutan untuk ima besar saja yaaa.
Undian hadiah poin Hanya untuk bulan Mei 2021 saja. Okeyy.
Bagaimana? Semangat!
Gerakan 1 juta bunga untuk Lijas.๐