
"Siapa mereka?" bisik Lia pada Jason. Dihadapannya kini, ada dua orang wanita yang cantik dan anggun. Dari cara mereka memoleskan make up dan mengenakan pakaian, kedua wanita itu pastilah memiliki status sosial yang tinggi.
Wanita yang berebut tas dengan dirinya tadi memang berpenampilan lebih mencolok, daripada wanita yang duduk tenang dihadapan Jason. Dari sikap dan cara mereka memandang Jason, terbersit kekaguman yang jujur saja membuat Lia jengah.
Lia sadar, suami kesayangannya ini, memang suatu harta benda yang sangat berharga. Dimanapun dia berada, meski menggunakan pakaian gembel sekalipun, tetap mengeluarkan aura yang bersinar. Kharisma dan ketampanan memang tidak bisa dipungkiri. Sayang sekali, dia tidak yakin jika wanita dihadapannya memang menilai Jason dari aura yang terpancar, bukan dari emas dan tahta dibelakangnya.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Tuan Jason," ujar wanita yang berebut tas dengan dirinya.
Wanita itu memandang Jason dengan senyuman super cantik yang dia miliki.
"Nona Benita." Jason membalas sapaan wanita yang bernama Benita dengan singkat.
"Tidak disangka kita bertemu disini. Sudah hampir satu tahun, bukan?" ujar Benita lagi dengan kerlingan manja nya.
"Entahlah. Aku tidak ingat kapan terakhir kita bertemu."
Lia tertawa dalam hati mendengar jawaban suaminya. Jawaban yang tentu saja membuat jengah wanita bernama Benita. Namun, senyum tak luntur juga dari wajah cantik yang manja itu. Dia tampak tidak pantang menyerah.
"Hahaha ... tentu saja, anda pasti banyak bertemu dengan banyak orang. Sudah lama rupanya, anda tidak berkunjung ke Madrid." Lagi-lagi Benita terus saya berbicara meski tidak mendapat banyak tanggapan dari Jason.
"Kali ini giliran aku dan kakak yang mengunjungi Paris. Kau tahu tuan Jason, aku akan mengikuti kompetisi dancing with star." Benita bercerita tanpa ditanya.
"Dan kakak ada kepentingan bisnis disini. Mungkin kau bisa membantunya, benar bukan kakak." Benita menoleh kepada wanita yang tampak lebih tenang disisinya.
"Kami sudah membicarakannya tadi, Benita," ujar wanita tersebut.
Mereka terus saja bercakap-cakap, tanpa menghiraukan keberadaan Lia disisi Jason. Tampaknya kedua wanita tersebut, tidak perduli siapa wanita yang duduk di dekat Jason. Meskipun posisi duduk Lia menempel pada Jason dengan tangan pria itu yang memeluk pinggangnya.
"Masih lama?" tanya Jason pada Lia tanpa menghiraukan cerita wanita bernama Benita tadi.
"Seharusnya tidak." Lia memberi kode kepada pramuniaga tadi untuk menyelesaikan pembayaran dengan segera.
Pramuniaga yang sedari tadi sebenarnya sudah menyelesaika proses pembayaran, ragu untuk menghampiri Lia dan meminta tanda tangan, ketika dilihatnya mereka asyik berbincang-bincang.
Mendapatkan kode dari Lia, mereka segera menghampiri Lia. Menyodorkan cek pembayaran dengan sopan dan menanti Lia menyelesaikan penandatanganan.
"Ke alamat mana barang harus kami antar, nyonya Madison?" tanya pramuniaga.
"Penthouse," ujar Lia dengan santai.
"Kita pergi sekarang?" tanya Lia dengan lembut pada suaminya.
Jason langsung berdiri dan mengulurkan tangannya pada Lia. Dengan senyum lebar, Lia menyambut uluran tangan Jason. Mereka berdiri berdampingan dan siap keluar dari toko tersebut.
"Permisi, ms. Belinda dan ms. Benita," pamit Jason.
"Semoga kita bertemu lagi, Tuan Jason," ujar Benita dengan percaya diri.
Jason mengacuhkannya. Apalagi Lia. Sedari tadi kedua wanita itu berbicara, tanpa mau tahu siapa dirinya. Memandangnya saja tidak. Dan Lia tidak perduli hal itu, dia tidak merasa memiliki urusan dengan kedua wanita tadi. Tanpa berpamitan, Lia mengikuti Jaso .
"Mereka adalah putri gubernur Madrid. Dan masih sepupu dari Raja Spanyol." Jason menjelaskan tanpa Lia tanya.
"Ah! Pantas saja sikapnya begitu percaya diri dan angkuh."
"Apakah dirimu ada masalah dengan salah satu dari mereka? Dengan Benita?" tanya Jason.
"Bukan masalah besar. Hanya dia menginginkan tas yang aku incar," cerita Lia dengan santai.
"Lalu?"
"Aku mendapatkan yang lebih baik. Dan dia kecewa," Lia terkekeh.
"Lanjut shopping?" tanya Jason.
"Tentu saja. Aku harus mulai membeli daster," ujar nya sambil menepuk perutnya yang hanya bertambah buncit satu centimetre.
"Tetap yang sexy ya," bisik Jason mesra.
"Enggak mau!"
"Berani ya melawan kata-kata suami."
"Habisnya ...."
"Apanya yang habis."
"Pakai biasa saja__ selalu dikunjungi, apalagi sexy," ujar Lia dengan semburat merah di pipinya.
"Kan aku ingin menyapa juniorku," goda Jason.
"Menyapa itu kan bisa saja dengan begini saja." Lia menarik tangan Jason menyentuh perutnya.
"Itu kan sentuhan luar. Sedangkan aku ingin mereka mengenal ayahnya, dengan lebih sering mengunjungi dari dalam," goda Jason lagi. Kali ini Jason melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lia. Mendaratkan kecupan lembut di bibir tipis itu. Kemesraan mereka tentu saja membuat iri setiap pengunjung mall.
Hampir saja Lia terlena, ketika didengarnya suara bocah kecil, "Mom, thery are kissing."
Lia mendorong dada Jason dan memalingkan wajahnya.
"Sudah ah. Malu." Bisiknya perlahan.
"Aku masih ingin lebih, pulang saja ya."
"Hush! Sudah ah. Dasar mesum!" Lia protes ketika Jason mulai berbicara berlebihan yang semakin membuat wajahnya bagaikan kepiting rebus.
"Kau yang membuatku semakin mesum."
Lia mempercepat langkahnya memasuki sebuah butik. Meninggalkan Jason yang terkekeh dibelakangnya. Dia lebih memilih memasuki butik dan meninggalkan suaminya dibelakang untuk menyusul, daripada harus diikuti masuk ke dalam kamar pas. Memalukan. Hal itu pernah terjadi? hehehe ... bukan saja pernah, tapi sering.
Lia memilih gaun terusan yang dia inginkan untuk dirumah dan memilih beberapa gaun designer yang cocok untuknya. Lia mengacungkan kelima jarinya memberikan tanda berhenti pada Jason, agar pria itu tidak mengekorinya. Akan semakin lama berbelanja di satu butik ini, bila Jason menguntit.
Sementara Lia dan Jason berada di dalam butik. Benita dan Belinda sudah keluar dari toko yang menjual tas tadi. Kepergian mereka diiringi pandangan jengkel dari pramuniaga. Gayanya yang sedari tadi sok untuk membeli tas, hingga berebutan. Nyatanya keluar dengan tangan kosong. Bahkan tanpa rasa malu, meletakan tas itu begitu saja.
"Kau tidak jadi membeli tas itu?" tanya Belinda pada adiknya.
"Seleraku sudah hilang. Kakak! Ayo kita cari tuan muda itu," ajak Benita bersemangat.
Kini kedua wanita tersebut berjalan, sambil mengamati setiap toko, mencari sosok yang mereka cari. Beberapa pasang mata pria memandang ke arah Belinda dan Benita. Kecantikan dan keindahan tubuh gadis Spanyol, memang tidak dapat disembunyikan.
"Kira-kira siapa wanita disampingnya ya? Kenapa pelayan memanggil dia, nyonya Madison?" Belinda penasaran.
"Apa kau perduli, siapa wanita itu? Ingat misi dari daddy. Kita harus mendekati pria itu." Benita menegaskan.
"Bagaimana kalau wanita itu istrinya?"
"Mereka belum mengumumkan, bukan? Berarti tuan Darren Madison belum mengakuinya. Masih ada kesempatan bagi kita. Ini demi masa depan keluarga kita. Jika kau bisa menjadi pendamping wanita yang diakui tuan Madison, maka peluang ayah untuk menjadi perdana mentri Spanyol dan mendapatkan jabatan di PBB akan semakin terbuka." Benita nampak begitu berambisius.
"Ya aku mengerti." Belinda menggangguk.
"Ayo, kita cari mereka dan menemukan kesempatan bagi dirimu untuk bekerja sama dengan tuan muda itu."
"Ah, itu dia!" Benita bersorak gembira ketika melihat incarannya.