48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Rekaman



Jason, jam sore hari ini baru saja selesai rapat. Rapat yang sangat panjang dan melelahkan. Dia mendampingi ayahnya Darren Madison menghadiri rapat untuk mengatur harga minyak dunia.


Rapat yang menguras energi itu, berlangsung sangat lama, dari jam delapan pagi hingga jam Tujuh malam. Bahkan disela-sela makan siang, Jason masih harus melayani beberapa kadal yang hendak mencari muka.


Saat ini Jason baru bisa bernafas lega, karena akhirnya dia memiliki kesempatan untuk menghubungi Lia. Namun, hanya sesaat dia bisa menarik nafas lega, ketika Darren Masidon sang ayah menghampiri nya.


"Ikuti daddy. Kita harus bicara." Ucapnya dengan tegas tanpa senyuman.


Tanpa menunggu jawaban Jason, Darren Madison memimpin langkah. Dengan malas, Jason terpaksa mengikutinya. Dia sesungguhnya tidak ingin makan malam dengan tuan besar. Karena yang diinginkan Jason saat ini adalah masuk kamar dan mendengarkan suara si kucing liar nya.


Handphone Jason mengeluarkan signal berwarna merah. Segera Jason membuka layar handphone dan membuka menu khusus cctv. Dan sontak saja wajah Jason memerah. Dia tidak dapat mengalihkan matanya dari layar handphone tersebut.


Dada Jason bergemuruh. Badannya panas dingin. Bahkan Jason tidak memperhatikan langkah kakinya, sehingga tanpa sadar dia menabrak Darren Madison yang sudah masuk ke dalam lift.


"Ah, maaf ayah." Kata Jason dengan gugup.


"Apa yang kau lihat sehingga tidak berkonsenterasi?" Tanya sang ayah dengan suara dingin.


"Tidak. Tidak ada apa-apa." Jawab Jason dengan gugup. Dia kemudian menekan tombol simpan untuk hal yang dia lihat baru saja di handphone nya.


Jason berdiri dengan gelisah di dalam lift yang membawa mereka ke lantai bawah, dimana restaurant mewah yang mereka tuju berada. Dia tidak sabar untuk menyudahi kebersamaan dengan ayahnya sesegera mungkin. Karena ada hal yang lebih penting yang harus dia kerjakan. Menonton rekaman cctv.


Sesampainya di restaurant, Jason dan Darren duduk berhadapan. Sedangkan Erick duduk berhadapan dengan Wilson assistent Darren Madison di meja lainnya.


Pelayan dengan hormat menuangkan air juga memberikan menu.


Pelayan meninggalkan mereka setelah mencatat pesanan.


"Bagaimana khabar daddy?" Tanya Jason berbasa-basi.


"Aku masih sehat dan masih sanggup beradu renang dengan mu." Kelakar sang ayah. Topeng dingin dan serius yang selalu ia tampilkan, saat ini telah dia lepaskan


"Bailklah, lain waktu kita akan bertanding." Jason menyanggupi tantangan sang ayah.


"Hahaha. Kau masih bersemangat. Aku suka jiwa ambisiusmu. Pewaris tahta Madison harus bersikap seperti itu." Ujar Darren Madison dengan bangga.


Jason tidak menjawab. Dia melirik ke arah handphone nya. Dan Darren Madison melihat hal itu. Dia dapat melihat bagaimana Jason konsentrasinya terpecah. Jason tampak ingin sekali menyentuh ponselnya.


Bagi Darren, ini adalah suatu perubahan besar yang bisa dia lihat. Jason yang selalu fokus dan dingin. Jason yang selalu mengenakan topeng yang sama dengan ayahnya, kali ini sinar mata itu berubah. Hal itu yang membuat Darren penasaran. Karena di dunia yang digeluti Jason, dia tidak boleh berubah menjadi lembek.


"Kau ingin menghubungi seseorang? Jika itu penting, lakukan." Darren Madison berbicara sambil menegak segela anggur putih dengan mata tajam tertuju pada Jason.


Jason mengeleng sambil menatap ayahnya.


"Hal itu bisa menunggu." Jawab Jason singkat.


Bohong! Dia tidak dapat menunggu. Karena saat ini juga seluruh organ tubuhnya terpusat pada satu hal, sosok yang ada di dalam layar handohonenya. Sosok yang membuat dia panas dingin. Sosok yang selalu membuat dia gelisah setiap waktu.


Mungkin ini adalah kesalahan yang dia lakukan dengan memasang cctv di dalam kamar tidur dan kamar mandi Lia. Karena hal itu justru membuat dirinya mengalami gangguan sesak nafas.


"Baiklah. Aku akan langsung pada intinya. Siapapun yang membuat konsetrasimu pecah saat ini, aku harap dia adalah seorang wanita yang tangguh." Kata Darren Madison dengan menatap Jason lekat.


Jason sengaja menggunakan kata-kata itu untuk menyinggung perasaan ayah nya. Dia masih tidak dapat menerima kelakuan sang ayah, yang sudah menduakan ibu nya. Meskipun kejadian itu sudah duapuluh tiga tahun yang lalu.


Darren Madison terdiam. Dia mengangguk-anggukan kepala sambil menegak anggur putihnya. Pembicaraan mereka terhenti ketika makanan sudah tiba. Pelayan meletakan sepiring steak di hadapan mereka masing-masing. Darren dan Jason tidak memesan soup dan salad, karena tampaknya mereka berdua ingin mempersingkat waktu.


"Laura Collins adalah wanita hebat dan yang aku kagumi selama masa kecilku. Dia selamanya adalah wanita yang aku hormati akan kebesaran hati dan juga ketangguhannya. Dia memang adalah wanita yang pantas menjadi Ratu bagi kerajaan Madison..." suara Darren Madison mengambang.


"Tapi?" Tanya Jason dengan tatapan mata tajam pada ayahnya.


Darren Madison menghela nafas.


"Tapi ya aku memang melakukan kesalahan dan mengkhianati dirinya. Tapi lihatlah mommy mu dia tetap berdiri tegak dan tersenyum bagaikan seorang ratu." Darren Madison menusuk steaknya dan mengunyah perlahan.


"Katakan padaku, kenapa kau menikahi mommy jika tidak mencintainya?"


Pertanyaan yang selama ini Jason ingin ajukan akhirnya meluncur dengan lancar dari bibirnya. Dulu dia tidak perduli dan mengenal arti cinta. Yang dia tahu adalah kekuasaan. Namun, pertanyaan itu begitu mengganjal di hatinya ketika dia menemukan cinta.


"Pernikahan kami di dasari perjodohan dan bisnis. Meski begitu bukan berarti aku tidak mengagumi ibu mu, sering waktu aku belajar menerima keberadaannya. Hingga lahir lah dirimu. Batas antara cinta dan kekaguman lebih tipis dari selembar kertas."


Darren Madison mengatakan hal itu dengan tenang. Perkataan sang ayah membuat Jason memahami, jika dirinya dan laurent bukan lahir dari suatu hubungan karena cinta. Tapi lebih dari keharusan memiliki generasi penerus kekuasaan.


"Kau hendak mengatakan jika dirimu lebih mencintai wanita itu?" Tanya Jason dengan dingin mengacu pada wanita simpanan ayahnya.


Darren menghentikan aktifitasnya mengunyah steak. Dia memandang Jason dengan tajam. Kemudian Darren membasuh mulutnya dengan segelas air putih. Mengelap bibir dan duduk bersandar pada kursi.


"Ingat Jason. Jangan pernah biarkan dirimu jatuh cinta pada seorang wanita. Kau boleh mengagumi, menghormati bahkan menyukainya. Tapi cinta no.no.no. itu adalah Big No!"


Darren Madison kemudian memajukan tubuhnya dan meletakan siku tangan di aatas meja. Dia mengacungkan tangan dan menunjuk pada Jason.


"Selama kau memiliki uang dan kekuasaan, semua wanita di dunia akan bertekuk lutut pada mu. Kau bisa memiliki mereka semua yang kau mau. Tapi jangan beri mereka cinta. Karena cinta hanya membuatmu lemah dan menjadi pria yang gagal!"


"Aku tidak perduli dengan wanita yang kau pilih untuk mendampingi mu. Tetapi ingat! Wanita itu harus tangguh dan anggun seperti Laura Collins. Biar mata dunia bisa memandang hormat dan kagum pada kau dan ratu mu."


Darren Madison menyudahi percakapan tanpa menunggu Jason berbicara. Dia berdiri dan beranjak dari kursi, menepuk punggung Jason, kemudian meninggalkan pria tampan itu sendiri.


Jason merenung sesaat. Mencerna perkataan ayahnya. Pria itu menghela nafas panjang sambil berujar lirih, "terlambat daddy, aku sudah terlanjur jatuh cinta. Dan cinta itu membuatku semakin tangguh."


Jason kemudian menyelesaikan makanannya, menghabiskan air putih kemudian beranjak dari tempat duduknya. Jason menghampiri Erick dan meninggalkan pria itu hanya dengan menepuk punggung Erick. Jason ingin secepat nya masuk ke dalam kamar dan melihat rekaman cctv nya.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


hallo semua, jangan lupa keep poin yang banyak yaaa, minggu depan tanggal 18 di vote kan untuk Lijas yaaa.


Total akumulasi terbanyak selama mendukung Lijas, sewaktu-waktu akan dapat bonusan yaa.


Vote hanya untuk 48 Months agreement.


Trimakasih atas dukungannya.


Love You all