
...💕 🌟 VOTE PLEASE 🌟💕...
...💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖...
"Nona ada yang ingin bertemu dengan anda."
Ujar Butler Bernard. Pria itu sudah tidak terlalu berwajah masam lagi seperti biasanya, mungkin sisa-sisa kebahagiana akan kemenangannya masih bertanggar dengan kuat.
Dahi Lia berkerenyit mendengar perkataan butler Bernard. Dia tidak menyangka orang yang begitu dia nantikan akan datang begitu cepat. Senyuman lebar mengembang di wajah Lia. Dia memiliki tamu, hal yang luar biasa bukan, dalam lima bulan belakangan ini dia yang terkurung dan tidak mengenal siapapun, memiliki tamu.
Lia berjalan dengan riang meninggalkan butler Bernard dengan kulit merah terpanggangnya, bahkan Lia tidak memperhatikan langkah butler Bernard yang agak terseok. Tampaknya pria setengah baya itu, kelelahan akibat usaha luar biasa yang telah dia lakukan untuk memenangkan pertandingan.
Tapi sungguh luar biasa, butler Bernard adalah seorang yang bertanggung jawab. Ketika di ketahui ada seorang tamu yang datang, dia segera mengenakan seragam kebesarannya dan menjalankan tugas untuk menyambut setiap tamu yang datang. Jadi intinya, tidak ada seorang tamu pun yang datang dan bisa bertemu dengan tuannya, jika tidak melalui dirinya.
Lia yang melangkah dengam riang mendahului butler Bernard, sudah berada di pertengahan anak tangga dan gadis itu memekik gembira melihat siapa yang datang.
"Emelyyy," sapa Lia dengan gembira ketika melihat gadis yang dia nantikan sudah duduk dengan anggun. Lia menuruni anak tangga dengan riang sekali. Raut wajahnya begitu gembira, meskipun tidak sebahagia ketika bertemu dengan Jason.
Ya... wanita anggun yang keluar dari mobil dengan gaya elegant dan melangkah bak pragawati, yang sanggup membuat semua pengawal juga pelayan menoleh dan mengikuti langkah kakinya adalah Emely. Emely, teman pertama Lia yang dia temukan ketika tersesat. Teman yang sudah menampung dirinya kala tidak ada tempat tinggal. Teman yang sangat Lia sukai.
"Liaaa, benar itu kau? Ah... kau sangat cantik. Aku tidak menyangka mansion mu sungguh luar biasa." Pekik Emely dengan gembira. Seketika gaya anggun yang dia tunjukan hilang. Sepintas akan terlihat jika karater mereka sangat mirip. Mungkin itu sebabnya mereka sangat mudah untuk akrab.
Sore hari setelah beberapa jam suntuk dengan kepergian Jason yang datang dan pergi begitu saja, Lia mulai bernegosiasi dengan suaminya, si pria tampan dan kaya. Awalnya Lia ingin sekali lagi meminta izin keluar rumah dan menginap di kediaman Emely. Tetapi tentu saja Jason berubah piliran dan melarangnya pergi ketika Lia mengatakan keinginannya menginap di Emely. Alasan yang Lia tidak ketahui adalah, Jason tidak ingin Lia bertemu dengan Gabriel.
Akhirnya Jason mengizinkan Emely untuk datang berkunjung dam menginap. Dengan syarat hanya Emely seorang saja. Hitung-hitung, itu sebagai ungkapan terimakasih pada kebaikan Emely menampung Lia.
Lia tentu saja memekik gembira sambil berloncat-loncat. Dia akhirnya mempunyai seseorang yang akan membantunya sedikit melupakan kerinduannya pada Jason.
"Iyaaa aku tinggal disini." Kata Lia dengan gembira sambil duduk di samping Emely dengan menekuk kedua kakinya.
"Ah... pria yang menyeretmu waktu itu adalah..." Emely bertanya dengan ragu.
Karena saat itu di the Brasserie di melihat Lia di seret dan dipanggul pergi oleh seorang pria tampan yang sedang berjanji temu dengan Natali. Emely masih tidak percaya, jika pria itu adalah suami Lia, meskipun polisi patroli sudah mengatakannya. Dan hal itu membuatnya terus memikirkan keadaan Lia.
"He eh. Dia suami ku. Jason." Ujar Lia dengan tersipu.
Emely terpana. Jadi benar pria gagah dan tampan itu adalah suami Lia, bukan mafia mesum seperti dugaan Emely.
"Tapi kenapa dia disana dengan Natali?" Ups! Emely menutup mulutnya. Dia baru tersadar jika dirinya bertanya hal yang terlalu privasi. Lia baru saja mengenalnya dan itu adalah ranah urusan rumah tangga yang tidak berhak dia campuri.
"Jangan sungkan, santai saja. Ada kesalah pahaman diantara kami. Sekarang sudah lumayan clear." Ujar Lia dengan santai.
"Lumayan?" Emely merasa heran dengan kata-kata itu.
"Ah... masalah pasangan muda." Emely tertawa cekikikan.
"Begitulah. Eh, bagaimana dengam butiqmu? Ah seharusnya aku meminta mu membawakanku beberapa pakaian ya." Keluh Lia.
"ihhh, semua pakaiannmu pasti lebih branded, berkualitas dan berkelas daripada isi butiqku." Ujar Emely merendah.
"Ya begitulah. Jason selalu mengirimkan semua model terbaru yang sesuai denganku dari beberpa perancang busana. Tapi untuk apa jika aku hanya di rumah saja. Lebih baik pakai kaos oblong saja." Keluh Lia lagi dengam sedikit kesal. Keinginannya untuk berjalan-jalan dinluar mansion dengan Jason belum juga terpenuhi, hanya karena sifat posesif pria itu. Mana ada coba tuan arogant yang mengurung pasangannya seperti Jason.
"Maksudmu kau tidak pernah keluar rumah?" Tanya Emey dengan heran.
Lia menggelengkan kepala.
"Sewaktu aku tersesat dan bertemu denganmu, itu adalah pertama kalinya aki keluar dari rumah." Kata Lia.
"Oh my God. Suamimu posesif!" Pekik Emely takjub.
Meski begitu Emely tetap takjub dengan Lia. Meski dikurung begitu rupa dalam sangkar emas dan segala sesuatu yang berlimpah, Lia tetap bersifat sederhana dan tidak angkuh. Bahkan Lia masih bisa bersifat ceria dan tampak merindukan suaminya. Meskipun kata-katanya terkesan jengkel dengan Jason tapi nada suara dan sorot matanya mengatakan jika dirinya mulai terbiasa dan merindukan pria itu.
"Ada keributan apa itu dibelakang?" Tanya Emely tiba-tiba ketika terdengar pekikan di arah taman belakang.
"Ah, itu... aku memberikan pesta kecil untuk pelayan di rumah hari ini. Mau melihat?" Ajak Lia.
"Ayoo.." Emely dengan penasaran mengikuti langkah kaki Lia. Dia sesekali menoleh seleliling ruangan yang tersusun dengam sangat epic.
Di taman belakang, tampaknya keriuhan masih berlanjut. Saat ini sedang ada pertandingan berenang antara pelayan wanita. Tentu saja semua pelayan pria dan pengawal berkumpul dan bersorak melihatnya. Tontonan yang menarik, karena dibalik seragam tertutup yang selalu mereka kenakan, saat ini tampak kemolekan.
"Wow, ini menyenangkan." Seru Emely dengan mata berbinar. Beberapa pelayan pria masih muda dan bertubuh ateletis. Sedangkan pengawal tentu saja bertubuh bagus dan rupawan, apalagi sebagian besar dari mereka adalah bekas polisi atau tentara yang terlatih.
"Apakah suamimu tidak marah, kau membiarkan mereka seperti itu?" Tanya Emely tanpa mengalihkan pandangan dari pertandingan di hadapnnya.
"Hehehe... dia sudah lupa marah." Sahut Lia asal.
Emely mengernyitkan keningnya tidak paham dengan maksud perkataan Lia. Tapi melihat Lia sibuk memberi semangat pada pelayan wanita yang bertanding renang, Emely tidak melanjutkan pertanyaannya.
Benar kata Lia, Jason tadi memang lupa marah. Bisa diyakini jika awalnya Jason pasti akan sangat marah, melihat pelayan pria yang bertelanjang dada dihadapan Lia. Hehehe, akibat rindu dia jadi Lupa menegur mereka semua, termasuk butler Bernard.
...💖💖💖💖💖💖💖💖💖...
Hehehe.. tenanggg jangan tegang-tegang. Emak nya Jason masih sibuk, belum sempat ketemu Lia.