48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Ini anakku?



"Ini ... ini anakku?" Jason berjalan menggampiri monitor sambil menunjuk pada lingkaran kecil dimana kursor berada.


"Benar sekali, tuan." jawab dokter Luccy.


"Heh?! Mana wajahnya, mana kaki dan tangan. Ini kan apa namanya ... hanya telor kecil." sahut Jason tak mengerti.


"Jason! Sudah sini duduk saja. Jangan banyak bicara." Lia menjadi malu dengan sikap Jason yang kekanakan.


"Tidak. Aku ingin dokter ini menjelaskan nya padaku. Mana bisa ini anakku. Apa kau yakin dirimu adalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini?!" nada suara Jason terdengar mencemooh membuat wajah dokter Luccy seketika memerah.


"Jason ... sudah." Lia menggeram malu mendengarkan perkataan suaminya.


"Maaf dokter Luccy, seumur hidup dia tidak pernah belajar biologi. Dia hanya tahu bisnis saja." ucap Lia memberikan alasan yang masuk akal. Dia merasa malu dan tidak enak dengan sikap Jason yang begitu menyepelekan dokter kandungan.


Dokter Luccy menarik nafas lega. Setidaknya pria kaya dengan suara menghina tadi, memang benar-benar bodoh dan buta pengetahuan akan hal ini. Dasar juga pria, jika mengenai pengetahuan anatomi tubuh wanita, langsung saja paham tanpa harus belajar.


"Begini tuan, biar saya jelaskan. Kandungan istri anda baru memasuki minggu keempat. Jadi ukuran anak anda memang masih kecil. Masih berupa Zygot. Dan dia akan berkembang perlahan seiring pertumbuhan usia. Di bulan ke tiga atau minggu ke dua belas, akan mulai terbentuk kepala, kaki dan tangan. Semua nya bertahap." jelas dokter Luccy panjang lebar.


Jason mengangguk-angguk seakan-akan mengerti.


"Jadi ... berapa lama akan tampak wajah mungilnya?"


"Sekitar usia tujuh bulan, akan bisa di lakukan usg 4d, disana anda bisa melihat wajahnya."


"Tujuh bulan?!" suara Jason meningkat tiga level.


"Iya tuan ..."


"Lama sekai? Apa kau tidak salah?!


"Memang demikian adanya tuan, seorang wanita akan mengandung selama sembilan bulan, sebelum dia melahirkan."


"Apa?! Sembilan bulan? Jadi masih harus menunggu selama itu aku baru bisa melihat anak laki-laki ku?" ucap Jason dengan sedih.


"Bagaimana kau tahu, jika anak ini laki-laki?" tanya Lia geli.


"Tentu saja laki-laki, karena aku yang menginginkan dan sudah menyiram benihnya." jawabnya angkuh.


"Jadi kau pikir, karena kau memerintahkan, maka otomatis bayi di kandunganku itu, laki-laki?"


Jason menganggung mantap dengan senyum pongah nya.


"Cih! Kaya anak kecil." Lia mencibir kesal.


"Tanya saja dengan dia kalau tidak percaya." Jason menunjuk dokter Luccy. Pria tanpa pengetahuan dasar biologi ini, merasa apa yang dia pikirkan adalah benar.


Dokter Luccy jadi kebingungan. Sepanjang karier nya baru kali ini ada suami pasien yang aneh. Pengetahuan dasar saja tidak dia mengerti mengenai kehamilan. Setidaknya pria manapun mengerti, kehamilan manusia itu mencapai kisaran sembilan bulan, normalnya.


"Maaf tuan Jason, kita baru bisa mengerahui jenis kelamin anak anda, minimal diusia 3 bulan." ujar dokter Luccy dengan tenang.


"Apa? Kenapa dunia kedokteran tidak canggih sekali. Menyelesaikan perkara begini saja tidak bisa. Bukankan ada perbedaan jelas antara tubuh pria dan wanita!" sahut Jason kesal.


"Sayangggg, ayo sini duduk." panggil Lia setengah melotot. Saat ini jelas sekali sikap posesif Jason ditunjukan berlebihan, bahkan pada bayi yang baru saja dia ketahui.


Jason menuruti perkataan Lia. Dia diam dan duduk disamping istrinya. Meskipun raut wajahnya masih terlihat tidak puas. Beralih dari monitor, Jason memandang foto usg. Dia masih mengernyit tidak mengerti melihat lingkaran kecil yang ada ditangannya.


"Tetapi apa?! potong Jason cepat.


Lia melotot kesal kearah Jason yang tidak sabaran sekali.


"Prosesnya akan menyakitkan. Kami harus memasukan alat kedalam kelamin nyonya Lia, kemudian menusuk masuk kedalam ketuban hingga kedalam janin. mengambil sample dna janin tersebit untuk diteliti kandungan gen nya. Apakah dia memiliki gen xx atau gen xy." dokter Luccy mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mudah di mengerti.


Mendengar penjelasan dokter Luccy, otomatis saja Lia menjadi ngeri. Hal ini mirip dengan proses inseminasi. Dan menurut salah satu teman Lia, proses itu sakit. Lia tidak mau mengikuti proses seperti itu. lebih baik menunggu lagi selama dua bulan.


Dengan wajah ngeri, Lia menatap Jason dan menggelengkan kepalanya. Dia menyentuh tangan suaminya perlahan. Pria itu harus belajar bersabar. Tidak semua hal harus terjadi sesuai dengan kemauannya. Apalagi proses alami seperti ini, tidak bisa seenaknya saja menentang Tuhan.


Sedangakan dalam bayangan Jason saat ini, bagaimana para dokter akan membuka pakaian bawah Lia, menelanjangi istrinya. Jason menjadi tegang. Memasukan alat pada segi tiga emas yang selalu membuat dirinya panas dingin, tentu saja itu tidak boleh terjadi. Hanya dirinya yang bisa melihat dan menyentuh segitiga emas itu.


"Tidak! Akau akan menunggu dua bulan lagi." sahut Jason akhirnya mantap.


Dokter Luccy tersenyum. Dia saat ini bisa menilai, bahwa sesungguhnya pria muda yang sedang duduk dengan khawatir dihadapannya ini, hanyalah seorang kepala rumah tangga yang begitu mencintai keluarga kecilnya. Terlepas dari kenyataan jika Jason adalah anak pria dari salah satu politikus yang disegani dunia.


"Apa ada hal lain yang harus kami ketahui?" tanya Jason akhirnya.


Dari antara banyaknya pasangan yang dia tangani, apalagi pasangan yang sangat kaya. Hanya pasangan ini lah, dimana sosok suami mendominan semuanya. Calon ibu tampak lebih tenang daripada calon ayah yang sedari tadi tampak gelisah dan ingin tahu.


"Keadaan kehamilan setiap wanita itu berbeda-beda. Banyak calon ibu yang akan mengalami morning sicknes hingga usia kandungan enam belas minggu bisa juga lebih, tetapi ada juga yang tidak sama sekali."


"Morning sicknes?" Jason mengerutkan keningnya.


"Iya. Mual, muntah, lemas, tidak bisa mencium aroma yang menyengat ...."


"Kau tidak seperti itu kan, kucing kecil?" Jason memotong perkataan dokter Luccy dengan melemparkan pertanyaan pada Lia.


Gadis itu menggeleng.


"Kucing kecil? Sebaiknya jauhkan kucing dan anjing dari nyonya Lia. Bulu mereka sangat berbahaya jika masuk dalam rongga pernadasan dan hinggap di janin. Bisa mengakibatkan keguguran atau cacat pada bayi." ujar dokter Luccy.


"Tuh kan ... kau tidak boleh memanggilku kucing lagi, lalat buah." Lia mencibir geli kearah Jason penuh kemenangan.


"Hati-hati dengan lalat buah juga, binatang kecil itu kotor dan suka sekali bertelur di makanan. Belum lagi bakteri kecil yang ada di tubuhnya, bisa mengakibatkan diare. Dan itu berbahaya bagi ibu hamil."


"Heh?! Dengar itu. Masa suami setampan dan segagah ini dipanggil lalat buah." ganti Jason mencibir kearah Lia.


"Sama aja, kau juga selalu memanggilku kucing." protes Lia.


"Itu kan karena kau lucu dan menggemaskan."


"Kan bisa panggilan lainnya, lia cantik, Lia imut ...."


Dokter Luccy tertawa kecil mendengar perdebatan lucu diantara mereka.


"Eh, maaf lupa ada orang lain disini, " Lia tersenyum malu.


"Bagaimana jika mulai saat ini, tidak ada lagi lalat buah dan kucing kecil. Apakah kalian mau anak kalian seperti lalat buah atau kucing kecil?" goda dokter kandungan itu.


"Tidak!" Jawab Jason dan Lia serempak. Tanpa sadar mereka menggebrak meja, membuat dokter Luccy langsung bersandar kaget.