48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Aku yang seharusnya cemburu



Lia mengetuk pintu ruang kerja Jason. Meskipun Lia bisa saja langsung masuk ke dalam ruangan, tetapi dia memilih menghargai Jason sebagai seorang pria, suami dan sebagai atasan. Adalah hal yang sepantasnya bukan, jika seorang bawahan bertindak sopan dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.


Pedro baru saja mengajari nya bagaimana membuat kopi kesukaan Jason. Segelas kopi dengan sedikit creamer kental tanpa gula. Seteko air putih dan setoples kecil cinamon cookies, sudah berada di nampan kecil yang di pegang oleh Lia.


Jujur saja, ini pertamakali nya Lia melayani Jason. Meskipun bukan sebagi istri, siang ini dia hanya sebagai seorang sekretaris. Hal ini membuat Lia berdebar. Wanita itu dengan malu dan gugup memasuki ruang kerja Jason dan melangkah mendekati atasan yang sekaligus suaminya.


Nampan yang di bawa Lia terasa bergetar, seiring dengan degup jantungnya yang mengalirkan getaran keseluruh tubuh, disaat mata Jason memandangnya lekat. Hanya berjalan dengan membawa nampan berisi minuman dan senyum malu-malu Lia, sudah mampu membuat Jason tercekat. Dan expresi itu sempat ditangkap sekilas oleh Pedro yang membukakan pintu untuk Lia dan menutupnya kembali, ketika gadis itu sudah masuk ke dalam ruangan.


Lia meletakan minuman tersebut di sudut meja Jason. Meja kerja Jason terbuat dari kayu jati minimalis itu begitu besar dan sangat elegant. Mata pria itu tak berhenti menatap wanita yang berjalan dengan anggun. Sebelum sempat Lia berlalu dari sudut dalam meja, Jason sudah dengan tidak sabar menarik tangan Lia hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya.


"Jason, lepaskan." Pinta Lia dengan menggeliatkan tubuhnya dari pelukan Jason.


"Aku hanya ingin memelukmu." Ujar Jason sambil menambah erat pelukan dan mencium leher jenjang Lia.


"Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Tolak Lia was-was.


"Tenang saja, dari sini mereka tidak dapat melihat kedalam."


Memang benar, tampaknya Pedro di luar tidak dapat melihat ke dalam ruangan. Pria itu sepertinya masih berkutat dengan komputer dihadapannya, tanpa perduli dengan apa yang terjadi di dalam ruangan Jason.


"Jasonnnn... muah. Aku harus mulai belajar bekerja ya. Jangan sampai mereka merendahkan ku. Apalagi, aku ini masih hari pertamaku." Lia menangkup wajah Jason dengam kedua tangannya dan memberikan kecupan di dahi pria itu.


Jason yang sudah hampir memposisikan tangannya di dada Lia, menghentikan gerakannya. Wajah Lia tampak serius dan terdengar nada tegas dari suara lembut Lia. Kali ini tampaknya Jason harus mengalah.


"Baiklah kali ini aku akan mengalah." Ujar Jason.


"Tapi satu kecupan lagi sebelum aku melepaskanmu." Jason mendaratkan ciuman di bibir Lia dan mengusapnya dengan sangat lembut.


*Ini ciuman Jason bukan kecupan*.


Ketekukan di pintu menghentikan tautan bibir mereka. Erick ada di depan kantor Jason. Lia buru-buru mengusap bibirnya dan merapikan rambut serta pakaiannya. Dia akan berlari ke meja nya ketika melihat ada bekas lipstik di bibir Jason. Dengan cepat Lia menyambar tisyu dan memberikannya pada Jason. Kemudian Lia berlari ke arah pintu, membuka pintu untuk Erick.


Erick tersenyum menatap Lia. Tanpa harus dengan penjelasan, dia tahu pasti terjadi sesuatu pada mereka di dalam. Melihat bagaimana wajah gugup Lia saja, sudah menjelaskan semua.


Didalam ruangan.


"Apakah aku mengganggu?" Tanya Erick dengan nada menggoda.


Jason melengos kesal. Kenapa juga harus bertanya seperti itu, jika mahluk dihadapannya itu tahu jika kehadirannya sangat mengganggu.


"Mau apa kau?" Tanya Jason dengan tidak sabar.


Jason melirik ke arah Lia yang tampaknya baru saja menghidupkan laptop. Beruntung sekali, Lia pernah berkerja di kantor Andrew meskipun hanya beberapa bulan saja. Pelajaran dari Raja benar-benar membantu dirinya. Meskipun jurusan yang dia ambil berbeda dengan pekerjaan yang dilakukannya sekarang.


Lia melihat jika Jason dan Erick terlibat pembicaraan serius sambil memperhatikan data dan grafik dari balik laptop yang dibawa oleh Erick. Dan Lia mengalihkan konsentrasinya kepada Email-email yang masuk dari beberapa departement untuk ijin bertemu Jason dan meeting.


Lia menyusun ke dalam memo semua hal yang penting dan harus dia tanyakan pada Jason untuk mengatur jadwal pria itu. Dan diantara email yang masuk, dia mendapatkan banyak sekali email pribadi.


Ada lebih dari tiga puluh email yang masuk untuk meminta kesediaan Jason di wawancarai, dari berbagai tabloid dan koran. Ada lebih dari sepuluh email masuk dari wanita, yang tampaknya berkali-kali meminta untuk bertemu lagi dan entah berapa banyak email yang masuk dari wanita dengan alasan, meminta Jason menyeponsori debut mereka di dunia perfilman.


Yang membuat Lia heran, bagaimana bisa email-email ini masuk kedalam email sekretaris pribadi Jason. Apakah Jason dengan mudah nya membiarkan Pedro mengatur jadwal kencannya. Bahasa yang mereka gunakan juga tidak formal.


Lia memandang kesal Jason dari kejauhan sambil mengetuk-ngetukan jari nya di meja. Setelah beberapa ketukan dia baru sadar, bagaimana bisa dia meniru kebiasaan Jason untuk mengetuk meja jika sedang berpikir.


Lia memutuskan untuk keluar dari ruangan dan menghampiri Pedro. Di saat Lia mendekati Pedro, pria itu langsung saja menyambar dirinya dengan pertanyaan, "Masa sih kau tidak ada hubungan khusus dengan tuan Jason?"


Tampaknya Pedro masih tidak percaya pada perkataan Lia yang beralasan, jika Jason hanya merasa kasihan dengan dirinya. Lia mengatakan jika dirinya adalah anak yatim piatu, yang ditolong oleh Jason saat mereka bertemu di America. Lia menceritakan pertemuan pertama mereka di rumah sakit terjadi ketika Jason menolong kakaknya.


"Kenapa kau bertanya tentang hal itu lagi?" tanya Lia dengan heran.


"Tidak apa-apa, bukan masalah." Sahut Pedro.


"Aku ingin bertanya, banyak sekali email di luar pekerjaan yang masuk. Apakah selalu seperti itu?" Tanya Lia heran.


Pedro mengangguk.


"Itu semua dari wanita yang pernah berkencan dengan tuan Jason. Mereka meminta untuk bisa melakukan kencan ulang, tapi tuan tidak pernah menghiraukan." Jawab Pedro.


"Kapan terkahir kali beliau berkencan?" Selidik Lia dengan penasaran.


"Hmmm... entahlah. Sebulan yang lalu?"


Ujar Pedro tak pasti.


"Sebulan yang lalu?" Lia mengingat kejadian ketika Jason bertemu dengan Natali.


"Siapa yang mengatur kencan mereka, apakah kau yang memperkenalkan Jason dengan mereka?"


Pedro terkekeh mendengar pertanyaan Lia.


"Yakin kau tidak ada hubungan dengan tuan Jason?"


Lia menggelengkan kepalanya.


"Karena nada suara dari pertanyaanmu seperti seorang istri yang cemburu daripada staff yang ingin tahu."


Gurauan Pedro sudah cukup mampu membuat wajah Lia memerah.


"Ah, ini kan gosip besar. Makanya aku ingin tahu."


Lia memalingkan wajahnya dari hadapan Pedro dan memilih menuju ke toilet untuk merapikan dirinya. Di dalam toilet dia berusaha menangkan gejolak hatinya. Meski bagaimanapun dia harus akui suami tampannya itu adalah incaran setiap wanita.


Dan Lia harus berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya sebelum mereka mengetahui siapa dirinya. Lia sadar ini bukan sekedar kisah cinta cinderela yang menikah dengan pangeran, seperti dalam cerita romansa. Karena kehidupan seseorang tidak berhenti setelah menikah. Lia adalah saksi bagaimana Diana berjuang untuk menjaga martabat Andrew, dan tampaknya sekarang adalah giliran nya.


Keluar dari toilet, Lia dikejutkan dengan Pedro yang sudah menanti.


"Tuan Jason memintamu masuk segera. Tampaknya dia marah." Ujar Pedro.


Dengan mengernyitkan keningnya Lia bergegas masuk kedalam ruangan. Begitu Lia masuk, Erick segera keluar dengan senyuman lebar.


"Apa saja yang kau lakukan?!" Tanya Jason dengan menggeram.


"Aku dari toilet." Jawab Lia dengan heran.


"Sebelum itu?"


"Berbincang dengan Pedro." Jawabnya tanpa merasa bersalah.


"Haruskah kau berbicara dengan Pedro?"


"Aku hanya menanyakan beberapa hal tentang jadwalmu." Jawab Lia tidak mengerti.


"Lalu kenapa kau harus menatapnya tajam? Kenapa kau tampak antusias berbicara dengannya? Jangan pernah berbicara padanya lebih dari tiga detik!"


^^^Yaeelahhhh Jason, aku yang seharusnya marah dan cemburu, kenapa kau harus mendahului ku.^^^