
...~Bumi berputar dalam satu poros, tidak ada jalan kembali.~...
...💖💖💖💖💖💖💖...
Di dalam kamarnya Jason terbangun dari tidur nya yang gelisah. Kegelisahan itu bertambah saat dia membuka mata, Lia tidak ada disisinya. Bagian sisi kasur itu terasa dingin, artinya Lia sudah tidak ada di tempat tidur dalam waktu yang lama.
"Lia honey ...," panggilnya perlahan dengan suara serak. Tak terdengar sahutan, membuat Jason beranjak dari posisi tidur mencari Lia. Jason mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, disana dia tidak mendapati Lia. Melangkah ke balcony, kamar mandi dan jaquzi tidak juga dapat dia temukan.
Jason menjadi panik. Degup jantungnya berdebar kencang dan tangan yang mengepal mulai berkeringat dingin. Tubuhnya bergetar. Wajah Jason sudah memerah. Dia sangat takut, panik dan marah.
Jason bergegeas keluar dari kamar dengan bertelanjang dada, hanya mengenakan boxer. Dia tidak memperdulikan keadaan dirinya. Karena rasa panik juga takut begitu menguasai dirinya. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Lia.
"Kenapa keluar tanpa kimono?" Suara Lia terdengar sama. Jason berhenti mematung, memastikan pendengarannya.
Jason menatap Lia dalam keheningan malam. Dia menajamkan penglihatannya menembus keremangan malam. Memastikan sosok yang dia lihat di lorong dan sedang melangkah mendekati dirinya, benar adalah Lia. Saat Lia semakin mendekat, Jason langsung bergerak dan memeluk erat wanita itu.
"Eh, ada apa Jason honey, lihatlah air ditanganku sampai tumpah."
Jason memeluk Lia yang membawa dua gelas air ditangannya. Guncangan akibat tabrakan Jason, membuat air itu sedikit tumpah dan membasahi tangannya. Lia memejamkan mata merasakan pelukan suaminya yang semakin erat. Begitu hangat dan nyaman dicintai seperti itu.
"Darimana saja kau?" tanya Jason, dibalik punggung Lia, masih sambil memeluk wanita itu.
"Aku haus dan keluar mengambil air," jawab Lia.
"Bukankah ada air di nakas?"
"Tadi aku lupa mengisinya."
"Kenapa kau tidak membawa teko?" Jason melepaskan pelukannya dan meraih kedua gelas ditangan Lia.
"Hehehe ... aku juga lupa membawanya saat keliar dari kamar," Lia tertawa kecil, menertawakan kebodohannya.
"Kau ini, baru hamil kecil saja sedikit-sedikit lupa. Aku jadi khawatir kau akan lupa jika memiliki suami," rajuk Jason dengan manja.
"Ih ... mana mungkin bisa lupa dengan mahluk ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa ini," jawab Lia dengan manja sambil melingkarkan tangannya di lengan Jason.
"Kenapa kau seperti bau cerutu?" Jason berhenti dan mengendus kimono yang Lia kenakan.
"Ah ... itu tadi ...."
"Kenapa? Ada apa? Apa kau bertemu daddy?" Jason menghentikan langkahnya dan menatap Lia dengan menyelidik. Hal itu sangat dia cemaskan, jika pria tua itu menyakiti istri dan calon anaknya.
"Iya."
"Lalu apa yang terjadi, pria itu menyakitimu, menghinamu?" serang Jason dengan pertanyaan yang mengkhawatirkan keadaan Lia.
Lia menatap suaminya yang panik. Dia mengukir senyuman di wajahnya, agar Jason menjadi lebih tenang. Tapi bukannya tenang, pria tampan yang merupakan suaminya itu, tetap dengan mata menunduk menatapnya penuh selidik. Tangan Lia terulur membelai wajah suaminya.
"Enggak sayang ... tadi aku hanya berpapasan saja. Daddy mu langsung pergi ketika melihat aku. Hehehe ... apa aku begitu menakutkan ya, wajahku seram mungkin dan aura ku mengerikan. Wuss ... dia langsung terbirit-birit," jawab Lia dengan bercanda.
"Benar, kau tidak bertemu dengan daddy?!" tanya Jason lagi dengan tegas.
...maafkan aku berbohong, Jason. ...
gumam Lia dalam hati.
"Baiklah. Jika kau bertemu dengan pria tua itu dan dia bertindak semena-mena, berteriaklah dengan sekuat tenaga. Ingat! Jangan berduaan dengan pria itu. Dia penuh manipulasi dan suka menggertak bahkan membantai mangsanya dengan keji." Jason memberi peringatan yang sudah terlambat.
Lia mengangguk sambul tersenyum kecil, menenangkan suaminya.
*Terlambat sayang, aku sudah berhadapan dengan pria tua itu. Benar sekali dia sangat ahli memanipulasi keadaan dan matanya begitu tajam bagaikan singa mengincar mangsa. Sayang sekali mangsanya itu adalah aku*.
"Ayo kita kembali ke kamar. Aku sudah ngantuk. Hoam ...." Lia menguap besar.
"Kau ini! Tutup mulutmu jika menguap. Bagaimana jika lalat masuk kedalam mulut mu, lalu tertelan. Apa kau akan tidak jijik? Memberi makan anak kita lalat kotor." Jason mengomel melihat tindakan ceroboh Lia.
"Kan ... lalatnya kamu," jawab Lia terkekeh menggoda.
"Eh eh! Lupa ya janji kita, tidak ada lalat lagi, kucing manis?!"
"Duh, sendirinya lupa ya, tidak ada kucing lagi. Mau anakmu manja seperti kucing dan berisik seperti lalat?" balas Lia dengan mencibir.
"Hahahaha," Jason terkekeh.
Percakapan mereka penuh kemesraan dan tawa. Terdengar manis mengukir malam yang semakin larut. Terdengar damai bagi hati yang diliputi sukacita. Tapi tidak bagi sepasang mata yang melihatnya dari kejauhan. Tawa itu bagaikan peluru yang menembak tepat di jantung.
Di kamar. Jason meletakan air putih di nakas. Kemudian dia menyusul Lia yang sudah melepaskan kimono dan merebahkan diri. Penuh kelembutan, Jason menyelimuti tubuh mungil calon ibu. Tak lupa dia dengan lembut membelai perut Lia dan mengecupnya perlahan.
"Tidurlah dengan nyenyak. Kau harus selalu sehat, Honey." Jason kembali mengecup Lia dam memeluk wanita itu.
Lia menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher Jason. Dia memejamkan mata sesaat dan menghirup aroma maskulin, yang selalu membuat dirinya terbuai. Kehangatan dari kulit tubuh Jason mengantarkan ketenangan.
Hati Lia bergolak. Seandainya saja dia bisa mengulang lagi kehidupan, dia akan tetap memilih Jason. Seandainya bisa memulai dari awal lagi, Lia ingin menghilangkan keangkuhan dan mengakui cintanya pada Jason. Lebih awal ... lebih awal lagi tanpa penolakan.
*Tuhan beri aku kekuatan. Beri aku kesempatan untuk memeluk suami dan anakku. Tolong bantu aku, agar bisa mendukung suamiku dalam segala niatan murninya. Kebaikan hati dan perjuangannya jangan sampai sia-sia, ya Tuhanku*.
Lia meneteskan setitik air mata, yang mengalir membasahi leher Jason. Dia tidak berani bangun dan mengusapnya, karena khawatir jika Jason mengetahui. Lia memilih tetap diam dan larut dalam kehangatan Jason. Dia tidak ingin menambah beban suaminya. Sudah cukup berat permasalahan yang dia tanggung. Hati yang lembut dalam sosok perkasa.
"My superhero," desah Lia tak bersuara.
Sementara Jason tidak dapat memejamkan matanya. Tangan kirinya memeluk Lia, sementara tangan kanannya membelai lembut rambut hitam legam dan halus milik Lia.
Mata Jason menerawang menembus cahaya remang-remang lampu tidur. Dalam hati dan pikirannya, dia sungguh menyesal Lia harus mengalami penderitaan karena keegoisannya.
Jika saja, saat itu dia tidak dengan egoise memanipulasi Lia dalam pernikahan. Jika saja saat itu dia tidak muncul dalam kehidupan wanita dalam pelukannya ini, mungkin Lia akan lebih bahagia. Mungkin saja Lia akan bertemu dengan pria baik-baik tanpa latar belakang keluarga yang suram seperti dirinya.
Andai saja waktu bisa berputar kembali, Jason berharap jika dia hanya akan mengenal Lia sebagai sahabat. Menahan diri untuk mencintai gadis itu. Menatapnya dari kegelapan. Mencintai tanpa harus memiliki.
Sayang sekali, bumi dan kehidupan berputar pada satu poros dan gravitasi kehidupan. Penyesalan itu selalu terlambat. Tetapi, harapan untuk memperbaiki kesalahan selalu ada, selama kita masih bernafas. Jason menghela nafas dan mengecup kening Lia sekalilagi, sebelum memejamkan matanya.
"Aku akan berjuang membuat semua orang bertekut lutut padamu," janji Jason dalam keheningan malam