48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Ide berguna



"Katakan di mana pria tua itu?! Katakan di mana Darrel Madison!" seru Jason dengan emosi. Dia mencengkeram pundak Camila dengan kencang, seakan hendak meremukan bahu wanita setengah baya yang masih sangat cantik itu.


"Lepaskan mommy, Kakak! Kau tidak perlu bersikap kasar!" bentak Daniel yang tidak terima dengan perlakuan Jason pada ibunya.


"Tidak apa-apa Daniel, dia tidak menyakitiku," ujar Camila dengan lembut.


"Aku tidak tahu di mana tuan besar, Jason. Aku benar-benar tidak tahu." Camila tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Tapi, kau bertemu dengan mommy, bukan? Kau menemuinya di London, bukan? Apakah pria tua brengsek itu ada di sana? Apa dia menyembunyikan Lia di sana?" Pertanyaan Jason lebih ke arah intimidasi dari pada bertanya.


Camila terdiam. Dia sendiri diliputi dengan kegundahan yang sama


"Aku tidak tahu di mana Lia berada ... maafkan aku," ujar Camila dengan sendu.


"Tolong katakan, Camila ... aku mohon padamu. Katakan padaku, di mana daddy berada?" Suara Jason melemah. Perkataannya tak lagi sekadar saat pertama kali datang menemui Camila.


"Duduklah, Nak." pinta Camila dengan lembut.


Genggaman tangan Jason yang mencengkeram pundak Camila mulai melemah. Kepalanya yang semula tegak, kini menunduk dengan lemah. Mata yang semula garang sekarang meredup.


Yang dapat dilihat dari penampilannya saat ini, adalah seorang pria tamoan yang frustasi karena cinta. Tubuh gagah dan wajah yang bisa membius setiap wanita, saat ini tak terlihat cahayanya.


Dia duduk dengan paha yang terbuka dan kedua tangan mengepal di atas paha. Punggungnya membungkuk dan kepalanya menunduk. Tak ada sosok gagah yang mempesona. Yang tampak hanyalah sosok pria yang menyedihkan.


Daniel menatap kakaknya dengan sedih. Selama hidup pria muda itu, dia belum mengenal cinta sedalam Jason. Bahkan kepergian Emelly untuk menikai anak tuan Larry, tidak membuat dirinya terpuruk seperti pria tampan yang tampak lemah dihadapannya.


Cinta yang menyakitkan yang dikenal Daniel hanyalah pengakuan dari Jason. Cinta seorang kakak yang dia perjuangkan. Dan melihat saudara seayahnya begitu terpuruk membuat Daniel sedih.


"Mom, apakah kau benar-benar tidak tahu keberadaan Lia?" tanya Daniel pada ibunya yang duduk di samping Jason.


"Aku benar-benar tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu mengapa dia membawa pergi Lia jauh darimu. Kau harus mengerti Jason, kalau aku tidak seberharga itu bagi Tuan Darrel Madison." Camila menghembuskan nafasnya dengan berat.


Air mata wanita cantik di pertengahan abad itu, menetes perlahan. Dia tersentuh menatap Jason yang tampak sangat terpukul.


"Maafkan aku, aku tidak berdaya untuk membantumu, Jason. Kau harus benar-benar tahu, jika aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk membuat tuan besar menerima Lia." Ucapan Camila terdengar sangat tulus di telinga Jason.


Jason menegakan punggungnya dan bersandar di sofa. Dia menengadah memandang langit-langit Penthouse yang tinggi. Pria itu mendesah dengan suara berat.


"Aku tidak menyalahkanmu, Camila. Semua karena keegoisan dan keangkuan kedua orang tuaku. Aku membenci mereka saat ini. Sangat benci!" Seru Jason perlahan namun penuh penekanan.


Tampak jelas sekali di wajah pria itu, rasa marah dan kebencian yang bercampur menjadi satu.


"Jangan membenci ayahmu, Jason. Jangan ...."


"Katakan! Kenapa aku tidak bisa membencinya? Dia sudah memisahkan aku dengan istri dan calon anakku. Aku bahkan tidak tahu seberapa besar perut Lia sekarang. Bahkan yang lebih menyakitkan, aku tidak tahu apakah keadaannya baik-baik saja atau tidak. Katakannnn bagaimana aku tidak marah padanya?" Jason menggeram penuh amarah yang dia tekan.


"Kakak ...." Daniel bisa merasakan perasaan berat itu.


"Jason ... kau benar. Aku membenci ibumu hingga tulang sumsumku. Aku pun pernah mengharapkan kematiannya sehingga hanya aku yang akan menjadi wanita sah untuk tuan besar. Agar dia bisa menikahiku di mata Hukum dan Tuhan. Tapi ... aku sadar Jason. Akulah yang salah disini. Aku mencintai pria yang salah. Dan kesalahan ini harus aku tanggung seumur hidupku. Kebencian itu menghilang seiring waktu, di saat aku tahu bagaimana Laura diam-diam memperhatikan Daniel."


Camila menghembuskan nafasnya dengan berat.


Dia sadar cinta dan pengabdian Darrel pada Laura tidak dapat dipudarkan oleh apapun.


"Meskipun Laura meninggal, jangan pernah berharap aku akan menikah lagi. Istri sahku hanya Laura Collins Madison dan anak-anaknya adalah pewarisku. Anakmu tidak akan pernah aku telantarkan. Itu janjiku! Itulah hal yang pernah dikatakan oleh Darrel padaku."


Camila menceritakan ingatannya akan perkataan Darrel. Kata-kata yang diucapkan dengan kesadaran penuh, membuat dirinya sadar, jika seberapapun banyak wanita yang bertebaran di sisi Darrel Madison hanyalah bagian gelapnya. Karena terang sesungguhnya hanya dikendalikan oleh Laura.


"Dan meskipun dia berbicara seperti itu, dia selalu menebar benih kemanapun. Apakah dia tidak bisa memakai pengaman setidaknya? Apa kau tahu, seberapa bayak anak yang dia telantarkan dan harus aku tanggung?" Jason mendesah kesal.


"Aku ... memahami kelemahan Darrel akan wanita. Aku tidak akan memungkiri hal itu ...." camila mendesah perlahan.


Camila tidak dapat menceritakan pada Jason dan Daniel mengenai keadaan Darrel. Bagaimana pria itu mengalami operasi tumor otak. Di London, Camila terbang ke sana atas permintaan Laura untuk menjaga tuan besar.


Dan di sana pula dia dipaksa untuk bersumpah tidak mengatakan pada siapapun, mengenai keadaan Darrel. Tidak pada siapapun juga.


Camila merawat Darrel hingga pria itu membaik. Sementara Laura harus menyetabilkan perusahaan di Eropa. Mereka bersama-sama berjuang dengan keras di sisi Darrel.


"Sudah empat setengah bulan berlalu. Kandungan Lia saat ini pasti sudah hampir delapan bulan. Aku bahkan tida tahu, apakah anakku mendapatkan asupan gizi. Apakah Lia dalam keadaan sehat. Kemana lagi aku harus mencari ...." Jason tampak putus asa.


"Apakah mom tidak mengatakan apapun?" tanya Jason lagi pada Camila.


Camila menggeleng. Karena pada kenyataannya setelah tuan besar sembuh dan dinyatakan aman berpergian. Dia dibawa pergi oleh Laura dengan sebuah pesawat pribadi. Camila bahkan tidak tahu kemana tujuan penerbangan itu.


"Tunggu! Daniel, mungkin kau bisa membantu Kakakmu. Coba kau lacak penerbangan mommy Laura dari London. Jika kau bisa melacaknya. Aku yakin, Jason akan menemukan jawabannya."


Danirl dengan segera menuju ke ruang kerjanya dan bekerja sesuai petunjuk Camila. Jason mengikuti pria muda itu dan diam di sisi Daniel tanpa mengganggunya.


Camila memandang mereka dengan perasaan bahagia dari pintu. Dia berharap ide yang muncul di kepalanya akan memberikan jalan bagi Jason untuk menemukan keberadaan Laura, yang mungkin akan menunjukan di mana Jason bisa menemukan Lia.


Camila kembali dengan membawa satu teko lemon tea. Saat dia meletakan lemon tea itu di meja kecil. Daniel berseru dengan nyaring.


"Lihat! Aku menemukannya!"


Jason dengan bersemangat memperhatikan layar komputer.


"Miiami?!" serunya dengan gembira.


"Benar. Penerbangan terakhir mereka di Miami. Aku akan mencoba melihat melalui satelit keberadaan mommy Laura di mansion." ujar Daniel penuh semangat.


"Terimakasih." Jason mengecup rambut Daniel. Kemudian dia berdiri dan mengecup kening Camila.


Ibu dan anak itu, Camila dan Daniel terperanjat untuk sesaat melihat reaksi Jason. Mereka sungguh bahagia karena setidaknya bisa memberikan ide berguna