48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Jebol



"Kakak ... sakit, hikss ...." Lia meringis kesakitan di hadapan video call dengan Diana.


Hari ini dari pagi dia sudah mengalami kontraksi. Gadis itu mengeluh karena belum ada pembukaan di jalur kelahiran.


"Adik nakal! Kenapa tidak memberi kabar kau ada di salah satu pulau Caribean!" sahut Diana dengan kesal.


"Kakakkkkkk!!! Jangan marag donggg. Aku sakit bukannya di sayang, hikjsss ...." Lia mengerucutkan bibirnya.


"Iya sayang. Mana suamimu? Apa dia tidak bisa menghiburmu saat ini. Apa dia tidak menemanimu. Dasar Jason egoise!" Diana menggerutu sendiri, ketika dari tadi tidak melihay Jason di dekat adiknya.


"Kakak .... hiksss ... Jason tidak bisa menemaniku."


"Apa dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada kau yang hendak melahirkan? Ckckckkc. Mana kau harus melahirkan di pulau pribadi seperti itu. Menyebalkan sekali Madison!"


"Dia bukan bekerja kakak. Aduhhh jangan ngomel terus ah!"


"Maaf! Maaf! Kakak begini karena panik. Kakak tidak bisa di sisimu. Sedangkan Jason juga tidak ada di sisimu." ujar Diana dengan khawatir.


"Jason tidak boleh di sisiku. Dia malah menyusahkan." Lia mengerucutkan bibirnya sambil menahan sakit.


"Maksudmu?"


"Kalau dia melihatku sakit. Dia akan mengalami sakit lebih parah. Tadi dia di dekatku, menemniku. Tapi tiba-tiba mukanya pucat, keringat dingin menetes. Tangannya dingin dan dia mengeluh sakit di perutnya. Dia bahkan mengerang lebih parah dan nyaris pingsan."


Diana bengong mendengarkan cerita Lia. Si tampang garang itu ternyata kelemahannya adalah Lia.


"Bagus itu! Transfer semua rasa sakitmu pada dia. Kau yang melahirkan dia yang kesakitan." Diana terkekeh.


"Kakakkkkk! Sedari tadi kau menggodaku." Lia tertawa sambil menahan sakit.


"Kau harus bahagia bisa melahirkan normal. Ayooo semangattt. Tarikkk napassss keluarkannnn. Ingat semakin kau gelisah semakin menderita suamimu!" Diana tergelakk.


"Kakakkk! Kau menjengkelkan, hahhahaha." Tak urung Lia tertawa juga.


"Bagaimana keadaanmu, Kakak Ipar?" Seorang wanita cantik masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana keadaan suamiku, Laurent?" tanya balik Lia dengan peluh di keningnya.


"Sudah baikan. Hanya masih berkeringat."


"Kenalkan itu kakakku."


"Haiii ... namaku Laurent." ujarnya memperkenalkan diri.


"Kau adik Jason. Wow. Kau cantik sekali."


"Benarkah? Kak Diana memang mempunyai mata yang jeli. Kau yakin dia kakakmu?" tanya Laurent pada Lia.


"Iyaaaa lah. Memang kenapa?" ujar Lia disela sela rasa sakitnya. Lia berusaha mengalihkan rasa sakit dengan banyak bicara.


"Dia kelihatan lebih cantik dan lebih muda."


"Si alan." Lia menggerutu sementara Diana dan Laurent terkekeh.


"Nyonya. Sudah bukaan sepuluh. Anda sebaiknya lebih berusaha lagi," ujar seorang dokter wanita yang menemani Lia.


"Eeee ...." Lia mengerang dan mendorong bayinya.


Sementara Laurent menyerahkan handophone pada Adonia , lalu dia menggenggam tangan Laurent.


"Ayook Juniorr, berjuanglahhh!" Laurent memberikan semangat.


Lia berjuang keras untuk bisa melahirkan anaknya secara normal. Keluarga Madison sudah seperti memindagkan klinik melahirkan ke pulau. Semua perlengkapan telah di sediakan agar Lia bisa melahirkan dengan tenang.


Di luar Tuan besar, Laura dan Camila berharap cemas. Sementara Jason masih tak berhenti mengerang di sofa bersama seorang pelayan yang menemaninya.


"Aku tak bisa terus begini. Aku harus menemani Lia." ujar Jason yang berjalan sempoyongan.


"Sudah di sini saja. Kau bisa menyusahkan banyak orang jika pingsan di dalam." kata Tuan besar saat Jason hendak masuk ke kamar Lia.


"Tidak bisa. Aku tidak boleh membiarkan dia berjuang sendiri." Jason bersikeras.


Dengan keringat yang mengucur deras Jason masuk ke kamar. Dia masuk tepat saat di mana Lia mengejan sekuat tenaga.


Dan tepat saat itu pria malang ini melihat bagaimana segitiga emas itu membengkak hingga mengeluarkan kepala bayi.


"Ooo segitigaku jebol," bruk! Pria itu pingsan bersamaan dengan tangis bayinya yang baru lahir.